<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Echieychant&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://echieychant.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://echieychant.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 16:30:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='echieychant.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/45d402e17c951fa4e3ffeee97a619266?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Echieychant&#039;s Blog</title>
		<link>http://echieychant.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://echieychant.wordpress.com/osd.xml" title="Echieychant&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://echieychant.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Am I Bipolar ?</title>
		<link>http://echieychant.wordpress.com/2012/01/27/am-i-bipolar/</link>
		<comments>http://echieychant.wordpress.com/2012/01/27/am-i-bipolar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 16:18:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>echieychant</dc:creator>
				<category><![CDATA[sharing.artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://echieychant.wordpress.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[am i bipolar ?? oke, mungkin kamu semua belum tau apa itu bipolar? bipolar adalah gangguan kejiwaan yang di tandai dengan perubahan mood yang sangat ekstrem yaitu berupa depresi atau mania. dikutip dari wikipedia, Bipolar disorder (manic-depressive)adalah penyakit otak yang menyebabkan perubahan-perubahan yang tidak biasa pada suasana hati, energi, tingkat-tingkat aktivitas, dan kemampuan untuk melakukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=255&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>am i bipolar ??</p>
<p><a href="http://echieychant.files.wordpress.com/2012/01/bipolar.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-256" title="bipolar" src="http://echieychant.files.wordpress.com/2012/01/bipolar.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p>oke, mungkin kamu semua belum tau apa itu bipolar? bipolar adalah gangguan kejiwaan yang di tandai dengan perubahan mood yang sangat ekstrem yaitu berupa depresi atau mania.</p>
<p>dikutip dari wikipedia, <strong>Bipolar disorder</strong> (<em>manic-depressive</em>)adalah penyakit otak yang menyebabkan perubahan-perubahan yang tidak biasa pada suasana hati, energi, tingkat-tingkat aktivitas, dan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas harian.. Seseorang yang mengidap Bipolar Disorder biasanya sering merasa euphoria berlebihan (mania) dan mengalami depresi yang sangat berat. Periode mania dan depresi ini bisa berganti dalam hitungan jam, minggu maupun bulan. Ini semua tergantung masing-masing pengidap. Banyak orang, yang mengalami periode singkat emosi yang intens, mungkin tidak menyadari mereka mengidap Bipolar Disorder.</p>
<p><a href="http://echieychant.files.wordpress.com/2012/01/bp_ch-156200909-bipolar.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-257" title="bp_ch.156200909.bipolar" src="http://echieychant.files.wordpress.com/2012/01/bp_ch-156200909-bipolar.jpg?w=300&#038;h=240" alt="" width="300" height="240" /></a> [majalah kartini] Menurut dr Hendro Riyanto, SpKJ ( Direktur RSJ Menur Surabaya ), setiap orang pada umumnya pasti pernah mengalami perubahan suasana hati. namun untuk penderita bipolar akan memiliki suasana hati yang ekstrim yaitu pola perasaan yang mudah berubah secara drastis. bisa jadi ia sedang dalam keadaan merasa antusias dan bersemangat, namun disaat mood-nya sedang buruk, ia bisa sangat pesimis, depresi atau bahkan punya keinginan untuk bunuh diri.</p>
<p>Gangguan Jiwa Bipolar</p>
<p>Perasaan senang dan sedih muncul secara tidak menentu dan berlangsung tiba-tiba termasuk dalam kategori gangguan penyakit jiwa bipolar. Bipolar itu sendiri adalah gangguan afektif bipolar. Mood atau keadaan emosi internal merupakan penyebab utama dari gangguan ini. Biasanya gangguan ini berujung pada kematian.</p>
<p>Bipolar memiliki dua kutub, yaitu manik dan depresi. Gangguan ini bersifat episode yang cenderung berulang, menunjukkan suasana perasaan atau mood dan tingkat aktivitas yang terganggu.</p>
<p>Kadang penderita memiliki perasaan atau yang bisa disebut sebagai mood meninggi, energi dan aktivitas fisik dan mental meningkat atau episode manik atau hipomanik. Pada waktu lain berupa penurunan mood, energi dan aktivitas dan mental berkurang (episode depresi).</p>
<p>Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara dua minggu sampai lima bulan. Sedangkan depresi cenderung berlangsung lebih lama. Episode hipomanik mempunyai derajat yang lebih ringan daripada manik.</p>
<p>Mereka yang mengalami gangguan bipolar ini beralih dari perasaan sangat senang dan gembira ke perasaan sangat sedih atau sebaliknya. Dua kutub mood tinggi dan rendah, saling bergantian. Di antara episode peralihan mood ini bisa saja orang megalami mood yang normal. Bisa dikatakan bahwa insiden gangguan bipolar tidak tinggi antara 0,3-1,5 persen. Tapi angka tersebut belum termasuk yang misdiagnosis. Gangguan jiwa bipolar saat ini sudah menjangkiti sekitar 10 hingga 12 persen remaja di luar negeri. Di beberapa kota di Indonesia juga mulai dilaporkan penderita berusia remaja. Risiko kematian terus membayangi penderita bipolar dan itu lebih karena mereka mengambil jalan pintas.</p>
<p><a href="http://echieychant.files.wordpress.com/2012/01/bipolar-disorders_01.gif"><img class="alignleft size-medium wp-image-258" title="Bipolar-Disorders_01" src="http://echieychant.files.wordpress.com/2012/01/bipolar-disorders_01.gif?w=300&#038;h=181" alt="" width="300" height="181" /></a>Episode pertama bisa timbul mulai dari mata kanak-kanak sampai tua. Kebanyakan kasus terjadi pada dewasa muda berusia 20-30 tahun. Semakin dini seseorang menderita bipolar, risiko penyakit akan lebih berat, berkepanjangan, bahkan sering kambuh. Sementara anak-anak berpotensi mengalami perkembangan gangguan ini ke dalam bentuk yang lebih parah dan sering bersamaan dengan gangguan hiperaktif defisit atensi.</p>
<p>Orang yang berisiko mengalami gangguan bipolar adalah mereka yang mempunyai anggota keluarga mengidap penyakit bipolar.</p>
<p>Gangguan bipolar adalah suatu kondisi yang dapat mempengaruhi siapa saja, termasuk remaja. Ketika seseorang menderita gangguan bipolar, ia mungkin mengalami perubahan suasana hati mulai dari kebahagiaan ekstrim dan kegembiraan, suasana hati manic depressive. Karena itu, orang dengan gangguan bipolar dapat menemukan sedikit lebih sulit untuk mengintegrasikan diri dengan orang lain. Untuk membantu anak remaja Anda, berikut adalah beberapa langkah yang dapat Anda ambil dalam berurusan dengan gangguan bipolar pada remaja.</p>
<ul>
<li><strong>Gejala.</strong> Pertama-tama, Anda harus melakukan penelitian Anda pada berbagai gejala melalui gangguan bipolar akan memanifestasikan dirinya. Hal ini sangat penting, karena navigasi dan mencoba untuk memahami perilaku remaja sudah sulit dalam dirinya sendiri. Hal terakhir yang Anda inginkan adalah untuk membingungkan perubahan suasana hati yang khas remaja dengan gangguan bipolar. Ada banyak sumber daya yang dapat Anda gunakan untuk menentukan gejala biasa gangguan bipolar. Baca di artikel medis dan psikologis yang ditemukan di Internet, dan mengunjungi klinik kesehatan lokal di dekat Anda di mana Anda bisa mendapatkan pamflet dan bahan bacaan lain tentang gangguan bipolar.</li>
<li><strong>Amati.</strong> Setelah Anda mengetahui gejala, cobalah untuk mengamati remaja Anda dengan cermat, tapi tanpa melanggar pada gaya hidup remaja Anda. Pikirkan diri Anda sebagai pihak ketiga yang obyektif untuk situasi, yang hanya berusaha untuk mengamati. Jangan membuat penilaian pada titik ini, karena ini hanya akan mempengaruhi pengamatan Anda. Jika Anda berpikir bahwa remaja Anda memenuhi kriteria dan menunjukkan gejala gangguan bipolar, langkah berikutnya adalah untuk memiliki dia didiagnosis.</li>
<li><strong>Dukungan kelompok.</strong> Berurusan dengan remaja yang memiliki gangguan bipolar tidak hanya melibatkan remaja Anda, tetapi Anda dan seluruh keluarga juga. Hal ini karena remaja secara teratur akan berinteraksi dengan Anda dan seluruh keluarga. Perubahan suasana hati apapun yang remaja mungkin telah dapat mempengaruhi kesejahteraan emosional menjadi keluarga juga. Untuk membantu keluarga mengatasi, Anda harus bergabung dengan kelompok dukungan bagi keluarga yang hidup dengan orang yang memiliki gangguan bipolar. Ini akan membantu Anda memahami gangguan lebih lanjut dan akan membantu keluarga hidup melalui cobaan itu.</li>
<li><strong>Cinta.</strong> Akhirnya, pastikan bahwa Anda mencurahkan sebagai cinta banyak dan pengertian mungkin untuk remaja Anda yang memiliki gangguan bipolar. Orang dengan gangguan bipolar sering masuk ke dalam konflik dan mungkin tampak kasar dan dingin di kali. Ini tidak berarti, bagaimanapun, bahwa mereka tidak mencintai Anda atau bahwa Anda tidak harus mencintai mereka kembali. Bahkan, itu adalah pada titik ini mencoba ketika Anda harus menunjukkan remaja Anda hanya berapa banyak Anda peduli dan seberapa siap Anda untuk memberikan dukungan baginya.</li>
</ul>
<p>Sesulit gangguan bipolar mungkin, itu adalah sesuatu yang dapat diatasi dan merupakan sesuatu yang Anda dapat menangani. Langkah-langkah ini</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>cara mengobati bipolar sama seperti pengobatan gangguan jiwa biasanya. minum obat secara rutin atau psikoterapi. namun bagi seorang muslim, bisa saja melaksanakan tilawah,, yaitu membaca Alquran dengan khusyu. ini merupakan salah satu obat yang sangat baik untuk mengatasi problem gangguan psikologis.</p>
<p>Nah, itu tadi tulisan singkat saya tentang bipolar. Apakah kamu merasa kalau kamu adalah penderita bipolar?? kalau masih ragu, kamu bisa mengikuti testnya juga. silahkan dicoba <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Bonus : tulisan ini terinspirasi dari majalah kartini yang aku baca, setelah membaca secara singkat tentang bipolar, aku jadi penasaran dengan diriku, soalnya belakangan ini aku ngerasa hyper banget. apalagi saat aku membuat dua kepribadian (saat aku maniac korea, aku membuat akun lain tentang segala hal yang berbau korea). kemudian aku mulai googling dan mencari tahu. aku juga melakukan beberapa test untuk menjamin, apakah aku penderita bipolar atau tidak? ternyata hasilnya memuaskan. 2 test mengatakan tidak, dan 1 test mengatakan mungkin. karena aku termasuk talkative <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ahaha. okedeh, ini tulisan juga dari beberapa sumber yang aku baca, jadi untuk berbagi aku gabung-gabungkan dan jadilah tulisan ini ^^</p>
<p>well,  thanks for read and dont forget leave any comments okay ^^</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/echieychant.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/echieychant.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/echieychant.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/echieychant.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/echieychant.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/echieychant.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/echieychant.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/echieychant.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/echieychant.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/echieychant.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/echieychant.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/echieychant.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/echieychant.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/echieychant.wordpress.com/255/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=255&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://echieychant.wordpress.com/2012/01/27/am-i-bipolar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b13eb0af4bdab04e22741d96812d204?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">echieychant</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://echieychant.files.wordpress.com/2012/01/bipolar.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">bipolar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://echieychant.files.wordpress.com/2012/01/bp_ch-156200909-bipolar.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">bp_ch.156200909.bipolar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://echieychant.files.wordpress.com/2012/01/bipolar-disorders_01.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Bipolar-Disorders_01</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Undestiny (failure love)</title>
		<link>http://echieychant.wordpress.com/2011/11/07/undestiny-failure-love/</link>
		<comments>http://echieychant.wordpress.com/2011/11/07/undestiny-failure-love/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 09:55:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>echieychant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://echieychant.wordpress.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Malam terasa begitu dingin, dari tadi pagi hingga petang hujan terus membasahi kota yang dijuluki kota kembang itu. Kania yang dari tadi berniat ingin nongkrong bersama teman-teman kampusnya jadi batal. Akhirnya ia hanya menghabiskan waktunya di kamar hingga malam tiba. Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam, namun ia masih asik bermain dengan laptop kecilnya. Menyelesaikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=250&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/11/images.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-251" title="images" src="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/11/images.jpg?w=692" alt=""   /></a>Malam terasa begitu dingin, dari tadi pagi hingga petang hujan terus membasahi kota yang dijuluki kota kembang itu. Kania yang dari tadi berniat ingin <em>nongkrong </em>bersama teman-teman kampusnya jadi batal. Akhirnya ia hanya menghabiskan waktunya di kamar hingga malam tiba.</p>
<p>Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam, namun ia masih asik bermain dengan laptop kecilnya. Menyelesaikan paper, tugas dari kampusnya. Selagi asik mengetik, tiba-tiba hapenya berdering. Ia melirik sekilas dan kemudian menerima panggilan itu. Pemberitahuan pertemuan dengan dosennya untuk pembagian tugas penelitian mata kuliah yang diambil semester ini akan berlangsung besok pagi. Setelah merasa kantuk Kania bergegas untuk tidur, ia tak ingin terlambat di pertemuan penting esok.</p>
<p>Kania adalah salah seorang mahasiswi dari Jurusan Hukum Universitas Parahyangan, Bandung. Ia termasuk mahasiswi yang aktif dan suka berorganisasi. Ia juga dikenal periang dan sangat ramah pada siapa saja. Tak heran jika ia memiliki banyak teman dan kenalan di mana saja. Sekarang ia sering menghabiskan waktunya di UKM Theater dan juga English Club. Sebagai Duta Bahasa, Kania dipercayakan untuk membina English Club itu. Kania juga memiliki teman dekat di kampusnya, teman saling berbagi. Renata namanya. Mereka mulai dekat semenjak masa Orientasi kampus. Kenny, begitu nama panggilan Kania dikenal, ia sudah mulai aktif di berbagai kegiatan sejak awal merasa sebagai mahasiswa, berbeda dengan Renata yang lebih senang dengan Kitab tebalnya. Bibel.</p>
<p align="center">+++++</p>
<p>Kania berlari dari arah parkiran dan segera menuju ruangan tempat pertemuan dijanjikan. Begitu tiba di ruangan tersebut, ia menghela nafas lega. Ternyata dosennya belum datang. Ia bergabung dengan teman-temannya dan mengambil posisi yang nyaman. Ia mulai berdialog dengan teman-temannya yang lain.</p>
<p>“Kenny, lo udah kebayang belum bakal dapat tugas tentang apa?” tanya Sandra yang duduk di belakang Kania.</p>
<p>“belom nih, semoga aja ga begitu ribet, capek juga entar” jawab Kania santai.</p>
<p>“aku mah berharap banget bisa meneliti hukum perpolitikan negara liberal” tiba-tiba Vika yang di samping Sandra ikut nimbrung, mereka cuma tersenyum.</p>
<p>“gue sih pengennya hukum perlindungan anak dan perempuan” sambung Sandra lagi.</p>
<p>“aku sih apa aja boleh deh, yang penting ga lari dari konteks yang udah kita pelajari aja lah” kini Renata yang duduk di samping Kania ikut bersuara. Kania cuma mengangguk menyetujui. Setelah bercakap-cakap ringan, akhirnya mereka kembali terdiam saat dosen masuk dan memulai pertemuan pagi itu.</p>
<p align="center">+++++</p>
<p>“Kenn, kamu kenapa sih? Dari tadi setelah keluar kelas kamu jadi murung gitu, kamu ga senang ya sama tugas kamu?” Renata mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu.</p>
<p>“sedikit, aku cuma merasa agak berat menjalaninya. Yasudahlah, aku ga mau mengecewakan Pak Es Ha, dia udah yakin banget kalo aku bisa” Kania tersenyum menjawab dan mereka terus berjalan ke arah kantin.</p>
<p>“oh iya, nanti ada kelas Hukum International kan? Kamu ikut ga?” kini mereka telah tiba di kantin dan mulai menunggu makanan yang telah dipesan.</p>
<p>“ya ampun, aku lupa!” Kania menepuk lembut kepalanya.</p>
<p>“kenapa Kenn?” Renata penasaran akan polah sahabatnya.</p>
<p>“bukan hari ini kan?” Kania bertanya lagi.</p>
<p>“apanya?” Renata makin bingung.</p>
<p>“itu..kelas Hukum International yang katanya kita bakal masuk bareng anak hukum dari universitas lain?”</p>
<p>“Ohmaigad, aku kira kenapa..bukan sayang, itu masih minggu depan”</p>
<p>“aish, baguslah”</p>
<p>“emang kenapa Kenn?”</p>
<p>“ga papa sih, soalnya tadi aku bangun kesiangan jadi ga sempat dandan, kan ga asik jumpa sama mahasiswa dari kampus lain tapi akunya ga cantik hehe”</p>
<p>“ya Tuhan, Kenny!!”</p>
<p>“yahh, maklum deh cewek jomblo Rey!” Kania cemberut dan mengambil pesanan yang telah tiba di hadapan mereka.</p>
<p>“hehe, sorry deh, trus sama si ketua yang kamu agung-agungkan itu gimana?”</p>
<p>“saha? Rangga?”</p>
<p>“iya, dia nolak cinta kamu?”</p>
<p>“yee, apaan sih..yang nembak juga siapa?”</p>
<p>“lha terus gimana dong? Katanya kalian dekat banget”</p>
<p>“ya ampun Rey, nih aku ingatin lagi ya, kita itu emang dekat banget tapi kan ga berarti kita punya hubungan khusus, lagi pun sepertinya dia ga punya perasaan apa-apa deh ke aku!”</p>
<p>“tapi bisa jadi dia sembunyiin dari kamu gitu?”</p>
<p>“maksud kamu?”</p>
<p>“kan, dia itu anak theater, ketua lagi. Pasti dia pinter dong ber-akting seolah ga punya perasaan ke kamu yang sebenarnya ia punya”</p>
<p>“aahh udahlah, jangan ngaco deh!”</p>
<p>“aku serius Kenn! <em>Who know?</em>”</p>
<p>“jangan buat aku jadi ngarepin dia ya Rey, aku ga mau kecewa”</p>
<p>“<em>well</em>, terserah kamu deh”</p>
<p>“ya, harusnya aku ga usah ke ge-eran saat dia dekatin aku”</p>
<p>“sudahlah Kenn, kalau emang sekarang kamu mau nyuci mata sama anak-anak kampus sebelah, aku bakal dukung kok haha”</p>
<p>“hahaha asik banget, makasih deh” mereka terus berbincang hingga jam kelas berikutnya dimulai. Mereka memasuki kelas dan mengikuti perkuliahan dengan serius.</p>
<p>“Ken! Mau kemana?” Renata mencegah saat kelas telah bubar.</p>
<p>“mau jumpa anak-anak teater nih, sekalian ada rapat katanya” jawab Kenny sambil melangkahkan kakinya ke arah parkiran.</p>
<p>“semoga Rangga lebih peka deh sama perasaan kamu” goda Renata lagi.</p>
<p>“haha apaan coba??”</p>
<p>“yaudah deh, aku mau langsung pulang aja. Gerah”</p>
<p>“oh okay, niat mandi ke aku juga ya neng!”</p>
<p>“wahh bisa deh, yaudah aku duluan ya!”</p>
<p>“sok atuh, bye” Kania melambaikan tangannya pada Renata yang telah berada dalam mobilnya dan meninggalkan Kania yang juga akan beranjak meninggalkan kampus menuju ke Sekretariatan UKM Theater. Dalam perjalanan ia memikirkan Rangga. Si ketua UKM yang berpostur tinggi, putih, bermata sipit dan juga sangat cerdas itu telah ia taksir semenjak melihat aksinya di panggung saat Pensi penerimaan mahasiswa baru tahun angkatannya, dan langsung membuat Kania tertarik untuk bergabung di UKM tersebut. Ia menghentikan lamunannya saat tersadar telah berada di depan UKM Theater. Ia langsung melangkahkan kaki menuju ruangan dimana rapat sering digelar. Namun langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya dari belakang. Kania menoleh.</p>
<p>“Rangga?” sapanya ramah.</p>
<p>“baru datang juga?” tanya Rangga.</p>
<p>“iya nih, udah rame?”</p>
<p>“belum, masih 30 menit lagi untuk mulai, mungkin lagi pada ibadah. Kamu udah makan?”</p>
<p>“belum nih, biasanya aku makan siang telat”</p>
<p>“wahh itu mah ga bagus buat kesehatan, yaudah ayuk kita cari makan dulu sambil nunggu yang lain”</p>
<p>“yahh jangan dong Ngga”</p>
<p>“aku memaksa, aku ga mau ngeliat kamu kusam nanti pas rapat, apalagi kalau kamu ga bisa bantu aku ngeluarin ide”</p>
<p>“yahh kamu mah”</p>
<p>“udah deh jangan cari alasan lagi, ayuk kita makan di kantin Biro aja biar dekat” mereka menuju Biro dengan berjalan kaki, memang kantinnya tidak jauh dari sekretariatan UKM Theater.</p>
<p>“yaudah deh, ini juga karna kamu maksa ya” Kania berjalan mengikuti langkah Rangga.</p>
<p>“yaah aku ga maksa kamu juga bakal mau kan?”</p>
<p>“yee, yakin banget sih?”</p>
<p>“emang kamu ga mau gitu makan bareng si akang yang kasep inih?”</p>
<p>“hahaha”</p>
<p>“loh kok malah ketawa sih?”</p>
<p>“kepedean sih kamunya”</p>
<p>“yee, aku kan ngomong jujur”</p>
<p>“iya deh iya”</p>
<p>“yaudah, kamu mau makan apa?” kini mereka telah berada di kantin Biro.</p>
<p>“aku nasi soto aja deh”</p>
<p>“oke deh. Kang sini!” Rangga memanggil pelayan dan memberikan pesanan mereka. Setelah pelayan itu pergi, Rangga memandang Kania lagi. “baru dari kampus ya?” tanyanya.</p>
<p>“iya, tadi ada kelas” jawab Kania simpel.</p>
<p>“nanti ada kelas lagi?”</p>
<p>“engga, maunya di UKM aja sampai sore”</p>
<p>“hmm, ada yang mau dikelarkan?”</p>
<p>“engga sih, cuma pengen di sana aja, rasanya lama banget udah aku tinggalin”</p>
<p>“ya ampun, lebay deh. Kan baru dua hari yang lalu kamu di sana”</p>
<p>“hehe, ga tau deh, belakangan jadi suka kangen gitu sama UKM”</p>
<p>“kangen sama UKM atau sama aku nih?”</p>
<p>“ohmai, terserah kamu deh”</p>
<p>“yaah, jangan gitu dong Kenn, aku kan mau jawaban pasti dari kamu”</p>
<p>“waahh mulai lagi nih lebaynya, eh tuh makanan udah datang, mending kita makan dulu aja deh”</p>
<p>“heu, yaudah deh, tapi sepertinya pipi kamu memerah tuh” Rangga mengambil makanannya dan ia terkekeh kecil.</p>
<p>“hah?” Kania memegang pipinya dan berusaha tidak kontak mata dengan Rangga. <em>Sial! Rangga bakal ngetawain aku terus nih, bisa bisa dia bakal tahu perasaan aku ke dia!!ugh.</em> Kania mengomel dalam hati, namun seperti tahu Rangga terus terkekeh bahagia. Mereka diam dan menikmati makanan.</p>
<p align="center">+++++</p>
<p>“oke, kalau semua sudah clear, saya rasa pertemuan ini kita akhiri. yah harapan kita semua semoga terwujud, selaku ketua di sini, saya sangat berharap agar Pensi tahun ini berjalan lancar. Dan tim yang telah kita bentuk tadi semoga bisa bekerja sama dengan baik. Dan semoga saja peminat UKM ini semakin bertambah banyak nantinya. Amin” Rangga mengakhiri rapat dan serentak semua anggota bubar. Ada yang langsung pulang, mengikuti kelas, ngobrol sesama yang lain dan ada juga yang kembali ke meja kerja mereka melanjutkan pekerjaannya.</p>
<p>“oh iya, uang kas bulan ini udah bisa dibayar yaa” teriak Rangga saat mendapat lirikan dari si bendahara. Setelah mendapat senyum terima kasih dari si bendahara, Rangga langsung mencari Kania yang telah menuju mejanya.</p>
<p>Kania mendapati lagi kertas kecil yang berisikan puisi di atas mejanya. Memang akhir-akhir ini Kania sering mendapat puisi cinta dari orang yang sama sekali tak ia tahu dan tak berniat untuk mencarinya. Ia tak ingin menggubris orang yang iseng dengannya. Ia melirik tulisan itu dan sesaat tersenyum.</p>
<address>               Kania,</address>
<address>               senyummu menyemangatkan hariku</address>
<address>               suaramu melelehkan jantungku</address>
<address>               pesonamu membuatku bagai di surga</address>
<address>               Kania,</address>
<address>               Kau lembut seperti malaikat</address>
<address>               Mengenalmu, rasanya aku ingin lebih dekat</address>
<address>               Tapi aku takut, aku tidak memikat</address>
<address>               Aku tidak bermaksud menggombal</address>
<address>               Aku hanya tidak ingin hatiku terbeban</address>
<p>“Kania? Kamu lagi apa?” tiba-tiba Rangga muncul.</p>
<p>“ini, aku dapat puisi lagi” jawabnya sambil memberikan puisi itu pada Rangga.</p>
<p>“hmm, ga ada nama si penulis?”</p>
<p>“iya, kuno banget kan? Hari gini masih ngirim puisi segala, kenapa ga coba jumpai aja langsung”</p>
<p>“yaah, engga berani kali, atau belum saatnya”</p>
<p>“hmm, mungkin saja, tapi puisi bagus”</p>
<p>“kamu suka?”</p>
<p>“sedikit, kamu tau ga siapa yang ninggalin itu di meja aku?”</p>
<p>“engga, kenapa?”</p>
<p>“yaahh, awalnya aku pikir anak theater juga, tapi kayanya bukan deh”</p>
<p>“lho emang kamu udah tahu?”</p>
<p>“engga sih, cuma nebak aja, kayanya anak sastra”</p>
<p>“hahaha”</p>
<p>“kok kamu ketawa?”</p>
<p>“ga ada, ngerasa lucu aja”</p>
<p>“yee, kamu ngeledek aku ya?” Kania mengambil lagi kertas itu dan kembali duduk di mejanya.</p>
<p>“kelihatannya?” Rangga mencoba menggoda Kania.</p>
<p>“tau ahh” ia kesal dan membaca-baca majalah di atas mejanya.</p>
<p>“yaahh, jangan ngambek dong” Rangga tersenyum manis dan duduk di depan Kania.</p>
<p>“yee siapa yang ngambek?”</p>
<p>“eh, udah sepi nih, kamu ga pulang?”</p>
<p>“bentar lagi aja, masih pengen di sini”</p>
<p>“yaudah deh aku temenin”</p>
<p>“aku engga minta lho”</p>
<p>“aku tahu”</p>
<p>“terserah deh” Kania terus asik dengan lembaran-lembaran majalah di tangannya.</p>
<p>“oh iya, kok kamu masih betah ngejomblo sih?” pertanyaan Rangga membuat Kania menggeser majalahnya dan melirik wajah Rangga.</p>
<p>“abisnya pada ga berani dekatin aku sih? haha” jawabnya bercanda.</p>
<p>“kasian banget ya?” Rangga terkekeh.</p>
<p>“huh? Kamu sendiri kan juga jomblo, kasian juga dong” Kania menjawab seakan-akan sedang ngambek.</p>
<p>“haha, maksud aku kita kasihan sekali”</p>
<p>“uh? Iya kali ya. Emang kamu kenapa ga punya pacar?”</p>
<p>“lagi nyari yang tepat”</p>
<p>“wahh, terlalu milih sih..”</p>
<p>“engga juga”</p>
<p>“emang kamu suka sama cewe gimana sih?”</p>
<p>“ga usah banyak-banyak, aku cuma suka sama cewe cerdas, aktif dimana-mana, baik, supel, ramah dan nyambung kalo diajak ngobrol”</p>
<p>“wahh, kamu engga lagi muji aku kan? Hehe” Kania tersenyum girang.</p>
<p>“kelihatannya?” Rangga melirik dan tersenyum nakal.</p>
<p>“terserah kamu deh, semoga aja cewe impian kamu itu bakal hadir suatu hari haha” Kania mencoba tertawa, padahal hatinya sedang tidak karuan.</p>
<p>“yaah, semoga saja. Bantu aku ya Kenn!”</p>
<p>“huh? Maksud kamu?” Kania kembali membaca majalah di tangannya dan memperhatikan model-model cowok Korea yang terpampang di dalamnya.</p>
<p>“haha, lupakan sajalah..hmm,btw kenapa sih kamu mau gabung di UKM ini?” tiba-tiba Rangga mengecilkan suaranya, membuat Kania menutup majalahnya dan memperhatikan wajah serius Rangga.</p>
<p>“ya ampun, aku udah dua tahun yang lalu gabung, masih mau ngospek aku lagi?” tanya Kania asal.</p>
<p>“engga”</p>
<p>“terus?”</p>
<p>“aku mau tahu”</p>
<p>“lahh, kan kamu udah tau waktu pertama kali pengenalan”</p>
<p>“aku mau kamu jujur”</p>
<p>“eh? Emang dulu itu aku bohong?”</p>
<p>“entah, soalnya aku dengar dari yang lain, kamu gabung ke sini karena mau mengenaliku jauh” Rangga mengeluarkan kata-katanya dengan ekspresi super cool yang ia punya.</p>
<p>“huh?” Kania <em>speechless</em>, ia bingung. Kenapa Rangga tahu? Sesadarnya ia tidak pernah memberitahukan pada yang lain. Pipinya kembali memerah. Apa yang harus ia jawab pada Rangga?</p>
<p>“hahaha, ini yang aku suka, ekspresi kamu dapat semua lho Kenn, aku mau kamu naik tahun ini okay?” Rangga tertawa lepas, ia bahagia sekali bisa menggoda Kania hingga pipinya memerah seperti kepiting rebus.</p>
<p>“sialan lo Ngga!” Kania memukul wajah nakal Rangga yang lagi tersenyum riang dengan majalah di tangannya. “lo ngerjain gue!” Kania mendecak kesal dan cemberut.</p>
<p>“yaahh, jangan ngambek dong, aku kan cuma becanda, abisnya aku lagi cari pemain yang oke nih buat pensi tahun ini”</p>
<p>“uhh” <em>Sial, aku udah mau jantungan gini, tapi Rangga masih bilang itu becanda? Ughh, benar-benar ngeselin, kerjanya bikin kacau perasaan aku aja! </em>Kania menggerutu dalam hati dan tidak menoleh pada Rangga.</p>
<p>“Kenny..maafin aku yaah” Rangga memasang <em>puppy eyes</em>-nya</p>
<p>“engga mau ahh” Kania terus cuek, membaca majalah.</p>
<p>“nanti aku beli es krim deh” Rangga kembali menggoda.</p>
<p>“ya ampun Rangga!!!!” Kania berteriak kesal.</p>
<p>“hahahahaha” Rangga tertawa lepas dan berlari saat melihat Kania bangkit dari kursi dan mengejarnya.</p>
<p>“kamu tuh nyebelin banget yaaahh!” Kania berlari mengejar Rangga yang telah keluar dari ruangan. Mereka berlari-lari kecil di halaman. Tiba-tiba Rangga membalikkan tubuhnya dan berhenti tiba-tiba, membuat Kania ikut berhenti dan hampir menubruk tubuh Rangga, namun tangan Kania langsung dipegang Rangga. Mata mereka bertemu. <em>Sial! Rangga aku mohon, cukup untuk hari ini, aku ga mau kau terus mengacaukan perasaanku!</em> Kania memohon dalam hati. Seperti tahu apa yang dipikirkan Kania, Rangga jadi semangat untuk menggoda cewek imut di depannya itu.</p>
<p>“apa aku masih nyebelin?” Rangga mendekatkan wajahnya ke wajah Kania.</p>
<p>“ugh! sangat menyebalkan!” ucap Kania lantang dan mendorong tubuh Rangga lalu ia berjalan kembali ke ruangan.</p>
<p>“hahaha, tapi kamu suka kan?” Rangga mengikuti dari belakang.</p>
<p>“aisshh” Kania semakin kesal.</p>
<p>“hahaha, Kenny i like your style!” Rangga merasa sangat bahagia sekali.</p>
<p>“aku tahu!” jawab Kania asal sambil membereskan mejanya yang telah berantakan tadi.</p>
<p>“kamu tahu?” Rangga memasang wajah penasaran.</p>
<p>“iya, sebenarnya kamu suka kan sama aku?” Kania melirik Rangga sekilas dan mengambil tasnya.</p>
<p>“kok kamu tahu sih, ga <em>surprice</em> lagi deh” Rangga memasang wajah lugunya.</p>
<p>“hahaha, gini nih kalo obsesi artis” Kania berharap acting Rangga berhenti, ia khawatir dengan perasaannya.</p>
<p>“haha, tau aja deh, yaudah pulang aja yuk, udah sorean nih”</p>
<p>“iya, udah capek juga nih” Kania mengambil kunci mobilnya dan mereka berdua meninggalkan sekretariat itu.</p>
<p>“Ngga, aku duluan. Sampai jumpa besok deh” Kania menuju mobilnya dan melambaikan tangan pada Rangga yang mengangguk dan juga menuju parkiran mobilnya. Mereka berpisah. Kania kelelahan hari ini, ia ingin segera sampai di rumah.</p>
<p>Kania tiba di rumah, setelah mandi ia melemparkan tubuhnya ke kasur. Ia capek. Kania benar-benar bingung dengan sikap Rangga, ia memang baik dan <em>care</em> sama semua cewek. Akhir-akhir ini Rangga memang hanya mendekati Kania. Ia sering mengganggu Kania, membuat gadis itu kewalahan mengatur perasaannya. Kania tak tahu lagi mana sikap Rangga yang serius dan mana yang bercanda. Ia mencoba untuk tidak menjadikan masalah ini sebagai beban. Ia ingin fokus pada kuliahnya. Ia ingin menjadi hakim yang handal. Ia terus menerawang hingga ia terlelap.</p>
<p align="center">+++++</p>
<p>Saat yang ditunggu-tunggu mahasiswa hukum telah tiba, mata kuliah yang membuat mereka semangat akan dimulai sekitar sejam lagi, namun para mahasiswa sudah memenuhi gedung Aula Fakultas Hukum yang memuat lebih dari seribu mahasiswa itu. Terutama para mahasiswa dari universitas lain, mereka telah hadir lebih awal di sana, mencoba mengenali kampus itu, dan ada juga yang berkenalan dengan para mahasiswa lain agar lebih akrab.</p>
<p>Kania juga tak sabar mengikuti perkuliahan spektakuler ini, setelah usai kelasnya di jam pertama, ia dan Renata langsung berlari menuju Aula. Ia tak menyangka ternyata teman-temannya yang lain telah tiba lebih awal.</p>
<p>“Rey, gimana, uda nemu yang kasep ga?” tanya Kania sambil terus mengedarkan pandangannya pada mahasiswa asing di seputaran Aula.</p>
<p>“gimana denganku? Kasep ga?” jawab cowok yang sedari tadi berdiri di samping Kania, Kania tersadar dan melihat Renata udah berpisah dengannya. Ia terkejut melihat cowok jangkung yang berdiri di sampingnya. “aih, kunaon atuh neng?” tanya cowok itu lagi.</p>
<p>“maaf, tadi aku kira temen aku, hehe” Kania cuma cengir kuda, malu.</p>
<p>“haha, aku tahu kok. Oh ya kenalkan namaku Reynald mahasiswa Hukum UGM” cowok itu mengulurkan tangannya.</p>
<p>“uh? Aku Kania, biasa dipanggil Kenny” jawab Kania sambil membalas uluran tangan Reynald. “jauh banget sih cuma buat ngisi mata kuliah ini?” Kania melepaskan tangannya.</p>
<p>“hehe, iya nih. Mohon bantuannya ya Kenn” Reynald hanya tersenyum.</p>
<p>“pasti deh, sebisa aku” balas Kania mantap.</p>
<p>“oh iya, yang tadi. Emang kamu lagi nyari yang ganteng ya? Hehe”</p>
<p>“ahh, engga cuma becanda doang kok hehe” Kania mengambil kursi, posisi nyaman untuk mengikuti perkuliahan.</p>
<p>“ohh kirain beneran” Reynald duduk di samping Kania.</p>
<p>“hehe, emang kenapa?”</p>
<p>“aku cuma mau tau, aku ganteng ga di mata kamu?”</p>
<p>“hahaha, kayanya sih ganteng”</p>
<p>“lho, kok ga yakin sih jawabnya”</p>
<p>“hehe”</p>
<p>“kamu asli dari Bandung?”</p>
<p>“engga, aku dari Jakarta”</p>
<p>“trus di sini kos-kosan?”</p>
<p>“engga, aku tinggal di rumah tanteku, ohya, tadi kamu pake bahasa sunda kan? Emang kamu dari mana?”</p>
<p>“ohh iya, aku dari Sabuga”</p>
<p>“waahh, kenapa kuliah di UGM?”</p>
<p>“beasiswa sih”</p>
<p>“ya ampun, ternyata aku lagi bareng anak cerdas nih hehe”</p>
<p>“yaahh, engga juga kok, eh aku mau ke toilet nih, di mana sih?”</p>
<p>“ohh itu di sana, kamu lewat pintu keluar empat terus belok kiri, dekat tangga toiletnya” Kania menunjuk arah yang dimaksud. Reynald mengangguk dan berjalan menuju toilet sebelum perkuliahan dimulai. Kania merasa gerah dengan jas almamater yang ia pakai. Ia mengipas-ngipas dirinya, hawa AC belum terasa, karena mahasiswa masih pada berantakan. Selagi asik mengipas, seseorang duduk di kursi sebelah kanan Kania. Ia melirik sekilas. <em>Waduh! Nih anak mirip banget sama manusia Korea. Cakep bener, bikin ileran dan bakal ga konsen nih ikut perkuliahan</em>. Kania berkata dalam hati. Namun yang dilirik tak menggubris. Cuek dan terus memandang ke depan. <em>Aku sapa engga ya? Tapi kayanya sombong deh, ughh anak UI sih, males ah.</em> Kania terus berbicara dalam hati sambil mengipas-ngipas dirinya.</p>
<p>“Kenny!” seseorang berteriak dari depan dan mendatangi Kania. Kania sedang tidak memakai kaca mata, ia tidak bisa begitu jelas melihat yang memanggilnya. <em>Mahasiswa Unpad? Siapa temanku yang kuliah di sana?</em> Kania memikirkan siapa yang menyapanya, ia mencoba tersenyum dan mengambil kaca matanya.</p>
<p>“ya ampun Chessa!” Kania langsung bangun memeluk cewek yang memanggilnya tadi begitu ia tahu itu teman lamanya. Cowok yang di sampingnya tadi melirik dan kembali memperhatikan buku tebal dalam pangkuannya.</p>
<p>“ternyata kaca mata lo makin tebal aja ya? Rajin banget sih?? Bakal <em>cumlaude</em> nih hehe”</p>
<p>“kamu bisa aja deh, eh kok kamu di Unpad? Bukannya ngambil HI di UI?”</p>
<p>“iya, tapi aku ga lulus di UI, lulusnya di Unpad”</p>
<p>“yaah kan ga papa, Unpad juga oke, tapi kok ngambil hukum sih?”</p>
<p>“ini nih, ga pernah ikut reuni sih?”</p>
<p>“hehe, abis udah lama aku ga pulang ke Jakarta”</p>
<p>“lupa deh sama temen lama”</p>
<p>“yaahh, sorry deh, eh beneran lho, bukannya kamu benci banget ya sama bagian hukum-hukum itu, dulu kan sering bolos pas masuk PKn”</p>
<p>“emang, kan aku jadinya selalu dapat hukuman ngapal UUD dan TAP MPR, makanya coba aja deh belajar hukum, siapa tahu bisa menghakimi koruptor negara kita haha”</p>
<p>“haha, ya ampun plis deh, eh kamu makin gemuk aja ya?”</p>
<p>“hehe iya nih, soalnya gue senang sih di Unpad, ada senior yang naksir gue”</p>
<p>“hahaha, dasar!”</p>
<p>“eh, kayanya yang di samping lo keganggu deh ama reuni kecil kita, soalnya dari tadi ngelirik-lirik mulu, yah gue tinggal dulu ya, ntar usai kelas kita bawelan lagi”</p>
<p>“oh, okay” Kania melirik sekilas cowok yang menurutnya mirip artis Korea itu dan kembali mengipas-ngipas dirinya. Kania masih terus mengipas dirinya, rasanya ia semakin gerah.  Ia kembali melirik cowok di sampingnya. Si cowok yang dilirik jadi salting dan melirik Kania balik.</p>
<p>“hmm, maaf ya kalo tadi ngeganggu konsentrasi kamu” Kania memberanikan diri untuk bicara.</p>
<p>“ye~” cowok itu menjawab sekilas dan kembali membaca bukunya. <em>Aishh, ngeselin deh ahh, bikin bete deh nih cowok, sombong banget ah! Emang anak UI gitu semua apa??uhhh Tapi suaranya halus banget. Waaahh.</em></p>
<p>“hey, belum mulai kan?” Reynald telah kembali dan duduk di kursi kosong di samping kiri Kania. <em>Ohmaigad. Aku diapit oleh dua cowok cool?</em> Kania menelan ludahnya. Ia melirik sekilas mencari Renata. Namun ia tidak menemukannya. Reynald mengikuti arah pandangan Kania. “kamu cari siapa?” tanya Reynald lagi.</p>
<p>“cari si Rey nih, di mana sih tu anak?” jawab Kania dan mencoba mengambil hapenya.</p>
<p>“kan aku di sini, Reynald” jawab Reynald polos.</p>
<p>“haha, ya ampun maksud aku Rey temen aku, si Renata”</p>
<p>“ohh hehe”</p>
<p>“eh dosen-dosennya udah pada masuk” Kania mengatur posisi duduk agar lebih nyaman mengikuti perkuliahan yang akan berlangsung empat jam itu. Perkuliahan yang diperkirakan bakal membosankan jadi tak terasa buat para mahasiswa itu, malah mereka mengikuti perkuliahan dengan semangat, entah karena mata kuliahnya yang asik, dosen yang menyenangkan atau memang karena ada mahasiswa lain. Tak terasa dua jam pertama sudah terlewati dengan sempurna, saatnya makan siang dan perkuliahan akan dilanjutkan nanti.</p>
<p>Mahasiswa pada berhamburan ke luar kelas, ada yang memilih berlari ke kantin, perpustakaan, dan ada juga yang memilih mengobrol dengan kenalan baru mereka. Kania masih terus mencari Renata.</p>
<p>“Kenn, kamu ga ke kantin?” tanya Reynald.</p>
<p>“kamu duluan aja Rey, aku lagi nunggu kembaranmu hehe” jawab Kania sambil terus mencari sosok Renata.</p>
<p>“oke deh, semoga ketemu kembaranku yah hehe”</p>
<p>“siip” Kania mengangkat dua jempolnya sambil tersenyum. Reynald meninggalkannya dan ia masih mencari sosok Renata di kerumunan mahasiswa yang berada di kursi paling depan.</p>
<p>“Kenny!” suara Renata mengejutkan Kania dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah si pemanggil.</p>
<p>“Rey, dimana aja sih? Aku telpon, eh keduluan dosennya masuk, aku cari-cari juga engga nemu. ngumpet dimana sih?” Kania langsung nyerocos begitu Renata tiba di kursinya.</p>
<p>“hehe sorry deh, tadi aku jumpa teman SMA aku, eh aku juga ada sms kamu pas tadi kamu miscall”</p>
<p>“opss, aku belum cek hapeku”</p>
<p>“Kenn, aku duluan ya!” suara lembut itu mengejutkan Kania dan Renata. Cowok Korea yang sombong dan cool itu nyapa Kania??</p>
<p>“uh? Okay” jawab Kania ragu dan langsung mendapat senyum dari cowok putih tinggi bermata sipit itu.</p>
<p>“siapa Kenn?” tanya Renata penasaran.</p>
<p>“aku belum sempat kenalan Rey, tadinya cuek banget tau, mana tau anak UI kan males banget deh, aku jadi ngerasa aneh pas dia pamit”</p>
<p>“waah, masih trauma aja sama anak UI, eh tapi kayanya asik tuh, type kamu banget kan?”</p>
<p>“yaaahh, apaan sih?”</p>
<p>“haha, yaudah ke kantin yuk, keburu disikat sama tamu tuh makanan, kita kelaparan ntar”</p>
<p>“yee, engga mungkin juga kalee, banyak kok si kang Dadang  bawa dagangannya hari ini”</p>
<p>“sempat nge-cek juga ya neng?”</p>
<p>“haha, nebak aja sih” mereka melangkahkan kaki menuju kantin, namun langkah mereka terhenti saat ada yang memanggil nama Kania.</p>
<p>“Kenny! Tunggu!” Kania dan Renata menghentikan langkah mereka dan melirik ke arah suara.</p>
<p>“Chessa?” Kania memanggil teman lamanya.</p>
<p>“gue gabung dong ya?” pinta Chessa.</p>
<p>“oke deh, oh ya kenalin ini Rey teman dekat aku di sini, Rey dia Chessa teman SMA aku dulu pas di Jakarta” Kania memperkenalkan temannya satu sama lain. Dan mereka kembali melanjutkan perjalanan ke kantin.</p>
<p>“eh, gue benar-benar kagum sama lo Ken, tadi pas perkenalan lo ke depan, muka lo merah banget tau” Chessa mencoba mengingatkan lagi kejadian yang berlangsung di kelas tadi.</p>
<p>“Kenny emang mahasiswi teladan di sini, kesayangan para dosen deh hehe” Renata ikut bicara namun langsung dapat senggolan kecil dari Kania.</p>
<p>“uhh, kesel banget tadi tau, malu pisan, ngapain sih si Bapak Es Ha itu pake acara ngenalin aku segala, mana muji-muji lagi. Bikin malu aja, serasa diketahui se-Indonesia tau” Kania kesal saat mengingat kejadian tadi. Ia tidak ingin dosennya selalu memuji dan menjadikannya sebagai aset kampus.</p>
<p>“hahaha, ada ada aja lo! Oh ya, udah kenalan sama cowok yang tadi disebelah lo?” Chessa bertanya sambil terus melangkahkan kaki ke kantin.</p>
<p>“siapa? Reynald?” balas Kania.</p>
<p>“itu lho anak UI, eh lo masih demen sama yang sipit-sipit kan?” Chessa ingin tahu.</p>
<p>“yahh, Kenny emang masih suka sama yang sipit-sipit, tapi dia juga trauma sama anak UI” Renata menjelaskan. Kania hanya menghela nafas lelah.</p>
<p>“lho? Kenapa? Kok bisa sih?” Chessa semakin penasaran. Mereka telah tiba di kantin dan memesan makanan.</p>
<p>“itu dulu, pas Kenny ikut jadi Duta Bahasa tingkat Nasional, dia jumpa sama salah satu anak UI, katanya sih tu cewek ngeselin banget. Kenn udah nyoba ngajak ngobrol eh malah dicuekin sama anak UI itu, nah apalagi pas tes <em>Public Speaking</em> tuh anak katanya sibuk ngejelasin negara-negara tempat ia bersekolah tiap tahunnya. Gimana ga jadi pemenang coba? Tuh cewek nguasai lebih dari dua puluh bahasa Asing. Dan setelah sadar ia menang, malah makin ngeselin deh, ga mau ngobrol sama yang lain.” Jelas Renata panjang lebar, membuat Kenny menutup matanya mencoba tidak membayangkan kejadian masa lalu yang sangat menyebalkan itu. Chessa hanya menggeleng-geleng kepala.</p>
<p>“kan ga semua anak UI gitu?” Chessa menambah lagi.</p>
<p>“emang sih, tapi si cowok sipit tadi itu juga jutek banget awalnya” Kania memberitahu dan mengambil pesanan yang telah disajikan.</p>
<p>“kalo gue di UI, gue ga bakal jutekin lo deh” tambah Chessa lagi.</p>
<p>“yee, yakin banget sih, tapi bagus juga deh lo ga di sana, mungkin nanti bakal ga kenal sama gue lagi” Kania mengambil pesanannya dan memulai menyantapi.</p>
<p>“hahaha, kejam banget sih, engga mungkin deh” tambah Chessa lagi dan membuat mereka bertiga tertawa lagi. Mereka melanjutkan menyantapi makanan siang mereka, teman-teman yang lain juga ikut bergabung bersama mereka. Suasana kantin begitu riuh dan sesak, namun mereka tetap menikmatinya.</p>
<p align="center">+++++</p>
<p>Tak terasa perkuliahan yang spektakuler itu akhirnya berakhir juga. Para dosen dan mahasiswa berfoto sebagai kenangan. Ada juga para mahasiswa yang bertukar ID dan segala hal lainnya. Kania hanya diam saja di bangkunya, lebih asik melihat gelagat mereka dari pada harus bersesak di dalamnya.</p>
<p>“Kenny, kenalin nama gue Andrean Lim!” cowok sipit yang memang dari Korea yang sedari tadi duduk di samping Kania memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan. Kania menoleh tak percaya dan membalas uluran tangan tersebut.</p>
<p>“wah..asli Korea ya?” Kania <em>shock</em> saat mendengar nama terakhir cowok putih tinggi di sampingnya itu.</p>
<p>“iya, papa ku Korea” Andrean mengiyakan sambil tersenyum. Kania hanya membulatkan mata mengetahui sedikit identitas Andrean. <em>“hey, are you okay?”</em> Andrean melambaikan tangannya di depan wajah Kania yang masih bengong.</p>
<p>“ohh, ya ga papa kok, eh kamu ga ikutan poto-poto sama mereka?” tanya Kania sambil membereskan isi tasnya.</p>
<p>“engga ah, males. Tapi kamu keberatan ga kalo aku ajak poto bareng?” Andrean tanya balik.</p>
<p>“hah?”</p>
<p>“kenapa? Ga mau ya? Cuma buat kenang-kenangan doang kok, siapa tau nanti suatu hari pas kamu ke Jakarta jumpa lagi sama aku. Kan biar ga lupa”</p>
<p>“hmm, baiklah”</p>
<p>“ok, ayo kita ke sana” Andrean dan  Kania bangun dari kursi mereka dan menuju ke depan Aula. Mereka berdua berpose dan meminta bantuan teman lain untuk mengambil gambar. Akhirnya mereka larut dalam suasana itu.</p>
<p>“kalian kapan balik ke Jakarta?” tanya Kania sama Andrean saat mereka telah berada di luar gedung Aula yang penuh sesak. Mereka berdua berjalan menuju arah parkiran.</p>
<p>“masih 3 hari lagi, soalnya kami ada pertemuan kelas lain di universitas lain lagi di sini, sekalian pengenalan kampus dan juga jalan-jalan” jawab Andrean menjajari langkah Kania.</p>
<p>“wahh, asik banget sih bisa jalan-jalan sambil ngisi kelas”</p>
<p>“hmm, begitu lah, oh ya, sebelum kami balik ke Jakarta, kita masih boleh bertemu kan?”</p>
<p>“huh? Pasti dong, masa aku menelantarkan tamu hehe”</p>
<p>“hehe, yaudah nanti ajak aku keliling Bandung ya?”</p>
<p>“oke deh, kalo aku ada waktu pasti deh aku ajak kamu jalan-jalan”</p>
<p>“aku tunggu lho janjimu”</p>
<p>“jangan khawatir deh” saat berada di depan mobilnya.</p>
<p>“mau pulang sekarang ya?”</p>
<p>“engga nih, nunggu Rey dulu”</p>
<p>“ohh, baiklah aku duluan ya, mau gabung sama anak-anak yang lain”</p>
<p>“oke, sampai nanti”</p>
<p>“bye” ucap Andrean dan meninggalkan Kania, ia kembali menjumpai kerumunan teman-teman sekampusnya. Kania mengambil hapenya dan menghubungi Renata.</p>
<p>“kamu dimana sih Rey?  Hilang mulu deh” tanya Kania begitu panggilan terhubung.</p>
<p>“aku di belakangmu kok” suara Renata membuat Kania berbalik dan menutup hapenya. Orang yang dihubungi memang dibelakangnya.</p>
<p>“pulang sekarang?” tanya Kania lagi.</p>
<p>“maunya sih gitu, tapi aku lagi ga bawa mobil nih”</p>
<p>“yaudah, aku anterin deh”</p>
<p>“haha, asik dah, hayuk ah!” Renata masuk ke dalam mobil dan mereka langsung meninggalkan lapangan parkiran. Pulang.</p>
<p>Di jalan mereka kembali berbincang-bincang menceritakan kelas hari ini, kenalan baru mereka dan juga teman-teman lama yang mereka jumpai.</p>
<p align="center">+++++</p>
<p>Selama tiga hari sebelum Andrean balik ke Jakarta, ia setiap harinya mencoba mendekatkan diri ke Kania. Di setiap ada kesempatn, maka mereka akan berusaha untuk jalan bersama. Kania sangat menikmati suasana itu, Andrean memberinya perhatian, bukan sebagai seorang teman biasa namun seakan teman yang spesial. Tak terasa Kania seperti mulai lupa dengan perasaannya pada Rangga. Namun ia tetap berusaha menjaga perasaannya pada Rangga, ia ingin hubungannya dengan Andrean hanya sebatas teman dekat atau sahabat.</p>
<p>Reynald juga masih sempat bertukar pikiran dengan Kania, ia selalu menyempatkan diri untuk berkomunikasi, baik lewat mail atau hanya sekedar basa-basi lewat telepon. Kania merasa bahagia, beban pikiran dan perasaannya pada Rangga terasa sedikit berkurang. Ia ingin bisa dekat dengan Rangga seperti ia dekat dengan Andrean atau juga Reynald. Setelah ponsel Rangga hilang beberapa bulan lalu, Kania memang tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Rangga, mereka hanya menyapa saat berjumpa di “markas”.</p>
<p>Saat Andrean dan mahasiswa lain kembali ke daerahnya, Kania mulai merasa kehilangan, ia mulai merasa sendiri lagi. Tapi mereka tetap berkomunikasi lewat telepon. Kania juga mulai mempersiapkan diri dan hal lainnya untuk penelitian tugas akhirnya nanti. Ia mulai sering mengunjungi UKM nya, ia masih belum yakin apa sanggup untuk berpisah dengan ketua yang dari dulu ia incar.</p>
<p align="center">+++++</p>
<p>Kantor Kesekretariatan UKM mulai sepi, namun Kania masih betah berada di sana, ia terus memandangi ruangan itu, membaca beberapa informasi yang ada di papan informasi. Ia mulai membuka dan membaca buku tebal yang berisi agenda kegiatan mereka untuk ke depan. Tak sadar Rangga telah lama memperhatikannya.</p>
<p>“serius amat, lagi baca apaan sih?” Rangga mengalihkan perhatian Kania.</p>
<p>“eh lo Ngga, ini lagi baca agenda kita ke depan” jawab Kania polos.</p>
<p>“oh ya, lo mau kan naik untuk acara pensi nanti”</p>
<p>“engga tahu deh, aku bakal bisa apa engga”</p>
<p>“tenang aja, aku juga naik, ntar kita bakal kerja sama, aku yakin kamu pasti bisa”</p>
<p>“haha, bisa aja lo”</p>
<p>“aku serius atuh”</p>
<p>“ga janji deh”</p>
<p>“Ken, kita butuh lo untuk kali ini”</p>
<p>“iya aku engga janji”</p>
<p>“tapi lo mau kan kalo gue minta”</p>
<p>“hah?” Wajah Rangga membuat Kania tidak bisa berpikir.</p>
<p>“gue mau lo kali ini” ucap Rangga dan kemudian berlalu.</p>
<p>“aish, apaan sih? Rangga lo selalu aja bikin perasaan gue kacau” Kania berkata pelan dan menundukkan kepalanya ke meja.</p>
<p>Kania melirik arlojinya dan kemudian bergegas untuk segera pulang, ia tidak ingin sampai harus bermalaman di jalan. Ia melirik ke seisi ruangan, namun tak terlihat Rangga di sana. Akhirnya ia pamit pada beberapa teman lain yang masih di ruangan. Ia melangkahkan kaki menuju area parkiran, namun ia mendapati Rangga sedang termenung duduk menyendiri di kursi pojok taman. Kania mencoba untuk menyapa.</p>
<p>“lagi ngapain lo Ngga?”</p>
<p>“eh Kenn, cuma lagi mikir sesuatu aja”</p>
<p>“hal serius?”</p>
<p>“iya, sangat serius”</p>
<p>“tentang apa sih?”</p>
<p>“hmm, susah buat bilangnya”</p>
<p>“ohh”</p>
<p>“engga sih, cuma lagi mikir untuk pensi nanti”</p>
<p>“okay” Kania mengangguk mengerti “yaudah deh aku mau balik dulu, takutnya ntar keburu malam” Kania pamit, ia berjalan hendak kembali ke mobilnya, namun tangan Rangga menarik lengan Kania, membuatnya menghetikan langkahnya seketika dan berbalik.</p>
<p>“kenapa Ngga?” Kania menatap Rangga heran.</p>
<p>“gue mau lo” jawab Rangga penuh harap.</p>
<p>“maksudnya?”</p>
<p>“lo naik ya kali ini”</p>
<p>“aku bakal usahain”</p>
<p>“sebenarnya..”</p>
<p>“kenapa?”</p>
<p>“ahh, aku hanya ingin kali ini bisa sepanggung denganmu”</p>
<p>“haha, aku juga kok” Kania mulai merasa keanehan, namun ia tetap berusaha tenang.</p>
<p>“Kenn..” Rangga memanggilnya lembut.</p>
<p>“ya?” jantung Kania semakin tak karuan.</p>
<p>“makasih kalau kamu mau ikut” ucap Rangga penuh senyum.</p>
<p><em>Sial!</em> “sama-sama Ngga” jawab Kania datar.</p>
<p>“kamu mau langsung pulang?”</p>
<p>“iya nih, takutnya ntar kemaleman”</p>
<p>“oke deh”</p>
<p>“oh ya Ngga, ada yang mau aku bilang”</p>
<p>“tentang apa? Bukan perasaan kamu ke aku kan?”</p>
<p>“aish, kege-eran banget deh”</p>
<p>“haha, emang tentang apa?”</p>
<p>“hmm, ahh aku kira aku bakal sangat merepotkanmu nanti”</p>
<p>“oh tak masalah, aku akan sangat ngebantuin kamu”</p>
<p>“makasih deh, aku pulang ya”</p>
<p>“oke, bye”</p>
<p>Kania mengangguk dan berlalu menuju mobilnya. Dia kesal dengan Rangga yang selalu mengacaukan perasaannya. Ia ingin segera tiba di rumah, ia kelelahan dan ingin segera tidur.</p>
<p align="center">+++++</p>
<p>“Kenn, kamu dicariin tuh sama Pak Es Ha, diminta ke ruanggannya segera” seorang mahasiswa menjumpai Kania yang sedang bersantai menikmati makanan di kantin. Renata yang penasaran langsung bertanya pada si penyampai amanat.</p>
<p>“buat apa?”</p>
<p>“entah, aku juga ga tau, yang jelas beliau minta Kania menjumpainya segera”</p>
<p>“iya deh, selesai makan aku akan menjumpainya” jawab Kania. Akhirnya setelah si penyampai amanat pergi mereka menyegerakan untuk menyelesaikan makanan mereka dan segera menjumpai Pak Es Ha.</p>
<p>Kania melangkahkan kakinya ke ruangan yang berada  di lantai dua Fakultasnya. Ia memasuki ruangan yang di tempati Pak Es Ha selaku seorang Pembantu Dekan III sekaligus dosennya. Dengan sedikit khawatir ia menjumpai dosennya itu, Renata hanya menunggunya di luar.</p>
<p>“maaf kalau ini sangat mendadak, tapi saya yakin kamu mampu” Pak Es Ha terus berkata menguatkan Kania.</p>
<p>“saya juga kurang percaya sama kemampuan saya pak” Kania mulai ragu.</p>
<p>“kamu sudah mempersiapkannya kan?”</p>
<p>“iya pak, tapi saya tidak tahu bakal dipercepat”</p>
<p>“iya, maafkan saya, karena riset kamu yang agak sedikit jauh, makanya waktumu dipercepat”</p>
<p>“iya pak, ga papa, saya akan berusaha”</p>
<p>“tenang saja, kami telah mengirim beberapa ahli hukum untuk menjemputmu nanti, dan juga ada dosen kita yang akan terus mendampingimu di sana nanti”</p>
<p>“iya pak, saya mengerti”</p>
<p>“baiklah, semoga kamu berhasil, saya percayakan kamu”</p>
<p>“terima kasih pak, saya permisi dulu”</p>
<p>“iya, silahkan”</p>
<p>Kania melangkahkan kakinya ke luar ruangan yang dingin itu, kini tubuhnya semakin dingin. Ia mendapati temannya yang penuh dengan rasa penasaran menatapnya di depan pintu.</p>
<p>“kenapa Kenn?” tanyanya penuh rsa ingin tahu.</p>
<p>“jadwalku dipercepat” ucap Kania lemas.</p>
<p>“ya ampun, kapan sih?”</p>
<p>“dua hari lagi”</p>
<p>“ya ampun Kenn, semoga berhasil ya, aku bakal sangat merindukanmu”</p>
<p>“yaahh, jangan ngomong gitu dong, aku semakin sedih deh”</p>
<p>“iya maaf deh, tetap <em>keep in touch</em> yaa?”</p>
<p>“siip deh, aku harap aku ga akan kesepian nantinya”</p>
<p>“ga akan, aku bakal terus kontakin kamu”</p>
<p>“yaudah, aku mau ke UKM dulu, mau ngabarin Rangga” Kania melangkahkan kaki cepat. Namun Renata mencegahnya.</p>
<p>“Kenn !”</p>
<p>“kenapa?”</p>
<p>“kenapa kamu harus beritahu Rangga?”</p>
<p>“maksud kamu?”</p>
<p>“aku mengerti perasaan kamu, tapi apa ini penting buat Rangga?”</p>
<p>“aku ke sana bukan untuk masalah pribadi, terserah Rangga mau ngerasa kehilangan aku atau engga, aku cuma mau sampein sama yang lain kalau aku bakal ninggalin markas selama tiga bulan”</p>
<p>“aku tahu, yasudah jangan terlalu membebankan perasaan kamu”</p>
<p>“aku mengerti, makasih banget ya Rey, aku jalan duluan”</p>
<p>“oke, hati-hati!”</p>
<p>Kania mengangguk dan melangkahkan kaki menuju parkiran, ia ingin segera tiba di “markas” dan menjumpai anak-anak termasuk Rangga juga. Setibanya di gedung yang berlantai satu itu, ia langsung ke ruangannya mengambil beberapa barangnya.</p>
<p>“cari apa Kenn?” suara Febi mengejutkannya.</p>
<p>“inih, ada buku yang ketinggalan tadi” jawabnya sekilas.</p>
<p>“beneran?” selidik Febi.</p>
<p>“iya hehe, oh ya si Rangga mana?”</p>
<p>“hari ini dia emang belum muncul tuh, belum kemari. Ada apa?”</p>
<p>“hah? Emang dia engga ngabarin gitu?”</p>
<p>“engga, bukannya dia sakit gara-gara lo tolak cintanya kemarin?”</p>
<p>“hah? Siapa yang nembak siapa? Ngaco deh ah”</p>
<p>“hehe, maap dah, engga tau tuh, lagi sibuk persiapan buat pensi kali”</p>
<p>“hmm, kali aja ya, oh ya Feb, aku cuma mau pamit, selama tiga bulan aku bakal ninggalin kalian”</p>
<p>“emang lo mau kemana?”</p>
<p>“mau penelitian buat tugas akhir”</p>
<p>“ohh okay, nanti aku kabari anak-anak”</p>
<p>“makasi ya Feb, aku berangkat lusa”</p>
<p>“berangkat?”</p>
<p>“iya, ke luar kota sih”</p>
<p>“ya ampun, gue bakal kangen banget deh sama lo”</p>
<p>“aah apaan sih? Kamu tambah aku jadi ngerasa sedih tau”</p>
<p>“hehe, iya deh iya, <em>good luck </em> ya”</p>
<p>“iya deh, makasih. Oke aku pamit pulang, mau siap-siap”</p>
<p>“oke deh, hati-hati ya Kenn”</p>
<p>Kenni mengangguk tersenyum dan segera meninggalkan ruangannya. Ia melangkahkan kakinya ke luar dan segera pulang. Namun di depan gedung langkahnya terhenti saat ia berpapasan dengan Rangga.</p>
<p>“mau pulang? Cepat banget” sapa Rangga.</p>
<p>“iya nih, ada keperluan penting sih” jawab Kania simpel.</p>
<p>“okay, hati-hati deh” sambung Rangga lagi.</p>
<p>“iya, makasih Ngga” jawab Kania dengan wajah sedih.</p>
<p>“kamu kenapa? Ga rela ninggalin aku? Hehe” canda Rangga.</p>
<p>“iya, aku bakal kangen banget sama kamu” jawab Kania tulus.</p>
<p>“ahh lebay, besok juga ketemu lagi” senyum Rangga manis.</p>
<p>“iya yah, aku memang terlalu lebay, yaudah aku pulang ya” Kania meninggalkan Rangga dengan mata berkaca-kaca. Ia harus kuat menahan perasaannya. Rangga yang menyaksikan keanehan pada Kania jadi penasaran. Ia menuju ruangan Kania dan mendapati Febi yang sedang merapikan meja Kania yang tadi telah berantakan.</p>
<p>“yaaaaa&#8230;kenapa dengan meja Kenny?” suara Rangga mengejutkan Febi.</p>
<p>“yah sial lo Ngga, salam dulu kenapa? Ngagetin aja” ketus Febi.</p>
<p>“yee, maap dah, itu meja Kania kenapa?”</p>
<p>“ini, aku bantu rapikan, tadi abis dibongkar sih sama dianya, oh iya tadi dia juga sempat nyari-nyari kamu deh”</p>
<p>“kenapa?”</p>
<p>“Katanya ada barang yang ketinggalan, tau deh kayanya penting gitu, padahal cuma kertas biasa”</p>
<p>“haha, tuh anak emang aneh, ngapain ngambil kertas usang?”</p>
<p>“yeee, itu kertas kan isinya puisi deh kalo ga salah”</p>
<p>“puisi?”</p>
<p>“iya, kenapa?”</p>
<p>“ternyata dia nyimpan semua puisi itu?”</p>
<p>“lho, lo tau? Itu puisi dari elo Ngga?”</p>
<p>“ahh eh, engga kok, cuma dia pernah ceritain ke aku aja”</p>
<p>“ohh gitu.. eh lo udah tau kan kalo dia bakal ke luar kota selama tiga bulan?”</p>
<p>“hah?? Ngapain?” Rangga shock mendengar kabar itu.</p>
<p>“yee, biasa aja kali, lebay lo! Eh serius lo ngga tau Ngga?”</p>
<p><em>Pantas saja Kenny bilang bakal kangenin aku, tapi kenapa dia ga pamit sama aku ya?</em> “emang Kania kemana? Dia nyari aku mau bilang itu?”</p>
<p>“ahh kayanya sih gitu, dia bilang sih mau selesaiin penelitian tugas akhir gitu”</p>
<p>“oh oke deh, makasih ya Feb. Aku mau pulang dulu” pamit Rangga.</p>
<p>“lo kenapa sih? Beneran sakit ya?”</p>
<p>“tadinya udah mau sembuh, tapi sekarang mau sakit lagi deh haha”</p>
<p>“aish, gue serius!”</p>
<p>“ya maap aku becanda, ya udah aku pamit dulu”</p>
<p>“aish, oke deh, bye”</p>
<p>Rangga terus berpikir sepanjang perjalanan menuju rumahnya. <em>Ngapain sih aku khawatirin dia banget? Dia nyari aku? Tapi tadi dia engga ngomong apa-apa. Tuh anak emang aneh banget deh. Aish kenapa juga aku harus mikirin dia ya? Aku berharap kamu cepat kembali. Ada hal yang harus kita selesaikan. Aku juga bakal sangat merindukanmu Kenny.</em></p>
<p>==========================================================================</p>
<p>Tiga bulan kemudian . . .</p>
<p>“Kenny!” teriakan Febi terlalu keras membuat Kania harus menutup kedua telinganya. “lo udah pulang? Gue kangen banget sama lo!” Febi langsung memeluk Kania erat.</p>
<p>“yahh kamu lebay banget deh, baru juga tiga bulan kita ga jumpa” Kania membalas pelukan Febi. Mereka berbincang-bincang ringan menceritakan keperluan Kania selama tiga bulan lalu. Mereka terus berjalan hingga sampai di tengah ruangan tempat biasa mereka rapat. Kania sengaja mengunjungi UKM pada sore hari, biasanya anak-anak lagi pada rame. Setiap pulang dari kampus, anak-anak pada mampir sebentar sebelum pulang ke rumah. Pandangan Kania beralih pada sosok yang pernah ia temui. Mahasiswa dari kampus lain.</p>
<p>“oh yaa, kenalkan dia&#8230;” belum selesai Febi memperkenalkan tamunya itu, Kenny langsung menghampiri cewe itu.</p>
<p>“Lisa..?” ia memeluk Lisa kuat “apa kabar? Tumben main ke sini” Kania tersenyum manis pada cewe di depannya.</p>
<p>“Kenn? Gue baik kok” Lisa membalas pelukan Kenny.</p>
<p>“lho ? kalian udah saling kenal ?” tanya Febi penasaran, anak-anak lain dalam ruangan pun ikut bingung.</p>
<p>“iya, kita kenal pas ikut workshop jurnalis di Jakarta tahun lalu, juga sama-sama ikut duta bahasa” jelas Lisa yang diikuti anggukan Kania.</p>
<p>“oh, pantesan aja” Febi mengangguk mengerti, anak-anak yang lain pun ikut ber oo ria.</p>
<p>“eh, lo dari mana aja? Masa ga liat teater kita sih ?” tanya Lisa penasaran.</p>
<p>“teater apa?” Kania penasaran.</p>
<p>“bulan lalu ada teater gabungan antara kampus gue sama kampus elo, awalnya gue kira lo ikutan naik, tapi gue engga jumpa sama elo dari awal pertemuan UKM kita”</p>
<p>“ohh maap deh, selama tiga bulan ke belakang aku disibukkan sama penelitian”</p>
<p>“emang neliti apa kok sampe lama engga keliatan sih?”</p>
<p>“iya, abisnya aku nelitinya ke luar kota, aku neliti hukum syariat islam dan qanun di Aceh”</p>
<p>“waahh, hebat banget lu”</p>
<p>“engga juga kok, cuma itu yang disuruh sama dosen ke aku”</p>
<p>“well, jadi sekarang lo udah bisa mulai aktif lagi kan di UKM?”</p>
<p>“iya nih”</p>
<p>“yauda, pentas selanjutnya bisa naik dong ya?”</p>
<p>“semoga aja hehe”</p>
<p>Setelah berbincang-bincang ringan dan juga melepas rindu bareng anak UKM, Kania pergi menuju ruangannya. Ia melirik ke sekitar. Mencari sosok orang yang sangat ia rindukan, tapi ia tak menemukannya. Ia kembali melangkahkan kakinya. Berniat keluar ke halaman belakang, namun langkahnya terhenti saat mendapati tulisan-tulisan berupa ucapan selamat yang ada di papan informasi.</p>
<p>Kania terus membaca satu per satu tulisan tersebut hingga mendapati tulisan yang pernah ia kenal, tulisan yang telah lama dipajang, belum sempat dicopot sepertinya.</p>
<address>Selamat atas kesuksesan kita, terima kasih atas dukungan kalian semua</address>
<address>Terus jaga kekompakan kita untuk pentas-pentas selanjutnya</address>
<address>Love you all guys ^^</address>
<address>                                       Rangga</address>
<p><em>Jadi, puisi-puisi itu dari Rangga ? kenapa dia harus bohong ? tapi sekarang udah terlambat kan ?</em></p>
<p>Ia terus menjelajati dan memandangi beberapa tulisan yang juga diselipin gambar-gambar romantis. Tak terasa air mata Kenny jatuh.</p>
<p>“Kenny lo nangis ?” tanya Febi yang tiba-tiba udah berdiri di belakang. Kania menghapus air mata dan melirik Febi.</p>
<p>“kelihatannya?” tanya ia balik.</p>
<p>“maaf yaa, gue belum sempat cerita”</p>
<p>“kenapa harus minta maaf ?”</p>
<p>“Rangga kecewa banget, dia juga nyesal saat lo pergi ninggalin kota ini, dia kira lo bakal balik buat pamit ke dia, ternyata dia salah, dia juga kesal karena engga ngejar lo. Dia coba hubungin lo, tapi nomer lo ga aktif. Bulan lalu kita dapet undangan pementasan dadakan, awalnya Rangga nolak karena dia mau naik pentasnya sama elo. Tapi setelah ngobrol banyak sama anak kampus tetangga, akhirnya ia naik, dia jadi pemeran lawannya Lisa. Selama latihan mereka akrab banget. Setelah pentas, Lisa nembak Rangga dan mereka jadian udah sebulan lebih” jelas Febi panjang.</p>
<p>“haha, aku turut bahagia deh”</p>
<p>“Kenn, gue tau kok perasaan lo, gue juga awalnya ngenyangka Rangga ntu suka sama lo”</p>
<p>“udahh lah, apaan coba?”</p>
<p>“gue juga ga ngerti kenapa Rangga bisa jadian sama Lisa, mungkin dia kesepian karena engga ada lo, juga ga pernah komunikasi sama lo”</p>
<p>“udah deh, apa peduli gue coba?”</p>
<p>“Kenn, lo bisa bohong sama gue, tapi engga sama perasaan lo”</p>
<p>“Febbb&#8230;” Kania memeluk Febi erat “aku juga engga ngerti sama perasaan aku, tadinya aku ngira kalo aku cinta sama Rangga, tapi sekarang udah engga”</p>
<p>“maksud lo?” Febi merenggangkan pelukannya.</p>
<p>“aku engga mau ngehancurin hubungan Rangga sama teman dekat aku juga, trus juga Andrean yang dulu pernah aku cerita, dia juga lagi dekatin aku. Kita terus barengan selama tiga bulan lebih, karena dia juga dapet tugas penelitian yang sama di Aceh, jadi kita sering bareng terus”</p>
<p>“lo suka sama Andre Korea itu?” tanya Febi penuh curiga.</p>
<p>“belum yakin”</p>
<p>“ya ampun Kenn, kenapa sih lo?”</p>
<p>“tapi aku bakal coba buat ngebuka hati aku ke dia”</p>
<p>“apa yang terbaik aja deh buat lo Kenn”</p>
<p>“iya, makasih ya Feb” Kania kembali memeluk Febi.</p>
<p>Kania melepaskan pelukannya dan menghapus sisa-sisa air mata di pipinya. Ia hendak pergi ke ruang latihan untuk menenangkan dirinya sejenak. Ingin melepaskan perasaannya. Ruang latihan terlihat sangatlah sepi. Kania duduk di tengah ruangan sambil terisak dan terus berteriak memarahi dirinya.</p>
<p>“kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku ga pernah sadar sama Rangga? Kenapa aku ga pernah coba jujur tentang perasaanku ke Rangga?” Kania terus berteriak tak sadar ada seorang penghuni yang sedang memasang sesuatu pada dinding yang tertutup dengan lemari besar di ruangan itu. Cowok itu merasa ada yang sedang frustasi, ia terkejut saat melihat orang yang sangat ia kenal sedang histeris meneriaki namanya.</p>
<p>“kamu juga Ngga ! kenapa mesti bohong sama aku sih ? kenapa ga pernah pertahanin aku ? sekarang aku harus gimana ? bantu aku buat ngelupain perasaanku ke kamu ! bantu aku buat ngerelain kamu ke Lisa !” Kania terus berteriak histeris tak sadar seseorang mendekatinya.</p>
<p>“Rangga ! lo jahat banget sih ? lo udah nyiksa batin gue ta&#8230;”</p>
<p>Sementara itu di ruangan rapat UKM&#8230;</p>
<p>“eh Feb ! lo liat Kenny ga ? nih temennya nyariin!” tanya salah satu anggota teater pada Febi yang lagi berbincang dengan Lisa. Febi melihat ke sosok teman yang dimaksud. Cowok putih itu tersenyum ramah.</p>
<p>“ohh, Andrean ya?? Tadi sih Kenny bilang mau menyendiri di ruang latihan, yaudah ayo gue anter” Febi bangkit dari duduknya.</p>
<p>“ehh di ruang latihan ? tadi kan si Rangga juga katanya mau ke ruang latihan mau ngambil apa gitu, tapi belum balik. Mereka berdua di sana?” kini Lisa ikutan bersuara.</p>
<p>“yaudah kita jumpai mereka aja yuk” akhirnya Febi dan yang lain ikutan ke ruang latihan yang memang terlihat sepi. Mereka berjalan pelan dan tak menyangka melihat orang yang mereka kenal sedang latihankah di sana ?</p>
<p>Tak sanggup Rangga menahan perasaannya, ia mendekati Kania yang terus berteriak histeris. Ia tak kuasa melihat gadis itu menangis terluka.</p>
<p>“Rangga ! lo jahat banget sih ? lo udah nyiksa batin gue ta&#8230;” Belum sempat Kania menyelesaikan kalimatnya, ia telah di tarik ke dalam pelukan Rangga.</p>
<p>“maafin aku Kenn, aku emang udah jahat sama kamu” Rangga mengelus rambut lembut Kania. Kania masih shock dengan kehadiran rangga tiba-tiba. Ia mendorong tubuh Rangga lembut, namun Rangga mengeratkan pelukannya. “maafin aku yang ga pernah tegas dengan perasaanku” tambahnya lagi. “Kenn, aku sayang sama kamu” sebuah ciuman hangat mendarat di bibir kecil Kania. Sontak Lisa yang memperhatikan dari pintu berteriak kesal.</p>
<p>“Ranggaaaaaa !” Lisa masuk ke ruangan itu dan menarik Rangga. Febi dan Andrean juga ikutan masuk ke ruangan itu. Kania dan Rangga terkejut melihat mereka udah ramai di ruangan yang tadinya sepi.</p>
<p>“Lisa&#8230;?” Rangga melirik heran akan keberadaan Lisa.</p>
<p>“gue tau awalnya kita emang pacaran pura-pura, cuma buat lo ngobatin rasa sakit gue ! gue tau lo ga cinta sama gue, tapi lo udah janji bakal coba cinta dan setia sama gue ! gue juga engga punya rasa ke elo Ngga, tapi itu dulu ! sekarang gue udah cinta sama lo ! lo sendiri yang bilang ke gue kalo lo bakal jadi bagian dari gue ! sekarang kenapa lo nyakitin gue Ngga ? kenapaaaaa ??” Lisa mulai terisak. Kania dan yang lain terkejut mendengar pengakuan pacaran pura-pura antara Rangga dan Lisa.</p>
<p>“Lisa&#8230; maafin aku, aku ga tau harus ngejelasin kaya gimana ke kamu” Rangga mendekati dan mencoba menenangkan Lisa yang udah terduduk di lantai.</p>
<p>“sekarang apa yang bakal lo lakuin ? lo mutusin gue ?” Lisa sinis. Rangga cuma terdiam, ia melirik ke arah Kenny yang didampingi Andrean. Kenny menggeleng. “kenapa Ngga? Lo ga bisa jawab? Jangan hirauin keadaan gue, gue bakal terima apa aja keputusan lo” Lisa mulai menghentikan isakannya.</p>
<p>“engga, aku akan terus ngedampingi kamu, maafin aku atas kejadian tadi” jawaban Rangga membuat Kania sakit, namun ia harus kuat, Andrean yang di sampingnya memeluk dan menenangkan.</p>
<p>“Kenn, kenapa lo diam aja ? lo rela Rangga buat gue ?” Lisa melirik Kania.</p>
<p>“gue rela Sa, Rangga emang ditakdirin buat lo, lagi pula urusan perasaan gue sama Rangga udah selesai. Maaf atas kejadian tadi” Kania berusaha tegar membuat yang lain tercengang. Lisa kembali mengeluarkan air mata.</p>
<p>“apa gue begitu kejam Kenn?” Lisa kembali terisak. Rangga memeluknya erat.</p>
<p>“engga, elo ga kejam, itu semua kesalahan gue yang ga bisa menggunakan timing yang ada” Kania mulai tersenyum. “sekarang gue ikut bahagia buat elo”</p>
<p>“terima kasih banyak Kenn, lo udah ngorbanin perasaan lo” Lisa bangkit dan memeluk Kania. Kania membalas pelukan tersebut dan melirik Rangga sambil menyunggingkan senyum manisnya.</p>
<p>Setelah masalah kecil itu diselesaikan, akhirnya mereka bubaran dan kembali hendak merayakan atas kembalinya Kania. Mereka ke sebuah rumah makan dan melakukan makan malam bersama. Setelah selesai mereka semua berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing/</p>
<p>“thanks ya Kenn” ucap Rangga pada Kania dan kemudian ia pergi bersama Lisa. Kania hanya tersenyum mengangguk.</p>
<p>“kamu pulang sama siapa?” tanya Andrean yang dari tadi berdiri di samping Kania.</p>
<p>“hey, kita duluan ya?” anak-anak teather pada pamit, Kania dan Andrean mengangguk sambil melambaikan tangan mereka.</p>
<p>“pulang sendiri, kamu?” jawab Kania</p>
<p>“tadinya sendiri juga, tapi sekarang maunya berdua sama kamu. Mau?” tanya Andrean sambil mengerdip sebelah mata sipitnya.</p>
<p>“haha, ngerayu nih, oke deh aku mau kok” jawab Kania senang.</p>
<p>“haha asik, ayuk ahh” ajak Andrean sambil menggenggam tangan Kania, mereka menuju parkiran, mengambil mobil dan pulang. Di dalam perjalanan Andrean berusaha mengganggu Kania lagi. Dulu Andrean emang cool banget, pendiam dan suka jutek. Tapi selama dekat dengan Kania, sifatnya yang lain terlihat sudah. Kania memang nyaman dengan Andrean, makanya ia merasa lebih dekat dengan Andrean daripada Reynald.</p>
<p>“kenapa kamu relain sih tu cowo?” tanya Andrean sambil terus mengemudi mobilnya.</p>
<p>“karena aku tahu, perasaanku ke dia telah usai” jawab Kania lembut.</p>
<p>“hah? Maksud kamu?”</p>
<p>“aku hanya engga menggunakan waktu yang udah di tentukan, dulu Rangga buat aku, tapi sekarang Rangga sudah bukan buat aku. Kan kamu juga lihat tadi, ia juga sudah menyelesaikan perasaannya ke aku dengan kembali ke Lisa”</p>
<p>“aku engga ngerti”</p>
<p>“haha, udah lah jangan terlalu dipikirkan, aku juga udah menyelesaikannya”</p>
<p>“terus sekarang kamu giman?”</p>
<p>“maksud kamu?”</p>
<p>“kamu bakal nunggu waktu lagi buat si Rangga putus trus balik ke kamu?”</p>
<p>“haha, ya engga lah. Sekarang aku bakal menggunakan kesempatan yang ada buat aku”</p>
<p>“aduuhh ni anak ngomong apa sih?”</p>
<p>“ihhh Andrean kamu tuh lama-lama ngeselin juga deh ah” Kania mulai ngambek.</p>
<p>“yaa ampun, kan kamu tau bahasa indonesiaku masih kacau. Jadi agak lama deh kalau aku pahami kalimat-kalimat kamu tuh, jangan ngambek dong Kenn” Andrean mengusap-ngusap lembut pipi Kania. Kania merasa jantungnya mulai tak berdetak normal.</p>
<p>“huh? Iya deh aku ga ngambek kok” Kania berusaha tersenyum dan kembali menetralkan detak jantungnya.</p>
<p>“nah trus kesempatan apa yang ada di kamu?”</p>
<p>“aku bakal lebih peka sama orang di sekitarku, dan aku bakal menjaganya selalu”</p>
<p>“hmm, kalau aku adalah kesempatan itu, apa kamu juga mau mengambilku?”</p>
<p>“huh?” jantung Kania kembali berdetak tak karuan. Ia tahu bakal dapat pernyataan seperti ini, tapi ia tak menyangka bakal secepat ini. “emangnya kamu mau sama aku yang udah&#8230;” Kania tidak menyelesaikan ucapannya. Ia menundukkan kepalanya. Tiba-tiba Andrean menghentikan mobilnya. Ia menatap Kania lembut.</p>
<p>“Kenn, aku engga peduli sama yang tadi, itu cuma kesalahan di masa lalu dan itu wajar. Setiap orang juga pernah melakukannya bahkan ada yang lebih parah” Andrean mengangkat dagu Kania lembut dan menantap matanya dalam. “will you be mine?” tanyanya lagi.</p>
<p>Kania yang semakin kacau dengan detakan jantungnya, kini ia semakin gugup. Ia ingin menjawab tapi ia takut salah. Ia berusaha tetap terlihat tenang. “yes i want” ucap Kania akhirnya. “makasih ya kamu udah begitu baik sama aku padahal aku udah ngelakuin kesalahan yang ga seharusnya aku lakukan” Kania kembali murung.</p>
<p>“haha, gapapa kok, hmm atau kamu mau aku hapus kesalahan itu?” tanya Andrean sambil mendekatkan wajahnya ke Kania. Kania semakin deg-deg an.</p>
<p>“maksud kamu?” mata bulat Kania melihat mata Andrean, ia masih belum sadar maksud perkataan Andrean tadi. Namun tanpa hitungan detik bibir Andrean telah menempel di bibir kecil milik Kania.</p>
<p>“sekarang kesalahan itu telah terhapus” ucap Andrean sambil menyunggingkan senyum manisnya. Kania masih belum sadar apa yang baru saja ia alami. Mukanya semakin memerah. Ia hanya mengangguk pelan membuat Andrean terkekeh bahagia. Akhirnya Andrean kembali menjalankan mobilnya dan mereka pulang dengan hati yang senang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>~~~~~ FIN</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/echieychant.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/echieychant.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/echieychant.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/echieychant.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/echieychant.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/echieychant.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/echieychant.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/echieychant.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/echieychant.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/echieychant.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/echieychant.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/echieychant.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/echieychant.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/echieychant.wordpress.com/250/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=250&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://echieychant.wordpress.com/2011/11/07/undestiny-failure-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b13eb0af4bdab04e22741d96812d204?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">echieychant</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/11/images.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>heart&#8217;s messed</title>
		<link>http://echieychant.wordpress.com/2011/10/14/hearts-messed/</link>
		<comments>http://echieychant.wordpress.com/2011/10/14/hearts-messed/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 07:55:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>echieychant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tong Sampah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://echieychant.wordpress.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[hai hai semuah,, im back again^^, sebenarnya ini tulisan udah aku post di blog baruku, tapi berhubung temanku lebih banyak di sini, jadi aku post ulang deh^^ ini cuma tulisan iseng doang kok~^^ happy reading yaa   hari ini hari kamis, hari yang paling aku senangi, gimana engga? hari ini aku bakal jumpa dengan papi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=244&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<address><span style="color:#0000ff;">hai hai semuah,, im back again^^, sebenarnya ini tulisan udah aku post di blog baruku, tapi berhubung temanku lebih banyak di sini, jadi aku post ulang deh^^ ini cuma tulisan iseng doang kok~^^</span></address>
<address><span style="color:#0000ff;">happy reading yaa <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></address>
<address> </address>
<address><span style="color:#0000ff;">hari ini hari kamis, hari yang paling aku senangi, gimana engga?</span><br />
<span style="color:#0000ff;"> hari ini aku bakal jumpa dengan papi aku, dosen yang paling aku favorit-in, gaya mengajarnya membuat semua mahasiswa berpaling xD, mata kuliah : Penulisan Kreatif, siapa sih yang engga kenal sama mata kuliahan ini? khusus anak jurusanku pastinya.</span><br />
<span style="color:#0000ff;"> tanpa rasa malu, berani saja aku memanggil dosenku itu dengan panggilan Papi ^^*</span></address>
<address>
<span style="color:#0000ff;"> semester lalu aku juga pernah jumpa dengan dosen ini, beliau mengajar mata kuliah Penulisan Berita, beliau memang Wartawan senior dan juga bekerja di salah satu media cetak termasyhur di kotaku <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  awalnya aku tak berpikir untuk memanggilnya dengan &#8220;papi&#8221; tapi sempat semester lalu, bapak ini dekat denganku hanya karena pertemuan kami yang tak sengaja di sebuah seminar ternama para Jurnalis (maklum, gini-gini aku juga bisa dikatakan Jurnalis kok :p) dan berujung sampai di kelas saat ia memberi perkuliahan, membuat mahasiswa lain bertanya-tanya? kenapa akhir-akhir ini aku begitu dikenalnya? haha, suatu kebanggaan bisa dekat dengan dosen ternama xD halah halah..oke deh, back to topic xD dengan semangat &#8217;93 (i have my own mean xD) aku ikut perkuliahan hingga selesai, engga tahu kenapa, setiap kali perkuliahan beliau aku merasa senang dan bahagia, semua materi tersampaikan ^^*</span></address>
<address> </address>
<address><span style="color:#0000ff;"><a href="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/10/img_7438.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-247" title="IMG_7438" src="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/10/img_7438.jpg?w=163&#038;h=224" alt="" width="163" height="224" /></a>setelah kelas bubar, aku menuju area parkiran, niat awal mau mengambil motorku dan langsung pulang, tapi aku tersadar kalau hari ini hari kamis, berarti junior yang sedang aku keceng juga ada kelas (kesenangan selanjutnya) xD, akhirnya aku duduk di pinggiran jalan (bukan ngemis kok &gt;&lt;) nunggu si junior keluar kelasnya dan juga mau jumpai teman bergossip, hehehe :p hampir setengah jam aku menunggu tapi orang yang ku tunggu tak kunjung datang, apa ia tidak masuk hari ini? atau ia telah pulang duluan? ahh kecewa aku. akhirnya setelah sebentar berbasa-basi dengan senior, aku langsung pulang, tapi sebelumnya aku transit di rumah teman juga dulu, hendak mengambil beberapa barang penting.</span></address>
<address> </address>
<address> </address>
<address> </address>
<address> </address>
<address> </address>
<address><span style="color:#0000ff;">oke deh, aku di rumah sekarang, iseng iseng mau online, buka twitter dan facebook, mau upload foto terbaru #narsis tapi sayang perasaanku sudah kacau duluan, saat aku membaca notifikasi di akun FB ku, aku buka profilnya (seseorang yang pernah menjadi bagian dariku) ia terlihat begitu lemah, membuatku mengeluarkan airmata dengan tiba-tiba.</span><br />
<span style="color:#0000ff;"> kata-kata yang ia tulis masih sangat aku ingat</span> : <span style="color:#ff00ff;">you can take my breath away but i cant take ur breath cause you are my breath <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  &#8216;s&#8217; miss u</span></address>
<address> </address>
<address><span style="color:#0000ff;">&#8216;s&#8217; adalah panggilannya untukku, sebulan yang lalu (5 sept) kami ada sedikit masalah, kami lost contact dan hubungan kami terbengkalai. namun saat sekarang kami telah kembali, kami masih belum mengerti tentang hubungan kami, apakah masih bisa dikatakan bersama atau memang sudah berakhir. sudahlah aku tak ingin bercerita tentang hal yang akan membuatku menitikkan airmata lagi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></address>
<address> </address>
<address><span style="color:#0000ff;">tanpa sadar, aku seakan menjawab kalimat darinya, tanganku terus mengetik merangkai sebuah paragraf</span> : <span style="color:#ff00ff;">when you are not there, i wait for you. i know you not coming, but i still wait. was that from you teasing me lazy princess, i think i really became a lazy princess. if we meet again, thats not good as i supposed, fight everyday, upset~ its not all that pleasant when you are there, but when you are not by my side, it just feels really strange. i keep telling my self not to wait for you but i keep thinking about you and i keep waiting for you and this waiting thing is really hard work ㅠㅠ &#8220;b&#8221; i miss you more~</span></address>
<address>
<span style="color:#0000ff;">Sudahlah, aku tak tau apa yang sebenarnya dalam pikiran kami, aku terlalu lelah untuk memikirnya. aku hanya ingin fokus pada kuliahku, aku ingin segera menyelesaikan study-ku dan beranjak menemuinya, Jika Tuhan mengizinkan <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></address>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">hanya satu doa yang selalu aku panjatkan</span> : <span style="color:#00ff00;">Tuhan, jika Kau masih mengizinkan kami untuk bersama, maka permudahkanlah jalan kami. karena hanya Kau yang tahu bagaimana tersiksanya perasaan kami jika kami jauh seperti ini.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/echieychant.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/echieychant.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/echieychant.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/echieychant.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/echieychant.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/echieychant.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/echieychant.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/echieychant.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/echieychant.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/echieychant.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/echieychant.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/echieychant.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/echieychant.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/echieychant.wordpress.com/244/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=244&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://echieychant.wordpress.com/2011/10/14/hearts-messed/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b13eb0af4bdab04e22741d96812d204?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">echieychant</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/10/img_7438.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_7438</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Always be my baby (end)</title>
		<link>http://echieychant.wordpress.com/2011/09/05/always-be-my-baby-end/</link>
		<comments>http://echieychant.wordpress.com/2011/09/05/always-be-my-baby-end/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2011 07:39:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>echieychant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://echieychant.wordpress.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[  hello..im back again xD&#8230; akhirnya kelar juga ini tulisan^^ sorry kalo ga jelas ga jelas gitu yaa, namanya juga pemula xD okay deh, silahkan dibaca^^ happy reading ya?? hehehe, eits lupa. komennyah jangan lupa yaaahh, buat perbaikan tulisan kedepan, hehehehe :p ============================================== Raffa makin disibukkan dengan jadwal pemotretannya yang semakin padat dan juga ujian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=238&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/09/always_1883_4.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-239" title="Always_1883_4" src="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/09/always_1883_4.jpg?w=300&#038;h=156" alt="" width="300" height="156" /></a>  hello..im back again xD&#8230;</p>
<p>akhirnya kelar juga ini tulisan^^ sorry kalo ga jelas ga jelas gitu yaa, namanya juga pemula xD</p>
<p>okay deh, silahkan dibaca^^ happy reading ya?? hehehe, eits lupa. komennyah jangan lupa yaaahh, buat perbaikan tulisan kedepan, hehehehe :p</p>
<p>==============================================</p>
<p>Raffa makin disibukkan dengan jadwal pemotretannya yang semakin padat dan juga ujian tes masuk perguruan tinggi. Sekarang dia mulai jarang terlihat bersama Sicha, dan Sicha pun mulai terbiasa dengan kesendiriannya, banyak teman-teman yang lain yang sering mengajaknya jalan. Ia sudah mengerti dengan kesibukan Raffa dan ia juga sudah menerima resiko menjadi pacar seorang seleb.</p>
<p>Hari ini Raffa tak mau lagi dibudakkan jadwal. Ia butuh refreshing, ia ingin menghabiskan waktu bersama pacarnya yang sudah lama tak bersama. Malam ini mereka akan pergi bersama untuk makan malam. Ia ingin menebus segala kesalahannya yang telah lama meninggalkan sang pacar.</p>
<p>Malamnya ia menjemput Sicha yang sudah siap sedari tadi, begitu ia memberhentikan mobilnya di depan rumah pacar tersayangnya, Sicha langsung muncul dari dalam rumah dan masuk ke mobil dan mereka pun pergi bersama. Sibuk memilih-milih restoran yang ingin di kunjungi, akhirnya mereka lebih memilih untuk makan di kedai pinggiran jalan yang sangat ramai jika malam hari. Usai makan mereka melanjutkan lagi perjalanan mereka. Mereka ingin ke taman kota. Sesampainya di taman kota mereka langsung melepaskan rasa kangen sambil menikmati keindahan malam.</p>
<p>“<em>baby</em> gimana kepalamu? Masih sering sakit?” tanya Raffa saat mereka duduk di atas taman.</p>
<p>“ya ampun, udah lama banget kali kak, udah baik juga kok, nih lihat gapapa” jawab Sicha sambil memukul-mukul lembut kepalanya.</p>
<p>“hahaha, bagus deh”</p>
<p>“hehe iya”</p>
<p>“hmm<em>, i miss you so much</em>”</p>
<p>“huh? Hahaha, Sicha juga. Kangen banget tau!”</p>
<p>“<em>sorry</em>, aku terlalu sibuk”</p>
<p>“<em>it’s ok</em>, Sicha ngerti kok”</p>
<p>“makasih sayang” Raffa mengelus kepala Sicha penuh kasih. Tiba-tiba ponselnya berdering, ia melirik sekilas dan meminta izin untuk mengangkatnya agak jauh dari Sicha. Sicha mengangguk dan  ia menjawab panggilan itu. Sicha hanya bisa memperhatikan dari jauh tanpa mengetahui apa yang dibicarakan sama pacarnya itu. Saat kembali Raffa terlihat terburu-buru.</p>
<p>“<em>baby</em>, aku benci situasi ini tapi aku harus pergi, gapapa”</p>
<p>“iya gapapa, kakak boleh pergi”</p>
<p>“okay, kamu tunggu di sini ya, aku janji bakal balik segera, ini ga lama kok”</p>
<p>“hmm, okay deh”</p>
<p>“makasih sayang” ucap Raffa manis sambil mengecup bibir Sicha “aku pergi dulu ya” lanjutnya lagi dan pergi meninggalkan Sicha di taman.</p>
<p>Sicha akan menunggu Raffa kembali, ia juga masih belum ingin pulang terburu-buru. Ia berjalan sepanjang taman menikmati keindahan kotanya. Tak terasa telah dua jam lebih Raffa pergi dan masih belum kembali, Sicha berniat untuk pulang saja. Ia terus berjalan mengitari taman nan indah, namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang yang sangat ia kenal sedang duduk di kursi taman sendirian sambil terkantuk-kantuk. Disampingnya terlihat beberapa botol kaleng beer dan juga beberapa makanan. Sicha datang menghampiri.</p>
<p>“kak Dika?” tanyanya sambil memegang punggung pemuda itu.</p>
<p>“hey Sicha? Sendirian?” balas pemuda itu, suaranya masih semangat tak terdengar seperti orang mabuk atau mengantuk.</p>
<p>“iya, kak Raffa lagi pergi” Sicha duduk di samping Dika. “kakak kenapa di sini?” tanyanya lagi.</p>
<p>“cowok bodoh! Sering banget sih ninggalin cewek manis seperti kamu. Kakak lagi pengen nikmati suasana malam di taman ini”</p>
<p>“haha, dia lagi sibuk aja kok kak, oh iya pacar kakak mana?”</p>
<p>“sama seperti pacarmu, sibuk dengan dunia modellingnya”</p>
<p>“hahaha, berarti kita senasib dong kak”</p>
<p>“mungkin saja hehehe”</p>
<p>Mereka terus berbincang-bincang ringan dan juga bercerita seputar dunia les bahasa italia mereka. Menanyakan kabar teman-teman sekelas dengan Sicha dulu dan juga tentang para Signor yang galak. Mereka terus tertawa bahagia hingga malam semakin larut.</p>
<p>“Sicha, pacarmu selalu sibuk ya? Ga ada waktu buat kamu sedikitpun?”</p>
<p>“hmm, begitulah kak, namanya juga udah cukup terkenal, mau ga mau ya Sicha harus terima waktunya Cuma sedikit buat Si..” tiba-tiba omongan Sicha terputus saat bibir Dika sudah menempel di bibirnya.</p>
<p>“aku tahu, kamu sangat merindukan bibir pacarmu”</p>
<p>“kakak..” Sicha menutup mulutnya dengan tangan. Matanya mulai berkaca-kaca.</p>
<p>“hahaha, sudahlah..”</p>
<p>“iya Sicha memang kangen, tapi kan bukan dari kakak!” namun Dika tidak menaggapi apa yang keluar dari mulut Sicha, ia terus minum. Sampai-sampai Sicha tak sanggup melihatnya. Ia mengambil kaleng beer itu. “Kak! cerita sama Sicha, kakak kenapa? Ada masalah?”</p>
<p>“engga kok, kakak baik-baik aja” jawab Dika datar</p>
<p>“tapi kakak minum, <em>please don’t make me worry!</em> Cerita apa yang terjadi!” Sicha melihat kesedihan dalam wajah cowok di depannya itu, namun Dika tetap tak menggubris. “kak, <em>please</em>” Sicha memohon lagi, namun lagi Dika mencium bibir Sicha lembut. Membuat Sicha terkejut.</p>
<p>“<em>don’t worry</em>, kakak gapapa kok” jawab Dika akhirnya</p>
<p>“kak, kenapa kakak cium Sicha?”</p>
<p>“karena kakak mau&#8230;”</p>
<p>“tapi kakak tau kan, Sicha sudah punya pacar”</p>
<p>“haha”</p>
<p>“kenapa ketawa kak?”</p>
<p>“Sicha mau temenin kakak ga malam ini?”</p>
<p>“maksud kakak?”</p>
<p>“aku butuh kamu malam ini”</p>
<p>“kakak kenapa sih? Ada masalah? Cerita ke Sicha! Jangan seperti ini”</p>
<p>“kamu ga mau?”</p>
<p>“maaf kak, Sicha udah banyak ngelakuin kesalahan sama Raffa dan Sicha ga mau ngelakuin lagi!”</p>
<p>“baiklah” Dika mengambil lagi kaleng beer dan meminumnya.</p>
<p>“kakak, tolong jangan minum lagi, gimana kakak bisa pulang kalau begini?”</p>
<p>“kakak kuat kok” Dika terus minum. “oh iya, lupakan apa yang udah terjadi tadi oke? Anggap semua tak pernah terjadi, aku pergi dulu. Bye” Dika bangun dan meninggalkan Sicha sendiri bingung. Sicha tak ingin terlalu menghiraukannya. Ia masih ingin menunggu Raffa, ia melirik arlojinya, sudah empat jam lebih Raffa pergi. Sicha mulai ngantuk, lebih baik ia pulang saja sekarang. Ia bangkit dari kursi dan mulai melangkahkan kakinya. Setiap langkah kaki ia angkat, teringat lagi apa yang dilakukan Dika, ia kembali mengeluarkan air mata. Apa yang harus ia katakan jika nanti Raffa tau? Kenapa ia begitu bodoh? Begitu saja membiarkan cowok lain menciumnya? Ia kecewa pada dirinya dan terus menangis, tanpa melihat ke depan. Tiba-tiba seseorang menarik tangannya dari belakang membuat ia berbalik dan langsung jatuh dalam pelukan orang tersebut. Sicha mencoba membuka mata dan melihat siapa yang memeluknya.</p>
<p>“maaf membuatmu menunggu lebih lama” Raffa memeluknya erat.</p>
<p>“kakak..” Sicha semakin terisak dalam pelukan Raffa membuat ia sangat khawatir.</p>
<p>“kamu gapapa sayang?”</p>
<p>“maafin Sicha kak”</p>
<p>“lho, harusnya aku yang minta maaf kan?”</p>
<p>“engga, maafin Sicha karena Sicha udah jahat sama kakak”</p>
<p>“kamu gapapa kan?”</p>
<p>“maafin Sicha ya kak” Sicha menatap mata pacarnya dalam, ia memohon agar Raffa tak memarahinya atau meninggalkannya. Kemudian ia menceritakan apa yang dilakukan Dika padanya, tapi ia tidak menyebut nama Dika, ia tak ingin nanti Raffa mendatangi Dika dan terjadilah keributan. Sicha mendapati wajah kecewa Raffa, lagi ia meminta maaf dan meyakinkan Raffa.</p>
<p>“yaudah, ini juga salahku karena udah ninggalin kamu, seharusnya tadi aku ngantarin kamu pulang dulu”</p>
<p>“maafin Sicha kak”</p>
<p>“iya gapapa, tapi  jangan diulangi lagi ya?” Raffa mencium bibir mungil Sicha lembut. Sicha mengangguk dan membalas ciuman kekasihnya. Setelah selesai mereka langsung pulang. Malam juga semakin larut, hawa dingin pun begitu menusuk.</p>
<p align="center">########</p>
<p>Hari ini Sicha berencana untuk menjenguk Rangga, ia merasa jahat, telah melupakan Rangga, kakak yang sangat menyayanginya. Sesampainya di rumah sakit, Sicha langsung menuju kamar Rangga dirawat. Ia mendapati Rangga yang ceria, tak terlihat sakit. Rangga hanya sedang ditemani gadis kecil yang tak kalah cerianya.</p>
<p>“siang kak” Sapa Sicha saat tengah berada di kamar Rangga. Rangga dan gadis kecil itu menoleh dan membalas sapa Sicha “siang” jawab mereka serentak.</p>
<p>“kak Sicha ya?” tanya gadis kecil itu sambil mempersilahkan Sicha duduk. Sicha mengangguk dan tersenyum manis. Rangga hanya ikut tersenyum melihat sikap baik sepupunya itu. “yaudah deh, Ditha keluar aja dulu, silahkan kakak ngobrol ya” Ditha pamit keluar kamar dan membiarkan Rangga dan Sicha bersama.</p>
<p>“kamu kangen sama kakak kan?” tanya Rangga sambil tersenyum nakal.</p>
<p>“aish, apaan sih kak?” jawab Sicha. Malas banget Rangga tetap aja menggodanya.</p>
<p>“ga usah bohong, Ditha cerita banyak lho” kini Rangga terkekeh</p>
<p>“hah? Ya ampun, iya deh iya” akhirnya Sicha mengakuinya juga</p>
<p>“haha, emang kakak tu ngangenin kan?”</p>
<p>“uh..kenapa sih kakak ga bilang sama Sicha kalo kakak sakit”</p>
<p>“kan kamu ga pernah nanya”</p>
<p>“ishh, kakak ni lah”</p>
<p>“kakak Cuma ga mau kamu dekat sama kakak karena kasihan”</p>
<p>“ya ampun, Sicha bukan typical seperti itu kak”</p>
<p>“hahaha, kakak tau”</p>
<p>Mereka terus bercakap-cakap dan juga menceritakan keseharian  masing-masing. Sicha juga menceritakan sedikit tentang hubungannya dengan Raffa. Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Sicha pamit pulang, hari pun mulai sore. Ia pamit  dan meninggalkan Rangga di kamarnya.</p>
<p><em>Aduh, lagi-lagi aku lupa bawa jacket, padahal ini lagi musim dingin. Uhh menyebalkan. </em>Sicha terus menggerutu dalam hati, ia terus berjalan sambil menggosok-gosok badan dengan tangannya. Ia terus berjalan ke halte dan ingin segera tiba di rumahnya.</p>
<p align="center">########</p>
<p>“KEYSHA~!!!!” Raffa berteriak dari kamarnya keras, membuat Key yang lagi asik santai mendengarkan musik di kamarnya terkejut dan langsung menghampiri Raffa di kamarnya.</p>
<p>“ga bisa tanpa teriak ya Om?” tanya Key kesal begitu sampai di kamar Raffa.</p>
<p>“hehe, <em>sorry</em> deh” cengir Raffa.</p>
<p>“iya, emang ada apaan sih?”</p>
<p>“hmm,, Cuma mau tau pendapat kamu tentang ini, bagus ga?” Raffa menyodorkan kotak kecil yang berisi sepasang cincin.</p>
<p>“ya ampun, keren banget. Aku yakin Sicha pasti suka”</p>
<p>“haha, aku tau, dia semua suka apa aja dariku”</p>
<p>“uh?mau jalan jam berapa? Ini udah jam enam Om”</p>
<p>“hah? Serius? Kami mau jalan jam tujuh, yaudah aku mau siap-siap dulu. Makasih komentar kamu”</p>
<p>“huh, udah ngeganggu, trus ga bertanggung jawab” Keysha mengomel dan kembali ke kamarnya.</p>
<p>Setelah selesai dan merasa ganteng, akhirnya Raffa keluar kamar dan hendak langsung menjemput Sicha. Ia begitu gembira malam ini, ia tak bisa menggambarkan kebahagiaannya untuk malam ini, ia begitu merindukan suasana romantis bersama kekasih pujaan hatinya. Selagi asik mengemudi, ponselnya berbunyi.</p>
<p>“kenapa Chik?” Raffa langsung menyapa saat mengetahui siapa yang menelpon.</p>
<p>“kayanya lo musti ke sini sekarang deh” jawab cewek di seberang, Chika.</p>
<p>“apa ga bisa di tunda sampai besok?”</p>
<p>“gue ga yakin, lebih baik lo ke sini deh”</p>
<p>“aduh, untuk dua jam ke depan juga ga bisa?”</p>
<p>“Raffa, gue bilang sekarang, gue tunggu lo, ini penting banget!”</p>
<p>“tapi Chik&#8230;” obrolan terputus, Chika telah memutus sambungan itu, tanpa pikir panjang Raffa memutar balik mobilnya dan menuju ke rumah Chika.</p>
<p>Sicha telah selesai, ia menunggu Raffa, ia melihat jam dinding kamarnya, sudah hampir jam delapan malam, tapi belum ada kabar dari Raffa, sesaat kemudian hapenya berbunyi, ada pesan masuk dan ia langsung membacanya.</p>
<p><em>From : My Prince</em></p>
<p><em>Baby, sepertinya aku bakal telat jemput kamu</em></p>
<p><em>Sorry, ada urusan dadakan</em></p>
<p><em>Waiting for me ok? Love you</em></p>
<p>Sicha mendesah lembut, ia sedikit kesal pada Raffa, akhir-akhir ini ia begitu sibuk. Kenapa ga dibatalin aja jadwal mereka jalan jika ia terlalu sibuk? Ia melemparkan tubuhnya ke kasur dan hendak bergolek, namun hapenya berdering lagi, ia melirik layar hapenya dan mendapati nomor Rangga memanggil.</p>
<p>“iya kak?” ucap Sicha begitu panggilan tersambung.</p>
<p>“bisa temuin kakak?” jawab suara di seberang.</p>
<p>“kenapa kak?”</p>
<p>“kakak kangen kamu”</p>
<p>“hahaha, minggu lalu kita udah ketemu kan?”</p>
<p>“iya, tapi kakak masih kangen”</p>
<p>“yahh, ngegoda mulu sih, ada apaan sih kak?”</p>
<p>“kamu di mana?”</p>
<p>“di rumah”</p>
<p>“bisa temuin kakak?”</p>
<p>“kakak di mana?”</p>
<p>“di rumah sakit”</p>
<p>“mau sih kak, tapi gimana ya?”</p>
<p>“kenapa? Cuma jumpai kakak di rumah sakit”</p>
<p>“iya tapi..”</p>
<p>“kenapa?”</p>
<p>“nanti deh Sicha pergi”</p>
<p>“kenapa ga sekarang?”</p>
<p>“Sicha lagi nunggu kak Raffa”</p>
<p>“ya ampun, sorry kakak lupa”</p>
<p>“kenapa kak?”</p>
<p>“gapapa kok, yaudah sorry kakak udah ganggu”</p>
<p>“ganggu apa?”</p>
<p>“lupakan<em>, i miss you so much my dear</em>”</p>
<p>Sambungan terputus, Sicha tak sempat membalas ucapan terakhir dan juga mengucapkan selamat malam. Sicha bingung dan khawatir, namun ia coba tepis pikiran itu dan ia kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur.</p>
<p>Sicha terkejut dan bangun dari kasur, ternyata ia telah terlelap. Ia melirik jam dinding di kamarnya. Tiga jam lebih Raffa pergi apa ia sudah kembali? Ia mendekati jendela kamarnya dan melihat ke luar, ia mendapati mobil Raffa yang terparkir di depan rumahnya. Ia mengambil <em>handphone</em>nya dan melirik ke layar ada panggilan tak terjawab dari Raffa. Ia keluar dari kamarnya dan berlari menuju teras depan rumahnya.</p>
<p>“Kak” panggilnya lembut saat mendapati Raffa yang terduduk di depan rumahnya. Raffa melirik dan tersenyum. “maaf Sicha terlambat, kakak udah lama nunggu ya?” tanyanya lagi.</p>
<p>“ahh, engga kok, ga papa” Raffa hanya tersenyum menggelengkan kepala.</p>
<p>“maaf Sicha udah ngerusak ..” belum sempat Sicha menyelesaikan omongannya, telunjuk Raffa telah menempel di bibir Sicha. “hsssttt..sudahlah ga papa, sekarang kan kita sudah bersama, nge-date-nya di sini aja ya hehe” Raffa tersenyum manis.</p>
<p>“hmm, yaudah deh ga papa, kalo gitu Sicha ambil minum dan makanan ringan dulu ya?” Sicha hendak beranjak masuk ke dalam rumahnya, namun Raffa buru-buru menarik lengan Sicha mencegah.</p>
<p>“ga usah sayang, kamu aja udah cukup buat aku” Raffa mengerdipkan sebelah matanya.</p>
<p>“huhh, dasar gombal” Sicha memukul lengan Raffa. Dan mereka kembali duduk di kursi teras mengobrol ria. Melepas kerinduan dan bercerita tentang banyak hal dengan kesibukan hari-hari mereka. Sicha juga menceritakan tentang Rangga dan Raffa hanya mendengarkan dengan baik. Saat obrolan terasa sudah selesai, Raffa ingin  menjalankan maksudnya.</p>
<p>“baby..aku punya sesuatu buat kamu” Raffa menyodorkan kotak perhiasan kecil yang diambil dari sakunya.</p>
<p>“apa ini?” Sicha mengambil dan melihat isi di dalam kotak kecil itu.</p>
<p>“hmm, mungkin ini ga terlalu bagus, tapi aku tetap ingin memberikannya” ucap Raffa simpel sambil memakainkan cincin itu pada jari manis Sicha dan memakai pasangannya pada jarinya.</p>
<p>“ahh, engga kok, buat Sicha ini bagus banget dan berharga banget. Makasih ya kak” ungkap Sicha jujur sambil memeluk Raffa.</p>
<p>“beneran? Hehe” Raffa cengiran. Sicha hanya mengangguk dan kembali tersenyum senang. “trus?” Raffa melirik nakal ke Sicha.</p>
<p>“huh?” Sicha mayun.</p>
<p>“<em>i want it, will you</em>?” Raffa memelas.</p>
<p>“<em>sure</em>” ucap Sicha sambil mencium kekasihnya itu.</p>
<p>“makasih sayang, aku pamit pulang ya, udah larut”</p>
<p>“okay, hati-hati ya” Sicha kembali ke kamarnya, malam ini ia sangat bahagia walau Raffa agak terlambat datang. Ia melemparkan tubuhnya ke kasur dan kembali terlelap.</p>
<p align="center">########</p>
<p>Suara hape Sicha berdering, dengan malas dan setengah mengantuk ia meraih hapenya.</p>
<p>“halo?” Sicha bersuara lembut.</p>
<p>“kakak&#8230;” terdengar suara di seberang terisak.</p>
<p>“siapa?” Sicha membuka matanya lebar dan melirik layar hapenya, namun hanya terdapat nomor yang ia tak kenal.</p>
<p>“maaf, ini aku kak. Ditha” suaranya masih terisak.</p>
<p>“iya, kenapa Dith?” Sicha mulai khawatir dan deg-degan.</p>
<p>“kak Rangga..”</p>
<p>“kenapa dengan kak Rangga, aishh perasaan kakak ga enak nih”</p>
<p>“iya kak, Kak Rangga meninggal semalam”</p>
<p>“apa?” Sicha benar-benar shock, ia mulai mengeluarkan air matanya.</p>
<p>“iya, dan aku juga nemuin diarynya, aku baca isinya dan aku banyak nemuin nama kakak”</p>
<p>“iya, kami memang dekat, dia kakak yang baik”</p>
<p>“kak, kak Rangga itu cinta banget sama kakak, makanya di detik terakhir ia bernafas semalam, ia ingin kakak di sampingnya.”</p>
<p>“ya ampun, kakak ga pernah tau, kakak menyesal banget ga datang semalam”</p>
<p>“sudahlah kak, udah lewat juga”</p>
<p>“kakak ga tau mau bicara apa lagi”</p>
<p>“kak, aku tutup teleponnya ya, sebentar lagi kami mau berangkat”</p>
<p>“eh? Kalau kakak boleh tau, di mana dimakamnya?”</p>
<p>“di kampung nenek kak, Voorburg”</p>
<p>“ya ampun, jauh banget, yaudah makasih ya Dith” sambungan terputus. Sicha kini sudah duduk di atas kasurnya, air matanya keluar terus tak terkendali. Ia kecewa sama dirinya. Kenapa ia tak datang semalam? Kenapa ia tetap mengecewakan Rangga di akhir hayatnya. Ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi, ia ingin menjumpai Raffa sekarang, ia ingin cerita semua ke pacarnya itu. Tapi ternyata ia melupakan satu  hal.</p>
<p>Saat melangkahkan kaki ke luar rumah, ia mendapati mobil Raffa di depan rumahnya, ternyata Raffa telah menunggunya, ia lupa kalau hari ini Raffa akan mengantarnya ke pusat bahasa untuk mengirim naskah pertama.</p>
<p>“kamu kenapa sayang?” Raffa mendapati wajah sedih Sicha saat gadis itu berada dalam mobil. Tapi Sicha tak berbicara, air matanya terus saja mengalir deras di pipinya. Membuat Raffa semakin khawatir. Ia memeluk Sicha dan menghapus air mata Sicha. “sudah, jangan menangis” Raffa terus mencoba menenangkan Sicha. Akhirnya Sicha menceritakan kesedihannya, dan menceritakan semuanya tentang Rangga.</p>
<p>“aku ngerti, tapi kamu tidak boleh terus larut dalam kesedihan, ini hanya akan membuat ia susah”</p>
<p>“iya”</p>
<p>“biarkan ia pergi dengan tenang”</p>
<p>“iya kak, aku harus kuat”</p>
<p>“bagus, kamu pasti kuat” Raffa tersenyum dan menjalankan mobilnya, mereka akan menuju tempat tujuan mereka.</p>
<p>“nanti aku ga bisa jemput, ga papa kan?” tanya Raffa saat telah berada di depan gedung pusat bahasa.</p>
<p>“iya, ga papa. Nanti Sicha pulang naik bis saja” jawab Sicha sambil tersenyum manis.</p>
<p>“baiklah, nanti ku jumpai saat di rumah. <em>Good luck baby</em>” ucap Raffa sambil mengecup kening Sicha.</p>
<p>“iya, makasih sayang” ucap Sicha dan beranjak keluar dari mobil. Sicha berjalan masuk ke gedung pusat bahasa itu dengan tenang. Ia ingin melewati hari ini dengan senang walau hatinya sedang berduka.</p>
<p align="center">########</p>
<p>Sicha berjalan santai menuju salah satu restaurant terdekat dari pusat bahasa. Ia tak ingin pulang dulu, ia ingin mengisi perut kosongnya yang sedari tadi pagi belum diisi. Setelah selesai makan ia berniat langsung pulang. Ia melangkah ke luar dari restaurant kemudian ia melirik selebaran yang menempel di dinding-dinding bangunan. Ia hanya melirik tempat pementasan boyband yang sangat terkenal itu, dan berniat ingin menontonnya untuk menghilangkan sedikit kesedihan dan kesuntukan. Setelah mengetahui ia langsung melangkanhkan kakinya ke arah acara pementasan itu yang tidak jauh dari restaurant yang baru saja ia masuki. Dan ia pun berniat untuk berjalan kaki saja, ia ingin menikmati suasana dingin ini lebih lama. Ia terus melangkahkan kaki hingga akhirnya sampai di sebuah kerumunan. Ternyata acara sudah di mulai dari tadi. Ia hanya ingin menonton dari jarak jauh, ia tidak ingin bersempit-sempit ria di sana. Lagi pun banyak gadis-gadis yang berteriak histeris memanggil idolanya yang lagi mentas, ia tidak ingin telinganya rusak hanya gara-gara teriakan konyol para fans fanatik itu.</p>
<p>Sicha terus menikmati alunan musik dan mendengar suara lembut sang vokalis yang sangat bersemangat. Sesekali terdengar teriakan para fans memanggil nama si vokalist, Adit. Sicha hanya tersenyum-senyum, lucu melihat mereka mengeluarkan suara, namun sama saja, yang dipanggil juga tidak menggubris. Sicha duduk di kursi dekat pintu ke luar. Sesaat suara musik itu berhenti, boyband itu ingin istirahat sejenak dan akan dilanjutkan dengan boyband yang lain. Sicha duduk hanyut dalam lamunannya. Tiba-tiba seseorang memegang pundaknya.</p>
<p>“nonton juga?” sapa cowok yang sangat dikenal Sicha.</p>
<p>“eh? Kak Dika? Ikutan nonton juga?” Sicha sedikit terkejut mendapati Dika telah duduk di sampingnya.</p>
<p>“hahaha, kamu tuh ga sadar ya?”</p>
<p>“lho, kok ketawa? Kenapa kak?”</p>
<p>“yaudah, tunggu sebentar ya, tuh udah dipanggil, nanti aku temui lagi” ucap Dika dan kemudian berlalu ke kerumunan yang telah memanggil-manggil nama panggungnya. Sicha hanya melongo menyaksikannya. Para gadis-gadis itu berteriak-teriak, memeluk dan berfoto-foto dengan Dika alias Adit itu. Setelah selesai, Dika kembali menjumpai Sicha yang masih belum sadar akan apa yang dilihatnya.</p>
<p>“hey, kenapa?” Dika melambaikan tangan di depan wajah Sicha.</p>
<p>“kak Dika vocalis BB ini? Kok Sicha ga tau ya?”</p>
<p>“haha, iya. Kamu ga tau karena ga pernah mau cari tau, hahahaha”</p>
<p>“ya ampun, kak Dika adalah Adit?”</p>
<p>“kamu lupa nama kakak ya? Pradika Raditya”</p>
<p>“ya ampun, bodohnya Sicha, ga tau apa-apa hehe”</p>
<p>“hmm, kamu ga mau ikutan foto bareng sang idola nih?”</p>
<p>“huh? Ngapain foto kan tiap hari juga Sicha bisa jumpa kakak, hehehe”</p>
<p>“hmm, bener juga ya..yaudah deh, aku kasih kamu yang ga bisa di dapat tiap hari ya?”</p>
<p>“hah? Emang apa?” Sicha membulatkan matanya penasaran, sekejap Dika menempelkan bibirnya di bibir Sicha. Sicha mendorong Dika dan terkejut. “kak!!”</p>
<p>“hehe, sorry”</p>
<p>“kakak tu selalu bikin Sicha kesal ! Sicha pulang ya” tanpa menunggu jawaban Dika, Sicha langsung melangkahkan kakinya ke luar dari arena pementasan itu. Dika memanggil-manggil, namun Sicha hanya berpura-pura tidak mendengar. Ia kesal sekali, kenapa Dika selalu seperti itu jika berjumpa dengan dirinya. Apa sih yang ia mau? Sicha melangkah cepat menuju halte. Ia ingin segera tiba di rumah.</p>
<p align="center">########</p>
<p>Sicha lagi telpon-telponan dengan Keysha, ia menceritakan tentang Rangga. Keysha ikut berduka atas berita sedih itu. Kemudian Sicha menceritakan tentang Dika dan juga kelakuan Dika atas dirinya selama ini. Keysha sedikit kecewa sama Sicha, kemudian Sicha menjelaskan lagi, ia memang merasa bersalah, ia terlalu dekat dengan semuanya. Ia terlalu baik dengan orang-orang di dekatnya. Sicha bingung atas sikap Dika. Keysha hanya menyarankan untuk meninggalkan Dika, jangan pernah berhubungan lagi dengan Dika. Setahu mereka Dika telah memiliki kekasih, tapi ia masih terus mendekati Sicha. Menurut Key, Dika hanya seorang <em>playboy</em> yang ingin mempermainkan perasaan perempuan. Bisa saja ia juga melakukan hal yang sama dengan cewek-cewek lain, dan karena juga ia merasa dirinya seorang yang terkenal dan banyak fansnya.</p>
<p>Setelah selesai menelpon Key, Sicha menelpon Reva. Ia juga menceritakan tentang perjalanan cintanya dengan Raffa akhir-akhir ini.</p>
<p>“yasudah, putusin saja. Sepertinya ia tidak begitu mencintaimu” Suara kesal Reva terdengar dari seberang.</p>
<p>“iya sih, tapi Sicha udah sayang banget sama kak Raffa. Dan dia juga ngasi Sicha cincin lho” wajah Sicha memerah dan sangat bahagia.</p>
<p>“oh ya? Dia melamarmu?” suara Reva tiba-tiba berubah bahagia.</p>
<p>“ya ampun, belum sampai tahap itu kak”</p>
<p>“ohh, hanya cincin pasangan seperti biasanya ya?”</p>
<p>“begitulah” Mereka terus bercakap-cakap. Sicha menceritakan kesibukannya dan juga kesibukan Raffa yang memang sangat sibuk. Namanya juga seleb dan lagipula ia juga siswa tahun akhir. Kemudian Sicha juga menceritakan tentang kepergian Rangga. Reva ikut sedih, ia berjanji akan mendoakan Rangga saat ke Gereja nanti. Sicha hanya berterima kasih.</p>
<p>“oh ya, gimana hubunganmu dengan Dika? Ia masih sering menjumpaimu?”</p>
<p>“sering kak, setiap kali Sicha lagi sendiri dan bosan, pasti Sicha jumpa sama kak Dika, entah dia ngikutin Sicha terus” suara Sicha berubah lesu.</p>
<p>“lho, kamu kenapa? Asik kan ada yang jauh lebih merhatiin kamu”</p>
<p>“iya sih kak, Sicha senang, tapi dia beda kak”</p>
<p>“maksudmu?”</p>
<p>“entahlah, apa yang ada di pikirannya, dia udah nyium Sicha. Padahal kan kakak tau kalo kak Dika udah punya pacar”</p>
<p>“emang kamu yakin, dia masih sama pacarnya?”</p>
<p>“hah?”</p>
<p>“mereka udah putus, pacarnya ga terima waktu Dika lebih banyak buat boyband-nya dan jadwal manggung. Padahal Dika selalu terima waktu pacarnya lebih luang untuk dunia modelling yang ia tekuni. Kasihan Dika”</p>
<p>“ya ampun, tapi walaupun ia udah putus, ga seharusnya ia melakukan sama Sicha, kan Sicha udah punya pacar”</p>
<p>“Sicha, dengerin kakak ya, Dika itu cinta sama kamu, dia sayang sama kamu. Dia sedih saat tau Raffa tidak memperhatikan kamu lebih. Dika selalu berharap kamu putus sama Raffa, makanya kakak juga ikut dukung, tapi sekarang terserah kamu aja deh, yang ngejalaninya kan kamu. Kakak Cuma ga mau hati kamu sedih terus, apalagi saat kamu cerita kalo Raffa sering jalan sama mantannya”</p>
<p>“Sicha pusing kak”</p>
<p>“yaudah, tenangin aja dulu pikiran kamu, nanti kita jumpa ya. Kita cerita lagi” Reva memutuskan panggilan saat mendapat setuju dari Sicha. Sicha bernafas perlahan, ia kembali memikirkan apa yang dikatakan Key dan Reva. Ia benar-benar pusing. Ia ingin meyakinkan perasaannya kalau ia benar-benar mencintai Raffa.</p>
<p align="center">########</p>
<p>Ponsel Sicha kembali berdering, ia melirik layarnya dan mendapati nomor Raffa, sudah hampir seminggu mereka tidak bertemu, Raffa membatalkan janjinya kala itu karena ada panggilan dadakan, tanpa pikir panjang Sicha langsung menekan tombol OK.</p>
<p>“halo?”</p>
<p>“baby, aku baru saja pulang, sekarang mau istirahat, nanti malam kita keluar ya, aku janji kali ini ga akan batal lagi”</p>
<p>“okay”</p>
<p>“yang semangat dong sayang”</p>
<p>“hehe, iya deh, Sicha juga mau beres-beres dulu”</p>
<p>“yang cantik ya sayang hehe”</p>
<p>“huh..<em>don’t worry</em>”</p>
<p>“okay, <em>see you</em>” Sicha memutus panggilan itu. Hatinya kembali riang, ia segera menyiapkan segala sesuatu buat nanti malam. Ia ingin terlihat lebih cantik dari biasanya untuk malam ini, ia juga tidak ingin selalu disetiap <em>date</em>-nya dengan Raffa berujung air mata lagi.</p>
<p>Sicha sudah selesai berdandan, malam ini ia kelihatan jauh lebih cantik dari biasanya. Ia ingin membuat malam ini berkesan. Ia tidak ingin sedih lagi nantinya. Ia ingin Raffa tidak tega untuk meninggalkannya malam ini. Ia turun dari kamar saat mendengar suara mobil Raffa yang berhenti di depan rumahnya. Ia mendapati kekasihnya yang keluar dari mobil dan tak kalah tampannya.</p>
<p>“<em>wow, you really pretty tonight baby</em>” Raffa takjub melihat kekasihnya yang cantik melebihi putri raja walaupun ia tidak memakai gaun putri.</p>
<p>“hahaha, gombal lagi deh” Sicha tersipu dan mencubit lengan Raffa. Mereka masuk ke mobil dan akan memulai perjalanan mereka malam ini.</p>
<p>“kali ini kemana lagi?” tanya Sicha saat mobil mulai bergerak meninggalkan rumahnya.</p>
<p>“bagaimana kalau kita ke pantai, rasanya akan sangat seru jika datangi di saat suasana seperti sekarang” jawab Raffa sambil terus mengemudi.</p>
<p>“hmm, <em>i think so</em>” Sicha tersenyum menanggapi dan mobil terus melaju hingga sampai di tempat yang mereka maksud.</p>
<p>“<em>arrived</em>” Raffa turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Sicha.</p>
<p>“waah, indah sekali” Sicha terkagum-kagum.</p>
<p>“iya, yuk” Raffa menarik lengannya Sicha dan mereka berjalan ke kursi yang telah di sediakan untuk para pengunjung di pinggiran pantai itu. Malam yang indah dengan pemandangan tak kalah keren.</p>
<p>“<em>baby, sorry</em> ya kalau selama ini aku sering ninggalin kamu dan terlalu sibuk dengan jadwalku” Raffa mulai berbicara sambil memegang tangan Sicha.</p>
<p>“iya, Sicha ngerti kok, ga papa” ungkap Sicha tulus.</p>
<p>“makasih, kamu selalu ngertiin aku”</p>
<p>“ya amp..” belum selesai Sicha menyelesaikan ucapannya, namun Raffa telah mencium bibir Sicha lembut. Sicha hanya menerima ciuman dari kekasihnya itu. Setelah selesai, Sicha mendapati mata Raffa yang mulai berair. Sicha khawatir.</p>
<p>“<em>i miss you so much, i love you, i want you and i really need you baby</em>” Raffa kembali berucap sambil memeluk Sicha kuat. Sicha benar-benar terheran akan sikap Raffa malam ini. Ia hanya mengangguk dan membalas pelukan Raffa.</p>
<p>“<em>i miss you too</em>” Sicha mulai terisak.</p>
<p>“ya ampun, kamu kenapa nangis sayang?” Raffa melepaskan pelukannya dan mengusap pipi Sicha lembut.</p>
<p>“Sicha ga papa kok, Sicha senang banget untuk malam ini” ungkap Sicha sambil memegang tangan Raffa.</p>
<p>“beneran?” Raffa terlihat khawatir, namun Sicha hanya mengangguk. Tiba-tiba hape Raffa berbunyi, ada <em>sms</em> masuk. Sesaat kemudian Raffa membaca pesan dari Chika yang mengajaknya untuk pergi sekarang. Raffa menatap mata Sicha.</p>
<p>“kakak mau pergi dengannya?” tanya Sicha saat mendapat jawaban atas keingin tahuannya dari mata Raffa.</p>
<p>“tidak sekarang, dan jangan bahas dia di <em>date</em> kita sekarang” Raffa menggenggam tangan Sicha meyakinkan.</p>
<p>“<em>sorry</em>” ucap Sicha sambil menundukkan kepalanya.</p>
<p>“<em>baby, please</em>..aku ga mau acara kita rusak lagi malam ini” Raffa mengangkat dagu Sicha dan menatap matanya.</p>
<p>“terus?” Sicha menatap lelah pada Raffa.</p>
<p>“aku ingin bersamamu malam ini” ungkap Raffa lagi. Kemudian hape Raffa berdering lagi ada panggilan masuk. Setelah mendapat anggukan dari Sicha ia langsung menerima panggilan itu. Sicha tak begitu paham apa yang dikatakan Raffa dengan si penelpon. Karena ia berbicara dengan bahasa Jerman. Setelah memutus panggilan itu Raffa kembali terlihat sedih.</p>
<p>“sudah lah kak, pergi saja, Sicha ga papa, itu pasti sangat penting”</p>
<p>“<em>i really sorry baby</em>”</p>
<p>“<em>nevermind, i’m ok”</em></p>
<p><em>“</em>okay, aku janji ini engga lama, aku akan kembali, kamu tunggu di sini ya, plis kali ini percaya sama aku”</p>
<p>“iya kak, Sicha selalu percaya, Sicha bakal nunggu kakak disini”</p>
<p>“makasih sayang, aku pergi ya” Raffa memeluk Sicha dan kemudian meninggalkannya di pantai yang memang masih sangat ramai pengunjung.</p>
<p>Sepeninggalan Raffa, Sicha bangun dari tempat duduknya dan berjalan di sepanjang pinggir pantai. Ia menikmati keindahan malam ini dan juga sesekali merentangkan tangannya menghirup udara hangat di malam hari pada musim dingin.</p>
<p><em>Ohmai, apa yang sedang menimpaku? Kenapa aku begitu sedih saat menjalani hubungan dengan orang yang sangat aku cintai? Bintang yang cantik, apa aku begitu sial dalam hal cinta? Kenapa aku sampai sebodoh ini? Kenapa aku terus mempertahankan hubunganku dengan orang yang selalu membuatku menangis? Padahal semua ingin kami putus. Dan kenapa aku mengabaikan cinta orang-orang yang lain di sekitarku? Apa yang sedang aku pikirkan? Bintang kecil nan indah, aku ingin kehidupan cintaku berakhir bahagia layaknya cerita dongeng yang aku baca.</em></p>
<p>Sicha terus berkata dalam hati, ia telah duduk di pinggir pantai dengan kaki telanjang, ia biarkan air laut menjilat kakinya, ia hanya memandang langit nan indah yang selalu ceria saat bintang hadir di sana. Air matanya mulai mengalir. Ia ingin malam ini benar-benar mengeluarkan isi hatinya yang terluka. Ia tetap ingin menunggu Raffa.</p>
<p align="center">########</p>
<p>“aku mau kamu cerita semua ke Sicha” ucap Chika saat mereka keluar dari sebuah gedung besar di pusat kota.</p>
<p>“aku ga sanggup Chik, aku ga mau ia terluka lagi” jawab Raffa.</p>
<p>“jadi, mau sampai kapan kamu terus bohong Raff? Kamu tau ga kalo dia bakal terluka nantinya, Sicha hanya mau kamu jujur”</p>
<p>“aku ga kuat”</p>
<p>“terus kamu mau apa?”</p>
<p>“aku tahu apa yang aku lakukan, walau ini bakal menyakitkan”</p>
<p>“kamu jangan gila”</p>
<p>“jangan khawatir, aku sadar apa yang aku lakukan”</p>
<p>“baiklah, aku percaya”</p>
<p>“makasih Chika, aku harus kembali menemui Sicha”</p>
<p>“okay, bye”</p>
<p>Raffa memasuki mobil dan langsung mengemudi cepat, ia ingin segera menjumpai Sicha yang sudah ditinggal hampir satu jam lebih di pinggir pantai, ia mengkhawatirkan keadaan Sicha, cewenya yang super ceroboh, ia tahu pasti Sicha juga tidak membawa jaket atau sweaternya malam ini. Setelah tiba, ia memakirkan mobilnya dan langsung mencari-cari Sicha. Ia mendapati Sicha yang sudah terduduk di pinggir pantai sambil memeluk kakinya. Wajah ia letakkan di atas lutut dan terus memanggil nama kekasihnya. Raffa yang mendengarkan jadi sangat sedih. Ia langsung duduk memeluk Sicha dari belakang.</p>
<p>“udah kembali?” tanya Sicha menoleh dan mendapati Raffa di belakangnya.</p>
<p>“maaf aku sudah merusak acara kita lagi” ucap Raffa sambil menarik lengan Sicha membuatnya berdiri.</p>
<p>“iya, engga apa-apa, aku tahu kakak sibuk banget” Sicha berdiri dan menatap Raffa lembut dan tersenyum manis. Raffa menatap dalam mata Sicha, ia masih belum mampu berkata jujur pada Sicha, ia sangat mencintai gadis di depannya. Raffa menarik Sicha ke dalam pelukannya dan memeluk gadis itu kuat. Lagi Sicha terkejut dan hanya membalas pelukan Raffa, malam ini Raffa benar-benar aneh membuat Sicha khawatir.</p>
<p>“<em>baby, i love you so much, i miss you</em>” Raffa mengusap rambut Sicha lembut “kakak sayang kamu” tambahnya lagi. Kini Sicha tak sanggup membendung, air matanya terus jatuh, ia mulai terisak dalam pelukan Raffa.</p>
<p>“Sicha juga sangat sayang sama kakak” ucap Sicha di sela tangisannya.</p>
<p>“aku tahu”</p>
<p>“iya, kakak memang selalu tahu”</p>
<p>“aku minta maaf banget”</p>
<p>“Sicha udah maafin kok”</p>
<p>“makasih sayang, sudah..jangan nangis lagi ya” Raffa melepas pelukannya dan menghapus air mata Sicha.</p>
<p>“iya iya, Sicha ga nangis lagi” Sicha masik terisak dan ikut menghapus air matanya.</p>
<p>“bagus, sekarang senyum ya” ucap Raffa sambil memegang wajah Sicha dan menatap matanya lembut. Sicha kembali menyunggingkan senyuman manisnya, membuat Raffa ikut tersenyum. “<em>baby,,could i kiss you?”</em> ucap Raffa lagi tetap memegang wajah Sicha dan menatap mata gadis itu dalam.</p>
<p>“<em>sure”</em> Sicha mengangguk membolehkan. Dan sesaat Raffa mencium bibir Sicha lembut dan mendalam, Sicha membalas ciuman Raffa dan melingkarkan tangannya di leher Raffa. Mereka menikmati kebersamaan mereka hingga larut. Setelah selesai, Raffa kembali memeluk Sicha erat. Dan mencium kening kekasihnya itu.</p>
<p>“sayang, kita pulang yuk, udah larut nih” ajak Raffa, saat sadar mereka telah lama berada di pantai itu, Sicha mengangguk dan mereka pun beranjak pulang.</p>
<p align="center">########</p>
<p>Tadi pagi Sicha ke toko buku dan membeli beberapa buku yang ia butuhkan, ia juga membelikan buku buat Raffa. Ia tidak memberikan langsung pada pacarnya itu, namun ia paketkan dan mengirim lewat jasa pengiriman kilat. Ia ingin terlihat seperti hadiah kiriman. Setelah pulang dari kantor pengiriman ia langsung pulang. Hari ini ia ingin makan siang di rumah, soalnya kedua orang tuanya ingin bersama siang ini. Sampai di rumah ia langsung menuju ruang makan. Makanan sudah tertata rapi di atas meja. Ia menjumpai orang tuanya dan mencium mereka hingga akhirnya ia duduk di kursi makannya. Sesaat kemudian suasana makan siang pun terasa. Mereka menyantap makanan dengan lahapnya.</p>
<p>“sudah lama kita tidak pernah merasakan suasana seperti ini” Papa Sicha tiba-tiba berkata di sela menyantap makanan.</p>
<p>“iyalah, anak kita sibuk terus makan di luar” kini mama Sicha berkomentar.</p>
<p>“ya ampun, mama papa Sicha ga sibuk, tapi mama dan papa aja kurang beruntung hehehe” Sicha mencandai orang tuanya, sesaat mereka tertawa kecil dan kembali makan.</p>
<p>“oh ya, apa kamu senang sekolah di sini?” Papa bertanya lagi.</p>
<p>“kenapa pa?” tanya Sicha heran dan melirik mamanya, namun mama cuek saja.</p>
<p>“ya ga papa sih, kalau kamu kurang suka, kita bisa kembali ke Amerika” ucap papanya sambil meneguk air di depannya.</p>
<p>“oh, engga kok..Sicha senang sekolah di sini, temannya asik semua” ucap Sicha tersenyum.</p>
<p>“temannya yang asik atau punya pacar di sekolah itu?” kini mama mencoba menggoda.</p>
<p>“yaaah mama, tau aja deh” Sicha tersipu. Kemudian mereka tertawa lagi dan kembali melanjutkan makan siang mereka hingga selesai. Sicha senang sekali dengan suasana yang sudah sangat jarang ia rasakan.</p>
<p align="center">########</p>
<p>Kiriman Sicha sampai juga di rumah Raffa. Raffa menemukan paket itu saat masuk ke kamarnya, ia baru saja pulang dari rumah Chika. Ia mencari-cari nama pengirim, namun tidak menemukannya. Hanya ada nama dirinya dan alamat rumahnya. Ia ingin menanyakan pada ponakannya.</p>
<p>“KEYSHAAA~~” Raffa berteriak dari kamarnya, membuat Keysha berlari cepat menemuinya.</p>
<p>“kenapa sih Om? Ada kebakaran?” tanya Key panik.</p>
<p>“kamu tau ga ini kiriman dari siapa?”</p>
<p>“ya ampun, ga penting banget deh. Bikin kaget aja!”</p>
<p>“aku nanya ke kamu Key!”</p>
<p>“ck, mana aku tau, buka aja isinya, siapa tau ada petunjuk di dalam”</p>
<p>“ga deh, takutnya bom”</p>
<p>“aish, lebay banget deh”</p>
<p>“yah Key, kamu kan tau aku seleb”</p>
<p>“aish, yaudah sini aku yang buka” Key meraih kotak kiriman yang di kirim ke Raffa dengan kesal, ia membuka bungkusan dengan perlahan, setelah selesai ia menemukan buku tebal. Buku panduan belajar dan hidup di negara Jerman. Ia memberikannya pada Om yang super lebay yang sedari tadi menyaksikan kesibukan Key.</p>
<p>“eh om, ada suratnya nih” Key menyodorkan kertas putih yang ada tulisan ke omnya. Raffa mengambil kertas itu dan ingin membacanya. Namun Key langsung bergerak ingin meninggalkan kamar omnya. “udah selesai? Aku mau balik ke kamar” Key langsung beranjak ke luar.</p>
<p>“iya, makasih ya Key, nanti ku cium deh, haha” Raffa menggoda dan sekejap terkekeh saat mendengar suara teriakan penolakan dari Key. Ia kembali melirik ke kertas putih di tangannya, ia membaca tulisan yang sangat ia kenal itu.</p>
<p><em>Because </em><em>i </em><em>am so stupid </em><em>a</em><em>n</em><em>d</em><em> such a fool</em><em>, </em><em>my eyes don&#8217;t see nobody but </em><em>yo</em><em>u</em></p>
<p><em>even though i know </em><em>yo</em><em>u love someone else</em><em>, yo</em><em>u could never know the pain that i felt</em><em></em></p>
<p><em>yo</em><em>u probably never think of me at all</em><em>, a</em><em>n</em><em>d</em><em> i know we&#8217;ve no memories</em></p>
<p><em>but the one who really wants </em><em>yo</em><em>u is me</em><em>, </em><em>in the end only my tears will fall</em><em></em></p>
<p><em>i stay,</em><em> yo</em><em>u walk away</em><em>, </em><em>i stand back,</em><em> </em><em>watching </em><em>yo</em><em>u day by day</em></p>
<p><em>yo</em><em>u can&#8217;t see that </em><em>i </em><em>am so in love w</em><em>ith yo</em><em>u</em><em>, </em><em>like the wind </em><em>yo</em><em>u just fly right through</em><em></em></p>
<p><em>there are days when i just miss </em><em>yo</em><em>u so much</em><em>, </em><em>there are days when i just long for </em><em>yo</em><em>ur touch</em></p>
<p><em>i love </em><em>yo</em><em>u somehow flies right off my lips </em><em>a</em><em>n</em><em>d</em><em> so</em></p>
<p><em>once again </em><em>i </em><em>am left crying </em><em>for you, </em><em>once again </em><em>i </em><em>am left here missing </em><em>yo</em><em>u</em><em></em></p>
<p><em>i love </em><em>yo</em><em>u</em><em> i</em><em> am waiting </em><em>for you</em></p>
<p><em>yo</em><em>u&#8217;ll probably never have a dream of me</em><em>, a</em><em>n</em><em>d</em><em> i know </em><em>i </em><em>am in love all alone</em></p>
<p><em>that&#8217;s why we don&#8217;t really have memories</em><em>, </em><em>in the end. I&#8217;ll make them all on my own</em><em></em></p>
<p><em>love&#8217;s like a river of tears</em><em>, </em><em>that will flow whenever </em><em>yo</em><em>u&#8217;re not here</em></p>
<p><em>even though </em><em>yo</em><em>ur heart will never be mine</em><em>, </em><em>it&#8217;s enough just seeing </em><em>yo</em><em>ur smile</em><em></em></p>
<p><em>there are days when i see nothing but rain</em><em>, </em><em>there are days when i just feel so much pain</em></p>
<p><em>i miss </em><em>yo</em><em>u somehow flies right off my lips </em><em>a</em><em>n</em><em>d</em><em> so</em></p>
<p><em>once again </em><em>i </em><em>am left wishing </em><em>for yo</em><em>u</em><em></em></p>
<p><em>bye, bye, never say goodbye</em><em>, </em><em>even though it&#8217;s not me by </em><em>yo</em><em>ur side</em></p>
<p><em>i need </em><em>yo</em><em>u,</em><em> </em><em>i just can&#8217;t say it but i want </em><em>yo</em><em>u</em></p>
<p><em>i cannot stop wishing for </em><em>yo</em><em>u</em><em>, </em><em>i love u</em><em>, </em><em>i miss u</em></p>
<p><em>once again </em><em>i </em><em>am left wishing for </em><em>yo</em><em>u</em><em>, </em><em>once again </em><em>i </em><em>am left here missing </em><em>yo</em><em>u</em><em></em></p>
<p><em>i love </em><em>yo</em><em>u </em><em>i </em><em>am waiting for </em><em>yo</em><em>u</em></p>
<p>Raffa membaca dan larut dalam isi tulisan itu, ia ingat nanti sore mereka akan berjumpa. Ia langsung bergegas, ia tidak ingin membuat Sicha menunggu lagi. Hari ini Raffa tidak menjemput Sicha, mereka janji bertemu di taman kota saja karena Sicha ada jadwal pelatihan bahasa di pusat bahasa.</p>
<p align="center">########</p>
<p>Raffa tiba di taman kota, ia mulai mencari sosok Sicha dan menemukan gadis itu di kursi dekat kolam ikan berada, ia sedang menikmati ikan-ikan kecil yang berenang bebas di sana. Raffa mendekatinya.</p>
<p>“maaf sedikit terlambat” ucap Raffa dan duduk di samping Sicha.</p>
<p>“ga papa kok kak, Sicha juga baru sampai” balas Sicha dan tersenyum manis.</p>
<p>“ngomong-ngomong, aku udah terima paket kiriman dari kamu” Raffa berkata datar.</p>
<p>“uh? Iya, Sicha kirim buku itu, soalnya Sicha pernah dengar kakak menerima telpon dengan bahasa itu, jadi Sicha pikir kakak butuh..” Sicha belum menyelesaikan ucapannya.</p>
<p>“kenapa kamu begitu baik sama aku?” Raffa memotong dan tetap dengan suaranya yang datar.</p>
<p>“maksud kakak apa?” Sicha mulai bingung.</p>
<p>“aku juga sudah baca surat kamu” Raffa masih bersuara dengan datar, pandangannya lurus ke depan.</p>
<p>“maaf, Sicha Cuma ga mau kehilangan kakak” suara Sicha mulai melemah, ia menundukkan kepalanya, melihat ke bawah.</p>
<p>“apa kamu benar-benar mencintaiku? Maaf aku bertanya seperti ini” Raffa melirik wajah Sicha yang tampak terkejut.</p>
<p>“tentu saja, kenapa kakak nanya gitu? Kakak ga beneran suka sama Sicha?” Sicha menatap wajah Raffa, matanya mulai berair.</p>
<p>“maaf” Raffa menghela nafas berat.</p>
<p>“apa?” Sicha mulai histeris.</p>
<p>“kamu masih ingat awal kita jadian? Itu hanya kecelakaan, aku ingin mengisi kekosongan hatiku, dan bukankah kita baru kali itu bersapa? Bisa kamu pikir sendiri, mana bisa aku langsung mencintai cewek yang baru sekali kutemui” Raffa berkata tanpa menatap Sicha, ia tidak ingin Sicha mendapati kebohongan di sana.</p>
<p>“kakak kejam! Kakak mainin perasaan Sicha? Kakak tau kan? Sicha tulus cinta sama kakak, Sicha berusaha jadi pacar yang baik, tapi kenapa kakak tega?” air mata Sicha semakin banyak.</p>
<p>“aku udah coba berusaha buat mencintaimu, tapi maaf” Raffa tetap memandang lurus ke depan.</p>
<p>“kak, kenapa kakak tega sama Sicha? Apa mau kakak hah? Kenapa nyakitin Sicha? Kakak tau gimana perasaan Sicha sekarang?” Sicha terus berteriak, menangis tak karuan.</p>
<p>“aku minta maaf”</p>
<p>“R A F F A A A A ! ! !” Sicha berteriak kesal.</p>
<p>“aku mohon, lupakan aku dan carilah cowok lain yang lebih baik dariku”</p>
<p>“gila! Sicha ga bisa, <em>i just want you!</em>”</p>
<p>“<em>please, just try to find other boy, i’m ok</em>”</p>
<p>“maaf, Sicha ga bisa..terserah kakak mau bilang apa”</p>
<p>“Sicha, <em>please</em>, kalau kamu begini terus yang ada kamu semakin tersakiti”</p>
<p>“cinta ga selamanya bahagia kak”</p>
<p>“Sicha, aku mohon”</p>
<p>“jangan paksa Sicha”</p>
<p>“okay, terserah kamu, tapi aku sangat berharap kamu cari cowok lain”</p>
<p>“kak, kenapa kakak ga bisa cinta sama Sicha?”</p>
<p>“<em>i don’t know</em>, aku tidak punya alasan, jangan kamu tanya lagi”</p>
<p>“kenapa kakak gini sih? Apa karena Chika?”</p>
<p>“aku mau pulang, ada hal penting, sampai jumpa besok”</p>
<p>“kakak!”</p>
<p>“sudahlah Sicha, jangan terus paksa dirimu, aku pulang bye” Raffa bangkit dari kursi dan meninggalkan Sicha yang masih menangis di pinggir kolam. Raffa khawatir, tapi ia harus tega karena demi kebaikan mereka. Raffa mengendarai mobilnya dan langsung pulang. Sicha tak sanggup lagi menerima kenyataan, ia meraih ponselnya, dalam isakan ia memencet nomor Key dan menelponnya. Sicha menceritakan semua kepada Keysha, ia menangis kuat. Key mencoba menenangkan, ia juga tidak menyangka Omnya sejahat itu, ia meminta Sicha untuk memutuskan Raffa, Key juga tidak ingin melihat Sicha menangis lagi. Sicha menolak, mereka sempat berantam kecil, karena Sicha tak mau mendengar kata-kata Key. Akhirnya Key menerima, Sicha memang keras kepala, tetap tidak mau memutuskan Raffa. Setelah selesai, Sicha menelpon Reva, ia juga menangis dan menceritakan semua pada Reva. Reva yang mendengar jadi sangat kesal. Reva juga meminta hal yang sama, Sicha harus putusin Raffa, tapi memang Sicha keras kepala, ia tetap keukeuh sama kemauannya. Sicha mengatakan kalau ia sedang berjalan menuju taman tepi sungai kota. Ia ingin menenangkan diri. Reva menyarankan agar ia tidak melakukan hal konyol, Sicha patuh dan mereka menyelesaikan pembicaraan mereka.</p>
<p align="center">########</p>
<p>Raffa baru saja masuk ke kamarnya, ia sangat lelah untuk hari ini. Ia hendak melemparkan tubuhnya ke kasur, namun ia mendapati Key dengan wajah merah karena marah di atas kasurnya. Sekejap Raffa terkejut.</p>
<p>“ngapain kamu di kamar aku?” tanya Raffa tanpa melihat wajah Key.</p>
<p>“kenapa Om tega nyakitin Sicha?” Key menatap Raffa tajam.</p>
<p>“kenapa? Emang aku salah?”</p>
<p>“kenapa harus Sicha? Aku tau Om sakit banget pas diputusin Chika, tapi jangan lampiasin ke Sicha dong? Dia itu cewek baik”</p>
<p>“sudahlah Key, aku ga mau bahas”</p>
<p>“tapi aku mau tau!”</p>
<p>“Key, aku capek”</p>
<p>“terserah!”</p>
<p>“apaan sih? Aku capek”</p>
<p>“oh okay, jadi hanya karena Chika Om rela nyakitin Sicha, cewek yang benar-benar tulus mencintai Om, cewek yang selama ini rela sakit demi Om, cewek yang selalu tersakiti. Dan Om masih ingin menghancurkan dia lagi, tau ga sih? Gimana perasaan dia sekarang? Rapuh banget Om! Dan Om nambahin lebih rapuh lagi? Mungkin sekarang ia sudah hancur, hancur banget! <em>Well</em>, aku ga bisa buat apa-apa, di mata Om Chika lebih baik, tapi dunia tahu, Sicha jauh lebih baik!”</p>
<p>“stop Key!”</p>
<p>“kenapa? Ga mau aku menghina cewek pujaan hati Om itu hah?”</p>
<p>“aku bilang cukup! Kamu ga tau apa-apa Key!”</p>
<p>“aku emang ga tau apa-apa, karena Om ga pernah cerita!”</p>
<p>“Key, aku juga sakit!” Raffa mulai berkaca-kaca, ia mengambil amplop di atas meja belajarnya dan menyerahkan pada Keysha. Key meraih dan membaca isi amplop itu. “aku dapat panggilan kuliah khusus di Jerman, aku akan berangkat bulan depan. Selama ini aku dekat dengan Chika, hanya memintanya mengoreksi artikelku, kami ga ada hubungan apa-apa. Aku mencintai Sicha Key, sangat mencintainya” lanjut Raffa, kini air mata telah membasahi pipinya.</p>
<p>“kenapa harus bohong?” Key mulai ikut sedih.</p>
<p>“karena aku ga bisa tanpa dia, jadi aku ingin merubah perasaanku dengan mencoba  melupakannya, aku pikir itu lebih baik”</p>
<p>“itu sangat menyakitkan Om”</p>
<p>“aku tahu, tapi aku tidak bisa berbuat lain lagi, aku harus meninggalkannya, aku ingin seperti tidak mengenalinya”</p>
<p>“Om, Sicha pasti sangat terpuruk sekarang, lebih baik om jujur sama Sicha, kalian kan bisa berhubungan jarak jauh, aku yakin Sicha bisa menerimanya”</p>
<p>“aku tidak yakin”</p>
<p>“percayalah, ia gadis yang baik, sekarang temui dia, aku tak mau ia minum lagi”</p>
<p>“ya ampun, kamu benar Key”</p>
<p>“di mana ia sekarang?”</p>
<p>“aku tahu”</p>
<p>“yaudah aku ikut”</p>
<p>“okay, ayo kita pergi sebelum terlambat” Raffa dan Keysha menuju mobil, mereka ingin ke taman tepi sungai kota. Biasanya Sicha kalau lagi sedih, bakal menenangkan pikirannya di sana. Raffa mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi. Ia tak sabar ingin segera tiba. Menemukan kekasihnya.</p>
<p align="center">########</p>
<p>Sicha terus berlari-lari mengitari taman kecil di tepi sungai kota itu sambil berteriak memanggil-manggil nama Raffa. Ia tak perduli orang-orang melihatnya, ini sudah malam, pasti tidak ada yang mengenalinya. Ia tak perduli kakinya yang mulai pegal dan luka-luka kecil, ia ingin Raffa kembali. Mengatakan cintanya, ia tak ingin melepaskan Raffa.</p>
<p>Raffa dan Keysha tiba di taman, mereka melihat Sicha yang masih terus berlari-lari mengitari taman. Raffa jadi merasa bersalah.</p>
<p>“lihat Om, sesakit apa juga, dia masih memanggil namamu” Keysha berucap datar</p>
<p>“iya, aku jadi merasa bersalah” ungkap Raffa sedih</p>
<p>“yaudah, buruan temui dia”</p>
<p>“baiklah” Raffa hendak melangkahkan kakinya ingin menjumpai Sicha, namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang berlari dan memeluk Sicha.</p>
<p>“siapa dia?” Key menyelidik</p>
<p>“aku tidak tahu, tapi sepertinya aku pernah melihatnya di sekolah”</p>
<p>“jangan-jangan&#8230;” Key mengingat sesuatu</p>
<p>“kenapa Key?”</p>
<p>“ahh tidak, aku salah” mereka berdua akhirnya memilih berdiam diri dan menyaksikan aksi pemuda itu.</p>
<p align="center">########</p>
<p>Sicha terus berlari, air matanya jatuh tak karuan. Di pikirannya hanya ada Raffa, semua hanya ada bayangan Raffa, wajah Raffa. Raffa telah menghantui pikirannya. Semua benda yang ia lihat seakan Raffa. Ia mulai tak sadarkan diri, seseorang berlari dan memeluknya erat. Sicha hanya menerima pelukan itu, ia sudah lelah dan capek.</p>
<p>“kamu ga apa-apa kan?” tanya cowok yang tak lain Dika.</p>
<p>“kak Raffa? Kenapa kamu tega nyakitin Sicha hah? Kenapa kamu mempermainkan perasaan Sicha hah? Apa salah Sicha? Kenapa kakak ga bisa mencintai Sicha?” Sicha berteriak-teriak histeris sambil memukul-mukul badan Dika yang ia kira Raffa dengan lemah. Dika menggeram, ia juga ikut kesal, ia tak sanggup melihat Sicha seperti ini.</p>
<p>“cowok bodoh! Sicha tenang ya? Kakak di sini, kakak bakal selalu ada buat Sicha”</p>
<p>“bohong! Kakak jangan bohongi Sicha lagi, Sicha capek tau!!”</p>
<p>Dika tak sanggup melihat Sicha sakit seperti ini, namun ia juga tak bisa menemukan Raffa, ia ingin menjumpai cowok yang menurutnya bodoh itu.</p>
<p>“Sicha jangan nangis lagi, cukup air mata Sicha keluar” Dika mencoba menenangkan dan ia memberanikan diri lagi untuk mencium Sicha, kali ini Sicha tidak menolak. “Sicha tenang ya, kakak disini akan menjagamu” ia kembali mengecup bibir Sicha. Sicha sangat lelah dan capek hingga kini ia telah jatuh terkulai lemas dalam pelukan Dika.</p>
<p align="center">########</p>
<p>“dia bilang dia nunggu aku, dia cinta aku, tapi dia&#8230;arrgghhh” Raffa mengerang kesal menyaksikan Sicha dalam pelukan cowok lain.</p>
<p>“dia mengira itu Om” suara Key terdengar setengah membisik. Mereka masih menyaksikan dari kejauhan.</p>
<p>“aku tau apa yang harus aku lakukan!” Raffa berbalik dan ingin pulang.</p>
<p>“Om tunggu! Jumpai mereka <em>and get her back!</em>” Key memberi masukan.</p>
<p>“engga Key, aku ga kuat ke sana, kita pulang saja” Raffa terus melangkah pulang. Key hanya mengangguk mengikuti, ia juga bingung. Siapa yang pantas disalahkan? Raffa melaju mobilnya kencang. Pikirannya kacau. Ia telah yakin dengan pilihannya.</p>
<p align="center">########</p>
<p>Sicha membuka matanya dan memijit-mijit kepalanya yang terasa sakit. Ia melihat dirinya dalam pelukan Dika, ia langsung mundur dan menatap Dika tajam.</p>
<p>“mana kak Raffa?” Sicha terkejut saat melihat bukan Raffa yang memeluknya.</p>
<p>“dia engga ada, di ga akan pernah ada Sicha!” jawab Dika sambil mengusap kepala Sicha.</p>
<p>“apa? Jadi tadi..” Sicha menutup mulutnya dan kembali menangis saat sadar bukan Raffa yang bersamanya dari tadi. “kenapa kakak ulang lagi? Kenapa harus Sicha kak?” tanya Sicha terus menangis. Dia benar-benar stress sekarang.</p>
<p>“Sicha, lupakan dia, dia bukan cowok yang baik. Dia selalu nyakitin kamu!”</p>
<p>“Sicha ga bisa kak! jangan paksa Sicha!!”</p>
<p>“Sicha, kakak ga mau liat kamu sedih terus”</p>
<p>“kenapa?”</p>
<p>“karena kakak sayang sama kamu, kakak cinta sama kamu!”</p>
<p>“aisshh, kakak gila ya!”</p>
<p>“kenapa?”</p>
<p>“kak, tolong jangan tambah beban pikiranku, Sicha udah cukup stress sekarang. Sicha mau pulang”</p>
<p>“kakak antarin ya”</p>
<p>“Sicha naik bis saja” Sicha bangun dengan terhoyong, ia melangkahkan kakinya sambil memijit-mijit kepalanya.</p>
<p>“Sicha, kakak memaksa! Biar kakak yang nganterin kamu” Dika menarik lengan Sicha. Sicha menurut saja, ia sadar sudah tak mampu berjalan lagi. Dika prihatin, ia ingin sekali menjaga Sicha dan meninju Raffa. Ia juga heran, Sicha benar-benar membela cowok yang udah nyakitin dia banget. Sampai di rumah, Sicha langsung menuju kamarnya. Ia lelah sekali, ia ingin langsung terlelap.</p>
<p align="center">########</p>
<p>Setelah kejadian malam itu, Raffa hanya berdiam diri dan tak menjumpai Sicha selama tiga hari, begitu pula Sicha. Ia tak ingin lagi mengganggu cowok yang dicintainya. Setelah mantap dengan pilihannya, akhirnya Raffa berniat menjumpai Sicha malam ini. Ia mendatangi rumah Sicha. Sicha yang masih bengkak matanya, menemui Raffa yang telah menunggunya di teras depan rumah. Ia duduk di kursi di samping Raffa tanpa menatapnya.</p>
<p>“kamu udah baikan?” Raffa masih terlihat khawatir.</p>
<p>“kelihatannya?” Sicha tak sanggup mengeluarkan kalimat dari mulutnya, ia masih sangat sedih.</p>
<p>“<em>i really sorry</em>”</p>
<p>“lupakan sajalah, Sicha memang bodoh udah percaya banget sama kakak”</p>
<p>“yasudah, mulai sekarang jangan pernah percaya lagi apapun yang aku ucapkan”</p>
<p>“Sicha bakal mencoba”</p>
<p>“kamu harus bisa, kamu harus kuat, aku ga mau melihat kamu sakit”</p>
<p>“cukup kak! kenapa sih kakak masih aja perhatian sama Sicha? Sekarang apa lagi yang mau kakak lakuin? Sicha udah cukup tersiksa kak”</p>
<p>“aku Cuma ga mau kamu sakit karena..”</p>
<p>“karena apa?”</p>
<p>“lupakanlah”</p>
<p>“kenapa sih kakak selalu bikin Sicha bingung? Kakak kenapa sih?”</p>
<p>“<em>i’m ok</em>”</p>
<p>“sekarang kakak mau apalagi?” dengan mata penuh air, Sicha menatap Raffa. Sesaat Raffa terdiam, ia menarik nafas dalam tanpa memandang Sicha, dan mengeluarkan kata-kata yang membuat dunia Sicha kiamat.</p>
<p>“<em>baby, let’s break up</em>”</p>
<p>“apa yang harus Sicha jawab?” suara Sicha hampir tak terdengar, ia terisak.</p>
<p>“terserah, <em>just let me free</em>” Raffa mencoba tenang, ia mulai merasa dadanya sesak.</p>
<p>“Sicha ga bisa”</p>
<p>“aku mohon, lupakan aku”</p>
<p>“kenapa?”</p>
<p>“sebenarnya aku melihatmu di taman semalam, <em>i really hurt</em>”</p>
<p>“maafin Sicha kak, Sicha ga tau kalau itu kak Dika”</p>
<p>“maaf, aku ga bisa maafin, aku terlalu sakit. Aku harap kamu bisa mengerti”</p>
<p>“Sicha ga bisa kak, Sicha ga mau kita putus”</p>
<p>“Sicha, aku mohon, lepasin aku dan pergilah bersamanya”</p>
<p>“tapi Sicha ga suka sama dia”</p>
<p>“<em>just try to love him as you love me!</em>”</p>
<p>“kakak, tolong, jangan hakimi perasaan Sicha, cukup sudah Sicha sakit”</p>
<p>“kenapa kamu yang sakit, aku jauh lebih sakit, kamu sadar ga <em>you cheat on me more than twice!!!</em>”</p>
<p>“<em>i really sorry, i don’t mind it!”</em></p>
<p><em>“sorry, just let me go, we can’t be togother again”</em></p>
<p><em>“please..don’t leave me!”</em></p>
<p>“kita masih bisa bersama kok, kita masih bisa dekat, aku Cuma ga bisa jadi cowok kamu lagi”</p>
<p>“kakak tega banget sih?”</p>
<p>“sudahlah Sicha, pikirin kesehatan kamu, lupakan aku. Aku sudah yakin dengan keputusanku!”</p>
<p>“aaaaaaarrrrrrrrrrrrgggggggggggghhhhhhhhhhh”</p>
<p>“<em>please, be a strong girl</em>, aku tau kamu bisa”</p>
<p>“<em>okay, i will try even it’s really hard for me”</em></p>
<p><em>“good then”</em></p>
<p><em>“but, will you give me a last kiss?”</em></p>
<p><em>“sure”</em> Raffa mendekatkan wajahnya ke Sicha, ia menghapus air mata orang yang sangat ia cintai. Ia mencoba bersikap tenang. Ia mengecup bibir Sicha lama, membuat Sicha terus mengeluarkan air mata. Setelah selesai Raffa memeluk Sicha.</p>
<p>“kak&#8230;” Sicha mendapati mata Raffa yang mulai berkaca-kaca. “kenapa kakak bohong sama perasaan kakak?” Sicha memegang wajah Raffa.</p>
<p>“sudahlah, lupakan saja” Raffa mencoba menghindar kontak langsung dengan mata Sicha.</p>
<p>“kak, Sicha bisa rasain dari ciuman tadi, kenapa kakak ga jujur? Sicha tau kakak mencintai Sicha”</p>
<p>“Sicha, sudahlah lupakan saja, itu Cuma perasaan kamu saja”</p>
<p>“<em>please don’t lie to me!”</em></p>
<p><em>“i told you the truth!</em> Sudahlah, aku mau pulang, jaga kesehatanmu, <em>bye</em>” Raffa melangkahkan kaki menuju mobilnya, ia tak ingin berlama di rumah Sicha, ia takut keputusannya bisa berubah nantinya. Ia melaju mobilnya dan meninggalkan Sicha yang masih terisak di teras rumah.</p>
<p>Sicha berlari menuju kamarnya, ia menelpon Keysha.</p>
<p>“<em>he break me up Key</em>” Sicha berteriak histeris saat panggilan sudah terhubung.</p>
<p>“aku coba mengerti, tapi kalau aku jadi Raffa, mungkin aku juga bakal ngelakuin hal yang sama” jawab Key berusaha tenang.</p>
<p>“aarrgghh, <em>but i really upset last time! I’m not in mind”</em></p>
<p>“aku  juga bingung Sicha”</p>
<p>“<em>Key, i think i should die! I won’t be here anymore”</em></p>
<p><em>“Sicha, please don’t be silly!</em> Putus dari Raffa bukan berarti duniamu kiamat”</p>
<p>“tapi Sicha rasa udah ga ada guna lagi Sicha di sini”</p>
<p>“<em>please, don’t do anything freak</em>!! Banyak orang yang masih menginginkanmu!”</p>
<p>“<em>I tired to breath”</em> sambungan terputus. Sicha menutup ponselnya. Ia kembali menangis. Ia menelpon Reva dan menceritakan apa yang telah terjadi.</p>
<p>“<em>I told you to break him up, but you so stubborn! Now you hurted?” </em> Reva kesal dengan Sicha.</p>
<p>“Sicha ga bisa kak, <em>i really love him, hard to leave or forget him”</em> Sicha terus saja terisak.</p>
<p>“sayang, kakak mohon, tinggalin dia, ada Dika dan yang lain yang mencintaimu dan jauh lebih baik darinya, kakak ikut menyesal karena dulu sangat mendukung hubunganmu”</p>
<p>“Sicha ga bisa kak! <em>i love him, i want him and really need him</em>”</p>
<p>“jangan terus nyakitin perasaan kamu Sicha, jangan sampai stress, kepalamu sakit lagi”</p>
<p>“Sicha ga peduli, lebih baik Sicha mati nyusul kak Rangga”</p>
<p>“Sicha, jangan ngomong mati, Sicha kuat ngejalani ini semua. Kakak bakal terus di samping kamu, nyemangatin kamu” suara Reva mulai terisak.</p>
<p>“Sicha Cuma mau kak Raffa balik, <em>no more</em>”</p>
<p>“<em>Sicha..please..don’t hurt your heart more”</em></p>
<p><em>“</em>kak, kepala Sicha pusing, Sicha mau tidur, sampai jumpa nanti kalau Sicha bangun” Sicha menutup ponselnya. Kepalanya benar-benar terasa berat, matanya bengkak, tak ada lagi air mata keluar, ia capek, ia lelah. Ia merasa penglihatannya semakin kabur. Ia jatuh. Pingsan.</p>
<p align="center">########</p>
<p>Reva tiba di rumah sakit dimana Sicha dirawat. Ia menjumpai orang tua Sicha yang sudah begitu akrab dengannya. Ia mendapat kabar Sicha di rumah sakit setelah sejam mereka selesai teleponan. Orang tua Sicha menemukan namanya di panggilan keluar hape Sicha. Ia langsung berlari menemukan orang tua Sicha. Mereka sangat khawatir dengan keadaan putri semata wayangnya. Reva menjumpai mereka yang sedang berdiri melihat Sicha terbaring lemah yang sedang diperiksa para ahli medis di depan pintu kamar Sicha dirawat.</p>
<p>“om..tante..” Reva menyapa. Kedua orang tua Sicha menoleh.</p>
<p>“Reva?” mama Sicha langsung memeluk Reva. Reva membalas pelukan itu. Ia mulai menitikkan air mata. Beberapa saat kemudian dokter yang menangani Sicha keluar dan meminta orang tua Sicha untuk berbicara di ruangannya. Reva maklum, ia langsung menjumpai Sicha.</p>
<p>Sesampai di ruangan dokter orang tua Sicha langsung meminta jawaban hasil pemeriksaan.</p>
<p>“dok, saya sangat khawatir, apa sebenarnya yang terjadi dengan anak kami?” mama Sicha bertanya tak sabar sambil mengeluarkan air mata. Papa Sicha hanya mengelus mamanya biar tenang.</p>
<p>“iya, saya mengerti bu” jawab dokter itu ramah. “tapi, apa akhir-akhir ini Sicha mengalami banyak masalah?” tanya dokter lagi.</p>
<p>“masalah?” mama Sicha memandang ke arah papa Sicha. “maksud dokter?” mama kembali bertanya.</p>
<p>“dulu saya pernah mengingatkan, jangan sampai Sicha stress. Ia menderita kanker otak, dan kini semakin parah, saya juga khawatir untuk kondisinya ke depan”</p>
<p>“maksud dokter apa?” mama Sicha benar-benar tak sabar, sedih sekali mengetahui nasib putrinya.</p>
<p>“mama, sabar dulu, biar dokter menjelaskan” papa Sicha terus berusaha menenangkan istrinya.</p>
<p>“kondisi otak Sicha sangat lemah, ia mengalami stress berat, ia terlalu banyak berpikir, namun syaraf-syaraf di otaknya tak sanggup menerima. Banyak syaraf di otaknya juga, yang mana darah di dalamnya tidak mengalir sempurna. Dan maaf sekali, saya tidak bisa memastikan ia untuk tetap bertahan lama” dokter pribadi keluarga Sicha itu menjelaskan panjang.</p>
<p>“dokter, kami mohon lakukan apa saja untuk kesembuhan Sicha” kali ini papa Sicha yang bicara, mamanya sudah tak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi.</p>
<p>“kami akan melakukan yang terbaik buat Sicha, namun kita juga harus berdoa dan menyerahkan semua kepada Tuhan”</p>
<p>“terima kasih dok” papa Sicha bangkit dari duduknya, memegang mama Sicha juga, mereka keluar dari ruanga dokter itu dan kembali menuju ke ruangan Sicha.</p>
<p align="center">########</p>
<p>“Sicha, bangun dek..” Reva terus menatap Sicha yang lemah tak bergerak. Reva mengajak Sicha terus berbicara, akhirnya Reva melihat jemari Sicha yang mulai bergerak. Ia kembali mengajak Sicha bicara, namun batal karena Sicha sudah lebih dulu memanggil-manggil nama Raffa.</p>
<p>“kak Raffa, Sicha butuh kakak” Sicha berkata hampir tak terdengar.</p>
<p>“Sicha, kenapa Raffa lagi sih?” Reva kesal mendengar nama itu yang pertama dipanggil Sicha saat sadar.</p>
<p>“kak Reva? Kenapa Sicha di rumah sakit? Emang Sicha sakit apa?” Sicha sudah sadar kalau ia sedang berada di tempat yang sangat dibencinya. Ia mencoba melepaskan beberapa selang yang bertebaran di tubuhnya, namun Reva mencegah.</p>
<p>“sekarang, kamu butuh selang-selang kecil ini” ucap Reva.</p>
<p>“kak, Sicha mau kak Raffa kembali”</p>
<p>“Sicha lupakanlah dia”</p>
<p>“Sicha maunya kak Raffa!”</p>
<p>“jangan kaya anak kecil dong Sicha, Sicha harus terima, nanti juga bakal terbiasa”</p>
<p>“kak, Sicha udah terlalu cinta sama kak Raffa, <em>I love him more than myself</em>”</p>
<p>“Sicha, kakak mohon”</p>
<p>“<em>I just want him, no other!</em>” sicha berkata lemas dan merunduk, air matanya kembali mengalir. “kak, kalau nanti Sicha mati, tolong berikan ini pada kak Raffa” Sicha mengambil sehelai kertas kecil dari saku bajunya yang telah ia siapkan. Reva mengambil kertas kecil yang telah ditulis Sicha itu, ia mengangguk sedih.</p>
<p>“kamu harus kuat sayang, kamu ga akan mati” Reva mencoba menghibur Sicha, namun Sicha hanya tersenyum manis. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Reva dan Sicha mengalihkan pandangan mereka. Orang tua Sicha masuk, dan langsung berlari memeluk Sicha saat melihat putri mereka telah siuman.</p>
<p>“Sicha, kamu udah enakan sayang?” mama Sicha mengusap lembut kepala Sicha. Sicha mengangguk. Reva berpamitan keluar, ia tak ingin mengganggu Sicha ditemui orang tuanya.</p>
<p>“tante, om, Reva permisi keluar sebentar ya?” Reva berpamit, stelah mendapat anggukan, ia langsung melangkah kakinya keluar kamar tersebut. Ia menyaksikan orang tua Sicha yang begitu khawatir akan keadaan Sicha, ia juga ikut khawatir. Ia telah mengetahui Sicha divonis Kanker otak saat kecelakaan tempo lalu. Makanya Orang tua Sicha memintanya untuk menjaga Sicha disaat mereka sibuk.</p>
<p>Ia meninggalkan ruangan Sicha dirawat dan menuju ke taman depan rumah sakit. Ia bertekad menghubungi Raffa. Ia melirik arlojinya, jam setengah empat pagi. Apa ia akan mengganggu tidur Raffa? Ia tak perduli. Ia mengambil hapenya dan memanggil nomor Raffa yang tersimpan di kontak hapenya. Saat panggilan tersambung, mereka bersapa-sapa ringan sebelum berbicara ke intinya.</p>
<p>“itu sudah keputusanku Rev!”  Raffa berucap lembut.</p>
<p>“tapi, apa ga bisa kamu pikirkan lagi keputusanmu?” Reva tetap ingin mengembalikan Raffa ke Sicha.</p>
<p>“ga bisa, maaf”</p>
<p>“tapi Sicha benar-benar menginginkanmu”</p>
<p>“aku ga bisa balik, aku sangat terluka, aku ga mau terluka lagi”</p>
<p>“kalian berdua sama-sama salah Raff, aku mohon, Sicha benar-benar mencintaimu”</p>
<p>“tolong jangan paksa aku Rev, aku ga bisa”</p>
<p>“baiklah, semoga kamu tidak menyesal nantinya”</p>
<p>“maksudmu?”</p>
<p>“Sicha di rumah sakit sekarang”</p>
<p>“apa? Kenapa? Dia berusaha bunuh diri?”</p>
<p>“bukan, tapi dia di vonis kanker otak, sekarang kondisinya semakin parah”</p>
<p>“<em>are you sure?</em>”</p>
<p>“iya, yasudah, aku ga mau memaksamu kembali padanya karena kasihan, semoga kalian berdua sama-sama bahagia nantinya, aku mau melihat keadaan Sicha lagi ya, bye” Reva memutuskan panggilan itu. Ia kembali berjalan menuju kamar Sicha, saat ia tiba ia tidak menemukan Sicha dan juga orang tuanya di sana, ia semakin khawatir. Ia mencari-cari dan menjumpai seorang perawat yang tadi merawat Sicha sedang terburu-buru.</p>
<p>“suster, Sicha kemana?” tanya Reva sambil menjajari langkah suster yang terburu.</p>
<p>“dia lagi di <em>Emergency Room</em>, keadaannya kembali memburuk” jawab suster itu dan terus berjalan cepat ke <em>ER</em>. Saat tiba di ruangan itu Reva mendapati orang tua Sicha yang duduk dalam keadaan sedih, mama Sicha terus saja menangis. Reva langsung menjumpai dan berbincang menenangkan mama Sicha. Semua dalam keadaan khawatir. Rumah sakit sudah sunyi, semua pasien pasti sudah terlelap. Reva melirik arlojinya, jam empat kurang lima menit. Pantas saja sudah begitu sepi. Ia mendengar suara dari monitor penghitung detak jantung Sicha yang kini terdengar begitu jelas. Reva masih memeluk mama Sicha. Sedangkan papa Sicha terus mondar-mandir tak karuan, ia panik sekali. Sesaat kemudian mereka mendengar satu bunyi panjang dari monitor itu dan langsung membuat mama Sicha menangis histeris. Reva ikut menangis kuat, mereka berpelukan. Papa Sicha tidak bisa berbuat apa-apa. Dokter dan beberapa perawat keluar dari ruang tersebut.</p>
<p>“maafkan kami pak” ucap dokter itu penuh sesal. Papa Sicha tak sanggup berbicara, ia hanya melambaikan tangan bersyarat tak masalah, ini semua telah dikehendaki. Dokter itu kembali ke ruangan, menyelesaikan tugas terakhir pada jasad Sicha. Sekarang jasad Sicha sedang dibawa ke ruang jenazah. Sicha akan dimakamkan nanti jam delapan pagi. Reva meraih ponselnya dan menelpon Raffa.</p>
<p align="center">########</p>
<p>Setelah mendapat telepon dari Reva, Raffa jadi tak nyenyak tidur. Ia sangat khawatir dengan keadaan Sicha. Ia menuju kamar Keysha. Ia mengetuk pintu kamar Key keras, membuat Key jengkel dan langsung bangun membukakannya. Key khawatir mendapati wajah omnya yang super panik, sangat resah.</p>
<p>“kenapa Om?” tanya Key matanya setengah terbuka.</p>
<p>“aku khawatirin Sicha” jawab Raffa cepat.</p>
<p>“dia minum lagi?”</p>
<p>“tidak, dia di rumah sakit sekarang, ia di vonis Kanker otak, aku khawatir akan keselamatannya Key, aku harus apa Key?” Raffa sangat panik. Key hanya terdiam, ia juga tak percaya dengan apa yang didengarkannya.</p>
<p>“Om, kita temui saja dia”</p>
<p>“iya, tapi..” ucapan Raffa terputus saat hapenya berdering, ia melirik layar dan mendapati nomor Reva. Ia segera menyambung panggilan itu.</p>
<p>“Raffaaa&#8230;” Reva bersuara lirih</p>
<p>“Rev, kenapa? Jangan buat aku panik” Raffa benar-benar panik sekarang. Key mencoba mendengarkan pembicaraan itu dengan seksama.</p>
<p>“Sicha..<em>she is gone</em>” Reva kembali terisak, menangis kencang, ia tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata.</p>
<p>“apa?” Raffa shock, hatinya terasa dihempas beban berat. Ia lemas, air matanya jatuh seketika. Key yang ikut mendengarkan tak sadar juga mengeluarkan air mata.</p>
<p>“aku ga tau harus bilang apa, aku benar-benar kehilangan, aku tidak percaya. Sicha akan dimakamkan nanti jam delapan pagi” Reva mengabari, kemudian ia memutuskan panggilan itu. Raffa merasa sangat bersalah, ia sedih sekali. Ia masih tidak percaya dengan kabar barusan. Ia menatap Key sedih, air matanya terus saja mengalir. Ia mencubit-cubit dirinya.</p>
<p>“Key, katakan kalau ini mimpi!” Raffa berteriak sambil memukul-mukul tubuhnya.</p>
<p>“Om, plis, terima saja ini semua” Key memeluk Omnya kuat, ia ingin menenangkan.</p>
<p>“ini semua salahku Key, aku jahat, aku terlalu egois, ga pernah ngertiin Sicha, aku selalu nyakitin dia, aku jahat, aku kejam, apa yang seharusnya aku lakukan Key? Apa ? apa? Apaaaaa???” Raffa semakin histeris, ia kecewa, ia sedih, ia merasa sangat bersalah.</p>
<p align="center">########</p>
<p>Jasad Sicha baru saja dikebumikan. Kini para pengunjung sedang mengikuti pendoaan buat kepergian Sicha, sebelum melanjutkan ke doa berikutnya, Pastor meminta kepada setiap orang untuk memaafkan Sicha, dan buat yang ingin meminta maaf langsung, beliau juga mempersilahkan untuk langsung menuju makamnya. Raffa mengangkat tangannya, lalu ia berjalan menuju makam Sicha, Keysha dan Reva mengikuti dari belakang.</p>
<p>Raffa menangis di atas gundukan tanah di depannya. Key mengusap-usap pundak Omnya menenangkan. Reva mendekati Raffa.</p>
<p>“Raffa, sebenarnya Sicha punya pesan sebelum ia pergi” Reva berkata setengah berbisik. Raffa menoleh, matanya mulai memerah. “ia menitipkan kertas kecil ini” Reva menyodorkan kertas kecil itu, Raffa mengambilnya dan membaca tulisan tangan Sicha itu. Raffa kembali mengeluarkan air mata.</p>
<p><em>Saat kakak baca tulisan ini, pasti Sicha udah ga ada lagi kan? Jangan sedih ya,, maafin Sicha selama ini, ini tulisan terakhir Sicha buat kakak.</em></p>
<p><em>Now, i confess my heart to you, Only heaven know my heart, At the thought of telling you the truth</em></p>
<p><em>that i’ve kept so preciously, I feel tears coming out, All the memories pass by me</em></p>
<p><em>Today wouldn’t be here if it wasn’t for you, The day we first met, I was awkward and young</em></p>
<p><em>The time you waited for me just because i told you to trust me</em></p>
<p><em>At times, i hurt you with my mistakes, But you never once blamed me</em></p>
<p><em>And you gave me strength, smiling, it’s okay, it’s okay</em></p>
<p><em>Whenever i made you upset by saying i’m busy, You could have blamed me</em></p>
<p><em>But you believed in me, saying don’t worry, don’t worry</em></p>
<p><em>I selfishly hope that, Your heart will be the same forever, I will try my best everyday for you</em></p>
<p><em>All the memories we made, The times we cried and laughed, I’ll remember them even at the moment i die</em></p>
<p><em>Have i told you before? I love you, There is no other way to say it, I love you, I love you</em></p>
<p><em>Other than those common words, I say it again “I LOVE YOU”</em></p>
<p><em>My heart felt confession today, Please never forget it</em></p>
<p><em>I love you</em></p>
<p><em>Baby,</em> <em>I still love you even i was hurted, i love you forever and never change, </em></p>
<p><em>you will always be my baby, i will waiting for you even i’m at heaven later</em></p>
<p>“makasih Rev, aku benar-benar merasa bersalah, andai saja aku jujur dari awal kalau aku sangat mencintainya, aku meninggalkannya karena harus ke Jerman, mungkin kejadiannya ga bakal seperti ini” Raffa kembali terisak.</p>
<p>“sudahlah Raff, ini semua sudah takdir” Reva mencoba menerima kenyataan.</p>
<p>“iya Om, relakan Sicha pergi dengan tenang” Key ikut bersuara. Raffa mengangguk, Reva dan Key bangun, mereka hendak kembali ke rombongan dan membiarkan Raffa menghabiskan waktunya dengan Sicha. Sepeninggalan Key dan Reva, kemudian Raffa mendekatkan wajahnya ke gundukan tanah di depannya itu.</p>
<p>“<em>Baby, i really sorry, i’m so idiot, i dont mean it, as i told you. I really love you so much, i want you and always need you. I can’t alive without you, you are my soul, you are my breath, you are my everythings, please forgive me okay? I really miss you. I promise, i love you forever and never change, i want you be mine again, really want, please waiting for me again okay? Don’t too tired waiting for me, i will find you when we at heaven soon, Sicha i love you so much”</em> Raffa mengakhiri kalimatnya dengan mata penuh air, ia mencium gundukan tanah itu. Ia bangun dan ingin kembali ke rombongan. Ingin melanjutkan pembacaan doa. Ia berjalan menuju rombongan yang masih terus mendoakan Sicha.</p>
<p><em>Sayang, tunggu aku di Surga ya, layaknya kamu menungguku di dunia. You will always be my baby, I love you Sicha..</em></p>
<p>============ END ==============</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/echieychant.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/echieychant.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/echieychant.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/echieychant.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/echieychant.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/echieychant.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/echieychant.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/echieychant.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/echieychant.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/echieychant.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/echieychant.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/echieychant.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/echieychant.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/echieychant.wordpress.com/238/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=238&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://echieychant.wordpress.com/2011/09/05/always-be-my-baby-end/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b13eb0af4bdab04e22741d96812d204?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">echieychant</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/09/always_1883_4.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Always_1883_4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Always be my baby (part one)</title>
		<link>http://echieychant.wordpress.com/2011/09/03/always-be-my-baby-part-one/</link>
		<comments>http://echieychant.wordpress.com/2011/09/03/always-be-my-baby-part-one/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Sep 2011 14:48:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>echieychant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://echieychant.wordpress.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Hallsemuanyah, lama ga posting, jadi kangen sama blog saia.. yaudah kali ini aku ngeluarin lagi satu tulisan yang tercipta di saat aku jatuh terkapar beberapa pekan lalu, sebelumnya, selamat lebaran buat kamu yg ngerayain, maafkaen lahir batin yaa?? ^^ okay, ini part satunya, part dua nyusul ntar deh, happy reading okay^^ aku juga berharap kalian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=233&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/09/cute.jpg"><img class="size-full wp-image-234 alignright" title="sweet baby" src="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/09/cute.jpg?w=692" alt=""   /></a>Hallsemuanyah, lama ga posting, jadi kangen sama blog saia.. yaudah kali ini aku ngeluarin lagi satu tulisan yang tercipta di saat aku jatuh terkapar beberapa pekan lalu, sebelumnya, selamat lebaran buat kamu yg ngerayain, maafkaen lahir batin yaa?? ^^</p>
<p>okay, ini part satunya, part dua nyusul ntar deh, happy reading okay^^</p>
<p>aku juga berharap kalian ngomentarin ini tulisan, sebagai masukan dan perbaikan buat ke depan, thanks all~ ^^</p>
<p>=====================================================</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hari ini Sicha sangat senang, setelah tadi pagi mendapat pesan singkat dari kakak kelas yang selama ini dekat dengannya dan mengajak ia untuk <em>lunch</em> bareng ia terus saja kesengsem sepanjang pelajaran berlangsung. Bel pelajaran akhir telah berbunyi. Ia langsung berburu lari ke luar kelas dan mendapati kakak kelasnya Rangga telah menunggunya di depan kelas. “kita jalan sekarang yuk” ajak Rangga sambil menggenggam tangan Sicha dan mereka menuju tempat makan favorit mereka.</p>
<p>Sicha adalah siswa kelas II SMA dan termasuk cewek yang sangat lugu untuk usianya. Ia mulai dekat dengan Rangga sejak beberapa bulan yang lalu ketika ia makan di restoran <em>seafood</em> dan lupa membawa dompetnya. Rangga yang juga sedang makan di tempat yang sama pada saat itu datang dan mencoba membantu Sicha. Akhirnya mereka saling bertukar cerita dan mengetahui bahwa mereka bersekolah di SMA yang sama.</p>
<p>Restoran yang dituju sampai juga, mereka memilih tempat duduk yang dekat dengan taman dan kolam ikan, agar sedikit lebih sejuk dan nyaman menikmati santapan.</p>
<p>“tumben kakak ngajak Sicha <em>lunch</em>, ada apaan nih?” Sicha memulai percakapan saat mereka telah menemukan posisi yang nyaman.</p>
<p>“haha, kakak kan memang baik Sicha” jawab Rangga ngasal.</p>
<p>“yaah, serius kakak, beneran tumben nih, biasanya kan kakak sering ngajak makan malam”</p>
<p>“hehe, sebenarnya sih, kakak <em>nraktir </em>kamu karena kakak baru aja jadian” wajah Rangga memerah.</p>
<p>“ya ampun, kok Sicha bisa ga tau ya? Aduh siapa sih cewek yang beruntung itu?” Sicha penasaran.</p>
<p>“kakak kelasmu juga, tapi beda kelas sama kakak, Rita namanya. Kenal kan?”</p>
<p>“ohh iya iya, Sicha kenal, dia memang cantik”</p>
<p>“semuanya juga mengakuinya, yaudah ayo kita santap makanannya” ajak Rangga saat pesanan mereka tiba. Mereka menyantap dengan lahap. Setelah selesai makan, Rangga mengantar Sicha pulang. Dalam perjalanan mereka melanjutkan kembali percakapannya.</p>
<p>“kak, selamat ya, aku ikut senang buat kakak” kata Sicha tulus.</p>
<p>“iya, makasih. Hmm <em>anyway</em> kamu kapan nyusul? Betah aja sendiri mulu” goda Rangga.</p>
<p>“Sicha masih nunggu kak Raffa kak” ungkap Sicha jujur dan sekejap pipinya merona.</p>
<p>“masih sabar menunggu? tapi setahu kakak dia kan udah putus ya sama Chika”</p>
<p>“serius kak? kok Sicha ga tau ya?”</p>
<p>“ya ampun, katanya pengagum rahasia, tapi gosip besar aja ga tau” lagi-lagi Rangga menggoda.</p>
<p>“yaahh kakak, Sicha kan sibuk belakangan ini”</p>
<p>“haha, alasan. Udah nyampe nih. Masih betah sama kakak?” Rangga memberhentikan mobilnya dan tetap menggoda Sicha.</p>
<p>“aish, Sicha turun aja deh, makasih ya kak”</p>
<p>“iya. kakak pulang ya, bye”</p>
<p>“bye” Sicha langsung masuk ke rumahnya saat mobil Rangga hilang di ujung tikungan komplek rumahnya. Ia terus berlari ke kamarnya dan melempar tubuh ke atas kasur. Ia memandang langit-langit kamarnya  sambil memikirkan sesuatu.</p>
<p><em>Ya Ampun, benarkah kak Raffa udah putus? Aku sih senang kalau berita itu benar, aku punya peluang juga. Trus, aku juga bingung, aku senang Kak Rangga punya pacar, tapi aku juga sedih. Akankah nanti dia melupakanku? Ahh sudahlah. Jalani saja apa yang bakal terjadi.</em></p>
<p>Sicha terus berbicara di dalam hatinya. Dan ia juga terlalu senang dan lelah juga untuk hari ini. Akhirnya ia tertidur.</p>
<p align="center">########</p>
<p>    Hari ini Sicha bangun kesiangan lagi, ia cepat-cepat berkemas untuk ke sekolah. Ia menuju ke ruang makan dan mencomot roti. Ia juga berpamitan pada mba Imah yang bekerja di rumahnya. Untuk sebulan orang tua Sicha pergi ke luar kota menjenguk neneknya yang sedang sakit parah, jadi ia hanya ditinggalkan bersama mba Imah saja. Orang tuanya juga belum mengizinkan dia untuk mengemudi mobil ke sekolah, jadi setiap pagi ia harus naik bis, ini juga untuk kemandiriannya, begitulah kira-kira pendapat ayahnya jika selalu ibunya mengusulkan Sicha untuk mengemudi mobil pribadi saat ke sekolah. Untuk dua hari yang lalu, ia dijemput Rangga, namun kali ini Rangga tidak mengabarinya. Ia juga tidak mau menunggu atau memaksa, mungkin Rangga lebih meluangkan waktu banyak dengan pacarnya.</p>
<p>Akhirnya ia sampai juga di sekolah dengan tepat waktu, selama pelajaran berlangsung ia tetap tidak fokus pada apa yang diucapkan gurunya. Pikirannya bercabang. Entah apa yang dipikirkannya. Pelajaran begitu saja usai, ia tidak terlalu memikirkan untuk itu sekarang, ia lapar dan langsung menuju kantin. Dan memesan nasi soto. Saat ia mulai menyuap suapan pertama, tiba-tiba Reva kakak kelasnya yang dekat dan juga tempatnya berbagi datang menghampiri.</p>
<p>“Sicha, kamu udah tau gosip besar itu kan?” Reva duduk di depan Sicha.</p>
<p>“eh Kak Reva, tentang putusnya kak Raffa sama Chika ya?” jawabnya simpel.</p>
<p>Reva mengangguk. “ini kesempatan kamu sayang, kamu masih menunggunya kan?” tanyanya lagi.</p>
<p>“apa mungkin kak? kami belum pernah bicara sekalipun”</p>
<p>“kenapa tidak, kakak yakin dia juga kenal deh sama kamu”</p>
<p>“tapi kak..”</p>
<p>“sudahlah, kamu harus yakin, kakak selalu mendukungmu”</p>
<p>“Sicha berdoa saja lah”</p>
<p>“jangan Cuma berdoa dong, Sicha juga harus berusaha”</p>
<p>“Sicha takut kak, yang suka sama kak Raffa bukan Cuma Sicha”</p>
<p>“iya, kakak tau, tapi yang baik dan tulus kan Cuma Sicha”</p>
<p>“ya ampun”</p>
<p>“yasudah, kakak mau jumpa sama temen yang lain, fighting okay?” Reva meninggalkan Sicha yang tersipu. Sicha melanjutkan makannya. Ia makan dan juga memikirkan perkataan Reva tadi. Tiba-tiba Rangga datang mengejutkannya.</p>
<p>“nah, serius amat. mikirin kakak ya?” Rangga menepuk bahu Sicha.</p>
<p>“eh kak Rangga. Kemana aja sih?”</p>
<p>“hayo ngaku, kangen ya sama kakak?” ucapnya sambil terkekeh yang membuat Sicha malas untuk mendengarkan. “okay okay, ini buat Sicha-ku tersayang, jangan ngambek ya?” Rangga berucap sambil menyodorkan sepucuk bunga matahari. Lagi-lagi membuat Sicha tersipu. Ia mengambil bunga itu dan tersenyum manis. “makasi ya kak, kakak <em>sweet</em> banget sih”</p>
<p>“<em>always welcome for my cute sister</em>” ucapnya sambil menyentuh dagu Sicha dan duduk di depan Sicha. Sicha hanya tersenyum membalasnya.</p>
<p>“kak, Sicha kayanya merasa cemburu deh”</p>
<p>“cemburu? Kok bisa? Sama siapa?”</p>
<p>“Sicha pikir, kakak bakal ngelupain Sicha dan bakal jauh sama Sicha, secara juga kakak udah punya kak Rita”</p>
<p>“ya ampun” Rangga mengelus kepala Sicha penuh kasih. “kakak ga pernah ngelupain kamu, kakak tetap sayang sama kamu walaupun kakak punya pacar. Kamu adik yang baik buat kakak” Rangga tersenyum.</p>
<p>“baiklah, Sicha juga berharap gitu, makasih ya kak, kak Rangga memang kakak yang baik buat Sicha” Sicha tulus dan tersenyum. Bel istirahatpun berakhir mereka berdua meninggalkan kantin dan menuju kelas masing-masing. Kali ini Sicha mengikuti pelajaran dengan semangat, membuat teman di sampingnya terheran-heran. Sicha menikmati pelajaran hingga selesai. Saat bel pulang berbunyi semua siswa keluar dari kelas dan menuju rumah mereka, Sicha bersiap-siap untuk meninggalkan kelas namun Keysha mencegahnya. “Sicha! Tunggu!” Sicha menoleh ke arah suara.</p>
<p>“Key? Kenapa?”</p>
<p>“kamu baik-baik aja kan?”</p>
<p>“lho, memang Sicha kenapa?”</p>
<p>“dari tadi aku merhatiin kamu, awalnya lesu banget, ga konsen sama pelajaran,tapi akhir tadi kamu semangat banget”</p>
<p>“ya ampun, Key khawatir ya? Maaf ya, tadi Sicha emang lagi laper, makanya ga konsen,tapi setelah kenyang semangat lagi deh ngikutin pelajarannya” ungkap Sicha bohong. Ia memang jarang berbicara sama teman sekelasnya, bukan sombong tapi menurut dia mereka terlalu lebay dan suka ngelakukan hal yang ga penting.</p>
<p>“baiklah, aku Cuma sedikit khawatir saja, yasudah kalau begitu aku duluan ya.” Keysha berpamitan dan meninggalkan Sicha. Sicha tersenyum meng-iya-kan dan juga ikut berjalan meninggalkan sekolah. Ditengah lapangan ia berpapasan sama Raffa. Ia mencoba menyapa.</p>
<p>“hai kak Raffa” sapanya ramah</p>
<p>“hei, Sicha kan?” balasnya ramah yang membuat Sicha terkejut, ternyata Raffa mengenalinya.</p>
<p>“hmm, maaf kakak kelihatan sedih ya?”</p>
<p>“iya, pasti kamu udah tau beritanya kan?”</p>
<p>“iya, kok bisa sih kak?”</p>
<p>“ya bisa saja, ada sedikit masalah dalam hubungan kami, oh  iya kamu juga jomblo kan?”</p>
<p>“hehe, iya kak”</p>
<p>“kenapa ga coba cari aja?”</p>
<p>“hah? Maksud kakak?”</p>
<p>“hehe, kamu ga mau coba pacaran gitu?”</p>
<p>“mau sih kak, tapi masih menunggu pangeran yang baik”</p>
<p>“siapa pangeranmu?”</p>
<p>“ga tau kak, masih menunggu aja siapa yang bakal mau jadi pangeran Sicha, hehehe”</p>
<p>“yaudah, aku mau kok jadi pangeranmu”</p>
<p>“hah? Serius kak??”</p>
<p>“iya, aku serius, kamu mau kan jadi pacar aku?”</p>
<p>“ya ampun, becandanya ga lucu deh kak”</p>
<p>“Sicha, aku serius. Aku pengen pacaran sama cewe baik seperti kamu, aku capek pacaran sama cewek-cewek genit itu” Raffa mencoba meyakinkan sicha. Ia menatap mata Sicha dalam. “kamu mau kan?” ia bertanya lagi sambil menggenggam tangan Sicha. Sicha benar-benar gugup, apakah ini beneran? Tapi mata Raffa ga bohong, masa sih secepat ini? Raffa masih menggenggam tangan Sicha menunggu jawaban. Dengan yakin akhirnya Sicha mengangguk dan tersenyum. Membuat Raffa senang dan mengecup kening Sicha. Sejak detik itu mereka menjadi pasangan. Raffa mengantar Sicha pulang. Sekarang dunia Sicha berubah. Ia sangat bahagia, terlalu gembira bahkan. Malamnya Raffa menjumpai Sicha, ia datang ke rumah pacarnya itu, seperti layaknya pasangan lain yang meng-apel-i pacarnya. Mereka terus berbincang hingga larut malam, mereka bercerita dan coba mengenal jauh satu sama lain. Tak terasa malam kian larut, Raffa hendak pamit pulang.</p>
<p>“<em>baby, will you kiss me</em>?” Raffa meminta sebelum ia pulang. Kalimat yang membuat mata Sicha membesar.</p>
<p>“hah? Maksud kakak apa?”</p>
<p>“kalau kamu ga mau, aku ga bakal pulang deh”</p>
<p>“ya ampun,  kakak?” Sicha benar-benar gugup dan tersipu. Raffa langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Sicha. “<em>will you</em>?” ia menanyakan lagi dengan <em>puppy-eyes</em>nya. Sicha benar-benar salah tingkah. <em>Ya Ampun, apa yang harus aku lakukan?</em> Tanpa berpikir lama, Sicha menuruti keinginan pacarnya. Dan disitulah <em>firstkiss</em>nya bermula. Akhirnya Raffa berpamitan pulang.</p>
<p>“<em>good night baby, love you</em>” Raffa meninggalkan rumah Sicha, Sicha hanya tersenyum, wajahnya masih memerah, ia langsung masuk kamarnya setelah Raffa pulang. Ia terus berbaring di kamarnya, susah menutup matanya. Terus memikir apa yang telah terjadi. Ia memegang bibirnya dan menerawang ke langit-langit kamarnya.</p>
<p align="center">########</p>
<p align="center">
<p>Seminggu telah berlalu setelah Sicha dan Raffa jadian, namun Raffa tidak pernah terlihat di sekolah selama tiga hari belakangan, Sicha jadi khawatir. Raffa benar-benar tidak mengabari Sicha. Sicha yang ceria kembali menyendiri dan sedih. Saat istirahat ia duduk di kantin ditemani Reva.</p>
<p>“sabar aja, mungkin dia lagi sibuk, kamu tau kan kalo Raffa itu model, pasti ada jadwal pemotretan atau apalah” Reva mencoba menenangkan.</p>
<p>“Sicha kangen kak, masa sih dia lupa ngabarin Sicha”</p>
<p>“bukan lupa, belum sempat mungkin, yaudah positif thinking aja, kali aja dia punya alasan lain kenapa ga ngehubungi kamu”</p>
<p>“mungkin” Sicha membalas dengan lesu.</p>
<p>“ya ampun Sicha, semangat dong, seharusnya kan Sicha tahu resiko jadi pacarnya Raffa”</p>
<p>“iya sih kak, tapi Sicha ga nyangka, bisa secepat ini”</p>
<p>“yaudah, kan masih ada kakak disini, juga kak Rangga, dia masih sering jumpai kamu kan?”</p>
<p>“engga kak, kak Rangga sibuk. Mungkin sekarang dia sering menghabiskan waktu bersama pacarnya. Sicha jadi tambah sepi”</p>
<p>“ya ampun, sudahlah, kakak kan masih di sini, kakak bakal temanin kamu supaya ga ngerasa sendirian lagi, yaudah ke kelas yuk” ajak Reva saat merasa pembicaraan telah usai. Akhirnya mereka menuju kelas masing-masing. Sebelum memasuki kelas, tangan Sicha ditarik seseorang. Ia menoleh.</p>
<p>“kak Tommy?” Sicha menyapa cowok yang menarik pergelangan tangannya itu. “kenapa kak?” tanyanya lagi.</p>
<p>“kamu serius?” tanya Tommy.</p>
<p>“maksud kakak?”</p>
<p>“kamu pacaran sama Raffa?”</p>
<p>“ohh, iya kenapa kak?”</p>
<p>“kamu mencintainya?”</p>
<p>“kakak apaan sih? Jelas Sicha cinta, kan dia pacar Sicha”</p>
<p>“berarti kakak kurang beruntung”</p>
<p>“maksudnya?”</p>
<p>“Sicha, kakak tu suka sama kamu, cinta sama kamu, tapi kakak telat, udah keduluan sama Raffa”</p>
<p>“ya ampun”</p>
<p>“yaudah, nanti kalo Sicha putus, kabarin kakak ya?”</p>
<p>“hah? Kakak nyumpahin Sicha putus?”</p>
<p>“engga sih, kakak bakal nunggu kamu sampai kamu sendiri lagi”</p>
<p>“makasih kak, boleh Sicha masuk kelas sekarang?”</p>
<p>“okay, makasih ya Sicha”</p>
<p>Sicha memasuki kelas dan memikir-mikirkan apa yang terjadi, Tommy memang jarang menemuinya atau mengobrol dengannya, tapi Tommy sering mengiriminya <em>sms</em> atau meneleponnya, tapi Sicha jarang menggubris. Karena dari pertama masuk sekolah, Sicha memang telah tertuju pada sosok Raffa. Di dalam kelas Sicha masih merenung, sampai akhirnya Keysha datang mengejutkannya.</p>
<p>“hai Sicha” Keysha menyapa</p>
<p>“Key?” jawabnya ramah</p>
<p>“selamat ya, aku ikut senang”</p>
<p>“oh, makasih ya”</p>
<p>Mereka berbicara singkat, karena guru telah memasuki kelas dan pelajaran berikutnya akan dimulai. Kelas terasa begitu sepi, semua siswa mengikuti pelajaran dengan tenang hingga tak terasa pelajaran terakhirpun telah usai, bel berbunyi, semua siswa berhambur ke luar kelas.</p>
<p>“Sicha, aku duluan ya” sapa Key ramah</p>
<p>“uh? Okay, bye” balasnya.</p>
<p>Sicha memasukkan semua buku-bukunya dan hendak langsung meninggalkan sekolah, namun di depan kelas ia menjumpai Rangga. Wajah Rangga terlihat sedih, ia menarik lengan Sicha dan membawanya ke belakang sekolah.</p>
<p>“kakak kenapa?” Sicha penasaran</p>
<p>“kakak baru putus” jawabnya lirih</p>
<p>“ya ampun, baru juga seminggu”</p>
<p>“entahlah, dia Cuma mempermainkan perasaan kakak saja”</p>
<p>“Sicha turut bersedih”</p>
<p>“hmm, yasudahlah lagipula itu lebih bagus”</p>
<p>“maksud kakak?”</p>
<p>“ya, kakak kan jadi tau dia gimana, dari pada terus ngejalani hubungan taunya entar kakak malah tambah sakit lagi”</p>
<p>“hmm, iya ya? Hehehe”</p>
<p>“oh ya, pacar kamu mana?”</p>
<p>“kakak tau? Padahal Sicha mau ngabarin kakak lho”</p>
<p>“hahaha, jelas kakak tau semua tentang kamu Sicha” ucap Rangga sambil mengusap kepala Sicha lembut dan membuatnya tersipu.</p>
<p>“ya ampun, kakak memang perhatian banget sama Sicha”</p>
<p>“iya dong kan kakak sayang sama Sicha” ungkap Rangga jujur dan memeluk Sicha. Sicha hanya membalas pelukan Rangga, ia benar-benar merasakan kehangatan dan kasih sayang seorang kakak dari sosok Rangga. Rangga melepaskan pelukannya dan mendorong Sicha kuat hingga ia jatuh ke tanah dan membuat Sicha terkejut.</p>
<p>“lho? Kok Sicha didorong, kenapa kak?” Sicha terlihat sedih dan ia mencoba berdiri.</p>
<p>“ya Tuhan, maafin kakak Sicha, sini tangan kamu!” Rangga gugup dan mencoba membantu Sicha untuk bangun. Ia tidak sadar apa yang telah ia lakukan. Tapi Sicha menatapnya tak yakin. “Sini! Kakak janji ga akan ngelukaimu lagi, kakak benar-benar mau bantu kamu” ucapnya lagi, dengan ragu Sicha mengulurkan tangannya. Rangga memegang dan langsung memeluk Sicha berat. Sicha benar-benar bingung juga khawatir, apa yang terjadi dengan kakaknya ini?</p>
<p>“apa yang Sicha rasakan?” tanya Rangga dan terus memeluk Sicha.</p>
<p>“maksud kakak?” Sicha benar-benar bingung. Rangga kembali memeluk Sicha kuat dan meletakkan kepala Sicha diatas denyutan jantungnya. Sicha hanya menurut saja.</p>
<p>“kalau sekarang?” tanya Rangga lagi, suaranya hampir tak terdengar.</p>
<p>“jantung kakak, rasanya denyutannya lebih cepat, kakak ketakutan ya?” tanya Sicha dan menatap mata Rangga yang berair. Ia ingin melihat kejujuran dari kakaknya itu.</p>
<p>“iya, kakak takut sekali untuk..” Rangga menghentikan ucapannya dan mengecup bibir  Sicha lembut  “ <em>I love you</em>” ucapnya tulus setengah berbisik dan melepaskan pelukannya. Sicha terkejut dan menutup bibirnya, matanya mulai berair. Sedih.</p>
<p>“kakak&#8230;” ucapnya rapuh.</p>
<p>Namun karena tak sanggup, Rangga pergi meninggalkan Sicha yang mulai menangis di belakang sekolah sendirian. Tak sadar ada dua pasang mata yang memperhatikan kejadian itu. Sicha terus menangis. Ia tak mampu berkata apa-apa. Rangga terus berjalan, pikirannya benar-benar kacau, ia sadar tak seharusnya ia melakukan itu pada Sicha yang sudah memiliki pacar, namun ia juga tak mampu menahan apa yang dirasakannya. “Sicha, maafin kakak” ucapnya dalam hati dan berlalu, tak sadar ia menubruk seseorang. Ia tak perduli dan terus berjalan. Pulang.</p>
<p>“ayo, kita pulang” seseorang menjulurkan tangan pada Sicha yang masih terisak di halaman belakang sekolah. Sicha menatap lemah, matanya masih berair. “sudahlah, ayo kita pulang” ucap orang itu lagi.</p>
<p>“kak Tommy?” Sicha mencoba untuk tidak menangis.</p>
<p>“maaf” ucap Tommy lagi</p>
<p>“kakak lihat semua?”</p>
<p>“iya, maafin kakak ya, ternyata kami sama”</p>
<p>“maksud kakak?”</p>
<p>“ya, kurang beruntung, kami terlambat” Tommy tersenyum. “sudahlah, ayo pulang!” Tommy menarik tangan Sicha dan mengantarnya pulang.</p>
<p align="center">########</p>
<p align="center">
<p>“om, kemana aja sih? Udah hampir seminggu ga ke sekolah, aku capek ngawasin dia terus, ternyata yang suka sama dia ga Cuma om doang tau!!” Keysha terus mengomel kesal sama om-nya yang tak lain Raffa, setahun lebih tua diatasnya.</p>
<p>“aku lagi sibuk Key, aku Cuma mau kamu ngawasin dia, kalian kan sekelas, coba dekatin dia, jadikan sahabat” Ucap Raffa tegas tanpa menoleh dari layar laptopnya, ia memang benar-benar sibuk.</p>
<p>“tapi om, aku capek! Tadi baru aja ada kejadian&#8230; oops” Key menutup mulutnya, ia jadi merasa bersalah. Hampir kecoplosan.</p>
<p>“kenapa tadi?” Raffa memutar kursi dan menghadap ponakannya yang duduk di atas kasurnya.</p>
<p>“hmmm..” Keysha belum berani melanjutkan.</p>
<p>“kenapa Key? Bilang sama aku!” Raffa bangun dari kursi kerjanya dan duduk disamping Keysha.</p>
<p>“maaf om, jangan marahin dia ya?”</p>
<p>“sudahlah, ceritakan saja padaku, apa yang terjadi sama Sicha” Raffa mengeraskan sedikit suaranya, membuat Keysha terkejut dan takut.</p>
<p>“tadi aku melihat seorang senior menariknya ke halaman belakang sekolah, sepertinya ia menyatakan cinta pada Sicha, dan yang terakhir ia mencium Sicha” Key berkata perlahan.</p>
<p>“apa?!” Raffa shock dan tanpa sengaja meninju dinding kamarnya. “siapa cowok itu?” tanyanya lagi.</p>
<p>“maaf om, aku tidak kenal” jawab Key jujur. Ia merasa kasihan pada om-nya itu. Tapi ia juga tak mampu berbuat apa-apa. Raffa bangun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Keysha bisa melihat wajah Raffa yang memerah karena marah. Beberapa menit kemudian suara air berbunyi. Mungkin Raffa mandi, biasanya ia menenangkan pikirannya dengan mandi atau berendam dengan air hangat.</p>
<p align="center">########</p>
<p>Hari ini Sicha bertekad untuk menemui Rangga di kelasnya. Saat bel istirahat berbunyi ia langsung berlari ke luar kelas, Keysha menatapnya dengan penasaran. Berniat ingin mengikutinya, tapi dia tak ingin terlalu ikut campur. Sicha terus berjalan hingga sampai di depan kelas Rangga. Beruntungnya ia tak perlu masuk kelas untuk mencari, karena Rangga juga sedang berjalan ke luar kelasnya. Rangga terkejut mendapati Sicha di depan kelasnya. Ia tahu alasan kenapa cewek kecil itu di depan kelasnya sekarang. Ia mencoba mengatur perasaannya.</p>
<p>“kak, sicha mau bicara!” Sicha berusaha menatap mata Rangga</p>
<p>“yasudah ayo kesini!” Rangga masih dengan tenang, menarik lengan Sicha dan mereka berbicara di koridor dekat tangga. “masalah kemarin ya?” tanya Rangga tersenyum. Sicha mengangguk. “maaf, kakak Cuma bercanda” Rangga berbohong.</p>
<p>“maksud kakak bercanda apa? Kakak udah..” kalimat Sicha terputus.</p>
<p>“iya, kakak tahu, tapi kakak memang beneran bercanda. sekarang tatap mata kakak, kakak masih bisa melakukannya, <em>i love you</em>. Sicha kakak cinta sama kamu. Lihat! Kakak bisa melakukannya kan? Atau kamu mau kakak cium lagi?” Rangga menggoda Sicha.</p>
<p>“uh, kakak jahat!” Sicha berlari meninggalkan Rangga dan tak perduli panggilan Rangga yang terus memanggil-manggilnya.</p>
<p>Sicha terus berlari, air matanya mulai jatuh. Ia tak perduli dengan orang-orang di sekelilingnya, ia kecewa sama Rangga dan dirinya sendiri. Apa yang harus dikatakan pada Raffa jika nanti ia tahu. Tiba-tiba seseorang menarik lengannya dan memeluknya erat. “<em>don’t cry baby</em>” ucap orang itu dan mengelus rambut Sicha lembut. Sicha terkejut mendapati Raffa telah memeluknya. Ia sedih merasa telah berbuat tidak adil pada pacarnya itu. “sudahlah, lupakan saja ya?” Raffa berucap dan menghapus air mata Sicha.</p>
<p>“kakak tahu?” Sicha bertanya lembut.</p>
<p>“iya, itu kesalahan aku karena tidak bisa menjagamu, aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan mengabaikanmu disini” ucap Raffa lembut mencoba menenangkan hati kekasihnya itu.</p>
<p>“tapi kak..” kata-kata Sicha terputus, Raffa menaruh telunjuknya di bibir Sicha “ssstt..lupakan saja okay?” lanjut Raffa lagi. Sicha mengangguk, kini ia benar-benar menyesal, ia telah berbuat tidak adil pada Raffa. Ia kembali memeluk Raffa erat, melepaskan kerinduannya yang telah lama ia pendam.</p>
<p>“<em>i miss you</em> kak” ucap Sicha jujur.</p>
<p>“iya, aku juga kangen banget sama kamu sayang” balas Raffa jujur dan mencium kening Sicha lembut. “sekarang aku janji bakal terus menjaga kamu” lanjut Raffa lagi sambil menatap mata Sicha dalam. Sicha tersenyum. Ia bersyukur menjadi pacar Raffa. Ternyata ia begitu baik. Setelah berkangen-kangen ria, selanjutnya mereka ke kantin untuk mengisi kekosongan pada perut mereka. Kini semua kembali berjalan lancar. Sicha kembali tersenyum.</p>
<p align="center">########</p>
<p align="center">
<p>Setelah kejadian waktu itu, Rangga mulai jarang menjumpai Sicha. Ia tak ingin melukai hatinya dan merusak hubungan Sicha dan Raffa. Ia pun mulai jarang terlihat di sekolah. Karena akhir-akhir ini kesehatannya semakin kurang membaik. Ia juga harus belajar keras, karena ia ingin melanjutkan sekolahnya ke Perancis. Pikirannya pun begitu bercabang. Ia sangat kesepian. Orang tuanya kembali disibukkan dengan pekerjaan masing-masing, sehingga lagi-lagi harus meninggalkan Rangga dengan tantenya. Rangga hanya berbagi pada tante dan sepupunya. Ia malas dengan orang tua yang tidak begitu perduli dengan anaknya yang sedang kurang sehat.</p>
<p>Ia mencoba meraih <em>handphone</em>nya dan mengetik sebuah pesan singkat dan mengirimnya pada Sicha. Sicha sedang bersantai ria di rumahnya sambil membaca catatan yang baru saja diberikan gurunya. Saat <em>hp</em>nya  berbunyi ia langsung meraih dan membacanya.</p>
<p><em>From : Kak Rangga</em></p>
<p><em>Sicha, maafin kakak kalo akhir2 ini jarang ngejumpai kamu</em></p>
<p><em>Kakak ga mau ngerusak hubungan kamu dan Raffa</em></p>
<p><em>Semoga kamu selalu bahagia</em></p>
<p>Sicha menekan tombol <em>reply</em> dan membalas pesan Rangga.</p>
<p><em>To : Kak Rangga</em></p>
<p><em>Ya ampun, kakak ga pernah ngeganggu hubungan kami kok</em></p>
<p><em>Kan kita udah janji, kakak tetaplah kakaknya Sicha</em></p>
<p><em>Udahlah, lupain aja, kak Raffa ga marah kok kita tetap dekat</em></p>
<p>Sicha menekan tombol <em>send</em> dan mengirim pesan tersebut, beberapa menit kemudian kembali ia mendapat balasan.</p>
<p><em>From : Kak Rangga</em></p>
<p><em>Beneran? Baiklah kalo bgitu</em></p>
<p>Akhirnya percakapan melalui pesan singkat berakhir juga. Sicha melanjutkan  lagi kegiatannya. Sesaat ia merasakan perutnya sakit. Ia berhenti membaca dan berniat tidur untuk sesaat. Tanpa terasa ia telah terlelap hingga malam telah datang. Sicha meraih hapenya dan melihat layar hape begitu banyak panggilan tak terjawab, ia mengecek nomor dan itu dari Raffa. Ia jadi khawatir jangan-jangan Raffa marah. Sesaat kemudian hapenya kembali berdering dan ia langsung mengangkatnya.</p>
<p>“halo?” suaranya sedikit parau.</p>
<p>“<em>baby, are you ok</em>?” terdengar suara diseberang. Raffa terlihat khawatir.</p>
<p>“ya, gapapa kok”</p>
<p>“tapi, kenapa dengan suaramu?”</p>
<p>“hmm, Sicha Cuma sakit perut, sakit banget makanya lemas gini”</p>
<p>“ya ampun, orang tua Sicha udah balik?”</p>
<p>“belum, mungkin minggu depan”</p>
<p>“yaudah, aku ke rumah ya”</p>
<p>“hu’um, hati-hati jangan ngebut ya”</p>
<p>“ok, tunggu 15 menit” percakapan itu terputus, Sicha melanjutkan istirahatnya. Lima belas menit kemudian Raffa datang, ia langsung ke kamar Sicha dan mendapati Sicha terbaring lemas di atas kasur. Ia langsung menghampiri kekasihnya itu.</p>
<p>“<em>baby, are you ok</em>?” ia memeluk Sicha.</p>
<p>“ya, Sicha gapapa kok”</p>
<p>“apa perlu kakak ambilkan air hangat?”</p>
<p>“ga usah kak, nanti juga sembuh”</p>
<p>“udah makan?”</p>
<p>“ga sanggup makan kak”</p>
<p>“ya ampun, itu makin membuat sakit perutmu, kenapa sih?”</p>
<p>“gapapa kak, Cuma sakit biasa setiap bulannya”</p>
<p>“oh, kakak ngerti, yaudah kakak bantu pijit aja ya?” tanpa menunggu jawaban Sicha, Raffa langsung memijit-mijit perut Sicha, ia juga bingung harus berbuat apa, ia kasihan melihat Sicha lemah dan tak berdaya seperti sekarang ini. “aku akan nemani kamu hingga terlelap” ucapnya lagi.</p>
<p>“iya, makasih kak” jawab Sicha, tangannya menggenggam erat tangan kanan Raffa. Raffa begitu prihatin akan keadaan Sicha. Ia terus memijit-mijit perut Sicha hingga Sicha terlihat mengantuk. “yaudah, tidur aja kakak disini terus” lanjut Raffa lagi.</p>
<p>“kakak ga ngantuk?” tanya Sicha</p>
<p>“sedikit, yaudah gapapa”</p>
<p>“kalo kaka ngantuk, kaka pulang aja dari pada entar mengemudi sambil tidur kan bahaya”</p>
<p>“ya ampun, kakak udah ngantuk banget dan ga mungkin pulang”</p>
<p>“terus?”</p>
<p>“kakak tidur disini ya?”</p>
<p>“hah?”</p>
<p>“sudahlah, jangan khawatir. Kakak bakal ngejagain kamu dan juga ga bakal terjadi apa-apa” Raffa meyakinkan, dan tanpa menunggu jawaban ia langsung tidur di samping Sicha sambil memeluknya. Ia merasakan kegugupan dari hembusan nafasnya Sicha. Ia bangkit dan memandang Sicha. “<em>dont worry baby</em>, kakak janji ga akan terjadi apa-apa” iya meyakinkan Sicha lagi dan mencium kening Sicha. Ia mengelus rambut kekasihnya lembut dan kembali tidur. Sicha hanya pasrah, ia percaya pada Raffa. Kini matanya benar-benar lelah dan tak lama kemudian keduanyapun terlelap.</p>
<p align="center">########</p>
<p align="center">
<p>Sicha berlari tergesa-gesa menuju kelasnya. Hari ini ia kembali terbangun kesiangan. Semalam ia menjemput orang tuanya pulang dari luar kota. Ia khawatir kalo gurunya telah memulai pelajaran. Tapi begitu tiba di kelas, ternyata pelajaran belum dimulai. Sicha bernafas lega dan duduk di bangkunya. Keysha meliriknya sekilas. Akhir-akhir ini mereka terlihat akrab. Sicha sudah mulai membuka diri pada cowok cerewet tapi perhatian, ponakan pacarnya itu. “kok kesiangan?” tanya Key sedikit berbisik. “semalam agak telat tidurnya” Sicha membalas. Keysha mengangguk dan kembali duduk tenang. Guru kelas telah tiba. Pelajaran akan dimulai sesaat lagi. Kelas kembali sepi. Para siswa mengikuti pelajaran dengan tenang.</p>
<p>Saat istirahat tiba, Sicha dan Key menuju kantin. Tapi Sicha lupa membawa dompet akhirnya ia kembali ke kelas dan meminta Key untuk duluan. Setelah mendapatkan dompetnya ia langsung berlari menuju kantin lagi, di tengah perjalanan ia berjumpa dengan Chika-mantan Raffa-.</p>
<p>“Sicha ya?” tanyanya ramah</p>
<p>“iya, kenapa ya?” balas Chika ga kalah ramahnya</p>
<p>“gue Cuma mau ngucapin selamat buat hubungan lo sama Raffa, dan gue harap lo bisa ngejagain dan jangan pernah ngelukain hati Raffa. Kalo ga lo bakal berhadapan sama gue!” Chika berkata ramah dan berisi ancaman, lalu ia pergi berlalu meninggalkan Sicha yang melongo. Bingung. Sicha tidak sempat menanyakan nama perempuan tadi, namun ia sempat melirik sekilas pada bet nama yang terpampang di bajunya. Dan kemudian ia baru sadar kalau ternyata itu Chika, mantannya Raffa. Ia tak begitu perduli, ia terus melanjutkan perjalanannya ke kantin.</p>
<p>“Key, udah pesan makanan untuk Sicha?” tanya Sicha saat telah menemukan Key dan duduk di depannya.</p>
<p>“udah, bentar lagi juga datang pesanannya” Key menjawab dan melirik ke seisi kantin. Ia tak ingin melihat Om nya menemukannya dengan Sicha dan salah paham nantinya.</p>
<p>“Key, kamu kenal sama mantannya Raffa?”</p>
<p>“Chika maksudmu?”</p>
<p>“iya, tadi dia nemuin Sicha”</p>
<p>“terus dia apain kamu? “ Keysha terlihat khawatir</p>
<p>“engga, Cuma ngucapin selamat aja buat hubungan kami”</p>
<p>“oh okay” Mereka berhenti bercakap karena pesanan datang dan menyantap makanan mereka. Sicha terus memikirkan apa yang diucapkan Chika tadi. Keysha juga larut dalam pikirannya, ia juga khawatir kalau-kalau Chika bakal nemuin Sicha atau ngelakuin hal yang aneh. Walau Key tidak begitu kenal dengan Chika tapi setahunya Chika itu tetap mendekati Raffa walau mereka udah putus. Chika juga sering mengajak Raffa nemenin dia jalan atau sekedar ngobrol.</p>
<p>Setelah selesai makan mereka menuju kelas untuk melanjutkan lagi pelajaran.</p>
<p>“Sicha, pulang sekolah temanin aku ke mall yuk? Ada yang mau aku cari” ajak Key saat udah tiba di bangkunya. Keysha memang cowok yang perhatian banget sama <em>fashion</em>.</p>
<p>“okay, malas juga kalo Cuma langsung pulang ke rumah, bosan”</p>
<p>Untuk sesaat Sicha tidak menghubungi Raffa, ia tau Raffa sangat sibuk belakangan ini, ia juga telah mengabari Raffa untuk bersama Keysha sehabis pulang sekolah. Suasana kelas begitu tenang. Para siswa mengikuti pelajaran terakhir itu dengan nyaman. Saat bel berbunyi Keysha dan Sicha langsung ke luar kelas dan mereka menuju mall untuk memburu keperluan Keysha.</p>
<p>Keysha memilih-milih berbagai macam aksesoris dan juga mencari-cari baju keluaran terbaru. Sicha baru sadar, selera <em>shopping</em>-nya Key itu melebihi para cewe umumnya. Ia merasa lelah berjalan mengelilingi mall yang super besar itu, secara juga ia bukan typical cewe yang suka berbelanja. Beberapa menit kemudian Key mengajaknya makan siang, ia berjanji akan membayar makanan Sicha. Akhirnya mereka mencari tempat makan cepat saji yang juga masih berada dalam mall itu.</p>
<p>Tak lama setelah menemukan tempat makan yang nyaman, mereka memesan makanan dan menyantapnya. Key terlihat lapar sekali, wajar saja ia juga pasti keletihan telah berjalan lama. Saat sedang menyantap makanan penutup mata Sicha tertuju pada salah satu pasangan yang sedang menuju bioskop yang berada di lantai bawah tempat mereka makan. Sicha mengenali keduanya. Dan sangat mengenali cowok yang sedang berjalan menggenggam tangan cewek di sampingnya. Tak sadar air mata Sicha jatuh, membuat Key khawatir dan melihat arah pandangan mata Sicha, namun ia tidak menemukan apa yang dilihat Sicha, karena yang ternyata Raffa dan Chika telah memasuki gedung bioskop.</p>
<p>“Sicha, <em>are you ok</em>?” Key menatapnya khawatir.</p>
<p>“kalau udah kelar, kita pulang aja ya?” Sicha menghapus air mata yang telah mengalir di pipinya.</p>
<p>“ya ampun, kamu beneran ga papa kan? Okay deh, kita pulang sekarang aja yuk?” Key membayar makanan dan menarik lengan Sicha untuk langsung pulang. Keysha benar-benar khawatir apa yang sebenarnya terjadi pada Sicha. Dalam perjalanan pulang Keysha tak berani berkata, ia mencoba memikir-mikir apa yang telah terjadi. Akhirnya Sicha sampai di rumah, setelah pamitan sama Key ia langsung menuju kamarnya. Rumah masih sepi, orang tuanya belum pulang kerja mungkin. Ia berlari ke kamarnya dan melempar tubuh ke kasur. Ia kembali terisak hingga ia terlelap.</p>
<p>Malamnya Raffa mengunjungi rumah Sicha, ia ingin menemui kekasihnya. Ia merasa rindu berat. Akhir-akhir ini mereka jarang bertemu walau dalam sekolah yang sama. Sicha menemui Raffa yang telah menunggunya di teras depan rumah. Ia tak ingin Raffa masuk ke rumahnya kali ini. Raffa pun tak keberatan, menurutnya di luar lebih asik dan sejuk. Mereka terus bercakap, Sicha tetap bersikap sewajarnya. Ia ingin Raffa mengatakan apa yang ia lihat tadi, tapi sampai jauh percakapan, Raffa tak menyinggungnya.</p>
<p>“tadi kakak kemana?” Sicha mencoba mengganti topik pembicaraan</p>
<p>“engga kemana-mana, kenapa?” Raffa menjawab sekilas</p>
<p>“oh, Sicha kira yang di gedung bioskop tadi itu kak Raffa”</p>
<p>“ah iya, tadi sempat nonton, awalnya sih Cuma nemenin Chika beli tas”</p>
<p>“masih sering berhubungan sama Chika?”</p>
<p>“iya”</p>
<p>“terus?”</p>
<p>“maksud kamu?”</p>
<p>“perasaan kakak?”</p>
<p>“apa aku harus berkata jujur? Aku ga mau kamu menangis”</p>
<p>“katakan saja, lebih baik Sicha menangis mengetahui kebenaran, dari pada terus menyiksa perasaan. Okay, Sicha udah tahu kalau kakak masih cinta sama Chika”</p>
<p>“maaf, aku belum bisa menghilangkan perasaanku padanya walau dia telah melukai hatiku, tapi dia ga ada apa-apa, kami Cuma berteman baik. Bagi aku sekarang kamulah segalanya”</p>
<p>“entahlah” Sicha berkata lembut, tak sadar airmatanya telah membasahi pipi mulusnya.</p>
<p>Raffa tak sanggup melihat air mata Sicha. “apa kamu bakal mutusin aku sekarang?” tanyanya sesal dan membuat Sicha shock.</p>
<p>“hah? Jadi ini yang kakak mau? Putus dari Sicha? Pantas saja kaka ga pernah peduli sama Sicha, ga cinta sama Sicha, kakak ga pernah care Sicha” kini air matanya terus mengalir.</p>
<p>“ya ampun, bukan begitu maksud kakak, aduh maaf. Kakak cinta sama kamu, sayang dan care! Berapa kali kakak harus bilang cinta ke kamu hah? Kenapa kamu ga pernah percaya?” Raffa jadi merasa serba salah dan emosi.</p>
<p>“maaf deh kak, mata Sicha sepertinya butuh istirahat. Good night” Sicha berpamit dan hendak masuk ke dalam rumahnya, namun Raffa menarik lengan Sicha. “kita belum selesai bicara” kata Raffa memandang mata Sicha yang terus berair. “Sicha ga sanggup lagi, lupain aja lah kak, maafin Sicha. Sicha percaya kok sama kakak” Sicha berkata pelan dan memeluk Raffa kemudian ia melangkah masuk ke dalam rumahnya. Raffa hanya menatap tak berdaya kepergian Sicha. Kepalanya pusing. Akhirnya ia pun beranjak pulang.</p>
<p align="center">########</p>
<p align="center">
<p>Setelah percakapan malam itu, Sicha jadi jarang berjumpa dengan Raffa. Entah Raffa yang terlalu sibuk atau memang ia yang tak ingin berhubungan dulu sama Raffa. Hubungan mereka juga jadi dingin, mereka Cuma bersapa lewat pesan singkat atau hanya menanyakan keadaan saat menelpon. Untuk sekarang Sicha ingin sendiri dulu.</p>
<p>“hey Sicha, matamu masih bengkak. Telat tidur lagi semalam?” Key perhatian sama kondisi pacar Om nya itu. Ia menanyakan saat mereka pulang dari sekolah. Selama pelajaran berlangsung Sicha tidak konsen, ia mengikuti pelajaran dengan lesu.</p>
<p>“iya nih, akhir-akhir ini Sicha jadi susah tidur” jawab Sicha asal</p>
<p>“emang apa yang kamu pikirkan? Raffa?”</p>
<p>“mungkin”</p>
<p>“lho? Kalian lagi ada masalah?”</p>
<p>“entahlah Key, Sicha sering menjumpai Raffa jalan bareng sama Chika, juga keluar pada malam hari, engga tahu deh mereka kemana juga pada ngapain”</p>
<p>“ya tuhan, tuh cewek benar-benar minta dijambak kali ya?”</p>
<p>“ga usah, biarin aja. Kayanya mereka memang masih punya rasa, Sicha terlalu cepat hadir dalam kehidupan Kak Raffa”</p>
<p>“<em>no no no</em>, Raffa udah putus sama Chika, ia juga bilang ga bakal balikan sama tuh cewek, yaudah entar aku bakal ngomong ke dia”</p>
<p>“ya ampun, ga usah Key, yang ada hanya menambah masalah saja”</p>
<p>“aduh, plis aku Cuma mau ngasih pelajaran sama Chika”</p>
<p>“terserah deh, Sicha cape. Sicha duluan ya. Bye” Sicha berpamitan dan berjalan hoyong, ia mengemudi mobil pribadinya. Sebulan yang lalu papanya telah mengizinkan ia untuk memiliki mobil pribadi. Kali ini ia tidak ingin pulang. Ada tempat yang harus ia tuju. Ia juga hendak berniat untuk menghubungi Rangga ataupun Reva, tapi ia tak ingin mengganggu dua orang yang begitu perhatian sama dia. Mereka siswa tahun akhir, pati sangatlah sibuk dengan jam pelajaran tambahan. Keysha yang sedari tadi memperhatikan Sicha jadi khawatir. Sorenya ia ke rumah Sicha, namun mba Imah bilang Sicha belum pulang dari sekolah. Berita itu membuat Key jadi tambah khawatir. Ia menghubungi ponsel Sicha berkali-kali namun tak jua ada jawaban. Hingga malampun telah tiba. Kemudian Key mendapat pesan dari Sicha dan mengatakan Sicha sedang dalam perjalan pulang ke rumahnya, dia baru saja minum. Menenangkan pikirannya. Keysha langsung terkejut dan semakin khawatir, bagaimana seorang wanita mengemudi di malam hari dalam keadaan mabuk? Ia menghubungi Sicha, namun Sicha tetap tak menjawab.</p>
<p>Beberapa jam kemudian Keysha dapat kabar kalo Sicha kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit. Key ingin memberi tahu Raffa, tapi ia juga sedikit kecewa sama Om nya itu, ia urungkan niat dan ia hendak pergi sendiri menjenguk Sicha. Namun saat keluar dari rumah ia mendapati Raffa yang baru pulang entah dari mana, yang membuat ia kesal, Raffa bersama Chika. Ia benar-benar kecewa, akhirnya ia langsung menuju Rumah Sakit.</p>
<p align="center">########</p>
<p align="center">
<p>“Sicha, kamu ga papa kan?” Keysha menanyakan keadaan Sicha, yang saat ia datang Sicha mulai bergerak seperti biasa. Kembali ceria.</p>
<p>“ga papa kok Key, Cuma kebentur di kepala aja nih, entah tuh para ahli medis jadi khawatiran, seperti luka parah saja” Sicha menjawab dengan kesal, ia tidak menyukai berlama di rumah sakit. Apalagi jika menyadari kalau lukanya tak begitu parah.</p>
<p>“sukurlah kalau begitu” ucap Key lega, “oh ya, Raffa udah tau?” tanyanya lagi.</p>
<p>“tadi sempat Sicha kabarin, tapi belum dibalas, masih sibuk kali”</p>
<p>Key hanya menggeram. Batinnya marah, Omnya benar-benar keterlaluan. Pacarnya sedang terbaring di rumah sakit tapi ia malah bersama cewek lain. Setelah lama berbincang-bincang, akhirnya Key pamit pulang. Ia juga tidak ingin mengganggu waktu istirahat Sicha.</p>
<p>Keesokan harinya Reva datang menjenguk Sicha bersama salah seorang teman sekelasnya Dika. Reva telah mengetahui apa yang dialami Sicha, sampai ia harus masuk Rumah Sakit. Begitu Reva masuk ke kamar Sicha dirawat inap, ia langsung memeluk Sicha yang telah ia anggap sebagai adiknya itu.</p>
<p>“ya ampun, kamu bikin kakak khawatir aja tau!”</p>
<p>“maaf deh kak, abis Sicha frustasi berat”</p>
<p>“yaudah, lain kali jangan diulangi lagi okay? Oh ya, ni Kak Dika teman sekelas kakak”</p>
<p>“kak Dika?” Sicha melirik cowok jangkung nan tampan yang bernama Dika itu.</p>
<p>“apa kabar Sicha? Lama ga ketemu” sapa cowok itu ramah</p>
<p>“lho? Kalian udah saling kenal?” kini Reva yang kebingungan.</p>
<p>“iya, kan Kak Dika seniornya Sicha di kelas bahasa Italia” Sicha menjelaskan. Memang Dika seniornya di kelas bahasa Italia tahun lalu, Sicha mengambil kelas itu karena ia memang berniat terbang ke negara yang terkenal akan menara miringnya itu. Dika hanya mengangguk membenarkan. Reva bersyukur ternyata tak perlu susah membuat mereka akrab, karena memang mereka sangat dekat. Ia melihat Dika meperlakukan Sicha layaknya seorang putri raja, sepertinya ia menyayangi Sicha seperti adiknya.</p>
<p>Lama mereka bercakap-cakap. Sicha jadi senang karena ada orang-orang terdekat yang masih sayang dan memperhatikannya. Setelah merasa cukup, Reva dan Dika berpamitan pulang. Mereka juga tak ingin mengganggu Sicha terlalu lama, ia juga butuh istirahat, sepertinya luka di kepalanya sangat serius. Setelah Reva dan Dika meninggalkan ruangan, ponsel Sicha berdering dan mendapati nomor Raffa yang memanggil.</p>
<p>“kamu udah baikan?” suara diseberang terdengar saat telah tersambung</p>
<p>“lumayanlah, banyak orang-orang yang telah menjenguk” jawab Sicha singkat</p>
<p>“dimananya sakit?”  suara Raffa terdengar khawatir</p>
<p>“Cuma kepala doang kok, gapapa”</p>
<p>“bodoh, yasudah deh cepat sembuh ya, nanti ku temui” Raffa memutus sambungan telepon, Sicha hanya mendesah kesal. Namun ia berusaha mengerti, mungkin Raffa lagi sibuk benar, nasib baik ia telah menghubunginya walau sekedar menanyakan keadaan. Sicha kembali memijit-mijit kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. Selanjutnya ia terlelap.</p>
<p align="center">########</p>
<p align="center">
<p>“kamu udah kenal dekat sama Sicha?” tanya Reva di perjalanan pulang.</p>
<p>“iya, dekat banget sih dulunya, saat kita masih sama-sama di kelas bahasa Italia, yah sayangnya ia Cuma ngambil satu tahun aja, sekarang kami jarang berjumpa, di kantin juga susah nemuinnya” jawab Dika sambil terus mengemudi mobilnya.</p>
<p>“aku melihat senyuman bahagia di wajah Sicha saat kalian bersama”</p>
<p>“iya, dia memang periang, anaknya lucu dan manis”</p>
<p>“iya, tapi ia sangat kasihan”</p>
<p>“maksudmu?”</p>
<p>“pacarnya seperti tidak pedulian”</p>
<p>“Raffa maksudmu?”</p>
<p>“iya, dia terlalu sibuk dengan dunia modelingnya. Juga dengan kegiatan di luar sana yang entah aku juga ga tahu”</p>
<p>“aku tahu”</p>
<p>“kamu mau bantu Sicha tersenyum ga?”</p>
<p>“maksudmu?”</p>
<p>“aku ingin kamu menjaga Sicha, menyayanginya”</p>
<p>“tapi aku kan udah punya pacar”</p>
<p>“ya ampun, bukan itu maksud aku. Aku mau kamu menjaganya. Kamu sebagai kakaknya. Dulu sih ada Rangga, tapi akhir-akhir ini Rangga jarang terlihat bersamanya”</p>
<p>“oh, aku mengerti, baiklah”</p>
<p>“kamu mau?”</p>
<p>“tentu” jawab Dika mantap dan terus melaju mobilnya.</p>
<p align="center">########</p>
<p align="center">
<p>Tiga hari Sicha telah bermalam di rumah Sakit, kini ia telah kembali ke sekolahnya. Ia sangat merindukan teman-temannya. Rangga juga. Akhir-akhir ini Rangga tak pernah menemuinya lagi. Ia terus berjalan santai menuju kelasnya.</p>
<p>“<em>baby?”</em> Sicha menoleh ke arah suara. Raffa berjalan di sampingnya.</p>
<p>“kak Raffa” jawabnya singkat.</p>
<p>“kepalamu masih di perban? Ya ampun”</p>
<p>“sudahlah, nanti juga bakal sembuh. Kakak ga sibuk hari ini?”</p>
<p>“eh? Hari ini engga” jawab Raffa sambil tersenyum. “nanti istirahat temui aku di kantin oke?” pesan Raffa saat mereka harus berpisah di tangga. Sicha harus naik ke lantai dua dimana kelasnya berada, sedangkan Raffa menuju kelasnya yang berada di lantai satu.</p>
<p>Pelajaran berlangsung lama bagi Sicha, kepalanya semakin berat saja. Namun ia tak perduli, ia menanti saat istirahat. Ia ingin hubungannya kembali harmonis dengan Raffa. Keysha yang sedari tadi menyaksikan gelagat Sicha hanya tersenyum-senyum.</p>
<p>Akhirnya bel istirahatpun berbunyi, Sicha langsung menuju kantin bersama Key. Setelah menemukan sosok Raffa, ia langsung menghampiri pacarnya itu. Sedangkan Key lebih memilih tempat duduk lain, ia tak ingin mengganggu hubungan Omnya juga. Sicha duduk di depan Raffa yang telah menunggunya beberapa menit yang lalu.</p>
<p>“udah lama?” tanya Sicha</p>
<p>“lumayanlah” jawab Raffa sambil tersenyum.</p>
<p>“maaf deh, Sicha buat kakak menunggu”</p>
<p>“ya ampun, engga kok, kakak Cuma bercanda, yaudah pesanannya juga bakal datang sebentar lagi”</p>
<p>“udah kakak pesan buat Sicha? Ya ampun, makasih deh kak”</p>
<p>“sudahlah, macam ga kenal saja. <em>Anyway, did you know? I miss you so much</em>”</p>
<p>“hehe, Sicha juga, kangennya banget banget malah”</p>
<p>“hahaha, aku tahu, eh makanannya udah datang, ayo makan dulu” Raffa mengajak Sicha saat pesanan mereka tiba. Mereka pun menyantap makanannya segera, keburu bel istirahat berakhir. Setelah selesai makan mereka kembali menuju kelas masing-masing.</p>
<p>“nanti pulangnya sama aku ya?” pesan Raffa saat berada di depan kelas Sicha. Ia mengantar Sicha sampai kelasnya, ia masih khawatir dengan kondisi Sicha yang masih belum stabil. Sicha hanya mengangguk dan masuk kelas.</p>
<p>“ini nih, kalo udah jumpa sama pacar, mana ingat sama temen?” tiba-tiba Key datang mengejutkan Sicha yang masih tersenyum-senyum sendiri. Sadar Sicha telah meninggalkan Key di kantin, ia jadi merasa bersalah.</p>
<p>“ya ampun, maaf Key, Sicha bener-bener lupa. Abis Raffa tadi ngajak Sicha balik terus” Sicha cemberut.</p>
<p>“hahaha, gapapa lagi, aku Cuma becanda kok” senyum Key manis.</p>
<p>“maaf banget deh, kapan-kapan ga bakal ngulang lagi” janji Sicha sambil menampilkan gigi manisnya yang putih. Mereka terus bercanda hingga guru memasuki kelas. Mereka mengikuti pelajaran bahasa Nasional itu dengan semangat. Tak terasa waktu telah berakhir juga.</p>
<p>Siang ini Sicha pulang dengan Raffa. Sebelum pulang ke rumah, Raffa mengajak Sicha makan siang. Mereka berusaha mendekatkan diri lagi. Memperbaiki hubungan yang mulai renggang. Setelah berdiskusi lama, akhirnya mereka makan mie ayam di kedai pinggiran jalan. Makanan kesukaan Sicha. Mereka mencari tempat duduk yang dirasa nyaman dan memesan makanan.</p>
<p>“kamu suka mie ya?” tanya Raffa saat pesanan mereka datang.</p>
<p>“iya, suka banget” ucap Sicha semangat. Ia mengambil porsinya. “kakak ga suka ya?” ia melirik Raffa yang tampak tak bersemangat.</p>
<p>“sedikit” ucap Raffa singkat.</p>
<p>“ya ampun, kenapa ga bilang. Yaudah ayo cari makanan lain!” Sicha bangkit dan menarik tangan Raffa.</p>
<p>“cari makanan apa lagi? Ini udah di pesan, yaudah makan aja” Raffa tak bangkit dari tempat duduknya. Sicha mayun.</p>
<p>“tapi kakak ga suka?” Sicha duduk kembali</p>
<p>“kan sedikit, tenang aja aku tetap makan kok” jawab Raffa manis</p>
<p>“yaudah deh, kalo kakak ga mau lagi, serahkan aja ke Sicha, bakal Sicha habisin hehe” ucap Sicha sambil tersenyum manis.</p>
<p>“okay” ucap Raffa. Akhirnya mereka mulai menyantap mie ayam. Sesaat kemudian Raffa menyodorkan mangkuk mie ayamnya ke Sicha. “nih, aku kenyang” ucapnya.</p>
<p>“hah?cepat banget?” Sicha terkejut dan mengambil mie ayam milik Raffa. Setelah menghabiskan miliknya, ia melanjutkan punya Raffa. Ia makan begitu lahap.</p>
<p>“<em>baby</em>, kalau makan pelan-pelan” Raffa mengingatkan. Ia menyodorkan air mineral untuk Sicha. Ia terkekeh. Sicha tetap manis walau mulutnya dipenuhi makanan.</p>
<p>“hehe, iya iya” Sicha mengangguk dan melanjutkan kembali makanannya. Sesaat kemudian ia telah menghabiskan kedua mangkuk mie ayam di depannya.</p>
<p>“kamu kelaparan ya?” lagi-lagi Raffa terkekeh.</p>
<p>“hah? Kelihatan seperti orang kelaparan ya?” Sicha sedikit cemberut.</p>
<p>“hahaha, abisnya kamu makan dua mangkuk dengan lahap begitu”</p>
<p>“hehe” Sicha hanya cengir. Ia mengambil tissue yang berada di depannya. Namun keduluan sama Raffa. Raffa mengambil tissue dan mengelap mulut Sicha. Matanya beralih pada bibir Sicha yang mulai memerah karena kepedasan. Ia berhenti sejenak dan “nih, lap sendiri aja” ia memberikan tissue itu pada Sicha. Dan membiarkan Sicha mengelap mulutnya sendiri.</p>
<p>“yeee, kan Sicha ga minta kakak, tapi makasih deh hehe” ucap Sicha tersenyum imut.</p>
<p>“okay okay, ayuk kita pergi” Raffa mengajak Sicha untuk pulang. Sicha mengangguk. Setelah selesai menyelesaikan transaksi pembayaran, mereka meninggalkan kedai mie ayam itu dan melanjutkan perjalanan pulang.</p>
<p>Raffa memberhentikan mobilnya saat berada di depan rumah Sicha. Sicha turun dari mobil dan melambaikan tangan saat mobil Raffa bergerak menjauh dari rumahnya. Ia langsung menuju ke kamarnya. Rumah masih tetap sepi. Kepalanya tak terasa sakit lagi. Ia sangat senang sehingga rasa sakit pun seperti hilang. Ponselnya berbunyi saat ia baru saja hendak melemparkan tubuhnya ke kasur. Ia melirik layar ponselnya. <em>Kak Tommy?</em> Ia memencet tombol ok.</p>
<p>“halo kak?”</p>
<p>“Sicha, bantu kakak dong”</p>
<p>“bantu apa kak?”</p>
<p>“kakak Cuma mau tau pendapat kamu”</p>
<p>“tentang apa kak?”</p>
<p>“Rita nembak kakak, apa yang harus kakak jawab?”</p>
<p>“dia kan telah mutusin kak Rangga”</p>
<p>“iya, dia udah ngaku kok kalo sekarang dia jomblo”</p>
<p>“kakak suka sama kak Rita ga?”</p>
<p>“kakak belum yakin”</p>
<p>“ikuti kata hatimu kak, kalau suka terima aja, kalau ga suka tolak. Kalau kakak mau punya pacar, terima dan coba cintai dia”</p>
<p>“gitu ya? Oke deh. Makasih Sicha”</p>
<p>“iya, sama-sama kak” percakapan terputus. Sicha membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia teringat sama kakaknya. Rangga. Apa kabar dia sekarang? Kenapa begitu jarang terlihat di sekolah. Kenapa ia menjauh? Benar-benar telah melupakannya? Sicha sedih memikirkan itu. Kepalanya kembali berdenyut. Ia terlelap.</p>
<p align="center">########</p>
<p align="center">
<p>Setelah lama Rangga menghilang tanpa kabar, kini ia kembali muncul di sekolah. Ia langsung menjumpai Sicha. Ia menemui Sicha di taman bersama Keysha. Keysha terkejut saat melihat Rangga menyapa Sicha. Sepertinya ia pernah melihat cowok ini. Ia berusaha mengingat-ingat namun tak berhasil.</p>
<p>“Sicha, apa kabar?” sapa Rangga saat telah berhadapan dengan Sicha.</p>
<p>“kak Rangga!!” Sicha sedikit berteriak dan memeluk kakaknya itu “sicha kangen tau! Kakak kemana aja sih?” tak sadar matanya berkaca-kaca.</p>
<p>“sedikit sibuk dengan urusan masuk kuliah” jawab Rangga bohong. Tapi Sicha terlihat percaya.</p>
<p>“oh ya kak, ini teman sekelas Sicha. Keysha namanya” Sicha memperkenalkan Key pada Rangga. Mereka berjabat tangan dan saling menyunggingkan senyum. Akhirnya mereka berbincang-bincang singkat. Saling melepas kerinduan dan akhirnya Rangga pamit meninggalkan mereka, ia ingin mengisi perutnya yang kosong. Sepeninggalan rangga Keysha mencoba mencari tahu ada hubungan apa Rangga dengan Sicha. Sicha tak curiga, ia menceritakan kedekatannya dengan Rangga bak seorang kakak dan adik, mereka saling menyayangi. Keysha tahu kalau Sicha anak tunggal. Mereka terus bercakap-cakap hingga bel berbunyi. Mereka menuju ke kelas. Tapi key sempat melihat sekilas pada pasangan yang berjalan tak jauh dari mereka. Ia mendesah geram dan berharap Sicha tak melihat pasangan itu.</p>
<p>Malam ini malam minggu. Sicha dan Raffa ingin <em>nge-date</em>. Mereka telah lama ga keluar bareng di malam minggu. Saat jam menunjukkan jam 8 p.m Raffa telah sampai di depan rumah Sicha. Sicha berpamitan pada orang tuanya dan langsung menjumpai Raffa. Mereka berjalan menuju tempat yang menurut mereka nyaman. Taman bunga di pinggiran sungai kota yang memang terkenal sebagai tempat yang romantis. Setiba mereka di taman, Sicha langsung berlari dan duduk di atas rerumputan yang halus itu. Ia sangat gembira, tempatnya benar-benar sejuk dan nyaman. Raffa tersenyum dan duduk di samping Sicha.</p>
<p>“kamu suka?” tanyanya pada Sicha yang dari tadi terkagum-kagum.</p>
<p>“suka banget” jawab Sicha mantap. “tempat yang indah, nyaman dan Sicha bisa melihat bintang terasa lebih dekat disini.” Sicha terus berkata.</p>
<p>“iya, <em>i think so</em>” jawab Raffa dan tiba-tiba hapenya berdering. Ia mengangkat telepon itu dan berbicara pelan, berharap Sicha tidak mendengar. Chika menelpon memintanya untuk ditemani ke suatu tempat. Sicha menoleh dan sepertinya ia tahu. Raffa meliriknya dan diam tak berkata apa-apa. Ingin mengajak Sicha pulang, tapi terlalu cepat mereka baru saja tiba. Sicha mengerti gelagat Raffa.</p>
<p>“yaudah, kita pulang saja. Sepertinya telepon penting” kata Sicha datar, pandangannya beralih lagi ke langit.</p>
<p>“tapi kita baru saja tiba” cegah Raffa</p>
<p>“sudahlah, masih ada kesempatan lain”</p>
<p>“okay, aku janji bakal mengajakmu lagi kesini nanti”</p>
<p>“ya” Sicha kecewa, tadi ia hanya berniat menggertak Raffa, namun pacarnya menanggapi serius. Kini ia tahu bahwa ia tak lebih penting dari Chika.</p>
<p>“<em>baby, are you ok?”</em> tanya Raffa khawatir. Ia melihat mata Sicha berkaca-kaca.</p>
<p>“sudahlah, tinggalin Sicha, jumpai cewek itu!” Sicha bangun dan hendak berjalan, namun Raffa menarik lengannya.</p>
<p>“Sicha!! Kamu kenapa?” tanya Raffa bingung.</p>
<p>“kenapa? Kakak nanya Sicha kenapa? Kakak ga bisa ngerasain apa yang Sicha rasa sekarang hah?” Sicha melepaskan genggaman Raffa</p>
<p>“cemburu? Chika lagi?” Raffa mendesah kesal</p>
<p>“emang ada yang lain?”</p>
<p>“kan aku udah bilang, dia Cuma teman baikku untuk sekarang! Aku cinta sama kamu, kamu milikku dan aku ga pernah berubah. Kamu ga pernah tahu aku juga ngerasain hal yang sama saat cowok-cowok itu ngedekatin kamu, manjain kamu, termasuk Key. Kedekatan kalian bikin aku cemburu! Tapi aku ga pernah kaya kamu!” Raffa menendang kerikil, kesal. Ia berjalan hendak meninggalkan Sicha.</p>
<p>“kakak ga pernah gitu karena kakak ga pernah cinta sama Sicha lebih”</p>
<p>“berapa kali aku bilang aku cinta kamu, mau kamu dan butuh kamu hah? Kenapa sih kamu ga pernah percaya sama aku?”</p>
<p>“Sicha percaya sama kakak” kini Sicha jadi merasa bersalah ia berlari dan memeluk Raffa dari belakang. “tapi Sicha ga bisa menolak kecemburuan yang tumbuh..” kata-katanya terputus saat Raffa melepaskan pelukan Sicha kasar.</p>
<p>“sudahlah, lupakan saja, aku capek. Aku mau pulang” Raffa terus berjalan tanpa mengajak Sicha. Sicha semakin shock, ia menangis. Siapa sih yang salah? Ia kebingungan. Kepalanya kembali berdenyut, tanpa pikir panjang ia menelpon Keysha.</p>
<p>“Key, Sicha sepertinya stress, Sicha mau minum” Sicha berkata saat panggilannya tersambung.</p>
<p>“Sicha, kamu ada masalah, plis jangan coba-coba minum” Key khawatir.</p>
<p>“Sicha cape, lelah, sudahlah kalo Key mau temani Sicha datang aja, kalo ga yasudah”</p>
<p>Belum sempat Key menjawab Sicha telah memutuskan panggilan itu. Key langsung berlari ingin menjumpai Sicha. Di jalan ia mendapati mobil Om nya terparkir di samping apotik, kemudian ia melihat Omnya berjalan bersama Chika menuju mobil. Lagi-lagi Key mendecak kesal. Ia ingin menjumpai Sicha.</p>
<p>Sesampainya di salah satu tempat minum di tengah kota. Key menjumpai Sicha yang telah tertidur. Sepertinya ia mabuk berat. Key langsung berlari membangunkan Sicha.</p>
<p>“Sicha..” ia mengguncang-guncang tubuh Sicha</p>
<p>“R..a..f..f&#8230;a.. j&#8230;a..h&#8230;a&#8230;t&#8230;huek” Sicha berkata terputus dan kemudian ia memuntahkan isi mulutnya. Key membayar minuman itu dan langsung mengangkat Sicha ke mobil. Mengantarnya pulang, ia tidak ingin bercakap. Tapi sepanjang perjalanan Sicha terus berbicara tanpa sadar, ia menangis. Memanggil-manggil nama Raffa dan juga memarahi pacarnya itu. Key hanya mendengarkan. Hingga mereka sampai di rumah Sicha. Key langsung menyerahkan Sicha pada orang tuanya. Selanjutnya Key pamit dan pulang ke rumahnya.</p>
<p align="center">########</p>
<p align="center">
<p>“hey cewek genit!” Key menjitak kepala Chika yang sedang duduk bersantai bersama temannya di taman saat jam istirahat berlangsung. Chika yang belum mengerti duduk permasalahan sewot dan melototin Key sambil mijit-mijit kepalanya yang sedikit perih. Key memang bertindak kasar sama orang yang tidak ia suka tak perduli itu cewek atau cowok.</p>
<p>“apaan sih? Datang-datang main jitak aja!” bentak Chika.</p>
<p>“puas lo skarang hah?”</p>
<p>“maksud lo?”</p>
<p>“gara-gara lo kegatelan sama Raffa, Sicha stress berat juga minum sampai mabuk”</p>
<p>“oh, jadi lo body-guardnya Sicha nih? Dia nyuruh lo buat gertakin gue?”</p>
<p>“sorry, dia ga pernah nyuruh gue, tapi gue sendiri yang mau jumpain lo”</p>
<p>“trus skarang mau lo apa?”</p>
<p>“gue mau lo minta maaf sama Sicha juga ga usah kegatelan lagi sama Raffa”</p>
<p>“okay, gue bakal ngelakuin apa yang lo mau”</p>
<p>“bagus lo sadar diri, Raffa tu udah punya pacar. Sekali lagi lo berani kegatelan awas aja lo!” Keysha mencoba mengancam dan pergi meninggalkan Chika yang semakin kesal. Sepeninggalan Keysha, Chika langsung mendatangi Sicha. Ia mencarinya di kelas Sicha. Setelah menemukan Sicha ia langsung mengajaknya bicara.</p>
<p>“gue mau bicara sama lo!” kata Chika saat Sicha ke luar kelas menemuinya.</p>
<p>“tentang apa?” Sicha masih belum paham maksud Chika.</p>
<p>“gue Cuma mau minta maaf, puas?”</p>
<p>“hah?”</p>
<p>“udah ah, ga usah basa-basi. Kalo lo ga suka sama gue langsung aja samperin gue, ga usah cerita ke yang lain, ato juga marahin Raffa karena dekat sama gue. Dia cinta sama elo kok, gue Cuma nganggap dia sebagai kakak gue doang. Kalo lo mau marahin gue sekarang, ayo gue bersedia kok, gue bukan cewek kejam”</p>
<p>“ga ga, Sicha ga mau berantem. Maafin Sicha, ga papa deh kamu dekat sama Raffa, Sicha memang terlalu sayang sama Raffa makanya cemburu gitu”</p>
<p>“bagus deh, yaudah gue mau ke kelas dulu” Chika langsung pergi meninggalkan Sicha yang masih termangu. Saat hendak menuju ke kelasnya Chika menjumpai Key yang sedari tadi memperhatikan mereka.</p>
<p>“puas lo?” ucap Chika saat bertatapan dengan Key.</p>
<p>“kalo mau minta maaf itu musti ikhlas, kalo ga ya ga usah minta maaf” kata Key cuek dan meninggalkan Chika. Chika bener-bener kesal sama Key. Awalnya saat ia putus dengan Raffa dan sempat menjumpai Key di rumah Raffa, Chika telah jatuh cinta sama Key. Namun perasaan itu kini langsung hilang. Ia sakit hati karena cowok yang ia taksiri berbuat kejam padanya.</p>
<p>Sepulang sekolah Raffa menjumpai Sicha, ia melihat Sicha berjalan riang bersama Keysha. Sepertinya mereka berencana pulang bersama.</p>
<p>“ada yang mau aku omongin, jadi hari ini aku bakal ngantarin kamu pulang” Raffa menarik lengan Sicha. “Key, kami duluan ya” Key mengangguk. Raffa dan Sicha langsung berjalan ke arah parkiran.</p>
<p>Sepanjang perjalanan pulang mereka Cuma berdiam. Tak ada seorangpun yang mencoba membuka percakapan. Raffa melirik Sicha khawatir. Namun Sicha tetap memandang lurus ke depan. Sebenarnya ia juga khawatir sama Raffa, tapi yasudahlah.</p>
<p>“malam kemarin kamu dimana?” tiba-tiba Raffa mencoba mengajak Sicha bicara.</p>
<p>“Sicha di rumah” jawab Sicha tanpa menoleh</p>
<p>“aku nanya kamu dimana?” Raffa mengulangi lagi pertanyaannya, ia tahu Sicha berbohong.</p>
<p>“<em>well</em>, Sicha pulang larut, di jemput Key” ia masih memandang lurus ke jalan.</p>
<p>“kamu suka sama Key?” pertanyaan Raffa membuat Sicha menoleh sesaat dan mendecak.</p>
<p>“engga, Key teman yang baik, dia bisa jadi kakak dan sahabat buat Sicha” jujur Sicha.</p>
<p>“kamu udah bicara sama Chika?”</p>
<p>“apa yang harus dibicarakan?”</p>
<p>“jadi ga ada masalah dengan hubungan kita?”</p>
<p>“lupakan saja, Sicha udah bisa menerima kedekatan kalian. Sicha bakal coba untuk tidak cemburu lagi”</p>
<p>“bagus deh”</p>
<p>“ya”</p>
<p>“kamu minum?”</p>
<p>“sedikit”</p>
<p>“apa kamu merasa lebih baik setelah minum?”</p>
<p>“lumayan”</p>
<p>“kamu kenapa sih?”</p>
<p>“sedikit pusing, mungkin masih efek dari mabuk”</p>
<p>“nah, lihat kan? Minum Cuma bakal bikin kepala kamu tambah sakit tau”</p>
<p>“ya, <em>i know it</em>”</p>
<p>“<em>sorry</em> tentang malam kemarin, sebenarnya aku khawatirin kamu”</p>
<p>“iya ga papa”</p>
<p>“okay, udah sampai, sekarang kamu istirahat ya, semoga lekas membaik”</p>
<p>“makasih kak, bye” Sicha turun dari mobil Raffa dan menuju ke kamarnya langsung. Ia meminta mba Imah untuk mengantarnya makan siang ke kamar. Ia ingin berdiam di kamar saja malam ini. Raffa merasa sedikit kesal dan sangat khawatir, kalau-kalau masalah ini bakal panjang. Ia tak ingin kehilangan Sicha. Ia melaju mobilnya hingga sampai di rumah. Ia langsung ke kamar Key. Mereka memang tinggal bersama. Karena orang tua Key sedang bekerja di luar negeri. Tanpa mengetuk pintu, Raffa langsung memasuki kamar Key dan menjumpai Key sedang membuka-buka majalah.</p>
<p>“malam kemarin kamu sama sicha?”</p>
<p>“iya, salah siapa ninggalin cewek lagi rapuh gitu di tengah taman sendirian, mana dingin lagi”</p>
<p>“sekarang kamu makin dekat ya sama Sicha, bahkan jauh lebih perhatian”</p>
<p>“maksudnya?”</p>
<p>“kamu suka kan sama Sicha?”</p>
<p>“Om apaan sih? Om sendiri yang minta aku buat ngejagain Sicha, cari tau tentang dia, ngawasin dia, sekarang kok Om nuduh aku gitu?”</p>
<p>“bagus deh kalo kamu ga suka” Raffa meninggalkan kamar Key dengan sikap dinginnya dan membuat Key sedikit kesal.</p>
<p>“Om tunggu!” cegah Key, mendadak Raffa berhenti, ia berbalik dan menatap Keysha.</p>
<p>“kenapa?” ucapnya masih dingin.</p>
<p>“aku mau tau, kenapa Om masih aja terus dekat dengan Chika”</p>
<p>“apa aku perlu mengatakannya padamu?”</p>
<p>“terserah Om, tapi karena kedekatan kalianlah yang membuat Sicha <em>lose control</em> kaya sekarang”</p>
<p>“sudahlah Key, ga penting untuk dicerita”</p>
<p>“tapi aku ingin tahu Om, aku ga mau Sicha terus terluka”</p>
<p>“aku tidak ingin membahas” Raffa kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya, ia tak perduli pada panggilan Key.</p>
<p>“aisshh, benar-benar nyebelin, apa sih yang ada di pikirannya? Ngeselin!” Key memukul bantalnya keras, ia benar-benar kesal dengan Omnya.</p>
<p align="center">########</p>
<p align="center">
<p>Sekarang minggu pertama musim dingin tiba, beberapa waktu lalu Sicha dapat panggilan audisi menulis cerpen dalam bahasa Italia dan hari ini ia dapat kesempatan untuk wawancara seputar pengetahuannya dan juga kemampuan menulisnya. Ia tengah bersiap-siap hendak berangkat, tiba-tiba hapenya berdering. Ia melihat sekilas pada layar. <em>Kak Rangga</em>. Ia langsung meraih hapenya dan menerima panggilan itu.</p>
<p>“pagi Kak” sapa suara di seberang, suara cewek kecil. Membuat Sicha terkejut. Dan melirik lagi ke layar hapenya. Beneran ini panggilan dari Kak Rangga tapi kenapa suara cewek kecil? “ini Kak Sicha kan?” suara di seberang kembali terdengar. Dan buru Sicha menjawab.</p>
<p>“iya, iya ini siapanya Kak Rangga ya?” Sicha mencoba cari tahu dengan siapa ia berbicara.</p>
<p>“kak, aku sepupunya Kak Rangga, Ditha. Tolong doain kak Rangga ya, sebentar lagi ia akan menjalani operasi” suara di seberang terdengar mulai terisak.</p>
<p>“emang kenapa dengan kak Rangga, sakit apa sampai harus operasi?”</p>
<p>“sebenarnya kak Rangga mengalami kanker kak”</p>
<p>“kanker? Kanker apa? Kok kak Rangga ga pernah cerita”</p>
<p>“Leukimia, ia mengalaminya sejak berusia 10 tahun, ini operasi yang kesekian kalinya, aku takut banget kalo gagal. Aku mohon kak tolong doakan semoga operasinya lancar” suara di seberang terdengar semakin terisak, sepertinya Ditha menagis.</p>
<p>“ya ampun, ia kakak bakal doain kak Rangga” tak sadar air mata Sicha telah mengalir di pipi mulusnya. “kapan operasinya?” Sicha bertanya lagi.</p>
<p>“sekitar sejam-an lagi kak” jawab Ditha. “kak, aku tutup dulu ya, mau ke ruangannya kak Rangga” Ditha langsung menutup panggilannya setelah Sicha meng-iya-kan.</p>
<p>Sicha ingin sekali mengunjungi Rangga, namun ia harus mengikuti wawancara itu. Ia berencana untuk pergi menjenguk Rangga setelah ia selesai wawancara, semoga saja nanti operasinya kelar. Ia terus khawatir memikirkan keadaan kakak yang sangat ia sayangi itu. Kenapa Rangga ga pernah cerita kalau ia menderita leukimia. Sicha melanjutkan kegiatannya.</p>
<p>Di luar sangat dingin, namun Sicha lupa membawa jaketnya. Ia memang pelupa berat, ia juga tidak menyangka setelah usai  wawancara cuaca jadi bertambah makin dingin. Dia sempat berdiam lama di ruang interview, para <em>signor</em> banyak yang menyukai kemampuan bahasa Italianya dan mengajak ia berbincang-bincang lama. Sicha terus melangkahkan kaki, niat awalnya ia ingin menjenguk Rangga yang sedang dioperasi, namun ia sangat kedinginan sekarang, ia tak tahu apa ia sanggup melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.</p>
<p>Ia terus melangkahkan kakinya, tak sadar ada yang mengikutinya sedari tadi. Ia menuju ke halte, ia memang sengaja tak mengemudi mobilnya. Saat ia tiba di halte, seseorang memberhentikan langkahnya dengan memakaikannya jaket lewat belakang, ia menoleh.</p>
<p>“kak Dika?”</p>
<p>“kedinginan kan?”</p>
<p>“iya, kakak kok bisa disini sih?”</p>
<p>“tadi baru pulang dari pustaka bahasa trus lihat kamu keluar dari gedung pusat bahasa, yaudah kakak ikutin aja”</p>
<p>“hehe, iya tadi aku baru interview. Kakak mau kemana?”</p>
<p>“mau jumpa kamu”</p>
<p>“hahaha bohong deh”</p>
<p>“iya bohong, rencananya sih mau pulang, tapi berhubung jumpa kamu mending kita jalan yuk”</p>
<p>“boleh deh, lama juga kita ga jalan bareng, Sicha juga bakal suntuk di rumah mulu”</p>
<p>“kamu punya tempat yang mau dikunjungi?”</p>
<p>“ada sih, taman tepi sungai, tapi maunya pergi sama Raffa”</p>
<p>“yaudah, sama kakak juga gapapa kan? Ayo kita ke sana”</p>
<p>Mereka berdua berjalan kaki menuju taman tepi sungai kota yang tak jauh dari lembaga pusat bahasa. Di tengah perjalanan mereka juga berbincang-bincang saling bertukar kisah cinta mereka. Sesekali mereka tertawa senang. Dilihat sekilas mereka bagai pasangan yang sedang berbahagia. Tak lama kemudian setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, akhirnya mereka tiba juga di taman tepi sungai. Pemandangan dari taman memang sangat indah jika malam hari. Mereka bisa melihat ke langit luas, ke arah sungai nan indah juga ke jembatan penyeberangan yang indah dengan cahaya lampu dari kendaraan yang berlalu-lalang. Mereka duduk tak jauh dari arah sungai.</p>
<p>“kamu suka?” Dika mengalihkan pandangannya ke Sicha yang terus asik menikmati keindahan malam.</p>
<p>“suka banget kak, indah sekali. Pasti jauh lebih indah kalau kita menikmatinya bareng orang yang kita sayang” jawab Sicha tanpa beralih dari pandangannya.</p>
<p>“pantesan malam ini pemandangan yang kakak lihat terasa jauh lebih indah”</p>
<p>“maksud kakak?”</p>
<p>“tebak aja sendiri”</p>
<p>“haha, malas ah”</p>
<p>“haha terserah kamu aja”</p>
<p>“eh kak, pulang yuk, udah larut juga” ajak Sicha yang mulai merasa kedinginan. Dika mengangguk dan akhirnya mereka kembali berjalan menuju pusat bahasa untuk mengambil mobil Dika dan kemudian mereka pulang bersama.</p>
<p align="center">########</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/echieychant.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/echieychant.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/echieychant.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/echieychant.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/echieychant.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/echieychant.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/echieychant.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/echieychant.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/echieychant.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/echieychant.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/echieychant.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/echieychant.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/echieychant.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/echieychant.wordpress.com/233/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=233&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://echieychant.wordpress.com/2011/09/03/always-be-my-baby-part-one/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b13eb0af4bdab04e22741d96812d204?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">echieychant</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/09/cute.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sweet baby</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>aRe you in my mind?? -.-</title>
		<link>http://echieychant.wordpress.com/2011/06/20/are-you-in-my-mind/</link>
		<comments>http://echieychant.wordpress.com/2011/06/20/are-you-in-my-mind/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jun 2011 15:57:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>echieychant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://echieychant.wordpress.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[hai hai everybadeh^^ im back, seperti biasa,,hobi nulis tapi setengah2.hahaha xD kali ini tulisannya ngegantung lagi yaaa xD udah digigit nyamuk nihh.. udaahh ahh, ayo baca aja dulu yang udah ada^^ &#160; &#160; “bruk…!!!”suara benturan yang sangat keras sedang dirasakan Sachi, ia cuma bisa menahan rasa sakit sambil tersenyum kecut kepada cowok yang berusaha membuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=227&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>hai hai everybadeh^^</p>
<p>im back, seperti biasa,,hobi nulis tapi setengah2.hahaha xD</p>
<p>kali ini tulisannya ngegantung lagi yaaa xD udah digigit nyamuk nihh..</p>
<p>udaahh ahh, ayo baca aja dulu yang udah ada^^</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“bruk…!!!”suara benturan yang sangat keras sedang dirasakan Sachi, ia cuma bisa menahan rasa sakit sambil tersenyum kecut kepada cowok yang berusaha membuat kepalanya benjol,,dalam hati ia berharap semoga cowok itu meminta maaf padanya. Tapi ternyata cowok itu berlalu meninggalkan Sachi dalam kekesalan. “uh,,sakit…!dasar cowok rese’ udah nyelakain gue, enggan minta maaf lagi.!!” Sachi terus mengomel sampai menuju ke ruang kelas.</p>
<p>Sachi melihat dua sobatnya, Diva dan Chantika yang sedang tersenyum jail sambil mendekatinya dan berusaha membuka mulut, dan ia tau, pasti mereka mau bilang “sial banget sieh lo..!!”  Sachi langsung menerobos masuk ke kelas. Mereka tetap mengikutinya. “aduh Ci, kasian banget sieh lo, pagi-pagi jumpa pangeran ganteng bukannya pertanda baik malah lo di benjolin..ckckck,,” Icha mulai buka suara. Sachi cuma menatapnya lemas seakan mengatakan <em>plis donk Cha..!!</em> Melihat reaksi Sachi, Diva langsung melototin Icha sambil mijitin kepala Sachi.</p>
<p>Bel masukpun berdering keras, dan saatnya proses belajar-mengajar akan dimulai, Pak Lukman memasuki ruangan kelas, guru yang paling <em>kiler</em> di SMA Bina Nusa, guru matematika yang amat kejam. Seisi kelaspun membungkam. Pak Lukman langsung mengoceh menjelaskan pelajaran yang sangat rumit dan paling dibenci Sachi, Sachi memperhatikan sambil memijit-mijiti benjolan di kepalanya, saat ia mulai melamun, pak Lukman memanggil namanya dan menyuruh Sachi mengerjakan soal no.3 yang dari tadi tidak diperhatikannya samasekali, sambil mayun ia melangkahkan kaki ke depan kelas dan mulai menyelesaikan soal yang rumit itu, saat ia menggoyangkan spidol tanpa sengaja ia menoleh kearah jendela, dan ternyata ada yang sedang memperhatikannya dari luar sana. Fuih…!!! Dia lagi..</p>
<p>Lama Sachi berdiri di depan papan tulis sampai akhirnya bel istirahat berbunyi, akhirnya iapun terbebas dari mautnya. Anak-anak mulai riuh menandakan hasrat ke kantin yang tinggi. Tanpa basa basi Pak Lukman mengakhiri pelajarannya dan meninggalkan kelas. Dengan senyuman penanda terima kasih, Sachi menatap Pak Lukman hingga ia hilang di ujung koridor.</p>
<p>Kini Sachi mengayunkan langkah kakinya menuju kantin, ia sudah tak tahan akan suara gemuruh dalam perutnya. Setelah memesan makanan tanpa sengaja pandangannya beralih pada meja di depannya. <em>Kenapa dia lagi sieh..??!!</em> batin Sachi dalam hati.</p>
<p>Tanpa pikir panjang, setelah pesanannya  datang Sachi langsung menyantapnya, lalu ia baru sadar ternyata  ia makan tanpa kedua sobatnya. ”Diva dan Chantika kemana sih? ngilang kok ga ngabar-ngabarin?” gumamnya dalam hati sambil mengedarkan pandangan kepenjuru kantin. huhh&#8230;kesalnya. Saat ia hendak melanjutkan makan, tiba-tiba ada yang memukul pundaknya. ”hai Ci, sorrii ya kita telat, tadi kita baca mading dulu, ada pengumuman bagus tuh” sapa Icha sambil menarik kursi kosong disamping Sachi. ”ia  Ci, ada pergantian kapten basket kita yang baru tuh,” tambah Diva, ”denger-denger, katanya sih tuh anak keren banget, ntar pulang sekolah kita nonton mereka latihan ya??” tambahnya lagi. ”ga minat ah, buang-buang waktu aja” sanggah Sachi cuek sambil terus melanjutkan makannya.</p>
<p>”yah, kita penasaran nih, kali-kali bisa jadi gebetan, maklum lah kita ne kan cewe jomblo” timpal Icha genit</p>
<p>”he’eh, ayolah Ci, masa si lo tega ngeliat kita pada mati penasaran gara-gara ga sempat kenal ama kapten tim basket sekolah kita yang baru?” rengek Diva</p>
<p>”ihh..norak banget sih kalian..gak penting banget deh” Sachi tetap cuek. ”mending kalian makan gih, bentar lagi bel masuk tuh” tambahnya tetap cuek tanpa tahu sedari tadi ada yang tersenyum-senyum memperhatikannya.</p>
<p>Setelah selesai makan ketiganya memasuki kelas dan mengikuti pelajaran terakhir hingga Bel pulang berbunyi, anak-anak mulai berhamburan keluar kelas mereka masing-masing dan menuju lapangan basket. Begitu pula Sachi dan kawan-kawannya. Icha dan Diva menarik tangan Sachi ke lapangan basket. ”iya, gue ikutan nonton kok, tapi lepasin dulu genggaman tangan gue, sakit tau!” rintih Sachi sambil berjalan lemas menuju lapangan. ”oke deh, thanks ya Ci” jawab Icha dan Diva kompak.</p>
<p>Permainan basket dimulai, anak-anak mulai ricuh, teriakan-teriakan mulai terdengar, Sachi mulai BeTe, ditambah kedua sahabatnya yang mulai norak berlari mendekati lapangan dan memanggil-manggil si kapten basaket baru. Dengar-dengar sih namanya Rasyil. Huhh..tambah bete! gerutu Sachi. Tak terasa “pertunjukan” sudah selesai dan Sachi menuju ketengah lapangan untuk menarik kedua sobatnya pulang. Namun tiba-tiba ada yang meneriaki keras namanya “Sachiiiiii&#8230;!!!” Sachi menoleh dan bruk. Gelap.</p>
<p>“hii..! lo ga papa..?” suara lembut itu terdengar kala Sachi mulai membuka matanya. Dan mulai mampu melihat dengan jelas lagi. “hah..??elo..??!!” kini suaranya mulai terdengar, keras dan jengkel. “ihh&#8230;lo gila banget ya? tadi pagi lo uda buat kepala gue benjol dan sekarang lo nambahin kepala gue benjol lagi, trus besok mau lo apain lagi ni kepala gue? lo ledakin aja sekalian biar lo puas, gue heran deh ama lo, dosa apa moyang gue ama lo hah?!” Sachi terus ngomel sambil melototin cowok imut di depannya. Namun Rasyil hanya tersenyum-senyum. “helloo..!! gue lagi marah nih, kenapa lo Cuma senyum-senyum..? ga pernah liat cewe cantik?dasar cowo gila!!” geram Sachi sambil bangun meninggalkan kerumunan yang sedari tadi memperhatikannya. “Cii..!!” panggil Icha, namun Sachi tak menoleh dan terus berjalan. Pulang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>#stop dulu deh, hehe :p</p>
<p>ngantuk saia Zzzz</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/echieychant.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/echieychant.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/echieychant.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/echieychant.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/echieychant.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/echieychant.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/echieychant.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/echieychant.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/echieychant.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/echieychant.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/echieychant.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/echieychant.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/echieychant.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/echieychant.wordpress.com/227/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=227&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://echieychant.wordpress.com/2011/06/20/are-you-in-my-mind/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b13eb0af4bdab04e22741d96812d204?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">echieychant</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dont call me Maria</title>
		<link>http://echieychant.wordpress.com/2011/05/30/dont-call-me-maria/</link>
		<comments>http://echieychant.wordpress.com/2011/05/30/dont-call-me-maria/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 May 2011 06:01:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>echieychant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://echieychant.wordpress.com/?p=221</guid>
		<description><![CDATA[hello everybodeh, lama ga postingan. kali ini aku keluarin lagi satu karya baru, eh ga ding~ karya lama. tapi baru aku publish sekarang, belum kelar juga siih, gapapa deh, dikit dikit dulu~^^ &#160; &#160; Plaaak…!!! Suara tamparan keras itu mendarat di pipi mulus Dita, kakak ku. “Dasar anak kurang ajar…!!! Berani-beraninya kau mempermalukan papi, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=221&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>hello everybodeh, lama ga postingan.</p>
<p>kali ini aku keluarin lagi satu karya baru, eh ga ding~ karya lama. tapi baru aku publish sekarang,</p>
<p>belum kelar juga siih, gapapa deh, dikit dikit dulu~^^</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Plaaak…!!!</p>
<p>Suara tamparan keras itu mendarat di pipi mulus Dita, kakak ku.</p>
<p>“Dasar anak kurang ajar…!!! Berani-beraninya kau mempermalukan papi, dan semua keluarga besar kita..!!” kini suara keras papi terdengar. Dengan amarah yang menggejolak ia hendak berniat menampar Dita untuk kedua kalinya, namun mami mencoba menghentikannya. “Papi…!!! Stop..!! Cukup..!!! biarkan saja dia menjalani kehidupan yang telah dipilihnya maybe it’s will be better for him, lagian dia udah cukup dewasa untuk memilih kehidupannya.” Kini pandangan mami beralih ke Dita, “Dit, I am so dissapointed, tapi mami rela menerima keputusanmu, dan kamu tau konsekuensinya kan..??? sorry,I can’t help you,,!!”</p>
<p>“It’s ok mam..!! Dita ngerti, Dita akan meninggalkan rumah ini, dan Dita akan memulai hidup baru, sekali lagi, Dita minta maaf karena ngga bisa mencapai keinginan papi” Dita langsung meninggalkan ruangan yang panas itu dan langsung menuju kamarnya. Tanpa pikir panjang, aku langsung membuntutinya ke kamar.</p>
<p>“Dit,,where do you want to go..??? ingat,, ini bukan Negara kita..?? dan aq heran banget, kok kakak tega sih ngelakuin ini semua,, why Dit..??” aku langsung menyambar pertanyaan-pertanyaan demi menghilangkan rasa penasaranku.</p>
<p>“Maria,, kamu masih kecil,, kamu belum paham masalah ini”</p>
<p>“Kak, tolong dong,,jangan selalu menganggap aku anak kecil, aku udah 19 tahun, dan aku udah cukup dewasa dan berhak tau semua itu”</p>
<p>“Ok..!!ok..!!kakak akan cerita ke kamu,, tapi kamu masih sayang sama kakak setelah apa yang kakak lakukan inikan..???”</p>
<p>“Kak, I will love you forever, disini aku ga punya saudara selain kakak”</p>
<p>“Maria,, kakak telah menemukan secercah sinar cahaya,, bermalam-malam kakak memimpikan ini, dan ternyata mimpi itu sekarang udah nyata,, kakak telah menemukan kepercayaan yang benar-benar membuka hati, jiwa dan pikiran kakak, kakak tau, kakak telah berpaling dari agama papi, dan impiannya agar kakak menggantikannya untuk menjadi pastur,, Maria..asal kamu tau,, kakak merasa lebih memaknai kehidupan di agama kakak yang baru, kakak merasa bahagia sekali. It’s my dream…”</p>
<p>“Kak,, aku rela kok dengan keputusan kakak, aku berharap walaupun kita berbeda agama tapi kakak tetap menyayangi aku dan kakak tetap menghubungi aku”</p>
<p>“Iya..kakak janji.., yaudah,, kakak berangkat dulu ya,,”</p>
<p>“iya..” aku mengantarkannya ke depan, untuk sekalian berpamitan pada mami dan papi, tapi sayangnya mereka tidak ada, dengan sedih Dita meninggalkan rumah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku adalah St. Maria Carmia Chapin, anak dari seorang Pastur terkenal Chapin Ariadne Abelard dan Mamiku dulunya seorang Biarawati, tapi sekarang ia lebih senang menitis karirnya menjadi seorang ibu rumah tangga, biar lebih bisa mendekatkan dan memperhatikan keluarga, katanya. Jennie Mandie Chapin, aku juga punya seorang saudara yaitu kakakku Dyta Christabel Chapin, namun setelah ia berpaling dari agama kami maka nama Chapin dicabut dan ia keluar dari anggota keluarga, kini namanya pun telah diganti menjadi Muhammad Assabiqunal Awwalun. Dulunya kami tinggal dikotaSt. John’s, Kanada, namun Karena papi dipindah tugaskan ke Indonesia, jadi sekarang kami menetap di Indonesia. Dan aku kuliah di salah satu Universitas terkenal diBandung.</p>
<p>Awalnya aku merasa risih dan ngga nyaman dengan keadaan diIndonesia, aku merasa kesepian, tapi lambat laun aku menikmatinya. Tak terasa sudah empat bulan aku tinggal diIndonesia, kini aku telah memiliki teman yang sealur dengan pikiranku. Bahkan dia telah menjadi seorang sahabat bagiku. Zafratul Huda. Walau kami berbeda agama, dia seorang muslim, namun ia sangat menghargaiku. Aku juga sering mengikuti kajian bersamanya, dan aku banyak mendapatkan pengetahuan baru.</p>
<p>Kami sering berdiskusi, bertukar pikiran tentang agama kami masing-masing, Huda memang luar biasa, dia wanita cerdas, pengetahuannya luas dan aku sungguh beruntung punya sahabat seperti dia. Aku juga sering mengajaknya bermain kerumahku, Mami senang aku punya teman dari semua kalangan, tapi tidak dengan Papi, ia tidak terlalu senang dengan Huda. Aku harus menjaga jarak dengannya. Aku tak pernah tau sebab Papi yang anti-muslim itu. Namun aku tak begitu peduli, aku tatap beteman dengan Huda.</p>
<p>Sekarang telah memasuki akhir bulan Desember dan sebentar lagiNatal. Betapa bahagianya aku. Ini Natal pertamaku di Indonesia. Aku dan keluarga mulai sibuk mempersiapkan perlengkapan untuk menyambut hari bahagia itu. Natal sangat identik dengan salju, tapi sayang, Indonesia bukan negara bersalju.</p>
<p>Malam Natal ini, Papi membuat pesta besar-besaran, ia mengundang teman-temannya dan pastur-pastur lain yang entah darimana asalnya, tak ada yang ku kenal. Mami juga mengundang teman-teman kenalannya. Sungguh malam yang bahagia, tapi aku masih merasa kekurangan, apa ya? oh.. Dita, aku tidak melihat sosok Dita, dan tak akan pernah melihatnya lagi di Natal-natal berikutnya. Aku sedih.</p>
<p>Tapi sepertinya Mami mengerti kesedihanku.</p>
<p>”Maria..” panggilnya lembut. Aku menatapnya. Mami menghapus air mataku ”don’t be sad honey, mami ngerti perasaanmu, mami juga merasa sepi tanpa Dita, tapi apa kamu mau melewati malam Natalmu ini dengan berlarut dalam kesedihan?” tambahnya lagi. Aku mulai tersenyum dan menggeleng. Aku bangkit dan ikut menikmati malam Natal ini.</p>
<p>Malam kian larut, aku sangat lelah dan ingin tidur, aku berpamitan pada Mami dan Papi.</p>
<p>”Mom, Dad.. I’m so sleepy. I want sleep. Merry Christimas”</p>
<p>“oh ya,, Merry Christimas honey” jawab mereka serentak sambil mengecup kedua pipiku.</p>
<p>Aku berjalan menuju kamarku. Di kamar aku meraih handphoneku dan menelpon Dita, tapi tidak ada jawaban, mungkin Dita sudah tidur.  Akhirnya akupun tidur.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>stop dulu deh, leher saia dah mau patah nih~^^</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/echieychant.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/echieychant.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/echieychant.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/echieychant.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/echieychant.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/echieychant.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/echieychant.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/echieychant.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/echieychant.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/echieychant.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/echieychant.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/echieychant.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/echieychant.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/echieychant.wordpress.com/221/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=221&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://echieychant.wordpress.com/2011/05/30/dont-call-me-maria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b13eb0af4bdab04e22741d96812d204?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">echieychant</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keep ur heart for me^^</title>
		<link>http://echieychant.wordpress.com/2011/03/05/keep-ur-heart-for-me/</link>
		<comments>http://echieychant.wordpress.com/2011/03/05/keep-ur-heart-for-me/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Mar 2011 12:27:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>echieychant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://echieychant.wordpress.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin cerpen kali ini aku buat dalam bentuk yang berbeda, aku ingin sedikit lebih rileks, Mudah dibaca dan tidak sumrangut, jika kalian berpikir nantinya ini adalah kejadian nyata, boleh2 saja^^hehehe :p aku ingin melibatkan semua menjadi tokoh utama, masing-masing memiliki pikiran sendiri..:) ohhh iyaa, sebenarnya ini tulisan buat aku post di hari valentine yg lalu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=199&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin cerpen kali ini aku buat dalam bentuk yang berbeda, aku ingin sedikit lebih rileks,</p>
<p>Mudah dibaca dan tidak sumrangut, jika kalian berpikir nantinya ini adalah kejadian nyata, boleh2 saja^^hehehe :p</p>
<p>aku ingin melibatkan semua menjadi tokoh utama, masing-masing memiliki pikiran sendiri..:)</p>
<p>ohhh iyaa, sebenarnya ini tulisan buat aku post di hari valentine yg lalu, berhubung ada trouble dan juga jadwal kuliahku yg padat, terpaksa aku diamkan sejenak dan kembali aku lanjutkan hari ini&#8230;</p>
<p>oke daripada mukaddimah yang terlalu panjang,</p>
<p>sebaiknya langsung kita mulai saja <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Main Cast : (aissshhh)</p>
<p>Echiey Chant (author)</p>
<p>Riski Dieza Putra (Mahasiswa Kedokteran, tetangga Echi)</p>
<p>Cast :</p>
<p>Raffi</p>
<p>Orang Tua masing2 main cast :p</p>
<p>Dan seluruh yang bersangkutan^^ (malas deh ahh)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/03/anime-romance-cards.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-205" title="Anime-Romance-Cards" src="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/03/anime-romance-cards.jpg?w=692" alt=""   /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Echie POV</p>
<p>Lagi lagi aku bangun kesiangan, bisa bisa aku akan telat ke kampus, aku tak mau terus menggerutu ga jelas dan akan berakibat fatal.</p>
<p>Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi aku ingin segera melewati pagi ini dengan nyaman, aku juga tidak ingin terkena macet nantinya.</p>
<p>Oke, sekarang aku telah siap, semua perlengkapan kuliahku telah lengkap, aku berpamitan pada kedua orangtuaku, tidak.., maksud aku sama mamaku, karena papa udah duluan ke Kantornya, aku mengendarai motorku dan keluar dari rumah. Didepan rumah salah seorang tetanggaku, keluarlah sosok yang sangat aku kenal, iya mungkin seseorang yang aku intai selama ini, karena perasaan anehku yang lama melekat padanya.</p>
<p>flash back tiga tahun yang lalu&#8230;</p>
<p>&#8220;mama yakin ini rumah baru kita?&#8221; tanyaku pada mama saat melihat keadaan komplek rumah baru yang akan kami tempati.</p>
<p>&#8220;iya, kenapa? ada masalah?&#8221; kini papa yang menjawab, sedikit khawatir melihat raut wajahku yang terkesan tak senang.</p>
<p>&#8220;bukan gitu pa, cuma karena aku belum hapal, ahh ntar juga terbiasa kali ya&#8221;</p>
<p>&#8220;iya, kamu belum terbiasa, ntar kalo udah dapat teman, baru deh betah tinggal disini&#8221; kini Abangku mulai ikut-ikutan ngomong.</p>
<p>Aku hanya mengangguk tersenyum, menyetujui rumah yang akan kami tempati, sebenarnya aku sangat khawatir tinggal di rumah baru ini, agak jauh dari jalan utama, dan susahnya aku ga tau alamat jelasnya gimana. Akan sangat susah buat aku menerima atau mengirim surat lewat pos ke teman-temanku di luar daerah. (ga gaul banget ya, hari gini masii maen surat2an)</p>
<p>Sekali lagi aku berkata, aku tidak betah tinggal di komplek perumahan baruku ini, selain tidak ada yang aku kenal, tak ada seorangpun gadis seusiaku disana, semuanya masih pelajar, aku tidak akan bisa bertukar pendapat dan atau mungkin mengajak jalan atau lain sebagainya. Mereka akan sibuk dengan kegiatan sekolah dan les mereka.</p>
<p>lagi aku hanya berteman dengan abangku. Karena sampai sekarang aku hanya mengenal dan dekat dengan abangku, ia yang mengantarku kemana-mana. Mengajak ku jalan di akhir pekan, serta ikut bergabung dengan Gank nya setiap kali mereka berkumpul.</p>
<p>Abang yang sangat baik sekali^^. Suatu hari di komplek perumahanku ada perkumpulan, aku ga paham. intinya semua anggota keluarga disetiap rumah itu bersatu. Apa akan ada perkenalan?. Aku berniat tidak ikut. Akhirnya papa bilang biar yang kaum laki-laki saja yang datang, para kaum ibu di rumah saja. hehe kurang lebih begitulah^^. papa keluar dan mengikuti perkumpulan tersebut. Aku di rumah saja, seperti biasa aku hanya hidup dengan laptop kesayanganku. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, mamaku yang lagi serius menonton sinetron, akhirnya menyuruhku membukakan pintu, dengan malas aku berjalan dan membuka pintu.</p>
<p>&#8220;Abangnya ada?&#8221; tanya cowok keren di depanku, dia menanyakan abangku?</p>
<p>&#8220;oh, sebentar ya?&#8221; agak shock saia melihat seperti seorang malaikat didepan mata saia *lebay*</p>
<p>oke, back to topic, aku benar-benar takjub, baru sadar ternyata ada juga cowok caqep yang menghuni komplekku. Dan aku bersyukur karena abangku belum keluar rumah, jadinya aku bisa melihat makhluk indah didepanku. Aku masuk ke kamar abangku dan akhirnya aku melihat ia dan temannya (aku belum tau namanya -___-&#8221;) pergi dan menghilang dibalik pintu pagar rumah. aku terus bertanya siapa cowo itu. aihh</p>
<p>pintu kamarku terbuka, abangku masuk dan membangunkanku,.</p>
<p>&#8220;ini!&#8221; dia memberikan sesuatu buat aku, aihh, apa ga bisa besok pagi.</p>
<p>&#8220;apa ini?&#8221; dia tak menjawab dan langsung keluar kamar. benar-benar menyebalkan &gt;.&lt;</p>
<p>aku melihat amplop itu, ahh ternyata sebuah undangan pesta. aku langsung menutup mataku lagi.</p>
<p>&#8220;iya ma, semalam aku ke rumah Riski dulu&#8221; abangku bersuara menyebutkan nama seorang cowo, apa itu cowo yang semalam bersamanya (?) saat aku mulai gabung untuk sarapan.</p>
<p>&#8220;shalatmu? lupakah?&#8221; mama bersuara. apa sih sebenarnya yang sedang mereka bicarakan.</p>
<p>&#8220;ada ma, di rumah si Riski&#8221;</p>
<p>&#8220;apaan sih? pagi-pagi udah rame&#8221; aku penasaran sama pembicaraan pagi ini.</p>
<p>&#8220;ini abangmu, pulangnya larut sekali, ntah adapun shalatnya&#8221; mama melanjutkan lagi.</p>
<p>ooh, ternyata gara-gara si abang telat pulang toh? trus yang semalam ngasih aku amplop siapa?</p>
<p>&#8220;semalam kamu ada ngasih apa ke aku bang?&#8221;</p>
<p>&#8220;oh, itu amplop aku ga tau, nemu di depan rumah dan ditujukan ke kamu&#8221;</p>
<p>ternyata semalam yang masuk ke kamar emang abangku, lupakan aku udah tau itu amplop undangan pesta ulangtahun teman lamaku.  Aku segera menyelesaikan sarapanku. Dan seperti biasa aku akan diantarkan abangku menuju kampus tercinta.</p>
<p>&#8220;hey Ki, ngampus?&#8221; tanya abangku saat berada di depan rumah cowo yang semalam menjemput abangku. Dan melihat cowo itu yang sedang bersiap-siap mengendarai motornya.</p>
<p>&#8220;iya bang, masuk pagi nih&#8221; jawabnya, ya ampun lembut banget suaranya.</p>
<p>&#8220;sama, yaudah aku duluan ya, soalnya mau ngantar adekku dulu&#8221;</p>
<p>Cowo itu hanya mengangguk dan akhirnya aku dibawa pergi abangku dan tak bisa menatap wajah indahnya lagi *lebay*</p>
<p>Akhir-akhir ini aku jadi tau, kalau cowo itu bernama Riski Dieza Putra, mahasiswa kedokteran. Aihh, aku emang ga suka sama hal-hal yang berbau kedokteran, tapi apa aku salah kalau tiba-tiba punya perasaan ke dia?</p>
<p>ngomong apa sih? ahh, lupakan.</p>
<p>Kini, aku mulai betah tinggal di Komplekku, ntah karena ada  Riski atau memang menyenangkan tinggal di komplek baru ini. Ntah kenapa, sepertinya keluargaku juga sangat dekat dengan keluarga Riski.  Mungkin karena sekomplek kali ya? masa harus bermusuhan^^</p>
<p>end flashback</p>
<p>Tiba-tiba jantungku berdetak kencang, oke ini terlalu lebay, yang jelas aku seperti gugup sekarang. Cowo itu, Riski sedang mengeluarkan motonya, mungkin juga mau ke kampus, maklum mahasiswa kedokteran semester akhir, pasti sangat sibuk, bolak-balik ke kampusnya. Apalagi aku dengar mamanya bilang kalau ia akan ko-ass beberapa bulan lagi. huhu <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>okeh, lupakan, aku hanya meliriknya sekilas, ia tak melihatku, sedihnya,, yaudah deh aku langsung berniat ke Kampus agar cepat sampai dan tidak terjebak macet.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Riski POV</p>
<p>aah,sialan tu dosen, nyuruh aku menjumpainya di pagi buta, mana aku pake acara telat bangun segala lagi, huhh.</p>
<p>aku  tak ingin menggerutu terlalu lama, ga penting, aku bergegas mandi dan siap meluncur ke kampusku. Kini aku telah usai sarapan dan beranjak keluar ingin memanaskan mesin motorku, namun tiba-tiba aku mendengar suara lembut yang sedang berpamitan. cewe kecil itu lagi. senang sekali aku bisa melihatnya, cewe unik dan sangat berbeda. hehe</p>
<p>aku mulai tersenyum-senyum mengingat akan dirinya.</p>
<p>flash back&#8230;</p>
<p>&#8220;Abaaaang!! tungguin kek&#8221; suara yang sangat menggangguku berkonsentrasi. Salah aku juga kali ya? Mengerjakan laporan di teras depan rumah, niat awal aku hanya sambil refreshing, aku tak tau kalau akan ada keributan dan kebisingan. Aku melirik ke sipemilik suara itu. Deg, jantungku berdegup, apaan coba?</p>
<p>aihh, kenapa dengan aku? sepertinya cewe itu sangat periang, makanya suara ia sampai begitu melengkingnya. Ahh ingin aku menyapanya, berniat menegur, tapi entah kenapa aku tak berani, padahal di depan ia berdiri sosok cowo yang aku kenal, ia itu abangnya, jika aku mau aku kan bisa berbasa-basi dengan abangnya dan bisa melirik lama ke wajahnya.</p>
<p>Terakhir aku baru tau, kalau namanya Echie, ini saat yang tak terduga, aku mengirim pesan ke abangnya seperti biasa mengajak main futsal, tapi ada nomor lain yang membalas, dan menyatakan kalau itu Raffi abangnya yang membalas dengan nomer si Echie.</p>
<p>Dua keberuntungan, yang pertama aku tau nama cewe itu dan yang kedua aku juga memiliki no hapenya. Kini setiap pagi siang sore dan malam aku selalu melihatnya, terlebih saat sore hari, ia sering menemani abangnya bermain futsal. Dan juga ia sering berkeliaran (hehehe, suka jalan sih anaknya) di seputaran komplek, dia anak yang ramah dan suka bergaul. Pokoknya dia cewe yang yaah, aku suka^^</p>
<p>end flashback&#8230;</p>
<p>Aku melihat sosok itu mulai dekat dengan rumahku, kini ia di depan rumahku, aku merasa ia melambankan laju motornya, aku tak berani menatap atau bahkan menyapanya. Aku bodoh, iya aku sangat bodoh. aku biarkan peri kecil itu lewat begitu saja di depan rumahku. Ahh sial, aku terus menggerutu dalam hati, kini ia telah melewati rumahku. Aku langsung masuk ke rumah dan mengambil tas, berniat mengejar ahh bukan aku ingin berjalan ke kampus bersamanya^^</p>
<p>Sayang, aku telat beberapa menit, ia hilang di tikungan, pasti ia mencari jalan pintas biar tidak terjebak macet di jalan utama. Sial sekali pagiku kali ini, Ahh lupakan, semoga nanti juga ketemu lagi di komplek <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Echie POV</p>
<p>ga tau ah, apa aku benar-benar suka sama si Riski itu, tapi rada gondok juga sih, tuh anak kaya ga ada perhatian sedikitpun ke aku, padahal udah tiga tahun tinggal sekomplek dengannya, aku juga sudah sedikit agresif. cari perhatian, nyuri pandang. Ahh bodoh, mana bisa ia sadar dengan tingkahku, mungkin saja ia tak pernah menganggapku..</p>
<p>ahhh, apa yang aku pikirkan??</p>
<p>masih banyak teman kampusku yang menawan, tapi kenapa aku tak tertarik?</p>
<p>aiissshhh, lupakan..</p>
<p>Malam ini adalah malam minggu, jelas cewe jombo sepertiku akan terus berdiam di rumah, kali ini abangku tak mengajakku ikut bersamanya, ia punya jadwal khusus dengan pacarnya, mama dan papa nonton saja, ingin ku mengajak mereka keluar nyari makan malam atau sekedar jalan-jalan, tapi aku malas, baiklah, aku di rumah saja.</p>
<p>aku mengambil handphoneku, aku duduk diayunan samping teras rumah dan memutar lagu Melly-Gantung yang ada di list mp3 hapeku, mataku beralih kedepan, dari teras rumahku aku bisa tembus memandang ke teras rumahnya Riski, seketika aku melihatnya membawa gitar dan memainkan beberapa lagu,, ahh andai itu buat aku&#8230;aku terus mengikuti suara petikan gitarnya, hingga aku terlelap.</p>
<p>Riski POV</p>
<p>baru sadar, malam ini malam minngu, aku ingin duduk di teras ingin menyelesaikan laporan akhirku, namun kuurung niat itu saat aku melihat gadis kecil yang menenangkan jiwaku sedang duduk dalam ayunan disamping teras rumahnya, kulangkahkan kaki menuju kamarku dan kuambilkan gitar, ingin sekali ku bermain disampingnya, ahh hanya khayalanku saja.</p>
<p>kemudian ku mendengar ia memutar lagu yang lumayan lama, tapi jujur aku juga senang sama lagu itu, hmm gantung? apa dia sedang digantung seseorang? ahhh gadis harapanku, lupakan saja lelaki yang menggantungmu, aku disini selalu mengharapmu. tapi apa dayaku jika hanya mengharapnya saja, maaf gadis kecil aku belum berani menyapamu.</p>
<p>aku mulai memainkan gitarku, awalnya aku memainkan lagu yang sedang ia dengar, lalu aku mainkan beberapa lagu darinya eminem yaah semoga ia suka, sepertinya ia suka, soalnya aku tak mendengar lagi suara dari mp3nya. Aku senang bisa menemani malam minggunya, yaah walau dalam jarak yang jauh dari sisinya. Aku terus memainkan gitarku hingga akhirnya aku tahu, kalau ia telah terlelap, papanya datang membangunkan dan mengajaknya masuk ke rumah, ahh gadia yang lucu. akupun berniat untuk istirahat dan ingin melanjutkan tugasku esok hari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Echie POV</p>
<p>Perasaanku semakin lelah saja, apa sebenarnya dipikiran Riski? kenapa malam itu ia ikut memainkan lagu yang sedang aku dengar, apa maunya? kenapa ia selalu mebuat aku ke ge eran? Riski! kau membuatku semakin jatuh cinta? bagaimana aku menanggungnya sendiri?? bantu aku untuk memikulnya.. apa kamu memiliki perasaan yang sama??</p>
<p>&#8220;nah lho! mikirin siapa??&#8221; abangku mengagetkanku, ahh merusak lamunanku saja</p>
<p>&#8220;ayoo, masalah cintakah?&#8221; ia terus menggoda</p>
<p>&#8220;aissh&#8221; aku kesal sekali</p>
<p>&#8220;sudahlah, ceritakan saja&#8221;</p>
<p>&#8220;abang, salahkah jika aku ke ge er an?&#8221;</p>
<p>&#8220;maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;aku ga ngerti, rasanya ada yang curi-curi pandang dan memperhatikanku, juga pernah memainkan musik, aku rasa itu untukku, tapi cowo itu tak pernah sekalipun menyapaku&#8221;</p>
<p>&#8220;bisa jadi, tapi sepertinya kau menyukai pria itu? siapa?apa abangmu kenal?&#8221;</p>
<p>&#8220;iya, aku menyukainya, dan kau begitu mengenalnya&#8221;</p>
<p>&#8220;serius?? siapa dia??&#8221;</p>
<p>&#8220;R..Ri..Riski..i..i.&#8221;</p>
<p>&#8220;hah?&#8221;</p>
<p>aku melihat ekpresi abangku yang shock sesaat, namun ia tersenyum dan mengelus rambutku.</p>
<p>&#8220;selamat ya&#8221; ucapnya yang membuat tanya di benakku</p>
<p>&#8220;selamat apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;selamat karena kamu jatuh cinta, ini jatuh cinta pertama kalinya kamu bukan? akhirnya aku tak perlu khawatir mengiramu menyukai wanita&#8221;</p>
<p>ahhh, sialan abangku, ngeselin banget sih, aku melayangkan tinju namun ia berhasil menghindar dan berlari ke kemar, lagi aku tinggal di teras dan menghayal (ahh, kebiasaan bodoh &gt;.&lt;)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Raffi POV</p>
<p>waduh, kenapa bisa secepat ini? adikku memang sudah besar, apa yang harus aku katakan sama mama dan papa? dia belum selesai kuliah, masa harus dinikahkan segera, perjodohan yang rumit. Aku keluar dari kamar dan melirik adikku, ternyata ia masih asik melamun, aku mencari mama yang sedang menyiapkan makan malam di dapur.</p>
<p>&#8220;Ma, sepertinya perjodohan itu harus dipercepat, kasian si Echie perasaannya ga karuan&#8221;</p>
<p>&#8220;hussstt, jangan keras-keras ntar kedengaran&#8221;</p>
<p>&#8220;dia tengah melamun, mana kedengeran ma&#8221;</p>
<p>&#8220;iya, kenapa dipercepat?&#8221;</p>
<p>&#8220;sepertinya dia udah jatuh cinta sama Riski Ma,&#8221;</p>
<p>&#8220;baguslah&#8221;</p>
<p>&#8220;emang bagus Ma, kalau ga dipercepat, nanti dia bisa berpaling&#8221;</p>
<p>&#8220;sayang, Riski itu cinta pertamanya kan? cinta pertama itu susah lho hilangnya&#8221;</p>
<p>ahh, mama bikin aku kesal saja, terus saja sibuk sama masakan, padahal kan aku bicara benar, apa mama ga ngerti zaman sekarang, muda mudi mudah banget gonta ganti pasangan, pindah-pindah ke lain hati, aku memanyunkan bibirku dan diam sesaat, sepertinya mama tau perasaanku, ia mengelus kepalaku.</p>
<p>&#8220;tenang sayang, nanti biar mama bicarakan sama papa&#8221; mama tersenyum manis, aku mengangguk dan berlari keluar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Riski POV</p>
<p>Tuhan, kapan aku punya keberanian buat ngungkapin perasaan yang semakin mendalam buat gadis kecil itu, jika ia memiliki perasaan yang sama terhadapku, pastilah ia telah sangat tersiksa disana.. Kenapa aku begitu pengecut, lelaki macam apa aku ini??arrgghhh</p>
<p>sebentar lagi aku akan meninggalkan kota ini, aku akan ko-ass pastilah lama tak bisa memandangnya, dan bagaimana kalu nantinya ia jatuh cinta pada pria lain? apa aku sudah siap? ahh apa yang sedang aku pikirkan,</p>
<p>aku beranjak dari kamarku dan berniat duduk di teras, sesaat aku melihat bang Raffi yang berjalan, mungkin ia duduk di balai komplek bersama beberapa pemuda lain, aku berniat mencegahnya.</p>
<p>&#8220;bang!&#8221; ia menoleh ke arahku</p>
<p>&#8220;kemana?&#8221; tanyaku lagi</p>
<p>&#8220;mau nongkrong sama anak anak lain&#8221;</p>
<p>&#8220;kemari aja, ada yang mau aku bicarakan&#8221;</p>
<p>sumpah aku benar-benar deg2an, ahh kenapa aku seperti banci. aku melihat ia berbalik dan memasuki rumahku, kami duduk di teras dan memulai pembicaraan yang membuatku sesak nafas.</p>
<p>&#8220;kenapa?&#8221; sepertinya Raffi tau kalau aku akan pingsan, pasti aku pucat sekali.</p>
<p>&#8220;hmm, mau nanya sesuatu, agak pribadi sih&#8221; aku coba santai dan tersenyum</p>
<p>&#8220;hmm, jangan bilang kamu tertarik sama kegantenganku&#8221; ia terkekeh</p>
<p>&#8220;yaah, becanda saja, tentu tidak, karena ada yang lain yang aku taksir&#8221; aku tersipu. ahh sekarang aku merasa benar-benar banci, aisshh</p>
<p>&#8220;aku tau&#8221; ucapannya membuatku terkejut, apa yang ia tahu? bagaimana ini?</p>
<p>&#8220;apanya?&#8221;</p>
<p>&#8220;kamu sedang jatuh cinta kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;hah?&#8221; apa ia benar-benar sudah tau?</p>
<p>&#8220;ahh, seperti tak mengerti saja, aku tau dari wajahmu yang putih itu sudah seperti tomat sekarang, ceritakan, siapa gadis itu? apa? berarti ia belum benar-benar tau.</p>
<p>&#8220;hmm,&#8221; aku terdiam, kenapa sulit sekali menyebut nama adiknya, ahh aku seperti pecundang saja. aku membuatnya penasaran. ahhh, aku harus berani, baiklah aku akan menyebutkannya.</p>
<p>&#8220;Echie&#8221; jawabku keras dan mantap pandanganku lurus kedepan, membuat Raffi kaget dan memandang ke depan halaman</p>
<p>&#8220;mana?&#8221; tanyanya. kok mana sih?? ahh ngeselin deh &#8220;kamu lihat Echie?&#8221; tanyanya lagi.</p>
<p>&#8220;yaahh, aku sedang tidak melihat atau memanggil, tapi gadis yang aku suka itu&#8230;&#8221; tiba-tiba aku terdiam,</p>
<p>&#8220;hahaha, ahhh bodoh sekali, sama seperti Echie&#8221; nah, kenapa sekarang ia malah tertawa lalu menyamakanku dengan adiknya, bodoh? apa maksudnya?? &#8220;beginilah, manusia-manusia yang sibuk dengan buku tebalnya, ia sangat susah dengan masalah perasaannya&#8221; lanjutnya lagi dan kembali tersenyum. &#8220;selamat ya!&#8221; ia menepuk pundakku, apanya yang selamat? ahh aku bingung &#8220;kalau kau benar menyukainya, jagalah dia&#8221; lagi ia tersenyum, apa maksud ini? apa ia menyetujui perasaanku?? ahhh kalau iyaa betapa bahagianya aku. aku tersenyum dan mengangguk, aku tak tau harus mengatakan apa, aku bersyukur sekali hari ini, tinggal mengungkapkan perasaanku dengan Echie saja^^</p>
<p>&#8220;bang, apa kamu tahu kalo Echie memiliki perasaan yang sama denganku?&#8221; aku memberanikan untuk bertanya.</p>
<p>&#8220;sepertinya&#8221; hah, lagi lagi jawaban ngambang, baiklah aku akan berusaha, aku harus mengutarakan perasaanku secepatnya..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Echie POV</p>
<p>aku mulai disibukkan lagi dengan tugas kampus, yaahh mahasiswa jurusan Hukum memang sangat sibuk dimasa-masa terakhir perkuliahannya, harus mengkaji undang-undang, ahh buat apa coba?? aku kesal dengan tugas ini, tapi aku harus membiasakan diri untuk sibuk, soalnya aku akan ditinggal Riski (halah, apa coba?? siapanya aku dia tuh?? &gt;.&lt;) dia akan ko-ass, benar-benar menyebalkan. pokoknya malam ini aku harus menyelesaikan tugas-tugasku!!</p>
<p>&#8220;Echie!&#8221; suara papa dari ruang tengah mengagetkanku dan membuatku beranjak dari kamar menemuinya</p>
<p>&#8220;tolong berikan ini pada Bu Asih (mamanya Riski) tadi minta pinjam papa punya&#8221; papa menyodorkan sebuah buku saat aku telah berdiri dihadapannya, ia menyuruhku mengantar buku ini? aku harus ke rumah yang aahhh, aku sungguh deg deg an, aku mengalihkan pandangan kesekeliling isi rumah namun tak menemukan sosok yang kucari, papa sepertinya mengetahui maksud kejelian mataku. &#8220;abangmu telah keluar tadi, nongkrong sama temannya&#8221; aku hanya mengannguk dan melangkahkan kaki keluar rumah..</p>
<p>ahhh, sialan,,kemana si Raffi itu?? apa ia benar-benar menjebak jantungku?? bagaimana jika aku bertemu dengan Riski?? akankah aku pingsan?? ahh aku terlalu lebay.</p>
<p>Aku tiba di depan pintu rumah yang aku tuju, hening, pintu rumahnya sih terbuka, aku mengetuk dan memberi salam, aku memanggil penghuninya.</p>
<p>&#8220;ibu&#8230;&#8221; sekejap terlihat ibu-ibu paruh baya datang menghampiriku</p>
<p>&#8220;aahh, kau sudah datang nak, ayo masuk dulu?&#8221;</p>
<p>&#8220;ahh, ga usah bu, cuma mau nitip pesan papa aja&#8221;</p>
<p>&#8220;lho? kok buru-buru sih? jarang-jarang main ke rumah ibu&#8221;</p>
<p>&#8220;hehe, lain kali deh bu&#8221;</p>
<p>&#8220;hmm yaudah deh, ibu juga ga akan maksa&#8221;</p>
<p>aku berbalik hendak pulang, aku rasa ibu juga udah masuk kedalam rumahnya lagi, namun seketika langkahku terhenti saat ada yang memanggil</p>
<p>&#8220;hey!&#8221; aku menoleh, aku terkejut sekali, apa ia memanggilku?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Riski POV</p>
<p>Aku melihat mama sedang berbincang, sepertinya aku mengenal suara itu, aku keluar dari kamarku dan memastikan siapa diluar sana? apa urusanku sih? tapi entah mengapa aku benar-benar ingin melihat sosok itu. yah, akhirnya aku melihat, itu dia gadis yang aku taksir selama ini. aku melihat ia berbincang dengan mama ku, mama mencoba mengajaknya masuk, ah gadis bodoh kenapa kau menolaknya?? kini mereka selesai, ia berbalik hendak pulang, mama masuk kedalam rumah dan terkejut melihatku disamping pintu, kemudian ia tersenyum padaku, aku tau senyum itu..aku keluar hendak menyapanya, ingin memanggil namanya, tapi aku tak sanggup menyebut namanya</p>
<p>&#8220;hey!&#8221; aku mencoba menghentikan langkahnya. ia berbalik dan memandang wajahku, aku melihat ia yang shock, apa terkejut karena aku menyapanya? hal yang tak pernah aku lakukan.</p>
<p>&#8220;sudah begini mudah, masih terus mempersulit?&#8221; aku tetap bertanya sambil berdiri disamping pintu dan menyilangkan kedua tangan didada. aku tau ia sangat bingung tapi aku senang melihat wajahnya yang bingung itu, membuatnya semakin cantik.</p>
<p>&#8220;apa tak ada yang ingin kamu bicarakan denganku?&#8221; ia menggeleng, ahh pertanyaan bodoh emang aku siapa??</p>
<p>&#8220;baiklah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu&#8221; aku mendekatinya dan menarik lengannya, aku mengajaknya duduk di kursi teras depan rumah. Ia mengikuti dan ikut duduk disampingku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Echiey POV</p>
<p>ahh, bikin jantungan saja, ada apa sih?? ada banyak yang ingin aku tanyakan, tapi aku belum siap, sudahlah apa yang ingin kau katakan, katakan saja, aku akan mendengarkannya. ia menarik lenganku dan mengajak duduk di kursi teras depan rumahnya, aku hanya menurut dan duduk tenang disampingnya.</p>
<p>aku mulai merasa detak jantung yang tak karuan, aku deg-degan, apa yang akan dia lakukan?</p>
<p>&#8220;maaf membuat kamu lama menunggu&#8221; satu kalimat yang ia keluarkan membuat aku spontan meliriknya tajam, apa maksudnya??</p>
<p>&#8220;aku menyukaimu semenjak pertama kita jumpa&#8221; tambahnya lagi, membuat jantungku semakin tak karuan berdetak, kenapa blak-blakan sih??</p>
<p>apa yang harus aku lakukan? aku kan juga menyukainya.. aku hanya tersenyum dan mengeluarkan sepatah kata &#8220;terima kasih&#8221; bodoh, kenapa ini yang keluar dari mulutku? tapi dia ga marah? dia balik tersenyum, dia malah mengelus rambutku, ahh apa dia tak mendengar ucapanku? kini ia menatap mataku &#8220;aku tau kamu juga memiliki perasaan yang sama, makanya aku berani berbuat seperti ini sama kamu, maafin aku ya, membuatmu lama menungguku, menggantungmu, aku hanya belum siap saja mengutarakannya padamu&#8221; ia terus berbicara, matanya tak henti menatap mataku, membuatku tak bisa berbohong</p>
<p>&#8220;iya, aku juga menyukaimu&#8221; yaaahh, akhirnya keluar juga kalimat ini, aku merasa lega sekali, dan telihat wajah Riski yang bahagia, ia tersenyum dan mengecup keningku &#8220;makasih ya&#8221; ahh kau mengagetkanku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Riski POV</p>
<p>&#8220;iya, aku juga menyukaimu&#8221; ahh aku senag sekali mendengar kalimat yang satu ini, akhirnya ia mengeluarkannya juga. tanpa pikir panjang aku langsung mengecup keningnya dan mengucapkan &#8220;makasih ya&#8221; aku tersenyum dan iapun ikut tersenyum. akhirnya aku menariknya untuk lebih dekat denganku, aku menyandarkan kepalanya di bahuku, tanganku memeluknya dari belakang, aku bahagia sekali, aku ingin menghabiskan malam ini bersamanya, karena tak lama  lagi akau akan ke Bandung, ko-ass.</p>
<p>&#8220;aku ingin bercerita tentangmu, maukah kau mendengarnya?&#8221; aku mencoba membuka percakapan</p>
<p>&#8220;ceritakan, akan aku dengar dengan baik&#8221;</p>
<p>&#8220;baiklah&#8221; Aku mulai menceritakan awal mula aku memandangnya, tertarik padanya, hingga memiliki perasaan yang mendalam padanya. aku juga bercerita saat aku bermain gitar untuknya, saat aku susah untuk mengakui perasaanku terhadapnya. semuanya.</p>
<p>hingga detik ini, membawaku kepada kebahagiaan. aku menyudahi ceritaku, dan menatapnya. ahh dia sudah terlelap, aku melirik arloji di tanganku, sudah setengah 12 malam, jelas saja ia tertidur, aku begitu memaksanya, pasti ia sangat kedinginan, ia hanya memakai baju tidur lengan pendek dan celana selutut, ahh kasian sekali, tiba-tiba aku mendengar suara disemak-semak depan rumahku. aku melirik tajam dan mendapati Raffi yang sedang mengintip, ahh pasti ia mengintipku dari tadi, tapi tak apa, biar ia yang membawa echie pulang. aku memandang kesal pada Raffi, namun ia hanya tersenyum menang. menyebalkan &gt;.&lt;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Raffi POV</p>
<p>ahh, kerjaan tak berbobot, apaan sih mama dan papa, pake nyuruh ngintip Echie segala? ga bakal diculik juga deh dianya. paling juga kalo udah ketemu Riski bakal diajak ngomong. menyebalkan sekali. eh tapi mana mungkin yaa?? ah terserahlah, aku terus berjalan dan mendapati adikku sedang berbincang dengan Riski, nah loh?? apaan si Riski kok narik-narik lengan adikku? hmm, ternyata ngajak duduk, nahh apa yang mereka bicarakan, mungkin si bocah itu mau mengungkapkan perasaannya, nahhh apalagi tuh, megang-megang, waahhh dia nyium adik aku?ahh bocah nakal. ahh biarkan, aku terus mengintip, sepertinya si Echie sudah mulai terlelap, cerita apa sih Riski? udah mau jam 12-an juga nih..ahh apa lagi nih, pake nyentuh-nyentuh? ahh nyamuk sialan, pake acara gigit-gigit segala lagi,, ahhh aku mulai ga konsen  ngintip mereka nih, aiiishhh aku membuat suara, yaah Riski..ketauan deh, ia melirik tajam keatasku, aku hanya bisa tersenyum tanpa berdosa.</p>
<p>Riski POV</p>
<p>&#8220;kamu sudah bangun?&#8221; aku melihat Echie yang bergerak</p>
<p>&#8220;aku ketiduran? aduhh maaf, jadi ga bisa dengerin cerita kamu hingga usai&#8221; ia mengucek-ngucek mata kecilnya</p>
<p>&#8220;gapapa, bisa lain kali&#8221; bisikku dan tersenyum, iapun tersenyum dan mengangguk.</p>
<p>&#8220;kamu mau pulang? tuh abangmu udah jemput&#8221; aku menunjuk kearah Raffi berdiri, masih menyungging senyumnya dan melambai kearah Echie.</p>
<p>&#8220;hah? dijemput, ahh benar-benar aku ini&#8221; ia hendak memukul kepalanya, namun aku menahan tangannya. aku mengecup bibirnya kilat dan kemudian memeluknya erat, ia pasti sangat shock, tapi aku tak menggubris.</p>
<p>&#8220;maafkan aku, yang selalu membuatmu menunggu, apakah kamu mau menungguku lagi?, kali ini tidak akan sampai tiga tahun lagi&#8221; aku berkata, aku tak ingin meninggalkannya, tapi ini tuntutan. ia mengangguk meyakinkan. aku tau, ia gadisku yang setia, lagi aku mencium keningnya. aku bahagia sekali, rasanya tak ingin melepas pelukanku, namun deheman dari Raffi menyadarkanku.</p>
<p>&#8220;baiklah, aku janji akan kembali, jaga hatimu untukku ya!&#8221; aku berkata lembut dan mencubit pipi tembemnya. lagi ia mengangguk dan tersenyum manis, kenapa ia jadi begitu manis saat ini, padahal ia gadis yang sangat cerewet. ia melangkahkan kakinya hendak menemui abangnya di depan, namun sesaat ia berhenti dan berbalik menghadapku, ia memandangku, membuatku bingung, lalu keluarlah beberapa kata dari mulutnya.</p>
<p>&#8220;janji untuk tidak lama meninggalkanku, kau harus kembali&#8221; ia menatap mataku, perkataannya membuatku merasa berdosa, aku tak akan mengecewakannya, aku tersenyum lembut dan berkata &#8220;iya, aku janji, aku akan kembali&#8221; aku meliha ia tersenyum hingga mata sipitnya hilang (hehehe), lalu dengan cepat ia mengecup bibirku dan berlalu menjumpai Raffi yang semakin diminati para nyamuk nakal.</p>
<p>ahh, gadis nakal, awas kamu nanti.. aku tersenyum melihatnya yang hilang memasuki rumahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Echie POV</p>
<p>ahh, Riski nakal, awas kamu yaa, akan aku balas nanti.</p>
<p>Tuhan aku senang sekali malam ini, tiga tahun aku menyimpan perasaan, akhirnya aku menemukan jawabannya.</p>
<p>Riski..aku akan setia menunggumu disini, aku akan menjaga hatiku selamanya untukmu, kuharap kaupun begitu. Aku mencintaimu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>~~~END~~~</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/03/menunggu.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-204" title="menunggu" src="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/03/menunggu.jpg?w=692" alt=""   /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/echieychant.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/echieychant.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/echieychant.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/echieychant.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/echieychant.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/echieychant.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/echieychant.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/echieychant.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/echieychant.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/echieychant.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/echieychant.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/echieychant.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/echieychant.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/echieychant.wordpress.com/199/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=199&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://echieychant.wordpress.com/2011/03/05/keep-ur-heart-for-me/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b13eb0af4bdab04e22741d96812d204?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">echieychant</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/03/anime-romance-cards.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Anime-Romance-Cards</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/03/menunggu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">menunggu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fakta about Echiey :p</title>
		<link>http://echieychant.wordpress.com/2011/02/10/fakta-about-echiey-p/</link>
		<comments>http://echieychant.wordpress.com/2011/02/10/fakta-about-echiey-p/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Feb 2011 17:23:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>echieychant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tong Sampah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://echieychant.wordpress.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[kyaa~~~ dari judul aja kaga penting banget yaa??!! hahaha, ini terinspirasi dari ituu tuuh, fakta2 about my Jjong Bling-Bling si SHINee oppa, maaf, kalo yg ga ngerti Korea,, Hihihi :p yaa berhubung mau saling berbagi juga sii, okeh dah, buat kamu yang pengen aku lebih dalam *aisshhh* langsung aja baca yiaaa^_&#60; chekhidodol&#8230; &#160; Nama Asli [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=193&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>kyaa~~~</p>
<p>dari judul aja kaga penting banget yaa??!!</p>
<p>hahaha, ini terinspirasi dari ituu tuuh, fakta2 about my Jjong Bling-Bling si SHINee oppa,</p>
<p>maaf, kalo yg ga ngerti Korea,, Hihihi :p</p>
<p>yaa berhubung mau saling berbagi juga sii, okeh dah, buat kamu yang pengen aku lebih dalam *aisshhh*</p>
<p>langsung aja baca yiaaa^_&lt;</p>
<p>chekhidodol&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>Nama Asli Desi Sri Mulyanti</li>
<li>Lebih sering dipanggil Echiey</li>
<li>Kelahiran 24 Desember 1990</li>
<li>Golongan Darah A</li>
<li>Periang dan Childish</li>
<li>Terkadang bisa jadi Dewasa seketika *maksudnyah???</li>
<li>Tong Sampah yg paling baik *hueekk</li>
<li>Alumni Islamic Boarding School of Ruhul Islam Anak Bangsa</li>
<li>Sekarang Kuliah dijurusan Ilmu Komunikasi Fisip Unsyiah</li>
<li>Pernah kuliah dijurusan Hukum, tp disuruh keluar sama papanya gara2 ga mau si anak jadi Sarjana Hukum -___-&#8221;</li>
<li>Menguasai beragam Bahasa *ga mau sebutin, terkesan sombong <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Pintar pelajaran berbau eksak *tp saia salah masuk jurusan <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Matematika adalah pelajaran tercintanya^^</li>
<li>Sekarang sedang demam n mungkin &#8220;Gila&#8221; dengan hal2 yg berbau Korea</li>
<li>Pernah jadi THE QUEEN of LIBRARY *maklum, tempat tongkrongan adalah Pustaka, eitss itu dulu, skarang ga lagi deh, malas hahaha <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Cinta mati ama Kim Jong Hyun *ituu lho Lead Vocal BB Korea- SHINee</li>
<li>Paling ga suka sama Sayuran</li>
<li>Ga suka Nasi</li>
<li>Mie Instant dan Gorengan adalah makanan favorit</li>
<li>Cinta banget sama Keripik Pisang *siapa yg pulkam, minta dioleh2in -___-&#8221;</li>
<li>Takut sama Gelap dan semua binatang menggelikkan (?)</li>
<li>Paling troma sama Darah <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Suka pilm Horor, usai nonton ga tidur di kamar selama sebulan <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Suka membaca (semua tulisan yang ada) dan menulis</li>
<li>Kalo bosan lebih sering dengerin musik dan tidur2an</li>
<li>Paling senang disuruh main air, hahaha *nyuci maksudnya ^^v</li>
<li>Pernah terpilih sebagai cewek favorit dimasa SMA nya *somboooong <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Pernah dijuluki &#8220;PlayGirls&#8221; gara2 dekat dengan banyak cowok *uuhhh, padahal tu cowo yg dekatin buat curhat sama saia, aigoo -___-&#8221;</li>
<li>Pernah suka sama Dikta yuvi n nuno, tp kecewa setelah tau udah mau tunangan :&#8217;(</li>
<li>Benci sama bulan kelahiran gara2 setiap bulan itu harus ngeluarin airmata. *lebay</li>
<li>Ga suka sama daging, sukanya cuma Ayam^^</li>
<li>Suka warna Hitam dan putih *SungJe Oppa bangeett :p</li>
<li>Belum pernah pacaran *haha, penting yaa??, sedikit promosi :p</li>
<li>Lagi jatuh cinta sama seseorang *ga berani sebutin namanya &gt;.&lt;</li>
<li>Keseringan dibodoh2in *sedih pisan nasibnya</li>
<li>Punya teman dekat yg suka ngerebutin haknya termasuk cowok yg lagi digebet *aisssshh &gt;.&lt;</li>
<li>Punya mimpi bodoh, mau ke Korea buat jadi Istri kalo ga JongHyun oppa ya Sung Je Oppa *hahaha <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Suka sama cowok berkacamata</li>
<li>cowok pintar, bersih dan rajin *biar bisa bantu2 :p</li>
<li>Pernah jadi Tentor Matematika di sebuah bimbingan belajar</li>
<li>Pernah jadi Ustazah (cieee, alimnya saia) di sebuah yayasan pengajian santri kanak2</li>
<li>Suka usil tapi ga mau diusilin :p</li>
<li>Punya kemampuan ngomong cepat *500 kata/detik (hahaha, lebay)</li>
<li>Suka nonton pilm, apalagi pilm romantis, heu</li>
<li>kata orang Echiey tu cantik karena matanya *heu, plis deh, mata saia rabun tauk &gt;.&lt;</li>
<li>Targetnya di Tahun ini punya pacar!! haha, ga dong, tapi kelarin buku^^</li>
<li>Memiliki hati yang halus</li>
<li>Suka ga nyambung, padahal cerdas *alamak!!</li>
<li>Type setia, romantis dan manja *hueek</li>
<li>Ga suka hal2 berbau Rumah sakit</li>
<li>paling membenci obat</li>
<li>Suka sama SHINee</li>
<li>Penyiar disalah satu Radio ternama di kotanya *fuih -___-&#8221;</li>
<li>Pengen banget jumpa sama salah satu kenalan di facebooknya *ahaa, yg tau diam saja <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Sakit hati, kecewa udah jadi makanan sehari2</li>
<li>Mottonya &#8220;Don&#8217;t say NO before trying&#8221; terus saja mencoba, kamu akan bisa <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Suka sama Boneka</li>
<li>Pernah nangis sampe ga masuk sekolah, gara2 rambutnya dipangkas mama *cinta sekali dengan rambutnya ^^</li>
<li>nomor sepatu 37 *ayoo sumbang^^</li>
<li>Belajar berenang mati2an hanya untuk balas dendam sama cowo yg pernah neggelaminnya dulu, sayangnya tu cowo udah menghilang dari bumi *huhh &gt;.&lt;</li>
<li>Ga suka dandan (ga ada feminim sedikitpun)</li>
</ul>
<p>ahhh, sepertinya sudah dulu deh, kalau ingin tahu lebih lanjut, silahkan hubungi saya,,</p>
<p>hahahaha <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/02/img_5139.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-194" title="IMG_5139" src="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/02/img_5139.jpg?w=200&#038;h=300" alt="" width="200" height="300" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/echieychant.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/echieychant.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/echieychant.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/echieychant.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/echieychant.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/echieychant.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/echieychant.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/echieychant.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/echieychant.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/echieychant.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/echieychant.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/echieychant.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/echieychant.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/echieychant.wordpress.com/193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=193&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://echieychant.wordpress.com/2011/02/10/fakta-about-echiey-p/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b13eb0af4bdab04e22741d96812d204?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">echieychant</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/02/img_5139.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_5139</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Magic Girl*_*</title>
		<link>http://echieychant.wordpress.com/2011/02/05/magic-girl_/</link>
		<comments>http://echieychant.wordpress.com/2011/02/05/magic-girl_/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Feb 2011 20:01:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>echieychant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://echieychant.wordpress.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[ga tau nih mau pasang judul apa yang jelas ini tulisan berdasarkan dari mimpi aku yang aneh dan super dadakan, aku juga ga tau maksud dari mimpi ini apa? cuma mau share dan dalam bentuk singkat n sederhana. oke deh, kita mulai, chekidooot . . . main cast : author as magic girl biarawati as [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=185&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ga tau nih mau pasang judul apa <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>yang jelas ini tulisan berdasarkan dari mimpi aku yang aneh dan super dadakan,</p>
<p>aku juga ga tau maksud dari mimpi ini apa?</p>
<p>cuma mau share dan dalam bentuk singkat n sederhana.</p>
<p>oke deh, kita mulai, chekidooot . . .</p>
<p>main cast :</p>
<p>author as magic girl</p>
<p>biarawati as bu guru</p>
<p>cowo bkaca mata ga aku kenal, tiba2 ada aja tuh orang, dalam mimpiku namanya riski</p>
<p>ahh, ada banyak lagi yang berperan aku ga tau.</p>
<p>lokasi : bangunan sekolah SD ku dulu, tapi dalam kisah ini itu gedung macam gedung SMA (ya, aku siswa SMA)</p>
<p>Pagi yang cerah, kicauan burungpun nyaring terdengar disela keriuhan Siswa yang berlarian menuju kelas, maklum sepertinya mulai siang, kegiatan belajar mengajar harus segera dimulai, aku dan teman-teman sekelaspun telah berada dalam ruanagn dan bersiap memulai aktivitas belajar.</p>
<p>tak terasa istirahat pun telah tuba (iya, ga tau tuh, lagi asik blajar udah istirahat aja)</p>
<p>semua siswa berkerumunan ke luar, ke kantin belakang buat jajan,</p>
<p>aku dan Riski (dalam mimpi kami sobatan, dekat sekali dan sama2 berkacamata) hanya berada di koridor depan kelas, di lantai dua bangunan sekolah, kami hanya memandang keseluruh penjuru sekolah,</p>
<p>sekali-kali tersenyum melihat siswa lain berkejaran, dan juga kasian melihat para tukang yang sedang memperbaiki selokan (di Aceh lagi musim buat selokan a.k.a got besar) yang tengah kepanasan disengat matahari yang berada disamping bangunan sekolah.</p>
<p>tiba-tiba ada yang mengajak ku da riski memasuki sebuah ruangan, aku tak mengenal cowo itu, tapi sepertinya dia seniorku. dan tahukah kalian film apa yang ditontonkan pada kami?</p>
<p>film Horor (well, aku suka banget pilm horor, tapi agak ketakutan setengah mampus juga) , kenapa dengan film horor? biasa aja kan? memang biasa, tapi isi dari film itu adalah penyesatan, pemurtadan (mengerikan)</p>
<p>aku dan riski ketakutan melihat film itu, aku terus terbayang2 biarawati dalam film tersebut.</p>
<p>dengan semangat &#8217;45 kami (aku dan riski) keluar dari tempat itu segera. di luar aku kegelapan (maksudnya mata aku gelap) ga bisa liat apa-apa, begitupula dengan riski.</p>
<p>&#8220;mungkin kacamata kita ni dah rusak&#8221; kata riski</p>
<p>&#8220;iya, kali aja ketukar ki&#8221;</p>
<p>&#8220;iya nih&#8221;</p>
<p>&#8220;eh tunggu, ini beneran kacamata aku Ki, lihat gagangnya lembek warna pink, ini satu2nya di dunia (lebay)&#8221;</p>
<p>&#8220;iya, ini juga kacamataku Chi&#8221;</p>
<p>&#8220;TERNYATA DIA MENUKAR LENSA KITA,,,SEKARANG JADI CEKUNG (entah cembung, amnesia saia)&#8221; Aku dan Riski teriak barengan.</p>
<p>akhirnya setelah menyimpan kacamata itu, kami bisa melihat kembali,</p>
<p>terlihatlah sosok senior yang keluar dari ruang tempat kami menonton dengan tersenyum manis sekali, dilehernya terkalung salib nan besar. aku sangat shock &gt;.&lt;</p>
<p>aku dan Riski hanya menelan ludah, tiba-tiba aku melihat biarawati yang berwajah setan yang terdapat dalam film yang kutonton sedang menuju ke tempat aku dan riski berada, aku menarik lengan riski,</p>
<p>namun sia-sia yang kutarik adalah sebuah besi yang ada di balkon, riski telah hilang,</p>
<p>ternyata ia telah dihipnotis oleh senior tadi, tinggallah aku sendiri.</p>
<p>aku berlari sangat kencang menuju ruang guru, perkantoran,</p>
<p>aku sampai, dan bersembunyi di belakang meja ibu Kepala sekolah.</p>
<p>anehnya, tak ada yang bisa merasakan kehadiranku. mereka tak melihatku, kenapa?</p>
<p>apa aku sudah mati?</p>
<p>Biarawati menyaku pada salah seorang staff guru, ibu itu menunjuk, namun aku menghilang tiba-tiba dan kini berada di kantin,</p>
<p>&#8220;ini kali ke 5 nya aku menghilangkan diri selama aku hidup&#8221; jelasku pada teman disamping yang shock dengan kemunculanku tiba-tiba. sial, si biarawati itu menemukanku lagi, aku tidak bisa menghilang lagi (padahal kata papa aku bisa hilang hanya 10 kali, kmudian aku akan mati &gt;.&lt;)</p>
<p>biarawati itu terus mendekatiku, hingga ia bisa menarik lenganku dan membawaku ke tengah lapangan.</p>
<p>&#8220;akuilah, kamu memiliki Tuhan yang sama denganku!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tuhan?!&#8221;</p>
<p>&#8220;iya, Yesus sang penjuru selamat&#8221;</p>
<p>&#8220;TIDAAAAAAAKKKKK&#8230;.!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;kalau begitu kamu ingin ke neraka?&#8221;</p>
<p>&#8220;apa maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;aku adalah Tuhan yang ku maksud&#8221;</p>
<p>&#8220;APAAAA???!!&#8221;</p>
<p>&#8220;iya, sekarang aku akan menghancurkan dunia ini, dan mengirimmu ke Neraka&#8221;</p>
<p>&#8220;aku tak mau, kau tidak bisa melakukannya&#8221;</p>
<p>aku terus berteriak mengerang, lenganku sangat kuat ia cengkrami, aku tak sanggup melawannya.</p>
<p>&#8220;aku akan menciptakan kegelapan&#8221;</p>
<p>tak akan kubiarkan.</p>
<p>&#8220;akuilah aku Tuhanmu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;baiklah, kamu sudah siap menanggungnya&#8221;</p>
<p>Biarawati itu melepaskan tangannya, dan ia mendekati para tukang yang memperbaiki got jalan pinggir bangunan sekolah, ia memukul gundulan pasir dan keluarlah air.</p>
<p>Airnya begitu deras, tak bisa aku halangi, aku berteriak dan berlari.</p>
<p>&#8220;abang Tukang, kita akan kebanjiran, bantu aku menyumpal air ini dengan tanah liat&#8221; ujarku pada semua tukang yang ketakutan,</p>
<p>Sial, aku kalah, setan itu begitu kuat, kini air telah memuncak hampir mengenangi sekolah, tiba-tiba aku memiliki kekuatan aku berlari sangat kencang dan memnjat tiang bendera, aku berdiri diatas pincaknya dan melompat, aku terbang dan berdiri diatas awan tebal (aku gila, aku sering mimpi terbang ke langit)</p>
<p>aku melihat kebawah, ternyata dunia telah banjir, seluruh dunia, akan tenggelam..</p>
<p>langitpun gelap, sangat gelap tak ada matahari.</p>
<p>aku sangat marah, biarawati itu tersenyum sinis padaku,</p>
<p>akhirnya aku melompat untuk awan yang lebih tinggi, disinilah aku mulai berdoa.</p>
<p>aku mengadahkan tangan kiriku dan melentangkan tangan kananku memutar2 kesekeliling.</p>
<p>aku membaca beberapa doa (mantra lebih tepatnya)</p>
<p>da akupun berdoa . . .</p>
<p>&#8220;Ya Allah, jika aku hambaMu, maka bantulah aku disaat ini, aku sedang sangat membutuhkan pertolonganMu,</p>
<p>aku kebingungan, aku kehilangan akal, aku tak rela dia (biarawati) menggantikanMu sebagai Tuhanku,</p>
<p>ya Allah, jika Kau sayang dengan Hamba-hambaMu, maka bantu aku untuk menghentikan air yang deras ini, aku tak rela jika ia yang menghancurkan dunia ini, aku tak rela jika ia yang membuat dunia ini kiamat, menjadi gelap,</p>
<p>Ya Allah, bantu aku untuk menolong semua HambaMu yang taat&#8221;</p>
<p>aku mengusap wajahku dan kembali membentang kedua tanganku dan kini aku berhasil, iya menarik semua manusia di dunia naik kelangit dan mereka jatuh kembali ke bumi (aku ga bisa menggambarkan, pokoknya manusia2 itu berseri seperti kembang api, mencar kemana2)</p>
<p>indah sekali, kini aku menang, aku bisa mengalahkan Biarawati itu, Allah menjawab doaku.</p>
<p>kini langit kembali terang, airpun mulai surut dan kering.</p>
<p>mataharipun keluar kembali menyinari bumi. kini aku turun dan berada ditengah lapangan, aku lelah, aku pingsan.</p>
<p>&#8220;echi, udah bel ni, masih tidur disini?&#8221; Riski membangunkanku yang berada dibawah tiang bendera.</p>
<p>&#8220;aku mimpi?&#8221;</p>
<p>&#8220;apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;aku capek Riski&#8221;</p>
<p>&#8220;iya, aku tahu, makasih yaa, kamu udah nyelamati dunia ini&#8221;</p>
<p>Riski memelukku dan lagi aku membuka mata, ia telah hilang.</p>
<p>Sekarang aku berada dikantin bersama teman2 aku di radio. (aneh, mimpi lari ntah kmana2)</p>
<p>mereka tau tentang keajaiban yang baru aku rasakan, mereka memintaku menceritakannya,</p>
<p>yaaa, aku akan menceritakan ke kalian. Dan biarawati itu kini duduk memelukku sambil tersenyum manis dan berkata “selamat yaa, makasih udah nyelamatin dunia ini” kemudian ia berubah menjadi Gita Sinaga dan memelukku :0<br />
*aneh &gt;.&lt;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Beuuggghhhlaaahhhh, namanya juga mimpi,,,suka nganeh aahhh :p</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/02/my-angel.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-186" title="my angel" src="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/02/my-angel.jpg?w=248&#038;h=300" alt="" width="248" height="300" /></a></p>
<p>END ~~~</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/echieychant.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/echieychant.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/echieychant.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/echieychant.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/echieychant.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/echieychant.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/echieychant.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/echieychant.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/echieychant.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/echieychant.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/echieychant.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/echieychant.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/echieychant.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/echieychant.wordpress.com/185/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=echieychant.wordpress.com&amp;blog=5595406&amp;post=185&amp;subd=echieychant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://echieychant.wordpress.com/2011/02/05/magic-girl_/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b13eb0af4bdab04e22741d96812d204?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">echieychant</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://echieychant.files.wordpress.com/2011/02/my-angel.jpg?w=248" medium="image">
			<media:title type="html">my angel</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
