Malam terasa begitu dingin, dari tadi pagi hingga petang hujan terus membasahi kota yang dijuluki kota kembang itu. Kania yang dari tadi berniat ingin nongkrong bersama teman-teman kampusnya jadi batal. Akhirnya ia hanya menghabiskan waktunya di kamar hingga malam tiba.
Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam, namun ia masih asik bermain dengan laptop kecilnya. Menyelesaikan paper, tugas dari kampusnya. Selagi asik mengetik, tiba-tiba hapenya berdering. Ia melirik sekilas dan kemudian menerima panggilan itu. Pemberitahuan pertemuan dengan dosennya untuk pembagian tugas penelitian mata kuliah yang diambil semester ini akan berlangsung besok pagi. Setelah merasa kantuk Kania bergegas untuk tidur, ia tak ingin terlambat di pertemuan penting esok.
Kania adalah salah seorang mahasiswi dari Jurusan Hukum Universitas Parahyangan, Bandung. Ia termasuk mahasiswi yang aktif dan suka berorganisasi. Ia juga dikenal periang dan sangat ramah pada siapa saja. Tak heran jika ia memiliki banyak teman dan kenalan di mana saja. Sekarang ia sering menghabiskan waktunya di UKM Theater dan juga English Club. Sebagai Duta Bahasa, Kania dipercayakan untuk membina English Club itu. Kania juga memiliki teman dekat di kampusnya, teman saling berbagi. Renata namanya. Mereka mulai dekat semenjak masa Orientasi kampus. Kenny, begitu nama panggilan Kania dikenal, ia sudah mulai aktif di berbagai kegiatan sejak awal merasa sebagai mahasiswa, berbeda dengan Renata yang lebih senang dengan Kitab tebalnya. Bibel.
+++++
Kania berlari dari arah parkiran dan segera menuju ruangan tempat pertemuan dijanjikan. Begitu tiba di ruangan tersebut, ia menghela nafas lega. Ternyata dosennya belum datang. Ia bergabung dengan teman-temannya dan mengambil posisi yang nyaman. Ia mulai berdialog dengan teman-temannya yang lain.
“Kenny, lo udah kebayang belum bakal dapat tugas tentang apa?” tanya Sandra yang duduk di belakang Kania.
“belom nih, semoga aja ga begitu ribet, capek juga entar” jawab Kania santai.
“aku mah berharap banget bisa meneliti hukum perpolitikan negara liberal” tiba-tiba Vika yang di samping Sandra ikut nimbrung, mereka cuma tersenyum.
“gue sih pengennya hukum perlindungan anak dan perempuan” sambung Sandra lagi.
“aku sih apa aja boleh deh, yang penting ga lari dari konteks yang udah kita pelajari aja lah” kini Renata yang duduk di samping Kania ikut bersuara. Kania cuma mengangguk menyetujui. Setelah bercakap-cakap ringan, akhirnya mereka kembali terdiam saat dosen masuk dan memulai pertemuan pagi itu.
+++++
“Kenn, kamu kenapa sih? Dari tadi setelah keluar kelas kamu jadi murung gitu, kamu ga senang ya sama tugas kamu?” Renata mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu.
“sedikit, aku cuma merasa agak berat menjalaninya. Yasudahlah, aku ga mau mengecewakan Pak Es Ha, dia udah yakin banget kalo aku bisa” Kania tersenyum menjawab dan mereka terus berjalan ke arah kantin.
“oh iya, nanti ada kelas Hukum International kan? Kamu ikut ga?” kini mereka telah tiba di kantin dan mulai menunggu makanan yang telah dipesan.
“ya ampun, aku lupa!” Kania menepuk lembut kepalanya.
“kenapa Kenn?” Renata penasaran akan polah sahabatnya.
“bukan hari ini kan?” Kania bertanya lagi.
“apanya?” Renata makin bingung.
“itu..kelas Hukum International yang katanya kita bakal masuk bareng anak hukum dari universitas lain?”
“Ohmaigad, aku kira kenapa..bukan sayang, itu masih minggu depan”
“aish, baguslah”
“emang kenapa Kenn?”
“ga papa sih, soalnya tadi aku bangun kesiangan jadi ga sempat dandan, kan ga asik jumpa sama mahasiswa dari kampus lain tapi akunya ga cantik hehe”
“ya Tuhan, Kenny!!”
“yahh, maklum deh cewek jomblo Rey!” Kania cemberut dan mengambil pesanan yang telah tiba di hadapan mereka.
“hehe, sorry deh, trus sama si ketua yang kamu agung-agungkan itu gimana?”
“saha? Rangga?”
“iya, dia nolak cinta kamu?”
“yee, apaan sih..yang nembak juga siapa?”
“lha terus gimana dong? Katanya kalian dekat banget”
“ya ampun Rey, nih aku ingatin lagi ya, kita itu emang dekat banget tapi kan ga berarti kita punya hubungan khusus, lagi pun sepertinya dia ga punya perasaan apa-apa deh ke aku!”
“tapi bisa jadi dia sembunyiin dari kamu gitu?”
“maksud kamu?”
“kan, dia itu anak theater, ketua lagi. Pasti dia pinter dong ber-akting seolah ga punya perasaan ke kamu yang sebenarnya ia punya”
“aahh udahlah, jangan ngaco deh!”
“aku serius Kenn! Who know?”
“jangan buat aku jadi ngarepin dia ya Rey, aku ga mau kecewa”
“well, terserah kamu deh”
“ya, harusnya aku ga usah ke ge-eran saat dia dekatin aku”
“sudahlah Kenn, kalau emang sekarang kamu mau nyuci mata sama anak-anak kampus sebelah, aku bakal dukung kok haha”
“hahaha asik banget, makasih deh” mereka terus berbincang hingga jam kelas berikutnya dimulai. Mereka memasuki kelas dan mengikuti perkuliahan dengan serius.
“Ken! Mau kemana?” Renata mencegah saat kelas telah bubar.
“mau jumpa anak-anak teater nih, sekalian ada rapat katanya” jawab Kenny sambil melangkahkan kakinya ke arah parkiran.
“semoga Rangga lebih peka deh sama perasaan kamu” goda Renata lagi.
“haha apaan coba??”
“yaudah deh, aku mau langsung pulang aja. Gerah”
“oh okay, niat mandi ke aku juga ya neng!”
“wahh bisa deh, yaudah aku duluan ya!”
“sok atuh, bye” Kania melambaikan tangannya pada Renata yang telah berada dalam mobilnya dan meninggalkan Kania yang juga akan beranjak meninggalkan kampus menuju ke Sekretariatan UKM Theater. Dalam perjalanan ia memikirkan Rangga. Si ketua UKM yang berpostur tinggi, putih, bermata sipit dan juga sangat cerdas itu telah ia taksir semenjak melihat aksinya di panggung saat Pensi penerimaan mahasiswa baru tahun angkatannya, dan langsung membuat Kania tertarik untuk bergabung di UKM tersebut. Ia menghentikan lamunannya saat tersadar telah berada di depan UKM Theater. Ia langsung melangkahkan kaki menuju ruangan dimana rapat sering digelar. Namun langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya dari belakang. Kania menoleh.
“Rangga?” sapanya ramah.
“baru datang juga?” tanya Rangga.
“iya nih, udah rame?”
“belum, masih 30 menit lagi untuk mulai, mungkin lagi pada ibadah. Kamu udah makan?”
“belum nih, biasanya aku makan siang telat”
“wahh itu mah ga bagus buat kesehatan, yaudah ayuk kita cari makan dulu sambil nunggu yang lain”
“yahh jangan dong Ngga”
“aku memaksa, aku ga mau ngeliat kamu kusam nanti pas rapat, apalagi kalau kamu ga bisa bantu aku ngeluarin ide”
“yahh kamu mah”
“udah deh jangan cari alasan lagi, ayuk kita makan di kantin Biro aja biar dekat” mereka menuju Biro dengan berjalan kaki, memang kantinnya tidak jauh dari sekretariatan UKM Theater.
“yaudah deh, ini juga karna kamu maksa ya” Kania berjalan mengikuti langkah Rangga.
“yaah aku ga maksa kamu juga bakal mau kan?”
“yee, yakin banget sih?”
“emang kamu ga mau gitu makan bareng si akang yang kasep inih?”
“hahaha”
“loh kok malah ketawa sih?”
“kepedean sih kamunya”
“yee, aku kan ngomong jujur”
“iya deh iya”
“yaudah, kamu mau makan apa?” kini mereka telah berada di kantin Biro.
“aku nasi soto aja deh”
“oke deh. Kang sini!” Rangga memanggil pelayan dan memberikan pesanan mereka. Setelah pelayan itu pergi, Rangga memandang Kania lagi. “baru dari kampus ya?” tanyanya.
“iya, tadi ada kelas” jawab Kania simpel.
“nanti ada kelas lagi?”
“engga, maunya di UKM aja sampai sore”
“hmm, ada yang mau dikelarkan?”
“engga sih, cuma pengen di sana aja, rasanya lama banget udah aku tinggalin”
“ya ampun, lebay deh. Kan baru dua hari yang lalu kamu di sana”
“hehe, ga tau deh, belakangan jadi suka kangen gitu sama UKM”
“kangen sama UKM atau sama aku nih?”
“ohmai, terserah kamu deh”
“yaah, jangan gitu dong Kenn, aku kan mau jawaban pasti dari kamu”
“waahh mulai lagi nih lebaynya, eh tuh makanan udah datang, mending kita makan dulu aja deh”
“heu, yaudah deh, tapi sepertinya pipi kamu memerah tuh” Rangga mengambil makanannya dan ia terkekeh kecil.
“hah?” Kania memegang pipinya dan berusaha tidak kontak mata dengan Rangga. Sial! Rangga bakal ngetawain aku terus nih, bisa bisa dia bakal tahu perasaan aku ke dia!!ugh. Kania mengomel dalam hati, namun seperti tahu Rangga terus terkekeh bahagia. Mereka diam dan menikmati makanan.
+++++
“oke, kalau semua sudah clear, saya rasa pertemuan ini kita akhiri. yah harapan kita semua semoga terwujud, selaku ketua di sini, saya sangat berharap agar Pensi tahun ini berjalan lancar. Dan tim yang telah kita bentuk tadi semoga bisa bekerja sama dengan baik. Dan semoga saja peminat UKM ini semakin bertambah banyak nantinya. Amin” Rangga mengakhiri rapat dan serentak semua anggota bubar. Ada yang langsung pulang, mengikuti kelas, ngobrol sesama yang lain dan ada juga yang kembali ke meja kerja mereka melanjutkan pekerjaannya.
“oh iya, uang kas bulan ini udah bisa dibayar yaa” teriak Rangga saat mendapat lirikan dari si bendahara. Setelah mendapat senyum terima kasih dari si bendahara, Rangga langsung mencari Kania yang telah menuju mejanya.
Kania mendapati lagi kertas kecil yang berisikan puisi di atas mejanya. Memang akhir-akhir ini Kania sering mendapat puisi cinta dari orang yang sama sekali tak ia tahu dan tak berniat untuk mencarinya. Ia tak ingin menggubris orang yang iseng dengannya. Ia melirik tulisan itu dan sesaat tersenyum.
Kania, senyummu menyemangatkan hariku suaramu melelehkan jantungku pesonamu membuatku bagai di surga Kania, Kau lembut seperti malaikat Mengenalmu, rasanya aku ingin lebih dekat Tapi aku takut, aku tidak memikat Aku tidak bermaksud menggombal Aku hanya tidak ingin hatiku terbeban“Kania? Kamu lagi apa?” tiba-tiba Rangga muncul.
“ini, aku dapat puisi lagi” jawabnya sambil memberikan puisi itu pada Rangga.
“hmm, ga ada nama si penulis?”
“iya, kuno banget kan? Hari gini masih ngirim puisi segala, kenapa ga coba jumpai aja langsung”
“yaah, engga berani kali, atau belum saatnya”
“hmm, mungkin saja, tapi puisi bagus”
“kamu suka?”
“sedikit, kamu tau ga siapa yang ninggalin itu di meja aku?”
“engga, kenapa?”
“yaahh, awalnya aku pikir anak theater juga, tapi kayanya bukan deh”
“lho emang kamu udah tahu?”
“engga sih, cuma nebak aja, kayanya anak sastra”
“hahaha”
“kok kamu ketawa?”
“ga ada, ngerasa lucu aja”
“yee, kamu ngeledek aku ya?” Kania mengambil lagi kertas itu dan kembali duduk di mejanya.
“kelihatannya?” Rangga mencoba menggoda Kania.
“tau ahh” ia kesal dan membaca-baca majalah di atas mejanya.
“yaahh, jangan ngambek dong” Rangga tersenyum manis dan duduk di depan Kania.
“yee siapa yang ngambek?”
“eh, udah sepi nih, kamu ga pulang?”
“bentar lagi aja, masih pengen di sini”
“yaudah deh aku temenin”
“aku engga minta lho”
“aku tahu”
“terserah deh” Kania terus asik dengan lembaran-lembaran majalah di tangannya.
“oh iya, kok kamu masih betah ngejomblo sih?” pertanyaan Rangga membuat Kania menggeser majalahnya dan melirik wajah Rangga.
“abisnya pada ga berani dekatin aku sih? haha” jawabnya bercanda.
“kasian banget ya?” Rangga terkekeh.
“huh? Kamu sendiri kan juga jomblo, kasian juga dong” Kania menjawab seakan-akan sedang ngambek.
“haha, maksud aku kita kasihan sekali”
“uh? Iya kali ya. Emang kamu kenapa ga punya pacar?”
“lagi nyari yang tepat”
“wahh, terlalu milih sih..”
“engga juga”
“emang kamu suka sama cewe gimana sih?”
“ga usah banyak-banyak, aku cuma suka sama cewe cerdas, aktif dimana-mana, baik, supel, ramah dan nyambung kalo diajak ngobrol”
“wahh, kamu engga lagi muji aku kan? Hehe” Kania tersenyum girang.
“kelihatannya?” Rangga melirik dan tersenyum nakal.
“terserah kamu deh, semoga aja cewe impian kamu itu bakal hadir suatu hari haha” Kania mencoba tertawa, padahal hatinya sedang tidak karuan.
“yaah, semoga saja. Bantu aku ya Kenn!”
“huh? Maksud kamu?” Kania kembali membaca majalah di tangannya dan memperhatikan model-model cowok Korea yang terpampang di dalamnya.
“haha, lupakan sajalah..hmm,btw kenapa sih kamu mau gabung di UKM ini?” tiba-tiba Rangga mengecilkan suaranya, membuat Kania menutup majalahnya dan memperhatikan wajah serius Rangga.
“ya ampun, aku udah dua tahun yang lalu gabung, masih mau ngospek aku lagi?” tanya Kania asal.
“engga”
“terus?”
“aku mau tahu”
“lahh, kan kamu udah tau waktu pertama kali pengenalan”
“aku mau kamu jujur”
“eh? Emang dulu itu aku bohong?”
“entah, soalnya aku dengar dari yang lain, kamu gabung ke sini karena mau mengenaliku jauh” Rangga mengeluarkan kata-katanya dengan ekspresi super cool yang ia punya.
“huh?” Kania speechless, ia bingung. Kenapa Rangga tahu? Sesadarnya ia tidak pernah memberitahukan pada yang lain. Pipinya kembali memerah. Apa yang harus ia jawab pada Rangga?
“hahaha, ini yang aku suka, ekspresi kamu dapat semua lho Kenn, aku mau kamu naik tahun ini okay?” Rangga tertawa lepas, ia bahagia sekali bisa menggoda Kania hingga pipinya memerah seperti kepiting rebus.
“sialan lo Ngga!” Kania memukul wajah nakal Rangga yang lagi tersenyum riang dengan majalah di tangannya. “lo ngerjain gue!” Kania mendecak kesal dan cemberut.
“yaahh, jangan ngambek dong, aku kan cuma becanda, abisnya aku lagi cari pemain yang oke nih buat pensi tahun ini”
“uhh” Sial, aku udah mau jantungan gini, tapi Rangga masih bilang itu becanda? Ughh, benar-benar ngeselin, kerjanya bikin kacau perasaan aku aja! Kania menggerutu dalam hati dan tidak menoleh pada Rangga.
“Kenny..maafin aku yaah” Rangga memasang puppy eyes-nya
“engga mau ahh” Kania terus cuek, membaca majalah.
“nanti aku beli es krim deh” Rangga kembali menggoda.
“ya ampun Rangga!!!!” Kania berteriak kesal.
“hahahahaha” Rangga tertawa lepas dan berlari saat melihat Kania bangkit dari kursi dan mengejarnya.
“kamu tuh nyebelin banget yaaahh!” Kania berlari mengejar Rangga yang telah keluar dari ruangan. Mereka berlari-lari kecil di halaman. Tiba-tiba Rangga membalikkan tubuhnya dan berhenti tiba-tiba, membuat Kania ikut berhenti dan hampir menubruk tubuh Rangga, namun tangan Kania langsung dipegang Rangga. Mata mereka bertemu. Sial! Rangga aku mohon, cukup untuk hari ini, aku ga mau kau terus mengacaukan perasaanku! Kania memohon dalam hati. Seperti tahu apa yang dipikirkan Kania, Rangga jadi semangat untuk menggoda cewek imut di depannya itu.
“apa aku masih nyebelin?” Rangga mendekatkan wajahnya ke wajah Kania.
“ugh! sangat menyebalkan!” ucap Kania lantang dan mendorong tubuh Rangga lalu ia berjalan kembali ke ruangan.
“hahaha, tapi kamu suka kan?” Rangga mengikuti dari belakang.
“aisshh” Kania semakin kesal.
“hahaha, Kenny i like your style!” Rangga merasa sangat bahagia sekali.
“aku tahu!” jawab Kania asal sambil membereskan mejanya yang telah berantakan tadi.
“kamu tahu?” Rangga memasang wajah penasaran.
“iya, sebenarnya kamu suka kan sama aku?” Kania melirik Rangga sekilas dan mengambil tasnya.
“kok kamu tahu sih, ga surprice lagi deh” Rangga memasang wajah lugunya.
“hahaha, gini nih kalo obsesi artis” Kania berharap acting Rangga berhenti, ia khawatir dengan perasaannya.
“haha, tau aja deh, yaudah pulang aja yuk, udah sorean nih”
“iya, udah capek juga nih” Kania mengambil kunci mobilnya dan mereka berdua meninggalkan sekretariat itu.
“Ngga, aku duluan. Sampai jumpa besok deh” Kania menuju mobilnya dan melambaikan tangan pada Rangga yang mengangguk dan juga menuju parkiran mobilnya. Mereka berpisah. Kania kelelahan hari ini, ia ingin segera sampai di rumah.
Kania tiba di rumah, setelah mandi ia melemparkan tubuhnya ke kasur. Ia capek. Kania benar-benar bingung dengan sikap Rangga, ia memang baik dan care sama semua cewek. Akhir-akhir ini Rangga memang hanya mendekati Kania. Ia sering mengganggu Kania, membuat gadis itu kewalahan mengatur perasaannya. Kania tak tahu lagi mana sikap Rangga yang serius dan mana yang bercanda. Ia mencoba untuk tidak menjadikan masalah ini sebagai beban. Ia ingin fokus pada kuliahnya. Ia ingin menjadi hakim yang handal. Ia terus menerawang hingga ia terlelap.
+++++
Saat yang ditunggu-tunggu mahasiswa hukum telah tiba, mata kuliah yang membuat mereka semangat akan dimulai sekitar sejam lagi, namun para mahasiswa sudah memenuhi gedung Aula Fakultas Hukum yang memuat lebih dari seribu mahasiswa itu. Terutama para mahasiswa dari universitas lain, mereka telah hadir lebih awal di sana, mencoba mengenali kampus itu, dan ada juga yang berkenalan dengan para mahasiswa lain agar lebih akrab.
Kania juga tak sabar mengikuti perkuliahan spektakuler ini, setelah usai kelasnya di jam pertama, ia dan Renata langsung berlari menuju Aula. Ia tak menyangka ternyata teman-temannya yang lain telah tiba lebih awal.
“Rey, gimana, uda nemu yang kasep ga?” tanya Kania sambil terus mengedarkan pandangannya pada mahasiswa asing di seputaran Aula.
“gimana denganku? Kasep ga?” jawab cowok yang sedari tadi berdiri di samping Kania, Kania tersadar dan melihat Renata udah berpisah dengannya. Ia terkejut melihat cowok jangkung yang berdiri di sampingnya. “aih, kunaon atuh neng?” tanya cowok itu lagi.
“maaf, tadi aku kira temen aku, hehe” Kania cuma cengir kuda, malu.
“haha, aku tahu kok. Oh ya kenalkan namaku Reynald mahasiswa Hukum UGM” cowok itu mengulurkan tangannya.
“uh? Aku Kania, biasa dipanggil Kenny” jawab Kania sambil membalas uluran tangan Reynald. “jauh banget sih cuma buat ngisi mata kuliah ini?” Kania melepaskan tangannya.
“hehe, iya nih. Mohon bantuannya ya Kenn” Reynald hanya tersenyum.
“pasti deh, sebisa aku” balas Kania mantap.
“oh iya, yang tadi. Emang kamu lagi nyari yang ganteng ya? Hehe”
“ahh, engga cuma becanda doang kok hehe” Kania mengambil kursi, posisi nyaman untuk mengikuti perkuliahan.
“ohh kirain beneran” Reynald duduk di samping Kania.
“hehe, emang kenapa?”
“aku cuma mau tau, aku ganteng ga di mata kamu?”
“hahaha, kayanya sih ganteng”
“lho, kok ga yakin sih jawabnya”
“hehe”
“kamu asli dari Bandung?”
“engga, aku dari Jakarta”
“trus di sini kos-kosan?”
“engga, aku tinggal di rumah tanteku, ohya, tadi kamu pake bahasa sunda kan? Emang kamu dari mana?”
“ohh iya, aku dari Sabuga”
“waahh, kenapa kuliah di UGM?”
“beasiswa sih”
“ya ampun, ternyata aku lagi bareng anak cerdas nih hehe”
“yaahh, engga juga kok, eh aku mau ke toilet nih, di mana sih?”
“ohh itu di sana, kamu lewat pintu keluar empat terus belok kiri, dekat tangga toiletnya” Kania menunjuk arah yang dimaksud. Reynald mengangguk dan berjalan menuju toilet sebelum perkuliahan dimulai. Kania merasa gerah dengan jas almamater yang ia pakai. Ia mengipas-ngipas dirinya, hawa AC belum terasa, karena mahasiswa masih pada berantakan. Selagi asik mengipas, seseorang duduk di kursi sebelah kanan Kania. Ia melirik sekilas. Waduh! Nih anak mirip banget sama manusia Korea. Cakep bener, bikin ileran dan bakal ga konsen nih ikut perkuliahan. Kania berkata dalam hati. Namun yang dilirik tak menggubris. Cuek dan terus memandang ke depan. Aku sapa engga ya? Tapi kayanya sombong deh, ughh anak UI sih, males ah. Kania terus berbicara dalam hati sambil mengipas-ngipas dirinya.
“Kenny!” seseorang berteriak dari depan dan mendatangi Kania. Kania sedang tidak memakai kaca mata, ia tidak bisa begitu jelas melihat yang memanggilnya. Mahasiswa Unpad? Siapa temanku yang kuliah di sana? Kania memikirkan siapa yang menyapanya, ia mencoba tersenyum dan mengambil kaca matanya.
“ya ampun Chessa!” Kania langsung bangun memeluk cewek yang memanggilnya tadi begitu ia tahu itu teman lamanya. Cowok yang di sampingnya tadi melirik dan kembali memperhatikan buku tebal dalam pangkuannya.
“ternyata kaca mata lo makin tebal aja ya? Rajin banget sih?? Bakal cumlaude nih hehe”
“kamu bisa aja deh, eh kok kamu di Unpad? Bukannya ngambil HI di UI?”
“iya, tapi aku ga lulus di UI, lulusnya di Unpad”
“yaah kan ga papa, Unpad juga oke, tapi kok ngambil hukum sih?”
“ini nih, ga pernah ikut reuni sih?”
“hehe, abis udah lama aku ga pulang ke Jakarta”
“lupa deh sama temen lama”
“yaahh, sorry deh, eh beneran lho, bukannya kamu benci banget ya sama bagian hukum-hukum itu, dulu kan sering bolos pas masuk PKn”
“emang, kan aku jadinya selalu dapat hukuman ngapal UUD dan TAP MPR, makanya coba aja deh belajar hukum, siapa tahu bisa menghakimi koruptor negara kita haha”
“haha, ya ampun plis deh, eh kamu makin gemuk aja ya?”
“hehe iya nih, soalnya gue senang sih di Unpad, ada senior yang naksir gue”
“hahaha, dasar!”
“eh, kayanya yang di samping lo keganggu deh ama reuni kecil kita, soalnya dari tadi ngelirik-lirik mulu, yah gue tinggal dulu ya, ntar usai kelas kita bawelan lagi”
“oh, okay” Kania melirik sekilas cowok yang menurutnya mirip artis Korea itu dan kembali mengipas-ngipas dirinya. Kania masih terus mengipas dirinya, rasanya ia semakin gerah. Ia kembali melirik cowok di sampingnya. Si cowok yang dilirik jadi salting dan melirik Kania balik.
“hmm, maaf ya kalo tadi ngeganggu konsentrasi kamu” Kania memberanikan diri untuk bicara.
“ye~” cowok itu menjawab sekilas dan kembali membaca bukunya. Aishh, ngeselin deh ahh, bikin bete deh nih cowok, sombong banget ah! Emang anak UI gitu semua apa??uhhh Tapi suaranya halus banget. Waaahh.
“hey, belum mulai kan?” Reynald telah kembali dan duduk di kursi kosong di samping kiri Kania. Ohmaigad. Aku diapit oleh dua cowok cool? Kania menelan ludahnya. Ia melirik sekilas mencari Renata. Namun ia tidak menemukannya. Reynald mengikuti arah pandangan Kania. “kamu cari siapa?” tanya Reynald lagi.
“cari si Rey nih, di mana sih tu anak?” jawab Kania dan mencoba mengambil hapenya.
“kan aku di sini, Reynald” jawab Reynald polos.
“haha, ya ampun maksud aku Rey temen aku, si Renata”
“ohh hehe”
“eh dosen-dosennya udah pada masuk” Kania mengatur posisi duduk agar lebih nyaman mengikuti perkuliahan yang akan berlangsung empat jam itu. Perkuliahan yang diperkirakan bakal membosankan jadi tak terasa buat para mahasiswa itu, malah mereka mengikuti perkuliahan dengan semangat, entah karena mata kuliahnya yang asik, dosen yang menyenangkan atau memang karena ada mahasiswa lain. Tak terasa dua jam pertama sudah terlewati dengan sempurna, saatnya makan siang dan perkuliahan akan dilanjutkan nanti.
Mahasiswa pada berhamburan ke luar kelas, ada yang memilih berlari ke kantin, perpustakaan, dan ada juga yang memilih mengobrol dengan kenalan baru mereka. Kania masih terus mencari Renata.
“Kenn, kamu ga ke kantin?” tanya Reynald.
“kamu duluan aja Rey, aku lagi nunggu kembaranmu hehe” jawab Kania sambil terus mencari sosok Renata.
“oke deh, semoga ketemu kembaranku yah hehe”
“siip” Kania mengangkat dua jempolnya sambil tersenyum. Reynald meninggalkannya dan ia masih mencari sosok Renata di kerumunan mahasiswa yang berada di kursi paling depan.
“Kenny!” suara Renata mengejutkan Kania dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah si pemanggil.
“Rey, dimana aja sih? Aku telpon, eh keduluan dosennya masuk, aku cari-cari juga engga nemu. ngumpet dimana sih?” Kania langsung nyerocos begitu Renata tiba di kursinya.
“hehe sorry deh, tadi aku jumpa teman SMA aku, eh aku juga ada sms kamu pas tadi kamu miscall”
“opss, aku belum cek hapeku”
“Kenn, aku duluan ya!” suara lembut itu mengejutkan Kania dan Renata. Cowok Korea yang sombong dan cool itu nyapa Kania??
“uh? Okay” jawab Kania ragu dan langsung mendapat senyum dari cowok putih tinggi bermata sipit itu.
“siapa Kenn?” tanya Renata penasaran.
“aku belum sempat kenalan Rey, tadinya cuek banget tau, mana tau anak UI kan males banget deh, aku jadi ngerasa aneh pas dia pamit”
“waah, masih trauma aja sama anak UI, eh tapi kayanya asik tuh, type kamu banget kan?”
“yaaahh, apaan sih?”
“haha, yaudah ke kantin yuk, keburu disikat sama tamu tuh makanan, kita kelaparan ntar”
“yee, engga mungkin juga kalee, banyak kok si kang Dadang bawa dagangannya hari ini”
“sempat nge-cek juga ya neng?”
“haha, nebak aja sih” mereka melangkahkan kaki menuju kantin, namun langkah mereka terhenti saat ada yang memanggil nama Kania.
“Kenny! Tunggu!” Kania dan Renata menghentikan langkah mereka dan melirik ke arah suara.
“Chessa?” Kania memanggil teman lamanya.
“gue gabung dong ya?” pinta Chessa.
“oke deh, oh ya kenalin ini Rey teman dekat aku di sini, Rey dia Chessa teman SMA aku dulu pas di Jakarta” Kania memperkenalkan temannya satu sama lain. Dan mereka kembali melanjutkan perjalanan ke kantin.
“eh, gue benar-benar kagum sama lo Ken, tadi pas perkenalan lo ke depan, muka lo merah banget tau” Chessa mencoba mengingatkan lagi kejadian yang berlangsung di kelas tadi.
“Kenny emang mahasiswi teladan di sini, kesayangan para dosen deh hehe” Renata ikut bicara namun langsung dapat senggolan kecil dari Kania.
“uhh, kesel banget tadi tau, malu pisan, ngapain sih si Bapak Es Ha itu pake acara ngenalin aku segala, mana muji-muji lagi. Bikin malu aja, serasa diketahui se-Indonesia tau” Kania kesal saat mengingat kejadian tadi. Ia tidak ingin dosennya selalu memuji dan menjadikannya sebagai aset kampus.
“hahaha, ada ada aja lo! Oh ya, udah kenalan sama cowok yang tadi disebelah lo?” Chessa bertanya sambil terus melangkahkan kaki ke kantin.
“siapa? Reynald?” balas Kania.
“itu lho anak UI, eh lo masih demen sama yang sipit-sipit kan?” Chessa ingin tahu.
“yahh, Kenny emang masih suka sama yang sipit-sipit, tapi dia juga trauma sama anak UI” Renata menjelaskan. Kania hanya menghela nafas lelah.
“lho? Kenapa? Kok bisa sih?” Chessa semakin penasaran. Mereka telah tiba di kantin dan memesan makanan.
“itu dulu, pas Kenny ikut jadi Duta Bahasa tingkat Nasional, dia jumpa sama salah satu anak UI, katanya sih tu cewek ngeselin banget. Kenn udah nyoba ngajak ngobrol eh malah dicuekin sama anak UI itu, nah apalagi pas tes Public Speaking tuh anak katanya sibuk ngejelasin negara-negara tempat ia bersekolah tiap tahunnya. Gimana ga jadi pemenang coba? Tuh cewek nguasai lebih dari dua puluh bahasa Asing. Dan setelah sadar ia menang, malah makin ngeselin deh, ga mau ngobrol sama yang lain.” Jelas Renata panjang lebar, membuat Kenny menutup matanya mencoba tidak membayangkan kejadian masa lalu yang sangat menyebalkan itu. Chessa hanya menggeleng-geleng kepala.
“kan ga semua anak UI gitu?” Chessa menambah lagi.
“emang sih, tapi si cowok sipit tadi itu juga jutek banget awalnya” Kania memberitahu dan mengambil pesanan yang telah disajikan.
“kalo gue di UI, gue ga bakal jutekin lo deh” tambah Chessa lagi.
“yee, yakin banget sih, tapi bagus juga deh lo ga di sana, mungkin nanti bakal ga kenal sama gue lagi” Kania mengambil pesanannya dan memulai menyantapi.
“hahaha, kejam banget sih, engga mungkin deh” tambah Chessa lagi dan membuat mereka bertiga tertawa lagi. Mereka melanjutkan menyantapi makanan siang mereka, teman-teman yang lain juga ikut bergabung bersama mereka. Suasana kantin begitu riuh dan sesak, namun mereka tetap menikmatinya.
+++++
Tak terasa perkuliahan yang spektakuler itu akhirnya berakhir juga. Para dosen dan mahasiswa berfoto sebagai kenangan. Ada juga para mahasiswa yang bertukar ID dan segala hal lainnya. Kania hanya diam saja di bangkunya, lebih asik melihat gelagat mereka dari pada harus bersesak di dalamnya.
“Kenny, kenalin nama gue Andrean Lim!” cowok sipit yang memang dari Korea yang sedari tadi duduk di samping Kania memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan. Kania menoleh tak percaya dan membalas uluran tangan tersebut.
“wah..asli Korea ya?” Kania shock saat mendengar nama terakhir cowok putih tinggi di sampingnya itu.
“iya, papa ku Korea” Andrean mengiyakan sambil tersenyum. Kania hanya membulatkan mata mengetahui sedikit identitas Andrean. “hey, are you okay?” Andrean melambaikan tangannya di depan wajah Kania yang masih bengong.
“ohh, ya ga papa kok, eh kamu ga ikutan poto-poto sama mereka?” tanya Kania sambil membereskan isi tasnya.
“engga ah, males. Tapi kamu keberatan ga kalo aku ajak poto bareng?” Andrean tanya balik.
“hah?”
“kenapa? Ga mau ya? Cuma buat kenang-kenangan doang kok, siapa tau nanti suatu hari pas kamu ke Jakarta jumpa lagi sama aku. Kan biar ga lupa”
“hmm, baiklah”
“ok, ayo kita ke sana” Andrean dan Kania bangun dari kursi mereka dan menuju ke depan Aula. Mereka berdua berpose dan meminta bantuan teman lain untuk mengambil gambar. Akhirnya mereka larut dalam suasana itu.
“kalian kapan balik ke Jakarta?” tanya Kania sama Andrean saat mereka telah berada di luar gedung Aula yang penuh sesak. Mereka berdua berjalan menuju arah parkiran.
“masih 3 hari lagi, soalnya kami ada pertemuan kelas lain di universitas lain lagi di sini, sekalian pengenalan kampus dan juga jalan-jalan” jawab Andrean menjajari langkah Kania.
“wahh, asik banget sih bisa jalan-jalan sambil ngisi kelas”
“hmm, begitu lah, oh ya, sebelum kami balik ke Jakarta, kita masih boleh bertemu kan?”
“huh? Pasti dong, masa aku menelantarkan tamu hehe”
“hehe, yaudah nanti ajak aku keliling Bandung ya?”
“oke deh, kalo aku ada waktu pasti deh aku ajak kamu jalan-jalan”
“aku tunggu lho janjimu”
“jangan khawatir deh” saat berada di depan mobilnya.
“mau pulang sekarang ya?”
“engga nih, nunggu Rey dulu”
“ohh, baiklah aku duluan ya, mau gabung sama anak-anak yang lain”
“oke, sampai nanti”
“bye” ucap Andrean dan meninggalkan Kania, ia kembali menjumpai kerumunan teman-teman sekampusnya. Kania mengambil hapenya dan menghubungi Renata.
“kamu dimana sih Rey? Hilang mulu deh” tanya Kania begitu panggilan terhubung.
“aku di belakangmu kok” suara Renata membuat Kania berbalik dan menutup hapenya. Orang yang dihubungi memang dibelakangnya.
“pulang sekarang?” tanya Kania lagi.
“maunya sih gitu, tapi aku lagi ga bawa mobil nih”
“yaudah, aku anterin deh”
“haha, asik dah, hayuk ah!” Renata masuk ke dalam mobil dan mereka langsung meninggalkan lapangan parkiran. Pulang.
Di jalan mereka kembali berbincang-bincang menceritakan kelas hari ini, kenalan baru mereka dan juga teman-teman lama yang mereka jumpai.
+++++
Selama tiga hari sebelum Andrean balik ke Jakarta, ia setiap harinya mencoba mendekatkan diri ke Kania. Di setiap ada kesempatn, maka mereka akan berusaha untuk jalan bersama. Kania sangat menikmati suasana itu, Andrean memberinya perhatian, bukan sebagai seorang teman biasa namun seakan teman yang spesial. Tak terasa Kania seperti mulai lupa dengan perasaannya pada Rangga. Namun ia tetap berusaha menjaga perasaannya pada Rangga, ia ingin hubungannya dengan Andrean hanya sebatas teman dekat atau sahabat.
Reynald juga masih sempat bertukar pikiran dengan Kania, ia selalu menyempatkan diri untuk berkomunikasi, baik lewat mail atau hanya sekedar basa-basi lewat telepon. Kania merasa bahagia, beban pikiran dan perasaannya pada Rangga terasa sedikit berkurang. Ia ingin bisa dekat dengan Rangga seperti ia dekat dengan Andrean atau juga Reynald. Setelah ponsel Rangga hilang beberapa bulan lalu, Kania memang tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Rangga, mereka hanya menyapa saat berjumpa di “markas”.
Saat Andrean dan mahasiswa lain kembali ke daerahnya, Kania mulai merasa kehilangan, ia mulai merasa sendiri lagi. Tapi mereka tetap berkomunikasi lewat telepon. Kania juga mulai mempersiapkan diri dan hal lainnya untuk penelitian tugas akhirnya nanti. Ia mulai sering mengunjungi UKM nya, ia masih belum yakin apa sanggup untuk berpisah dengan ketua yang dari dulu ia incar.
+++++
Kantor Kesekretariatan UKM mulai sepi, namun Kania masih betah berada di sana, ia terus memandangi ruangan itu, membaca beberapa informasi yang ada di papan informasi. Ia mulai membuka dan membaca buku tebal yang berisi agenda kegiatan mereka untuk ke depan. Tak sadar Rangga telah lama memperhatikannya.
“serius amat, lagi baca apaan sih?” Rangga mengalihkan perhatian Kania.
“eh lo Ngga, ini lagi baca agenda kita ke depan” jawab Kania polos.
“oh ya, lo mau kan naik untuk acara pensi nanti”
“engga tahu deh, aku bakal bisa apa engga”
“tenang aja, aku juga naik, ntar kita bakal kerja sama, aku yakin kamu pasti bisa”
“haha, bisa aja lo”
“aku serius atuh”
“ga janji deh”
“Ken, kita butuh lo untuk kali ini”
“iya aku engga janji”
“tapi lo mau kan kalo gue minta”
“hah?” Wajah Rangga membuat Kania tidak bisa berpikir.
“gue mau lo kali ini” ucap Rangga dan kemudian berlalu.
“aish, apaan sih? Rangga lo selalu aja bikin perasaan gue kacau” Kania berkata pelan dan menundukkan kepalanya ke meja.
Kania melirik arlojinya dan kemudian bergegas untuk segera pulang, ia tidak ingin sampai harus bermalaman di jalan. Ia melirik ke seisi ruangan, namun tak terlihat Rangga di sana. Akhirnya ia pamit pada beberapa teman lain yang masih di ruangan. Ia melangkahkan kaki menuju area parkiran, namun ia mendapati Rangga sedang termenung duduk menyendiri di kursi pojok taman. Kania mencoba untuk menyapa.
“lagi ngapain lo Ngga?”
“eh Kenn, cuma lagi mikir sesuatu aja”
“hal serius?”
“iya, sangat serius”
“tentang apa sih?”
“hmm, susah buat bilangnya”
“ohh”
“engga sih, cuma lagi mikir untuk pensi nanti”
“okay” Kania mengangguk mengerti “yaudah deh aku mau balik dulu, takutnya ntar keburu malam” Kania pamit, ia berjalan hendak kembali ke mobilnya, namun tangan Rangga menarik lengan Kania, membuatnya menghetikan langkahnya seketika dan berbalik.
“kenapa Ngga?” Kania menatap Rangga heran.
“gue mau lo” jawab Rangga penuh harap.
“maksudnya?”
“lo naik ya kali ini”
“aku bakal usahain”
“sebenarnya..”
“kenapa?”
“ahh, aku hanya ingin kali ini bisa sepanggung denganmu”
“haha, aku juga kok” Kania mulai merasa keanehan, namun ia tetap berusaha tenang.
“Kenn..” Rangga memanggilnya lembut.
“ya?” jantung Kania semakin tak karuan.
“makasih kalau kamu mau ikut” ucap Rangga penuh senyum.
Sial! “sama-sama Ngga” jawab Kania datar.
“kamu mau langsung pulang?”
“iya nih, takutnya ntar kemaleman”
“oke deh”
“oh ya Ngga, ada yang mau aku bilang”
“tentang apa? Bukan perasaan kamu ke aku kan?”
“aish, kege-eran banget deh”
“haha, emang tentang apa?”
“hmm, ahh aku kira aku bakal sangat merepotkanmu nanti”
“oh tak masalah, aku akan sangat ngebantuin kamu”
“makasih deh, aku pulang ya”
“oke, bye”
Kania mengangguk dan berlalu menuju mobilnya. Dia kesal dengan Rangga yang selalu mengacaukan perasaannya. Ia ingin segera tiba di rumah, ia kelelahan dan ingin segera tidur.
+++++
“Kenn, kamu dicariin tuh sama Pak Es Ha, diminta ke ruanggannya segera” seorang mahasiswa menjumpai Kania yang sedang bersantai menikmati makanan di kantin. Renata yang penasaran langsung bertanya pada si penyampai amanat.
“buat apa?”
“entah, aku juga ga tau, yang jelas beliau minta Kania menjumpainya segera”
“iya deh, selesai makan aku akan menjumpainya” jawab Kania. Akhirnya setelah si penyampai amanat pergi mereka menyegerakan untuk menyelesaikan makanan mereka dan segera menjumpai Pak Es Ha.
Kania melangkahkan kakinya ke ruangan yang berada di lantai dua Fakultasnya. Ia memasuki ruangan yang di tempati Pak Es Ha selaku seorang Pembantu Dekan III sekaligus dosennya. Dengan sedikit khawatir ia menjumpai dosennya itu, Renata hanya menunggunya di luar.
“maaf kalau ini sangat mendadak, tapi saya yakin kamu mampu” Pak Es Ha terus berkata menguatkan Kania.
“saya juga kurang percaya sama kemampuan saya pak” Kania mulai ragu.
“kamu sudah mempersiapkannya kan?”
“iya pak, tapi saya tidak tahu bakal dipercepat”
“iya, maafkan saya, karena riset kamu yang agak sedikit jauh, makanya waktumu dipercepat”
“iya pak, ga papa, saya akan berusaha”
“tenang saja, kami telah mengirim beberapa ahli hukum untuk menjemputmu nanti, dan juga ada dosen kita yang akan terus mendampingimu di sana nanti”
“iya pak, saya mengerti”
“baiklah, semoga kamu berhasil, saya percayakan kamu”
“terima kasih pak, saya permisi dulu”
“iya, silahkan”
Kania melangkahkan kakinya ke luar ruangan yang dingin itu, kini tubuhnya semakin dingin. Ia mendapati temannya yang penuh dengan rasa penasaran menatapnya di depan pintu.
“kenapa Kenn?” tanyanya penuh rsa ingin tahu.
“jadwalku dipercepat” ucap Kania lemas.
“ya ampun, kapan sih?”
“dua hari lagi”
“ya ampun Kenn, semoga berhasil ya, aku bakal sangat merindukanmu”
“yaahh, jangan ngomong gitu dong, aku semakin sedih deh”
“iya maaf deh, tetap keep in touch yaa?”
“siip deh, aku harap aku ga akan kesepian nantinya”
“ga akan, aku bakal terus kontakin kamu”
“yaudah, aku mau ke UKM dulu, mau ngabarin Rangga” Kania melangkahkan kaki cepat. Namun Renata mencegahnya.
“Kenn !”
“kenapa?”
“kenapa kamu harus beritahu Rangga?”
“maksud kamu?”
“aku mengerti perasaan kamu, tapi apa ini penting buat Rangga?”
“aku ke sana bukan untuk masalah pribadi, terserah Rangga mau ngerasa kehilangan aku atau engga, aku cuma mau sampein sama yang lain kalau aku bakal ninggalin markas selama tiga bulan”
“aku tahu, yasudah jangan terlalu membebankan perasaan kamu”
“aku mengerti, makasih banget ya Rey, aku jalan duluan”
“oke, hati-hati!”
Kania mengangguk dan melangkahkan kaki menuju parkiran, ia ingin segera tiba di “markas” dan menjumpai anak-anak termasuk Rangga juga. Setibanya di gedung yang berlantai satu itu, ia langsung ke ruangannya mengambil beberapa barangnya.
“cari apa Kenn?” suara Febi mengejutkannya.
“inih, ada buku yang ketinggalan tadi” jawabnya sekilas.
“beneran?” selidik Febi.
“iya hehe, oh ya si Rangga mana?”
“hari ini dia emang belum muncul tuh, belum kemari. Ada apa?”
“hah? Emang dia engga ngabarin gitu?”
“engga, bukannya dia sakit gara-gara lo tolak cintanya kemarin?”
“hah? Siapa yang nembak siapa? Ngaco deh ah”
“hehe, maap dah, engga tau tuh, lagi sibuk persiapan buat pensi kali”
“hmm, kali aja ya, oh ya Feb, aku cuma mau pamit, selama tiga bulan aku bakal ninggalin kalian”
“emang lo mau kemana?”
“mau penelitian buat tugas akhir”
“ohh okay, nanti aku kabari anak-anak”
“makasi ya Feb, aku berangkat lusa”
“berangkat?”
“iya, ke luar kota sih”
“ya ampun, gue bakal kangen banget deh sama lo”
“aah apaan sih? Kamu tambah aku jadi ngerasa sedih tau”
“hehe, iya deh iya, good luck ya”
“iya deh, makasih. Oke aku pamit pulang, mau siap-siap”
“oke deh, hati-hati ya Kenn”
Kenni mengangguk tersenyum dan segera meninggalkan ruangannya. Ia melangkahkan kakinya ke luar dan segera pulang. Namun di depan gedung langkahnya terhenti saat ia berpapasan dengan Rangga.
“mau pulang? Cepat banget” sapa Rangga.
“iya nih, ada keperluan penting sih” jawab Kania simpel.
“okay, hati-hati deh” sambung Rangga lagi.
“iya, makasih Ngga” jawab Kania dengan wajah sedih.
“kamu kenapa? Ga rela ninggalin aku? Hehe” canda Rangga.
“iya, aku bakal kangen banget sama kamu” jawab Kania tulus.
“ahh lebay, besok juga ketemu lagi” senyum Rangga manis.
“iya yah, aku memang terlalu lebay, yaudah aku pulang ya” Kania meninggalkan Rangga dengan mata berkaca-kaca. Ia harus kuat menahan perasaannya. Rangga yang menyaksikan keanehan pada Kania jadi penasaran. Ia menuju ruangan Kania dan mendapati Febi yang sedang merapikan meja Kania yang tadi telah berantakan.
“yaaaaa…kenapa dengan meja Kenny?” suara Rangga mengejutkan Febi.
“yah sial lo Ngga, salam dulu kenapa? Ngagetin aja” ketus Febi.
“yee, maap dah, itu meja Kania kenapa?”
“ini, aku bantu rapikan, tadi abis dibongkar sih sama dianya, oh iya tadi dia juga sempat nyari-nyari kamu deh”
“kenapa?”
“Katanya ada barang yang ketinggalan, tau deh kayanya penting gitu, padahal cuma kertas biasa”
“haha, tuh anak emang aneh, ngapain ngambil kertas usang?”
“yeee, itu kertas kan isinya puisi deh kalo ga salah”
“puisi?”
“iya, kenapa?”
“ternyata dia nyimpan semua puisi itu?”
“lho, lo tau? Itu puisi dari elo Ngga?”
“ahh eh, engga kok, cuma dia pernah ceritain ke aku aja”
“ohh gitu.. eh lo udah tau kan kalo dia bakal ke luar kota selama tiga bulan?”
“hah?? Ngapain?” Rangga shock mendengar kabar itu.
“yee, biasa aja kali, lebay lo! Eh serius lo ngga tau Ngga?”
Pantas saja Kenny bilang bakal kangenin aku, tapi kenapa dia ga pamit sama aku ya? “emang Kania kemana? Dia nyari aku mau bilang itu?”
“ahh kayanya sih gitu, dia bilang sih mau selesaiin penelitian tugas akhir gitu”
“oh oke deh, makasih ya Feb. Aku mau pulang dulu” pamit Rangga.
“lo kenapa sih? Beneran sakit ya?”
“tadinya udah mau sembuh, tapi sekarang mau sakit lagi deh haha”
“aish, gue serius!”
“ya maap aku becanda, ya udah aku pamit dulu”
“aish, oke deh, bye”
Rangga terus berpikir sepanjang perjalanan menuju rumahnya. Ngapain sih aku khawatirin dia banget? Dia nyari aku? Tapi tadi dia engga ngomong apa-apa. Tuh anak emang aneh banget deh. Aish kenapa juga aku harus mikirin dia ya? Aku berharap kamu cepat kembali. Ada hal yang harus kita selesaikan. Aku juga bakal sangat merindukanmu Kenny.
==========================================================================
Tiga bulan kemudian . . .
“Kenny!” teriakan Febi terlalu keras membuat Kania harus menutup kedua telinganya. “lo udah pulang? Gue kangen banget sama lo!” Febi langsung memeluk Kania erat.
“yahh kamu lebay banget deh, baru juga tiga bulan kita ga jumpa” Kania membalas pelukan Febi. Mereka berbincang-bincang ringan menceritakan keperluan Kania selama tiga bulan lalu. Mereka terus berjalan hingga sampai di tengah ruangan tempat biasa mereka rapat. Kania sengaja mengunjungi UKM pada sore hari, biasanya anak-anak lagi pada rame. Setiap pulang dari kampus, anak-anak pada mampir sebentar sebelum pulang ke rumah. Pandangan Kania beralih pada sosok yang pernah ia temui. Mahasiswa dari kampus lain.
“oh yaa, kenalkan dia…” belum selesai Febi memperkenalkan tamunya itu, Kenny langsung menghampiri cewe itu.
“Lisa..?” ia memeluk Lisa kuat “apa kabar? Tumben main ke sini” Kania tersenyum manis pada cewe di depannya.
“Kenn? Gue baik kok” Lisa membalas pelukan Kenny.
“lho ? kalian udah saling kenal ?” tanya Febi penasaran, anak-anak lain dalam ruangan pun ikut bingung.
“iya, kita kenal pas ikut workshop jurnalis di Jakarta tahun lalu, juga sama-sama ikut duta bahasa” jelas Lisa yang diikuti anggukan Kania.
“oh, pantesan aja” Febi mengangguk mengerti, anak-anak yang lain pun ikut ber oo ria.
“eh, lo dari mana aja? Masa ga liat teater kita sih ?” tanya Lisa penasaran.
“teater apa?” Kania penasaran.
“bulan lalu ada teater gabungan antara kampus gue sama kampus elo, awalnya gue kira lo ikutan naik, tapi gue engga jumpa sama elo dari awal pertemuan UKM kita”
“ohh maap deh, selama tiga bulan ke belakang aku disibukkan sama penelitian”
“emang neliti apa kok sampe lama engga keliatan sih?”
“iya, abisnya aku nelitinya ke luar kota, aku neliti hukum syariat islam dan qanun di Aceh”
“waahh, hebat banget lu”
“engga juga kok, cuma itu yang disuruh sama dosen ke aku”
“well, jadi sekarang lo udah bisa mulai aktif lagi kan di UKM?”
“iya nih”
“yauda, pentas selanjutnya bisa naik dong ya?”
“semoga aja hehe”
Setelah berbincang-bincang ringan dan juga melepas rindu bareng anak UKM, Kania pergi menuju ruangannya. Ia melirik ke sekitar. Mencari sosok orang yang sangat ia rindukan, tapi ia tak menemukannya. Ia kembali melangkahkan kakinya. Berniat keluar ke halaman belakang, namun langkahnya terhenti saat mendapati tulisan-tulisan berupa ucapan selamat yang ada di papan informasi.
Kania terus membaca satu per satu tulisan tersebut hingga mendapati tulisan yang pernah ia kenal, tulisan yang telah lama dipajang, belum sempat dicopot sepertinya.
Selamat atas kesuksesan kita, terima kasih atas dukungan kalian semua Terus jaga kekompakan kita untuk pentas-pentas selanjutnya Love you all guys ^^ RanggaJadi, puisi-puisi itu dari Rangga ? kenapa dia harus bohong ? tapi sekarang udah terlambat kan ?
Ia terus menjelajati dan memandangi beberapa tulisan yang juga diselipin gambar-gambar romantis. Tak terasa air mata Kenny jatuh.
“Kenny lo nangis ?” tanya Febi yang tiba-tiba udah berdiri di belakang. Kania menghapus air mata dan melirik Febi.
“kelihatannya?” tanya ia balik.
“maaf yaa, gue belum sempat cerita”
“kenapa harus minta maaf ?”
“Rangga kecewa banget, dia juga nyesal saat lo pergi ninggalin kota ini, dia kira lo bakal balik buat pamit ke dia, ternyata dia salah, dia juga kesal karena engga ngejar lo. Dia coba hubungin lo, tapi nomer lo ga aktif. Bulan lalu kita dapet undangan pementasan dadakan, awalnya Rangga nolak karena dia mau naik pentasnya sama elo. Tapi setelah ngobrol banyak sama anak kampus tetangga, akhirnya ia naik, dia jadi pemeran lawannya Lisa. Selama latihan mereka akrab banget. Setelah pentas, Lisa nembak Rangga dan mereka jadian udah sebulan lebih” jelas Febi panjang.
“haha, aku turut bahagia deh”
“Kenn, gue tau kok perasaan lo, gue juga awalnya ngenyangka Rangga ntu suka sama lo”
“udahh lah, apaan coba?”
“gue juga ga ngerti kenapa Rangga bisa jadian sama Lisa, mungkin dia kesepian karena engga ada lo, juga ga pernah komunikasi sama lo”
“udah deh, apa peduli gue coba?”
“Kenn, lo bisa bohong sama gue, tapi engga sama perasaan lo”
“Febbb…” Kania memeluk Febi erat “aku juga engga ngerti sama perasaan aku, tadinya aku ngira kalo aku cinta sama Rangga, tapi sekarang udah engga”
“maksud lo?” Febi merenggangkan pelukannya.
“aku engga mau ngehancurin hubungan Rangga sama teman dekat aku juga, trus juga Andrean yang dulu pernah aku cerita, dia juga lagi dekatin aku. Kita terus barengan selama tiga bulan lebih, karena dia juga dapet tugas penelitian yang sama di Aceh, jadi kita sering bareng terus”
“lo suka sama Andre Korea itu?” tanya Febi penuh curiga.
“belum yakin”
“ya ampun Kenn, kenapa sih lo?”
“tapi aku bakal coba buat ngebuka hati aku ke dia”
“apa yang terbaik aja deh buat lo Kenn”
“iya, makasih ya Feb” Kania kembali memeluk Febi.
Kania melepaskan pelukannya dan menghapus sisa-sisa air mata di pipinya. Ia hendak pergi ke ruang latihan untuk menenangkan dirinya sejenak. Ingin melepaskan perasaannya. Ruang latihan terlihat sangatlah sepi. Kania duduk di tengah ruangan sambil terisak dan terus berteriak memarahi dirinya.
“kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku ga pernah sadar sama Rangga? Kenapa aku ga pernah coba jujur tentang perasaanku ke Rangga?” Kania terus berteriak tak sadar ada seorang penghuni yang sedang memasang sesuatu pada dinding yang tertutup dengan lemari besar di ruangan itu. Cowok itu merasa ada yang sedang frustasi, ia terkejut saat melihat orang yang sangat ia kenal sedang histeris meneriaki namanya.
“kamu juga Ngga ! kenapa mesti bohong sama aku sih ? kenapa ga pernah pertahanin aku ? sekarang aku harus gimana ? bantu aku buat ngelupain perasaanku ke kamu ! bantu aku buat ngerelain kamu ke Lisa !” Kania terus berteriak histeris tak sadar seseorang mendekatinya.
“Rangga ! lo jahat banget sih ? lo udah nyiksa batin gue ta…”
Sementara itu di ruangan rapat UKM…
“eh Feb ! lo liat Kenny ga ? nih temennya nyariin!” tanya salah satu anggota teater pada Febi yang lagi berbincang dengan Lisa. Febi melihat ke sosok teman yang dimaksud. Cowok putih itu tersenyum ramah.
“ohh, Andrean ya?? Tadi sih Kenny bilang mau menyendiri di ruang latihan, yaudah ayo gue anter” Febi bangkit dari duduknya.
“ehh di ruang latihan ? tadi kan si Rangga juga katanya mau ke ruang latihan mau ngambil apa gitu, tapi belum balik. Mereka berdua di sana?” kini Lisa ikutan bersuara.
“yaudah kita jumpai mereka aja yuk” akhirnya Febi dan yang lain ikutan ke ruang latihan yang memang terlihat sepi. Mereka berjalan pelan dan tak menyangka melihat orang yang mereka kenal sedang latihankah di sana ?
Tak sanggup Rangga menahan perasaannya, ia mendekati Kania yang terus berteriak histeris. Ia tak kuasa melihat gadis itu menangis terluka.
“Rangga ! lo jahat banget sih ? lo udah nyiksa batin gue ta…” Belum sempat Kania menyelesaikan kalimatnya, ia telah di tarik ke dalam pelukan Rangga.
“maafin aku Kenn, aku emang udah jahat sama kamu” Rangga mengelus rambut lembut Kania. Kania masih shock dengan kehadiran rangga tiba-tiba. Ia mendorong tubuh Rangga lembut, namun Rangga mengeratkan pelukannya. “maafin aku yang ga pernah tegas dengan perasaanku” tambahnya lagi. “Kenn, aku sayang sama kamu” sebuah ciuman hangat mendarat di bibir kecil Kania. Sontak Lisa yang memperhatikan dari pintu berteriak kesal.
“Ranggaaaaaa !” Lisa masuk ke ruangan itu dan menarik Rangga. Febi dan Andrean juga ikutan masuk ke ruangan itu. Kania dan Rangga terkejut melihat mereka udah ramai di ruangan yang tadinya sepi.
“Lisa…?” Rangga melirik heran akan keberadaan Lisa.
“gue tau awalnya kita emang pacaran pura-pura, cuma buat lo ngobatin rasa sakit gue ! gue tau lo ga cinta sama gue, tapi lo udah janji bakal coba cinta dan setia sama gue ! gue juga engga punya rasa ke elo Ngga, tapi itu dulu ! sekarang gue udah cinta sama lo ! lo sendiri yang bilang ke gue kalo lo bakal jadi bagian dari gue ! sekarang kenapa lo nyakitin gue Ngga ? kenapaaaaa ??” Lisa mulai terisak. Kania dan yang lain terkejut mendengar pengakuan pacaran pura-pura antara Rangga dan Lisa.
“Lisa… maafin aku, aku ga tau harus ngejelasin kaya gimana ke kamu” Rangga mendekati dan mencoba menenangkan Lisa yang udah terduduk di lantai.
“sekarang apa yang bakal lo lakuin ? lo mutusin gue ?” Lisa sinis. Rangga cuma terdiam, ia melirik ke arah Kenny yang didampingi Andrean. Kenny menggeleng. “kenapa Ngga? Lo ga bisa jawab? Jangan hirauin keadaan gue, gue bakal terima apa aja keputusan lo” Lisa mulai menghentikan isakannya.
“engga, aku akan terus ngedampingi kamu, maafin aku atas kejadian tadi” jawaban Rangga membuat Kania sakit, namun ia harus kuat, Andrean yang di sampingnya memeluk dan menenangkan.
“Kenn, kenapa lo diam aja ? lo rela Rangga buat gue ?” Lisa melirik Kania.
“gue rela Sa, Rangga emang ditakdirin buat lo, lagi pula urusan perasaan gue sama Rangga udah selesai. Maaf atas kejadian tadi” Kania berusaha tegar membuat yang lain tercengang. Lisa kembali mengeluarkan air mata.
“apa gue begitu kejam Kenn?” Lisa kembali terisak. Rangga memeluknya erat.
“engga, elo ga kejam, itu semua kesalahan gue yang ga bisa menggunakan timing yang ada” Kania mulai tersenyum. “sekarang gue ikut bahagia buat elo”
“terima kasih banyak Kenn, lo udah ngorbanin perasaan lo” Lisa bangkit dan memeluk Kania. Kania membalas pelukan tersebut dan melirik Rangga sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Setelah masalah kecil itu diselesaikan, akhirnya mereka bubaran dan kembali hendak merayakan atas kembalinya Kania. Mereka ke sebuah rumah makan dan melakukan makan malam bersama. Setelah selesai mereka semua berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing/
“thanks ya Kenn” ucap Rangga pada Kania dan kemudian ia pergi bersama Lisa. Kania hanya tersenyum mengangguk.
“kamu pulang sama siapa?” tanya Andrean yang dari tadi berdiri di samping Kania.
“hey, kita duluan ya?” anak-anak teather pada pamit, Kania dan Andrean mengangguk sambil melambaikan tangan mereka.
“pulang sendiri, kamu?” jawab Kania
“tadinya sendiri juga, tapi sekarang maunya berdua sama kamu. Mau?” tanya Andrean sambil mengerdip sebelah mata sipitnya.
“haha, ngerayu nih, oke deh aku mau kok” jawab Kania senang.
“haha asik, ayuk ahh” ajak Andrean sambil menggenggam tangan Kania, mereka menuju parkiran, mengambil mobil dan pulang. Di dalam perjalanan Andrean berusaha mengganggu Kania lagi. Dulu Andrean emang cool banget, pendiam dan suka jutek. Tapi selama dekat dengan Kania, sifatnya yang lain terlihat sudah. Kania memang nyaman dengan Andrean, makanya ia merasa lebih dekat dengan Andrean daripada Reynald.
“kenapa kamu relain sih tu cowo?” tanya Andrean sambil terus mengemudi mobilnya.
“karena aku tahu, perasaanku ke dia telah usai” jawab Kania lembut.
“hah? Maksud kamu?”
“aku hanya engga menggunakan waktu yang udah di tentukan, dulu Rangga buat aku, tapi sekarang Rangga sudah bukan buat aku. Kan kamu juga lihat tadi, ia juga sudah menyelesaikan perasaannya ke aku dengan kembali ke Lisa”
“aku engga ngerti”
“haha, udah lah jangan terlalu dipikirkan, aku juga udah menyelesaikannya”
“terus sekarang kamu giman?”
“maksud kamu?”
“kamu bakal nunggu waktu lagi buat si Rangga putus trus balik ke kamu?”
“haha, ya engga lah. Sekarang aku bakal menggunakan kesempatan yang ada buat aku”
“aduuhh ni anak ngomong apa sih?”
“ihhh Andrean kamu tuh lama-lama ngeselin juga deh ah” Kania mulai ngambek.
“yaa ampun, kan kamu tau bahasa indonesiaku masih kacau. Jadi agak lama deh kalau aku pahami kalimat-kalimat kamu tuh, jangan ngambek dong Kenn” Andrean mengusap-ngusap lembut pipi Kania. Kania merasa jantungnya mulai tak berdetak normal.
“huh? Iya deh aku ga ngambek kok” Kania berusaha tersenyum dan kembali menetralkan detak jantungnya.
“nah trus kesempatan apa yang ada di kamu?”
“aku bakal lebih peka sama orang di sekitarku, dan aku bakal menjaganya selalu”
“hmm, kalau aku adalah kesempatan itu, apa kamu juga mau mengambilku?”
“huh?” jantung Kania kembali berdetak tak karuan. Ia tahu bakal dapat pernyataan seperti ini, tapi ia tak menyangka bakal secepat ini. “emangnya kamu mau sama aku yang udah…” Kania tidak menyelesaikan ucapannya. Ia menundukkan kepalanya. Tiba-tiba Andrean menghentikan mobilnya. Ia menatap Kania lembut.
“Kenn, aku engga peduli sama yang tadi, itu cuma kesalahan di masa lalu dan itu wajar. Setiap orang juga pernah melakukannya bahkan ada yang lebih parah” Andrean mengangkat dagu Kania lembut dan menantap matanya dalam. “will you be mine?” tanyanya lagi.
Kania yang semakin kacau dengan detakan jantungnya, kini ia semakin gugup. Ia ingin menjawab tapi ia takut salah. Ia berusaha tetap terlihat tenang. “yes i want” ucap Kania akhirnya. “makasih ya kamu udah begitu baik sama aku padahal aku udah ngelakuin kesalahan yang ga seharusnya aku lakukan” Kania kembali murung.
“haha, gapapa kok, hmm atau kamu mau aku hapus kesalahan itu?” tanya Andrean sambil mendekatkan wajahnya ke Kania. Kania semakin deg-deg an.
“maksud kamu?” mata bulat Kania melihat mata Andrean, ia masih belum sadar maksud perkataan Andrean tadi. Namun tanpa hitungan detik bibir Andrean telah menempel di bibir kecil milik Kania.
“sekarang kesalahan itu telah terhapus” ucap Andrean sambil menyunggingkan senyum manisnya. Kania masih belum sadar apa yang baru saja ia alami. Mukanya semakin memerah. Ia hanya mengangguk pelan membuat Andrean terkekeh bahagia. Akhirnya Andrean kembali menjalankan mobilnya dan mereka pulang dengan hati yang senang.
~~~~~ FIN