hello..im back again xD…
akhirnya kelar juga ini tulisan^^ sorry kalo ga jelas ga jelas gitu yaa, namanya juga pemula xD
okay deh, silahkan dibaca^^ happy reading ya?? hehehe, eits lupa. komennyah jangan lupa yaaahh, buat perbaikan tulisan kedepan, hehehehe :p
==============================================
Raffa makin disibukkan dengan jadwal pemotretannya yang semakin padat dan juga ujian tes masuk perguruan tinggi. Sekarang dia mulai jarang terlihat bersama Sicha, dan Sicha pun mulai terbiasa dengan kesendiriannya, banyak teman-teman yang lain yang sering mengajaknya jalan. Ia sudah mengerti dengan kesibukan Raffa dan ia juga sudah menerima resiko menjadi pacar seorang seleb.
Hari ini Raffa tak mau lagi dibudakkan jadwal. Ia butuh refreshing, ia ingin menghabiskan waktu bersama pacarnya yang sudah lama tak bersama. Malam ini mereka akan pergi bersama untuk makan malam. Ia ingin menebus segala kesalahannya yang telah lama meninggalkan sang pacar.
Malamnya ia menjemput Sicha yang sudah siap sedari tadi, begitu ia memberhentikan mobilnya di depan rumah pacar tersayangnya, Sicha langsung muncul dari dalam rumah dan masuk ke mobil dan mereka pun pergi bersama. Sibuk memilih-milih restoran yang ingin di kunjungi, akhirnya mereka lebih memilih untuk makan di kedai pinggiran jalan yang sangat ramai jika malam hari. Usai makan mereka melanjutkan lagi perjalanan mereka. Mereka ingin ke taman kota. Sesampainya di taman kota mereka langsung melepaskan rasa kangen sambil menikmati keindahan malam.
“baby gimana kepalamu? Masih sering sakit?” tanya Raffa saat mereka duduk di atas taman.
“ya ampun, udah lama banget kali kak, udah baik juga kok, nih lihat gapapa” jawab Sicha sambil memukul-mukul lembut kepalanya.
“hahaha, bagus deh”
“hehe iya”
“hmm, i miss you so much”
“huh? Hahaha, Sicha juga. Kangen banget tau!”
“sorry, aku terlalu sibuk”
“it’s ok, Sicha ngerti kok”
“makasih sayang” Raffa mengelus kepala Sicha penuh kasih. Tiba-tiba ponselnya berdering, ia melirik sekilas dan meminta izin untuk mengangkatnya agak jauh dari Sicha. Sicha mengangguk dan ia menjawab panggilan itu. Sicha hanya bisa memperhatikan dari jauh tanpa mengetahui apa yang dibicarakan sama pacarnya itu. Saat kembali Raffa terlihat terburu-buru.
“baby, aku benci situasi ini tapi aku harus pergi, gapapa”
“iya gapapa, kakak boleh pergi”
“okay, kamu tunggu di sini ya, aku janji bakal balik segera, ini ga lama kok”
“hmm, okay deh”
“makasih sayang” ucap Raffa manis sambil mengecup bibir Sicha “aku pergi dulu ya” lanjutnya lagi dan pergi meninggalkan Sicha di taman.
Sicha akan menunggu Raffa kembali, ia juga masih belum ingin pulang terburu-buru. Ia berjalan sepanjang taman menikmati keindahan kotanya. Tak terasa telah dua jam lebih Raffa pergi dan masih belum kembali, Sicha berniat untuk pulang saja. Ia terus berjalan mengitari taman nan indah, namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang yang sangat ia kenal sedang duduk di kursi taman sendirian sambil terkantuk-kantuk. Disampingnya terlihat beberapa botol kaleng beer dan juga beberapa makanan. Sicha datang menghampiri.
“kak Dika?” tanyanya sambil memegang punggung pemuda itu.
“hey Sicha? Sendirian?” balas pemuda itu, suaranya masih semangat tak terdengar seperti orang mabuk atau mengantuk.
“iya, kak Raffa lagi pergi” Sicha duduk di samping Dika. “kakak kenapa di sini?” tanyanya lagi.
“cowok bodoh! Sering banget sih ninggalin cewek manis seperti kamu. Kakak lagi pengen nikmati suasana malam di taman ini”
“haha, dia lagi sibuk aja kok kak, oh iya pacar kakak mana?”
“sama seperti pacarmu, sibuk dengan dunia modellingnya”
“hahaha, berarti kita senasib dong kak”
“mungkin saja hehehe”
Mereka terus berbincang-bincang ringan dan juga bercerita seputar dunia les bahasa italia mereka. Menanyakan kabar teman-teman sekelas dengan Sicha dulu dan juga tentang para Signor yang galak. Mereka terus tertawa bahagia hingga malam semakin larut.
“Sicha, pacarmu selalu sibuk ya? Ga ada waktu buat kamu sedikitpun?”
“hmm, begitulah kak, namanya juga udah cukup terkenal, mau ga mau ya Sicha harus terima waktunya Cuma sedikit buat Si..” tiba-tiba omongan Sicha terputus saat bibir Dika sudah menempel di bibirnya.
“aku tahu, kamu sangat merindukan bibir pacarmu”
“kakak..” Sicha menutup mulutnya dengan tangan. Matanya mulai berkaca-kaca.
“hahaha, sudahlah..”
“iya Sicha memang kangen, tapi kan bukan dari kakak!” namun Dika tidak menaggapi apa yang keluar dari mulut Sicha, ia terus minum. Sampai-sampai Sicha tak sanggup melihatnya. Ia mengambil kaleng beer itu. “Kak! cerita sama Sicha, kakak kenapa? Ada masalah?”
“engga kok, kakak baik-baik aja” jawab Dika datar
“tapi kakak minum, please don’t make me worry! Cerita apa yang terjadi!” Sicha melihat kesedihan dalam wajah cowok di depannya itu, namun Dika tetap tak menggubris. “kak, please” Sicha memohon lagi, namun lagi Dika mencium bibir Sicha lembut. Membuat Sicha terkejut.
“don’t worry, kakak gapapa kok” jawab Dika akhirnya
“kak, kenapa kakak cium Sicha?”
“karena kakak mau…”
“tapi kakak tau kan, Sicha sudah punya pacar”
“haha”
“kenapa ketawa kak?”
“Sicha mau temenin kakak ga malam ini?”
“maksud kakak?”
“aku butuh kamu malam ini”
“kakak kenapa sih? Ada masalah? Cerita ke Sicha! Jangan seperti ini”
“kamu ga mau?”
“maaf kak, Sicha udah banyak ngelakuin kesalahan sama Raffa dan Sicha ga mau ngelakuin lagi!”
“baiklah” Dika mengambil lagi kaleng beer dan meminumnya.
“kakak, tolong jangan minum lagi, gimana kakak bisa pulang kalau begini?”
“kakak kuat kok” Dika terus minum. “oh iya, lupakan apa yang udah terjadi tadi oke? Anggap semua tak pernah terjadi, aku pergi dulu. Bye” Dika bangun dan meninggalkan Sicha sendiri bingung. Sicha tak ingin terlalu menghiraukannya. Ia masih ingin menunggu Raffa, ia melirik arlojinya, sudah empat jam lebih Raffa pergi. Sicha mulai ngantuk, lebih baik ia pulang saja sekarang. Ia bangkit dari kursi dan mulai melangkahkan kakinya. Setiap langkah kaki ia angkat, teringat lagi apa yang dilakukan Dika, ia kembali mengeluarkan air mata. Apa yang harus ia katakan jika nanti Raffa tau? Kenapa ia begitu bodoh? Begitu saja membiarkan cowok lain menciumnya? Ia kecewa pada dirinya dan terus menangis, tanpa melihat ke depan. Tiba-tiba seseorang menarik tangannya dari belakang membuat ia berbalik dan langsung jatuh dalam pelukan orang tersebut. Sicha mencoba membuka mata dan melihat siapa yang memeluknya.
“maaf membuatmu menunggu lebih lama” Raffa memeluknya erat.
“kakak..” Sicha semakin terisak dalam pelukan Raffa membuat ia sangat khawatir.
“kamu gapapa sayang?”
“maafin Sicha kak”
“lho, harusnya aku yang minta maaf kan?”
“engga, maafin Sicha karena Sicha udah jahat sama kakak”
“kamu gapapa kan?”
“maafin Sicha ya kak” Sicha menatap mata pacarnya dalam, ia memohon agar Raffa tak memarahinya atau meninggalkannya. Kemudian ia menceritakan apa yang dilakukan Dika padanya, tapi ia tidak menyebut nama Dika, ia tak ingin nanti Raffa mendatangi Dika dan terjadilah keributan. Sicha mendapati wajah kecewa Raffa, lagi ia meminta maaf dan meyakinkan Raffa.
“yaudah, ini juga salahku karena udah ninggalin kamu, seharusnya tadi aku ngantarin kamu pulang dulu”
“maafin Sicha kak”
“iya gapapa, tapi jangan diulangi lagi ya?” Raffa mencium bibir mungil Sicha lembut. Sicha mengangguk dan membalas ciuman kekasihnya. Setelah selesai mereka langsung pulang. Malam juga semakin larut, hawa dingin pun begitu menusuk.
########
Hari ini Sicha berencana untuk menjenguk Rangga, ia merasa jahat, telah melupakan Rangga, kakak yang sangat menyayanginya. Sesampainya di rumah sakit, Sicha langsung menuju kamar Rangga dirawat. Ia mendapati Rangga yang ceria, tak terlihat sakit. Rangga hanya sedang ditemani gadis kecil yang tak kalah cerianya.
“siang kak” Sapa Sicha saat tengah berada di kamar Rangga. Rangga dan gadis kecil itu menoleh dan membalas sapa Sicha “siang” jawab mereka serentak.
“kak Sicha ya?” tanya gadis kecil itu sambil mempersilahkan Sicha duduk. Sicha mengangguk dan tersenyum manis. Rangga hanya ikut tersenyum melihat sikap baik sepupunya itu. “yaudah deh, Ditha keluar aja dulu, silahkan kakak ngobrol ya” Ditha pamit keluar kamar dan membiarkan Rangga dan Sicha bersama.
“kamu kangen sama kakak kan?” tanya Rangga sambil tersenyum nakal.
“aish, apaan sih kak?” jawab Sicha. Malas banget Rangga tetap aja menggodanya.
“ga usah bohong, Ditha cerita banyak lho” kini Rangga terkekeh
“hah? Ya ampun, iya deh iya” akhirnya Sicha mengakuinya juga
“haha, emang kakak tu ngangenin kan?”
“uh..kenapa sih kakak ga bilang sama Sicha kalo kakak sakit”
“kan kamu ga pernah nanya”
“ishh, kakak ni lah”
“kakak Cuma ga mau kamu dekat sama kakak karena kasihan”
“ya ampun, Sicha bukan typical seperti itu kak”
“hahaha, kakak tau”
Mereka terus bercakap-cakap dan juga menceritakan keseharian masing-masing. Sicha juga menceritakan sedikit tentang hubungannya dengan Raffa. Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Sicha pamit pulang, hari pun mulai sore. Ia pamit dan meninggalkan Rangga di kamarnya.
Aduh, lagi-lagi aku lupa bawa jacket, padahal ini lagi musim dingin. Uhh menyebalkan. Sicha terus menggerutu dalam hati, ia terus berjalan sambil menggosok-gosok badan dengan tangannya. Ia terus berjalan ke halte dan ingin segera tiba di rumahnya.
########
“KEYSHA~!!!!” Raffa berteriak dari kamarnya keras, membuat Key yang lagi asik santai mendengarkan musik di kamarnya terkejut dan langsung menghampiri Raffa di kamarnya.
“ga bisa tanpa teriak ya Om?” tanya Key kesal begitu sampai di kamar Raffa.
“hehe, sorry deh” cengir Raffa.
“iya, emang ada apaan sih?”
“hmm,, Cuma mau tau pendapat kamu tentang ini, bagus ga?” Raffa menyodorkan kotak kecil yang berisi sepasang cincin.
“ya ampun, keren banget. Aku yakin Sicha pasti suka”
“haha, aku tau, dia semua suka apa aja dariku”
“uh?mau jalan jam berapa? Ini udah jam enam Om”
“hah? Serius? Kami mau jalan jam tujuh, yaudah aku mau siap-siap dulu. Makasih komentar kamu”
“huh, udah ngeganggu, trus ga bertanggung jawab” Keysha mengomel dan kembali ke kamarnya.
Setelah selesai dan merasa ganteng, akhirnya Raffa keluar kamar dan hendak langsung menjemput Sicha. Ia begitu gembira malam ini, ia tak bisa menggambarkan kebahagiaannya untuk malam ini, ia begitu merindukan suasana romantis bersama kekasih pujaan hatinya. Selagi asik mengemudi, ponselnya berbunyi.
“kenapa Chik?” Raffa langsung menyapa saat mengetahui siapa yang menelpon.
“kayanya lo musti ke sini sekarang deh” jawab cewek di seberang, Chika.
“apa ga bisa di tunda sampai besok?”
“gue ga yakin, lebih baik lo ke sini deh”
“aduh, untuk dua jam ke depan juga ga bisa?”
“Raffa, gue bilang sekarang, gue tunggu lo, ini penting banget!”
“tapi Chik…” obrolan terputus, Chika telah memutus sambungan itu, tanpa pikir panjang Raffa memutar balik mobilnya dan menuju ke rumah Chika.
Sicha telah selesai, ia menunggu Raffa, ia melihat jam dinding kamarnya, sudah hampir jam delapan malam, tapi belum ada kabar dari Raffa, sesaat kemudian hapenya berbunyi, ada pesan masuk dan ia langsung membacanya.
From : My Prince
Baby, sepertinya aku bakal telat jemput kamu
Sorry, ada urusan dadakan
Waiting for me ok? Love you
Sicha mendesah lembut, ia sedikit kesal pada Raffa, akhir-akhir ini ia begitu sibuk. Kenapa ga dibatalin aja jadwal mereka jalan jika ia terlalu sibuk? Ia melemparkan tubuhnya ke kasur dan hendak bergolek, namun hapenya berdering lagi, ia melirik layar hapenya dan mendapati nomor Rangga memanggil.
“iya kak?” ucap Sicha begitu panggilan tersambung.
“bisa temuin kakak?” jawab suara di seberang.
“kenapa kak?”
“kakak kangen kamu”
“hahaha, minggu lalu kita udah ketemu kan?”
“iya, tapi kakak masih kangen”
“yahh, ngegoda mulu sih, ada apaan sih kak?”
“kamu di mana?”
“di rumah”
“bisa temuin kakak?”
“kakak di mana?”
“di rumah sakit”
“mau sih kak, tapi gimana ya?”
“kenapa? Cuma jumpai kakak di rumah sakit”
“iya tapi..”
“kenapa?”
“nanti deh Sicha pergi”
“kenapa ga sekarang?”
“Sicha lagi nunggu kak Raffa”
“ya ampun, sorry kakak lupa”
“kenapa kak?”
“gapapa kok, yaudah sorry kakak udah ganggu”
“ganggu apa?”
“lupakan, i miss you so much my dear”
Sambungan terputus, Sicha tak sempat membalas ucapan terakhir dan juga mengucapkan selamat malam. Sicha bingung dan khawatir, namun ia coba tepis pikiran itu dan ia kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Sicha terkejut dan bangun dari kasur, ternyata ia telah terlelap. Ia melirik jam dinding di kamarnya. Tiga jam lebih Raffa pergi apa ia sudah kembali? Ia mendekati jendela kamarnya dan melihat ke luar, ia mendapati mobil Raffa yang terparkir di depan rumahnya. Ia mengambil handphonenya dan melirik ke layar ada panggilan tak terjawab dari Raffa. Ia keluar dari kamarnya dan berlari menuju teras depan rumahnya.
“Kak” panggilnya lembut saat mendapati Raffa yang terduduk di depan rumahnya. Raffa melirik dan tersenyum. “maaf Sicha terlambat, kakak udah lama nunggu ya?” tanyanya lagi.
“ahh, engga kok, ga papa” Raffa hanya tersenyum menggelengkan kepala.
“maaf Sicha udah ngerusak ..” belum sempat Sicha menyelesaikan omongannya, telunjuk Raffa telah menempel di bibir Sicha. “hsssttt..sudahlah ga papa, sekarang kan kita sudah bersama, nge-date-nya di sini aja ya hehe” Raffa tersenyum manis.
“hmm, yaudah deh ga papa, kalo gitu Sicha ambil minum dan makanan ringan dulu ya?” Sicha hendak beranjak masuk ke dalam rumahnya, namun Raffa buru-buru menarik lengan Sicha mencegah.
“ga usah sayang, kamu aja udah cukup buat aku” Raffa mengerdipkan sebelah matanya.
“huhh, dasar gombal” Sicha memukul lengan Raffa. Dan mereka kembali duduk di kursi teras mengobrol ria. Melepas kerinduan dan bercerita tentang banyak hal dengan kesibukan hari-hari mereka. Sicha juga menceritakan tentang Rangga dan Raffa hanya mendengarkan dengan baik. Saat obrolan terasa sudah selesai, Raffa ingin menjalankan maksudnya.
“baby..aku punya sesuatu buat kamu” Raffa menyodorkan kotak perhiasan kecil yang diambil dari sakunya.
“apa ini?” Sicha mengambil dan melihat isi di dalam kotak kecil itu.
“hmm, mungkin ini ga terlalu bagus, tapi aku tetap ingin memberikannya” ucap Raffa simpel sambil memakainkan cincin itu pada jari manis Sicha dan memakai pasangannya pada jarinya.
“ahh, engga kok, buat Sicha ini bagus banget dan berharga banget. Makasih ya kak” ungkap Sicha jujur sambil memeluk Raffa.
“beneran? Hehe” Raffa cengiran. Sicha hanya mengangguk dan kembali tersenyum senang. “trus?” Raffa melirik nakal ke Sicha.
“huh?” Sicha mayun.
“i want it, will you?” Raffa memelas.
“sure” ucap Sicha sambil mencium kekasihnya itu.
“makasih sayang, aku pamit pulang ya, udah larut”
“okay, hati-hati ya” Sicha kembali ke kamarnya, malam ini ia sangat bahagia walau Raffa agak terlambat datang. Ia melemparkan tubuhnya ke kasur dan kembali terlelap.
########
Suara hape Sicha berdering, dengan malas dan setengah mengantuk ia meraih hapenya.
“halo?” Sicha bersuara lembut.
“kakak…” terdengar suara di seberang terisak.
“siapa?” Sicha membuka matanya lebar dan melirik layar hapenya, namun hanya terdapat nomor yang ia tak kenal.
“maaf, ini aku kak. Ditha” suaranya masih terisak.
“iya, kenapa Dith?” Sicha mulai khawatir dan deg-degan.
“kak Rangga..”
“kenapa dengan kak Rangga, aishh perasaan kakak ga enak nih”
“iya kak, Kak Rangga meninggal semalam”
“apa?” Sicha benar-benar shock, ia mulai mengeluarkan air matanya.
“iya, dan aku juga nemuin diarynya, aku baca isinya dan aku banyak nemuin nama kakak”
“iya, kami memang dekat, dia kakak yang baik”
“kak, kak Rangga itu cinta banget sama kakak, makanya di detik terakhir ia bernafas semalam, ia ingin kakak di sampingnya.”
“ya ampun, kakak ga pernah tau, kakak menyesal banget ga datang semalam”
“sudahlah kak, udah lewat juga”
“kakak ga tau mau bicara apa lagi”
“kak, aku tutup teleponnya ya, sebentar lagi kami mau berangkat”
“eh? Kalau kakak boleh tau, di mana dimakamnya?”
“di kampung nenek kak, Voorburg”
“ya ampun, jauh banget, yaudah makasih ya Dith” sambungan terputus. Sicha kini sudah duduk di atas kasurnya, air matanya keluar terus tak terkendali. Ia kecewa sama dirinya. Kenapa ia tak datang semalam? Kenapa ia tetap mengecewakan Rangga di akhir hayatnya. Ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi, ia ingin menjumpai Raffa sekarang, ia ingin cerita semua ke pacarnya itu. Tapi ternyata ia melupakan satu hal.
Saat melangkahkan kaki ke luar rumah, ia mendapati mobil Raffa di depan rumahnya, ternyata Raffa telah menunggunya, ia lupa kalau hari ini Raffa akan mengantarnya ke pusat bahasa untuk mengirim naskah pertama.
“kamu kenapa sayang?” Raffa mendapati wajah sedih Sicha saat gadis itu berada dalam mobil. Tapi Sicha tak berbicara, air matanya terus saja mengalir deras di pipinya. Membuat Raffa semakin khawatir. Ia memeluk Sicha dan menghapus air mata Sicha. “sudah, jangan menangis” Raffa terus mencoba menenangkan Sicha. Akhirnya Sicha menceritakan kesedihannya, dan menceritakan semuanya tentang Rangga.
“aku ngerti, tapi kamu tidak boleh terus larut dalam kesedihan, ini hanya akan membuat ia susah”
“iya”
“biarkan ia pergi dengan tenang”
“iya kak, aku harus kuat”
“bagus, kamu pasti kuat” Raffa tersenyum dan menjalankan mobilnya, mereka akan menuju tempat tujuan mereka.
“nanti aku ga bisa jemput, ga papa kan?” tanya Raffa saat telah berada di depan gedung pusat bahasa.
“iya, ga papa. Nanti Sicha pulang naik bis saja” jawab Sicha sambil tersenyum manis.
“baiklah, nanti ku jumpai saat di rumah. Good luck baby” ucap Raffa sambil mengecup kening Sicha.
“iya, makasih sayang” ucap Sicha dan beranjak keluar dari mobil. Sicha berjalan masuk ke gedung pusat bahasa itu dengan tenang. Ia ingin melewati hari ini dengan senang walau hatinya sedang berduka.
########
Sicha berjalan santai menuju salah satu restaurant terdekat dari pusat bahasa. Ia tak ingin pulang dulu, ia ingin mengisi perut kosongnya yang sedari tadi pagi belum diisi. Setelah selesai makan ia berniat langsung pulang. Ia melangkah ke luar dari restaurant kemudian ia melirik selebaran yang menempel di dinding-dinding bangunan. Ia hanya melirik tempat pementasan boyband yang sangat terkenal itu, dan berniat ingin menontonnya untuk menghilangkan sedikit kesedihan dan kesuntukan. Setelah mengetahui ia langsung melangkanhkan kakinya ke arah acara pementasan itu yang tidak jauh dari restaurant yang baru saja ia masuki. Dan ia pun berniat untuk berjalan kaki saja, ia ingin menikmati suasana dingin ini lebih lama. Ia terus melangkahkan kaki hingga akhirnya sampai di sebuah kerumunan. Ternyata acara sudah di mulai dari tadi. Ia hanya ingin menonton dari jarak jauh, ia tidak ingin bersempit-sempit ria di sana. Lagi pun banyak gadis-gadis yang berteriak histeris memanggil idolanya yang lagi mentas, ia tidak ingin telinganya rusak hanya gara-gara teriakan konyol para fans fanatik itu.
Sicha terus menikmati alunan musik dan mendengar suara lembut sang vokalis yang sangat bersemangat. Sesekali terdengar teriakan para fans memanggil nama si vokalist, Adit. Sicha hanya tersenyum-senyum, lucu melihat mereka mengeluarkan suara, namun sama saja, yang dipanggil juga tidak menggubris. Sicha duduk di kursi dekat pintu ke luar. Sesaat suara musik itu berhenti, boyband itu ingin istirahat sejenak dan akan dilanjutkan dengan boyband yang lain. Sicha duduk hanyut dalam lamunannya. Tiba-tiba seseorang memegang pundaknya.
“nonton juga?” sapa cowok yang sangat dikenal Sicha.
“eh? Kak Dika? Ikutan nonton juga?” Sicha sedikit terkejut mendapati Dika telah duduk di sampingnya.
“hahaha, kamu tuh ga sadar ya?”
“lho, kok ketawa? Kenapa kak?”
“yaudah, tunggu sebentar ya, tuh udah dipanggil, nanti aku temui lagi” ucap Dika dan kemudian berlalu ke kerumunan yang telah memanggil-manggil nama panggungnya. Sicha hanya melongo menyaksikannya. Para gadis-gadis itu berteriak-teriak, memeluk dan berfoto-foto dengan Dika alias Adit itu. Setelah selesai, Dika kembali menjumpai Sicha yang masih belum sadar akan apa yang dilihatnya.
“hey, kenapa?” Dika melambaikan tangan di depan wajah Sicha.
“kak Dika vocalis BB ini? Kok Sicha ga tau ya?”
“haha, iya. Kamu ga tau karena ga pernah mau cari tau, hahahaha”
“ya ampun, kak Dika adalah Adit?”
“kamu lupa nama kakak ya? Pradika Raditya”
“ya ampun, bodohnya Sicha, ga tau apa-apa hehe”
“hmm, kamu ga mau ikutan foto bareng sang idola nih?”
“huh? Ngapain foto kan tiap hari juga Sicha bisa jumpa kakak, hehehe”
“hmm, bener juga ya..yaudah deh, aku kasih kamu yang ga bisa di dapat tiap hari ya?”
“hah? Emang apa?” Sicha membulatkan matanya penasaran, sekejap Dika menempelkan bibirnya di bibir Sicha. Sicha mendorong Dika dan terkejut. “kak!!”
“hehe, sorry”
“kakak tu selalu bikin Sicha kesal ! Sicha pulang ya” tanpa menunggu jawaban Dika, Sicha langsung melangkahkan kakinya ke luar dari arena pementasan itu. Dika memanggil-manggil, namun Sicha hanya berpura-pura tidak mendengar. Ia kesal sekali, kenapa Dika selalu seperti itu jika berjumpa dengan dirinya. Apa sih yang ia mau? Sicha melangkah cepat menuju halte. Ia ingin segera tiba di rumah.
########
Sicha lagi telpon-telponan dengan Keysha, ia menceritakan tentang Rangga. Keysha ikut berduka atas berita sedih itu. Kemudian Sicha menceritakan tentang Dika dan juga kelakuan Dika atas dirinya selama ini. Keysha sedikit kecewa sama Sicha, kemudian Sicha menjelaskan lagi, ia memang merasa bersalah, ia terlalu dekat dengan semuanya. Ia terlalu baik dengan orang-orang di dekatnya. Sicha bingung atas sikap Dika. Keysha hanya menyarankan untuk meninggalkan Dika, jangan pernah berhubungan lagi dengan Dika. Setahu mereka Dika telah memiliki kekasih, tapi ia masih terus mendekati Sicha. Menurut Key, Dika hanya seorang playboy yang ingin mempermainkan perasaan perempuan. Bisa saja ia juga melakukan hal yang sama dengan cewek-cewek lain, dan karena juga ia merasa dirinya seorang yang terkenal dan banyak fansnya.
Setelah selesai menelpon Key, Sicha menelpon Reva. Ia juga menceritakan tentang perjalanan cintanya dengan Raffa akhir-akhir ini.
“yasudah, putusin saja. Sepertinya ia tidak begitu mencintaimu” Suara kesal Reva terdengar dari seberang.
“iya sih, tapi Sicha udah sayang banget sama kak Raffa. Dan dia juga ngasi Sicha cincin lho” wajah Sicha memerah dan sangat bahagia.
“oh ya? Dia melamarmu?” suara Reva tiba-tiba berubah bahagia.
“ya ampun, belum sampai tahap itu kak”
“ohh, hanya cincin pasangan seperti biasanya ya?”
“begitulah” Mereka terus bercakap-cakap. Sicha menceritakan kesibukannya dan juga kesibukan Raffa yang memang sangat sibuk. Namanya juga seleb dan lagipula ia juga siswa tahun akhir. Kemudian Sicha juga menceritakan tentang kepergian Rangga. Reva ikut sedih, ia berjanji akan mendoakan Rangga saat ke Gereja nanti. Sicha hanya berterima kasih.
“oh ya, gimana hubunganmu dengan Dika? Ia masih sering menjumpaimu?”
“sering kak, setiap kali Sicha lagi sendiri dan bosan, pasti Sicha jumpa sama kak Dika, entah dia ngikutin Sicha terus” suara Sicha berubah lesu.
“lho, kamu kenapa? Asik kan ada yang jauh lebih merhatiin kamu”
“iya sih kak, Sicha senang, tapi dia beda kak”
“maksudmu?”
“entahlah, apa yang ada di pikirannya, dia udah nyium Sicha. Padahal kan kakak tau kalo kak Dika udah punya pacar”
“emang kamu yakin, dia masih sama pacarnya?”
“hah?”
“mereka udah putus, pacarnya ga terima waktu Dika lebih banyak buat boyband-nya dan jadwal manggung. Padahal Dika selalu terima waktu pacarnya lebih luang untuk dunia modelling yang ia tekuni. Kasihan Dika”
“ya ampun, tapi walaupun ia udah putus, ga seharusnya ia melakukan sama Sicha, kan Sicha udah punya pacar”
“Sicha, dengerin kakak ya, Dika itu cinta sama kamu, dia sayang sama kamu. Dia sedih saat tau Raffa tidak memperhatikan kamu lebih. Dika selalu berharap kamu putus sama Raffa, makanya kakak juga ikut dukung, tapi sekarang terserah kamu aja deh, yang ngejalaninya kan kamu. Kakak Cuma ga mau hati kamu sedih terus, apalagi saat kamu cerita kalo Raffa sering jalan sama mantannya”
“Sicha pusing kak”
“yaudah, tenangin aja dulu pikiran kamu, nanti kita jumpa ya. Kita cerita lagi” Reva memutuskan panggilan saat mendapat setuju dari Sicha. Sicha bernafas perlahan, ia kembali memikirkan apa yang dikatakan Key dan Reva. Ia benar-benar pusing. Ia ingin meyakinkan perasaannya kalau ia benar-benar mencintai Raffa.
########
Ponsel Sicha kembali berdering, ia melirik layarnya dan mendapati nomor Raffa, sudah hampir seminggu mereka tidak bertemu, Raffa membatalkan janjinya kala itu karena ada panggilan dadakan, tanpa pikir panjang Sicha langsung menekan tombol OK.
“halo?”
“baby, aku baru saja pulang, sekarang mau istirahat, nanti malam kita keluar ya, aku janji kali ini ga akan batal lagi”
“okay”
“yang semangat dong sayang”
“hehe, iya deh, Sicha juga mau beres-beres dulu”
“yang cantik ya sayang hehe”
“huh..don’t worry”
“okay, see you” Sicha memutus panggilan itu. Hatinya kembali riang, ia segera menyiapkan segala sesuatu buat nanti malam. Ia ingin terlihat lebih cantik dari biasanya untuk malam ini, ia juga tidak ingin selalu disetiap date-nya dengan Raffa berujung air mata lagi.
Sicha sudah selesai berdandan, malam ini ia kelihatan jauh lebih cantik dari biasanya. Ia ingin membuat malam ini berkesan. Ia tidak ingin sedih lagi nantinya. Ia ingin Raffa tidak tega untuk meninggalkannya malam ini. Ia turun dari kamar saat mendengar suara mobil Raffa yang berhenti di depan rumahnya. Ia mendapati kekasihnya yang keluar dari mobil dan tak kalah tampannya.
“wow, you really pretty tonight baby” Raffa takjub melihat kekasihnya yang cantik melebihi putri raja walaupun ia tidak memakai gaun putri.
“hahaha, gombal lagi deh” Sicha tersipu dan mencubit lengan Raffa. Mereka masuk ke mobil dan akan memulai perjalanan mereka malam ini.
“kali ini kemana lagi?” tanya Sicha saat mobil mulai bergerak meninggalkan rumahnya.
“bagaimana kalau kita ke pantai, rasanya akan sangat seru jika datangi di saat suasana seperti sekarang” jawab Raffa sambil terus mengemudi.
“hmm, i think so” Sicha tersenyum menanggapi dan mobil terus melaju hingga sampai di tempat yang mereka maksud.
“arrived” Raffa turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Sicha.
“waah, indah sekali” Sicha terkagum-kagum.
“iya, yuk” Raffa menarik lengannya Sicha dan mereka berjalan ke kursi yang telah di sediakan untuk para pengunjung di pinggiran pantai itu. Malam yang indah dengan pemandangan tak kalah keren.
“baby, sorry ya kalau selama ini aku sering ninggalin kamu dan terlalu sibuk dengan jadwalku” Raffa mulai berbicara sambil memegang tangan Sicha.
“iya, Sicha ngerti kok, ga papa” ungkap Sicha tulus.
“makasih, kamu selalu ngertiin aku”
“ya amp..” belum selesai Sicha menyelesaikan ucapannya, namun Raffa telah mencium bibir Sicha lembut. Sicha hanya menerima ciuman dari kekasihnya itu. Setelah selesai, Sicha mendapati mata Raffa yang mulai berair. Sicha khawatir.
“i miss you so much, i love you, i want you and i really need you baby” Raffa kembali berucap sambil memeluk Sicha kuat. Sicha benar-benar terheran akan sikap Raffa malam ini. Ia hanya mengangguk dan membalas pelukan Raffa.
“i miss you too” Sicha mulai terisak.
“ya ampun, kamu kenapa nangis sayang?” Raffa melepaskan pelukannya dan mengusap pipi Sicha lembut.
“Sicha ga papa kok, Sicha senang banget untuk malam ini” ungkap Sicha sambil memegang tangan Raffa.
“beneran?” Raffa terlihat khawatir, namun Sicha hanya mengangguk. Tiba-tiba hape Raffa berbunyi, ada sms masuk. Sesaat kemudian Raffa membaca pesan dari Chika yang mengajaknya untuk pergi sekarang. Raffa menatap mata Sicha.
“kakak mau pergi dengannya?” tanya Sicha saat mendapat jawaban atas keingin tahuannya dari mata Raffa.
“tidak sekarang, dan jangan bahas dia di date kita sekarang” Raffa menggenggam tangan Sicha meyakinkan.
“sorry” ucap Sicha sambil menundukkan kepalanya.
“baby, please..aku ga mau acara kita rusak lagi malam ini” Raffa mengangkat dagu Sicha dan menatap matanya.
“terus?” Sicha menatap lelah pada Raffa.
“aku ingin bersamamu malam ini” ungkap Raffa lagi. Kemudian hape Raffa berdering lagi ada panggilan masuk. Setelah mendapat anggukan dari Sicha ia langsung menerima panggilan itu. Sicha tak begitu paham apa yang dikatakan Raffa dengan si penelpon. Karena ia berbicara dengan bahasa Jerman. Setelah memutus panggilan itu Raffa kembali terlihat sedih.
“sudah lah kak, pergi saja, Sicha ga papa, itu pasti sangat penting”
“i really sorry baby”
“nevermind, i’m ok”
“okay, aku janji ini engga lama, aku akan kembali, kamu tunggu di sini ya, plis kali ini percaya sama aku”
“iya kak, Sicha selalu percaya, Sicha bakal nunggu kakak disini”
“makasih sayang, aku pergi ya” Raffa memeluk Sicha dan kemudian meninggalkannya di pantai yang memang masih sangat ramai pengunjung.
Sepeninggalan Raffa, Sicha bangun dari tempat duduknya dan berjalan di sepanjang pinggir pantai. Ia menikmati keindahan malam ini dan juga sesekali merentangkan tangannya menghirup udara hangat di malam hari pada musim dingin.
Ohmai, apa yang sedang menimpaku? Kenapa aku begitu sedih saat menjalani hubungan dengan orang yang sangat aku cintai? Bintang yang cantik, apa aku begitu sial dalam hal cinta? Kenapa aku sampai sebodoh ini? Kenapa aku terus mempertahankan hubunganku dengan orang yang selalu membuatku menangis? Padahal semua ingin kami putus. Dan kenapa aku mengabaikan cinta orang-orang yang lain di sekitarku? Apa yang sedang aku pikirkan? Bintang kecil nan indah, aku ingin kehidupan cintaku berakhir bahagia layaknya cerita dongeng yang aku baca.
Sicha terus berkata dalam hati, ia telah duduk di pinggir pantai dengan kaki telanjang, ia biarkan air laut menjilat kakinya, ia hanya memandang langit nan indah yang selalu ceria saat bintang hadir di sana. Air matanya mulai mengalir. Ia ingin malam ini benar-benar mengeluarkan isi hatinya yang terluka. Ia tetap ingin menunggu Raffa.
########
“aku mau kamu cerita semua ke Sicha” ucap Chika saat mereka keluar dari sebuah gedung besar di pusat kota.
“aku ga sanggup Chik, aku ga mau ia terluka lagi” jawab Raffa.
“jadi, mau sampai kapan kamu terus bohong Raff? Kamu tau ga kalo dia bakal terluka nantinya, Sicha hanya mau kamu jujur”
“aku ga kuat”
“terus kamu mau apa?”
“aku tahu apa yang aku lakukan, walau ini bakal menyakitkan”
“kamu jangan gila”
“jangan khawatir, aku sadar apa yang aku lakukan”
“baiklah, aku percaya”
“makasih Chika, aku harus kembali menemui Sicha”
“okay, bye”
Raffa memasuki mobil dan langsung mengemudi cepat, ia ingin segera menjumpai Sicha yang sudah ditinggal hampir satu jam lebih di pinggir pantai, ia mengkhawatirkan keadaan Sicha, cewenya yang super ceroboh, ia tahu pasti Sicha juga tidak membawa jaket atau sweaternya malam ini. Setelah tiba, ia memakirkan mobilnya dan langsung mencari-cari Sicha. Ia mendapati Sicha yang sudah terduduk di pinggir pantai sambil memeluk kakinya. Wajah ia letakkan di atas lutut dan terus memanggil nama kekasihnya. Raffa yang mendengarkan jadi sangat sedih. Ia langsung duduk memeluk Sicha dari belakang.
“udah kembali?” tanya Sicha menoleh dan mendapati Raffa di belakangnya.
“maaf aku sudah merusak acara kita lagi” ucap Raffa sambil menarik lengan Sicha membuatnya berdiri.
“iya, engga apa-apa, aku tahu kakak sibuk banget” Sicha berdiri dan menatap Raffa lembut dan tersenyum manis. Raffa menatap dalam mata Sicha, ia masih belum mampu berkata jujur pada Sicha, ia sangat mencintai gadis di depannya. Raffa menarik Sicha ke dalam pelukannya dan memeluk gadis itu kuat. Lagi Sicha terkejut dan hanya membalas pelukan Raffa, malam ini Raffa benar-benar aneh membuat Sicha khawatir.
“baby, i love you so much, i miss you” Raffa mengusap rambut Sicha lembut “kakak sayang kamu” tambahnya lagi. Kini Sicha tak sanggup membendung, air matanya terus jatuh, ia mulai terisak dalam pelukan Raffa.
“Sicha juga sangat sayang sama kakak” ucap Sicha di sela tangisannya.
“aku tahu”
“iya, kakak memang selalu tahu”
“aku minta maaf banget”
“Sicha udah maafin kok”
“makasih sayang, sudah..jangan nangis lagi ya” Raffa melepas pelukannya dan menghapus air mata Sicha.
“iya iya, Sicha ga nangis lagi” Sicha masik terisak dan ikut menghapus air matanya.
“bagus, sekarang senyum ya” ucap Raffa sambil memegang wajah Sicha dan menatap matanya lembut. Sicha kembali menyunggingkan senyuman manisnya, membuat Raffa ikut tersenyum. “baby,,could i kiss you?” ucap Raffa lagi tetap memegang wajah Sicha dan menatap mata gadis itu dalam.
“sure” Sicha mengangguk membolehkan. Dan sesaat Raffa mencium bibir Sicha lembut dan mendalam, Sicha membalas ciuman Raffa dan melingkarkan tangannya di leher Raffa. Mereka menikmati kebersamaan mereka hingga larut. Setelah selesai, Raffa kembali memeluk Sicha erat. Dan mencium kening kekasihnya itu.
“sayang, kita pulang yuk, udah larut nih” ajak Raffa, saat sadar mereka telah lama berada di pantai itu, Sicha mengangguk dan mereka pun beranjak pulang.
########
Tadi pagi Sicha ke toko buku dan membeli beberapa buku yang ia butuhkan, ia juga membelikan buku buat Raffa. Ia tidak memberikan langsung pada pacarnya itu, namun ia paketkan dan mengirim lewat jasa pengiriman kilat. Ia ingin terlihat seperti hadiah kiriman. Setelah pulang dari kantor pengiriman ia langsung pulang. Hari ini ia ingin makan siang di rumah, soalnya kedua orang tuanya ingin bersama siang ini. Sampai di rumah ia langsung menuju ruang makan. Makanan sudah tertata rapi di atas meja. Ia menjumpai orang tuanya dan mencium mereka hingga akhirnya ia duduk di kursi makannya. Sesaat kemudian suasana makan siang pun terasa. Mereka menyantap makanan dengan lahapnya.
“sudah lama kita tidak pernah merasakan suasana seperti ini” Papa Sicha tiba-tiba berkata di sela menyantap makanan.
“iyalah, anak kita sibuk terus makan di luar” kini mama Sicha berkomentar.
“ya ampun, mama papa Sicha ga sibuk, tapi mama dan papa aja kurang beruntung hehehe” Sicha mencandai orang tuanya, sesaat mereka tertawa kecil dan kembali makan.
“oh ya, apa kamu senang sekolah di sini?” Papa bertanya lagi.
“kenapa pa?” tanya Sicha heran dan melirik mamanya, namun mama cuek saja.
“ya ga papa sih, kalau kamu kurang suka, kita bisa kembali ke Amerika” ucap papanya sambil meneguk air di depannya.
“oh, engga kok..Sicha senang sekolah di sini, temannya asik semua” ucap Sicha tersenyum.
“temannya yang asik atau punya pacar di sekolah itu?” kini mama mencoba menggoda.
“yaaah mama, tau aja deh” Sicha tersipu. Kemudian mereka tertawa lagi dan kembali melanjutkan makan siang mereka hingga selesai. Sicha senang sekali dengan suasana yang sudah sangat jarang ia rasakan.
########
Kiriman Sicha sampai juga di rumah Raffa. Raffa menemukan paket itu saat masuk ke kamarnya, ia baru saja pulang dari rumah Chika. Ia mencari-cari nama pengirim, namun tidak menemukannya. Hanya ada nama dirinya dan alamat rumahnya. Ia ingin menanyakan pada ponakannya.
“KEYSHAAA~~” Raffa berteriak dari kamarnya, membuat Keysha berlari cepat menemuinya.
“kenapa sih Om? Ada kebakaran?” tanya Key panik.
“kamu tau ga ini kiriman dari siapa?”
“ya ampun, ga penting banget deh. Bikin kaget aja!”
“aku nanya ke kamu Key!”
“ck, mana aku tau, buka aja isinya, siapa tau ada petunjuk di dalam”
“ga deh, takutnya bom”
“aish, lebay banget deh”
“yah Key, kamu kan tau aku seleb”
“aish, yaudah sini aku yang buka” Key meraih kotak kiriman yang di kirim ke Raffa dengan kesal, ia membuka bungkusan dengan perlahan, setelah selesai ia menemukan buku tebal. Buku panduan belajar dan hidup di negara Jerman. Ia memberikannya pada Om yang super lebay yang sedari tadi menyaksikan kesibukan Key.
“eh om, ada suratnya nih” Key menyodorkan kertas putih yang ada tulisan ke omnya. Raffa mengambil kertas itu dan ingin membacanya. Namun Key langsung bergerak ingin meninggalkan kamar omnya. “udah selesai? Aku mau balik ke kamar” Key langsung beranjak ke luar.
“iya, makasih ya Key, nanti ku cium deh, haha” Raffa menggoda dan sekejap terkekeh saat mendengar suara teriakan penolakan dari Key. Ia kembali melirik ke kertas putih di tangannya, ia membaca tulisan yang sangat ia kenal itu.
Because i am so stupid and such a fool, my eyes don’t see nobody but you
even though i know you love someone else, you could never know the pain that i felt
you probably never think of me at all, and i know we’ve no memories
but the one who really wants you is me, in the end only my tears will fall
i stay, you walk away, i stand back, watching you day by day
you can’t see that i am so in love with you, like the wind you just fly right through
there are days when i just miss you so much, there are days when i just long for your touch
i love you somehow flies right off my lips and so
once again i am left crying for you, once again i am left here missing you
i love you i am waiting for you
you’ll probably never have a dream of me, and i know i am in love all alone
that’s why we don’t really have memories, in the end. I’ll make them all on my own
love’s like a river of tears, that will flow whenever you’re not here
even though your heart will never be mine, it’s enough just seeing your smile
there are days when i see nothing but rain, there are days when i just feel so much pain
i miss you somehow flies right off my lips and so
once again i am left wishing for you
bye, bye, never say goodbye, even though it’s not me by your side
i need you, i just can’t say it but i want you
i cannot stop wishing for you, i love u, i miss u
once again i am left wishing for you, once again i am left here missing you
i love you i am waiting for you
Raffa membaca dan larut dalam isi tulisan itu, ia ingat nanti sore mereka akan berjumpa. Ia langsung bergegas, ia tidak ingin membuat Sicha menunggu lagi. Hari ini Raffa tidak menjemput Sicha, mereka janji bertemu di taman kota saja karena Sicha ada jadwal pelatihan bahasa di pusat bahasa.
########
Raffa tiba di taman kota, ia mulai mencari sosok Sicha dan menemukan gadis itu di kursi dekat kolam ikan berada, ia sedang menikmati ikan-ikan kecil yang berenang bebas di sana. Raffa mendekatinya.
“maaf sedikit terlambat” ucap Raffa dan duduk di samping Sicha.
“ga papa kok kak, Sicha juga baru sampai” balas Sicha dan tersenyum manis.
“ngomong-ngomong, aku udah terima paket kiriman dari kamu” Raffa berkata datar.
“uh? Iya, Sicha kirim buku itu, soalnya Sicha pernah dengar kakak menerima telpon dengan bahasa itu, jadi Sicha pikir kakak butuh..” Sicha belum menyelesaikan ucapannya.
“kenapa kamu begitu baik sama aku?” Raffa memotong dan tetap dengan suaranya yang datar.
“maksud kakak apa?” Sicha mulai bingung.
“aku juga sudah baca surat kamu” Raffa masih bersuara dengan datar, pandangannya lurus ke depan.
“maaf, Sicha Cuma ga mau kehilangan kakak” suara Sicha mulai melemah, ia menundukkan kepalanya, melihat ke bawah.
“apa kamu benar-benar mencintaiku? Maaf aku bertanya seperti ini” Raffa melirik wajah Sicha yang tampak terkejut.
“tentu saja, kenapa kakak nanya gitu? Kakak ga beneran suka sama Sicha?” Sicha menatap wajah Raffa, matanya mulai berair.
“maaf” Raffa menghela nafas berat.
“apa?” Sicha mulai histeris.
“kamu masih ingat awal kita jadian? Itu hanya kecelakaan, aku ingin mengisi kekosongan hatiku, dan bukankah kita baru kali itu bersapa? Bisa kamu pikir sendiri, mana bisa aku langsung mencintai cewek yang baru sekali kutemui” Raffa berkata tanpa menatap Sicha, ia tidak ingin Sicha mendapati kebohongan di sana.
“kakak kejam! Kakak mainin perasaan Sicha? Kakak tau kan? Sicha tulus cinta sama kakak, Sicha berusaha jadi pacar yang baik, tapi kenapa kakak tega?” air mata Sicha semakin banyak.
“aku udah coba berusaha buat mencintaimu, tapi maaf” Raffa tetap memandang lurus ke depan.
“kak, kenapa kakak tega sama Sicha? Apa mau kakak hah? Kenapa nyakitin Sicha? Kakak tau gimana perasaan Sicha sekarang?” Sicha terus berteriak, menangis tak karuan.
“aku minta maaf”
“R A F F A A A A ! ! !” Sicha berteriak kesal.
“aku mohon, lupakan aku dan carilah cowok lain yang lebih baik dariku”
“gila! Sicha ga bisa, i just want you!”
“please, just try to find other boy, i’m ok”
“maaf, Sicha ga bisa..terserah kakak mau bilang apa”
“Sicha, please, kalau kamu begini terus yang ada kamu semakin tersakiti”
“cinta ga selamanya bahagia kak”
“Sicha, aku mohon”
“jangan paksa Sicha”
“okay, terserah kamu, tapi aku sangat berharap kamu cari cowok lain”
“kak, kenapa kakak ga bisa cinta sama Sicha?”
“i don’t know, aku tidak punya alasan, jangan kamu tanya lagi”
“kenapa kakak gini sih? Apa karena Chika?”
“aku mau pulang, ada hal penting, sampai jumpa besok”
“kakak!”
“sudahlah Sicha, jangan terus paksa dirimu, aku pulang bye” Raffa bangkit dari kursi dan meninggalkan Sicha yang masih menangis di pinggir kolam. Raffa khawatir, tapi ia harus tega karena demi kebaikan mereka. Raffa mengendarai mobilnya dan langsung pulang. Sicha tak sanggup lagi menerima kenyataan, ia meraih ponselnya, dalam isakan ia memencet nomor Key dan menelponnya. Sicha menceritakan semua kepada Keysha, ia menangis kuat. Key mencoba menenangkan, ia juga tidak menyangka Omnya sejahat itu, ia meminta Sicha untuk memutuskan Raffa, Key juga tidak ingin melihat Sicha menangis lagi. Sicha menolak, mereka sempat berantam kecil, karena Sicha tak mau mendengar kata-kata Key. Akhirnya Key menerima, Sicha memang keras kepala, tetap tidak mau memutuskan Raffa. Setelah selesai, Sicha menelpon Reva, ia juga menangis dan menceritakan semua pada Reva. Reva yang mendengar jadi sangat kesal. Reva juga meminta hal yang sama, Sicha harus putusin Raffa, tapi memang Sicha keras kepala, ia tetap keukeuh sama kemauannya. Sicha mengatakan kalau ia sedang berjalan menuju taman tepi sungai kota. Ia ingin menenangkan diri. Reva menyarankan agar ia tidak melakukan hal konyol, Sicha patuh dan mereka menyelesaikan pembicaraan mereka.
########
Raffa baru saja masuk ke kamarnya, ia sangat lelah untuk hari ini. Ia hendak melemparkan tubuhnya ke kasur, namun ia mendapati Key dengan wajah merah karena marah di atas kasurnya. Sekejap Raffa terkejut.
“ngapain kamu di kamar aku?” tanya Raffa tanpa melihat wajah Key.
“kenapa Om tega nyakitin Sicha?” Key menatap Raffa tajam.
“kenapa? Emang aku salah?”
“kenapa harus Sicha? Aku tau Om sakit banget pas diputusin Chika, tapi jangan lampiasin ke Sicha dong? Dia itu cewek baik”
“sudahlah Key, aku ga mau bahas”
“tapi aku mau tau!”
“Key, aku capek”
“terserah!”
“apaan sih? Aku capek”
“oh okay, jadi hanya karena Chika Om rela nyakitin Sicha, cewek yang benar-benar tulus mencintai Om, cewek yang selama ini rela sakit demi Om, cewek yang selalu tersakiti. Dan Om masih ingin menghancurkan dia lagi, tau ga sih? Gimana perasaan dia sekarang? Rapuh banget Om! Dan Om nambahin lebih rapuh lagi? Mungkin sekarang ia sudah hancur, hancur banget! Well, aku ga bisa buat apa-apa, di mata Om Chika lebih baik, tapi dunia tahu, Sicha jauh lebih baik!”
“stop Key!”
“kenapa? Ga mau aku menghina cewek pujaan hati Om itu hah?”
“aku bilang cukup! Kamu ga tau apa-apa Key!”
“aku emang ga tau apa-apa, karena Om ga pernah cerita!”
“Key, aku juga sakit!” Raffa mulai berkaca-kaca, ia mengambil amplop di atas meja belajarnya dan menyerahkan pada Keysha. Key meraih dan membaca isi amplop itu. “aku dapat panggilan kuliah khusus di Jerman, aku akan berangkat bulan depan. Selama ini aku dekat dengan Chika, hanya memintanya mengoreksi artikelku, kami ga ada hubungan apa-apa. Aku mencintai Sicha Key, sangat mencintainya” lanjut Raffa, kini air mata telah membasahi pipinya.
“kenapa harus bohong?” Key mulai ikut sedih.
“karena aku ga bisa tanpa dia, jadi aku ingin merubah perasaanku dengan mencoba melupakannya, aku pikir itu lebih baik”
“itu sangat menyakitkan Om”
“aku tahu, tapi aku tidak bisa berbuat lain lagi, aku harus meninggalkannya, aku ingin seperti tidak mengenalinya”
“Om, Sicha pasti sangat terpuruk sekarang, lebih baik om jujur sama Sicha, kalian kan bisa berhubungan jarak jauh, aku yakin Sicha bisa menerimanya”
“aku tidak yakin”
“percayalah, ia gadis yang baik, sekarang temui dia, aku tak mau ia minum lagi”
“ya ampun, kamu benar Key”
“di mana ia sekarang?”
“aku tahu”
“yaudah aku ikut”
“okay, ayo kita pergi sebelum terlambat” Raffa dan Keysha menuju mobil, mereka ingin ke taman tepi sungai kota. Biasanya Sicha kalau lagi sedih, bakal menenangkan pikirannya di sana. Raffa mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi. Ia tak sabar ingin segera tiba. Menemukan kekasihnya.
########
Sicha terus berlari-lari mengitari taman kecil di tepi sungai kota itu sambil berteriak memanggil-manggil nama Raffa. Ia tak perduli orang-orang melihatnya, ini sudah malam, pasti tidak ada yang mengenalinya. Ia tak perduli kakinya yang mulai pegal dan luka-luka kecil, ia ingin Raffa kembali. Mengatakan cintanya, ia tak ingin melepaskan Raffa.
Raffa dan Keysha tiba di taman, mereka melihat Sicha yang masih terus berlari-lari mengitari taman. Raffa jadi merasa bersalah.
“lihat Om, sesakit apa juga, dia masih memanggil namamu” Keysha berucap datar
“iya, aku jadi merasa bersalah” ungkap Raffa sedih
“yaudah, buruan temui dia”
“baiklah” Raffa hendak melangkahkan kakinya ingin menjumpai Sicha, namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang berlari dan memeluk Sicha.
“siapa dia?” Key menyelidik
“aku tidak tahu, tapi sepertinya aku pernah melihatnya di sekolah”
“jangan-jangan…” Key mengingat sesuatu
“kenapa Key?”
“ahh tidak, aku salah” mereka berdua akhirnya memilih berdiam diri dan menyaksikan aksi pemuda itu.
########
Sicha terus berlari, air matanya jatuh tak karuan. Di pikirannya hanya ada Raffa, semua hanya ada bayangan Raffa, wajah Raffa. Raffa telah menghantui pikirannya. Semua benda yang ia lihat seakan Raffa. Ia mulai tak sadarkan diri, seseorang berlari dan memeluknya erat. Sicha hanya menerima pelukan itu, ia sudah lelah dan capek.
“kamu ga apa-apa kan?” tanya cowok yang tak lain Dika.
“kak Raffa? Kenapa kamu tega nyakitin Sicha hah? Kenapa kamu mempermainkan perasaan Sicha hah? Apa salah Sicha? Kenapa kakak ga bisa mencintai Sicha?” Sicha berteriak-teriak histeris sambil memukul-mukul badan Dika yang ia kira Raffa dengan lemah. Dika menggeram, ia juga ikut kesal, ia tak sanggup melihat Sicha seperti ini.
“cowok bodoh! Sicha tenang ya? Kakak di sini, kakak bakal selalu ada buat Sicha”
“bohong! Kakak jangan bohongi Sicha lagi, Sicha capek tau!!”
Dika tak sanggup melihat Sicha sakit seperti ini, namun ia juga tak bisa menemukan Raffa, ia ingin menjumpai cowok yang menurutnya bodoh itu.
“Sicha jangan nangis lagi, cukup air mata Sicha keluar” Dika mencoba menenangkan dan ia memberanikan diri lagi untuk mencium Sicha, kali ini Sicha tidak menolak. “Sicha tenang ya, kakak disini akan menjagamu” ia kembali mengecup bibir Sicha. Sicha sangat lelah dan capek hingga kini ia telah jatuh terkulai lemas dalam pelukan Dika.
########
“dia bilang dia nunggu aku, dia cinta aku, tapi dia…arrgghhh” Raffa mengerang kesal menyaksikan Sicha dalam pelukan cowok lain.
“dia mengira itu Om” suara Key terdengar setengah membisik. Mereka masih menyaksikan dari kejauhan.
“aku tau apa yang harus aku lakukan!” Raffa berbalik dan ingin pulang.
“Om tunggu! Jumpai mereka and get her back!” Key memberi masukan.
“engga Key, aku ga kuat ke sana, kita pulang saja” Raffa terus melangkah pulang. Key hanya mengangguk mengikuti, ia juga bingung. Siapa yang pantas disalahkan? Raffa melaju mobilnya kencang. Pikirannya kacau. Ia telah yakin dengan pilihannya.
########
Sicha membuka matanya dan memijit-mijit kepalanya yang terasa sakit. Ia melihat dirinya dalam pelukan Dika, ia langsung mundur dan menatap Dika tajam.
“mana kak Raffa?” Sicha terkejut saat melihat bukan Raffa yang memeluknya.
“dia engga ada, di ga akan pernah ada Sicha!” jawab Dika sambil mengusap kepala Sicha.
“apa? Jadi tadi..” Sicha menutup mulutnya dan kembali menangis saat sadar bukan Raffa yang bersamanya dari tadi. “kenapa kakak ulang lagi? Kenapa harus Sicha kak?” tanya Sicha terus menangis. Dia benar-benar stress sekarang.
“Sicha, lupakan dia, dia bukan cowok yang baik. Dia selalu nyakitin kamu!”
“Sicha ga bisa kak! jangan paksa Sicha!!”
“Sicha, kakak ga mau liat kamu sedih terus”
“kenapa?”
“karena kakak sayang sama kamu, kakak cinta sama kamu!”
“aisshh, kakak gila ya!”
“kenapa?”
“kak, tolong jangan tambah beban pikiranku, Sicha udah cukup stress sekarang. Sicha mau pulang”
“kakak antarin ya”
“Sicha naik bis saja” Sicha bangun dengan terhoyong, ia melangkahkan kakinya sambil memijit-mijit kepalanya.
“Sicha, kakak memaksa! Biar kakak yang nganterin kamu” Dika menarik lengan Sicha. Sicha menurut saja, ia sadar sudah tak mampu berjalan lagi. Dika prihatin, ia ingin sekali menjaga Sicha dan meninju Raffa. Ia juga heran, Sicha benar-benar membela cowok yang udah nyakitin dia banget. Sampai di rumah, Sicha langsung menuju kamarnya. Ia lelah sekali, ia ingin langsung terlelap.
########
Setelah kejadian malam itu, Raffa hanya berdiam diri dan tak menjumpai Sicha selama tiga hari, begitu pula Sicha. Ia tak ingin lagi mengganggu cowok yang dicintainya. Setelah mantap dengan pilihannya, akhirnya Raffa berniat menjumpai Sicha malam ini. Ia mendatangi rumah Sicha. Sicha yang masih bengkak matanya, menemui Raffa yang telah menunggunya di teras depan rumah. Ia duduk di kursi di samping Raffa tanpa menatapnya.
“kamu udah baikan?” Raffa masih terlihat khawatir.
“kelihatannya?” Sicha tak sanggup mengeluarkan kalimat dari mulutnya, ia masih sangat sedih.
“i really sorry”
“lupakan sajalah, Sicha memang bodoh udah percaya banget sama kakak”
“yasudah, mulai sekarang jangan pernah percaya lagi apapun yang aku ucapkan”
“Sicha bakal mencoba”
“kamu harus bisa, kamu harus kuat, aku ga mau melihat kamu sakit”
“cukup kak! kenapa sih kakak masih aja perhatian sama Sicha? Sekarang apa lagi yang mau kakak lakuin? Sicha udah cukup tersiksa kak”
“aku Cuma ga mau kamu sakit karena..”
“karena apa?”
“lupakanlah”
“kenapa sih kakak selalu bikin Sicha bingung? Kakak kenapa sih?”
“i’m ok”
“sekarang kakak mau apalagi?” dengan mata penuh air, Sicha menatap Raffa. Sesaat Raffa terdiam, ia menarik nafas dalam tanpa memandang Sicha, dan mengeluarkan kata-kata yang membuat dunia Sicha kiamat.
“baby, let’s break up”
“apa yang harus Sicha jawab?” suara Sicha hampir tak terdengar, ia terisak.
“terserah, just let me free” Raffa mencoba tenang, ia mulai merasa dadanya sesak.
“Sicha ga bisa”
“aku mohon, lupakan aku”
“kenapa?”
“sebenarnya aku melihatmu di taman semalam, i really hurt”
“maafin Sicha kak, Sicha ga tau kalau itu kak Dika”
“maaf, aku ga bisa maafin, aku terlalu sakit. Aku harap kamu bisa mengerti”
“Sicha ga bisa kak, Sicha ga mau kita putus”
“Sicha, aku mohon, lepasin aku dan pergilah bersamanya”
“tapi Sicha ga suka sama dia”
“just try to love him as you love me!”
“kakak, tolong, jangan hakimi perasaan Sicha, cukup sudah Sicha sakit”
“kenapa kamu yang sakit, aku jauh lebih sakit, kamu sadar ga you cheat on me more than twice!!!”
“i really sorry, i don’t mind it!”
“sorry, just let me go, we can’t be togother again”
“please..don’t leave me!”
“kita masih bisa bersama kok, kita masih bisa dekat, aku Cuma ga bisa jadi cowok kamu lagi”
“kakak tega banget sih?”
“sudahlah Sicha, pikirin kesehatan kamu, lupakan aku. Aku sudah yakin dengan keputusanku!”
“aaaaaaarrrrrrrrrrrrgggggggggggghhhhhhhhhhh”
“please, be a strong girl, aku tau kamu bisa”
“okay, i will try even it’s really hard for me”
“good then”
“but, will you give me a last kiss?”
“sure” Raffa mendekatkan wajahnya ke Sicha, ia menghapus air mata orang yang sangat ia cintai. Ia mencoba bersikap tenang. Ia mengecup bibir Sicha lama, membuat Sicha terus mengeluarkan air mata. Setelah selesai Raffa memeluk Sicha.
“kak…” Sicha mendapati mata Raffa yang mulai berkaca-kaca. “kenapa kakak bohong sama perasaan kakak?” Sicha memegang wajah Raffa.
“sudahlah, lupakan saja” Raffa mencoba menghindar kontak langsung dengan mata Sicha.
“kak, Sicha bisa rasain dari ciuman tadi, kenapa kakak ga jujur? Sicha tau kakak mencintai Sicha”
“Sicha, sudahlah lupakan saja, itu Cuma perasaan kamu saja”
“please don’t lie to me!”
“i told you the truth! Sudahlah, aku mau pulang, jaga kesehatanmu, bye” Raffa melangkahkan kaki menuju mobilnya, ia tak ingin berlama di rumah Sicha, ia takut keputusannya bisa berubah nantinya. Ia melaju mobilnya dan meninggalkan Sicha yang masih terisak di teras rumah.
Sicha berlari menuju kamarnya, ia menelpon Keysha.
“he break me up Key” Sicha berteriak histeris saat panggilan sudah terhubung.
“aku coba mengerti, tapi kalau aku jadi Raffa, mungkin aku juga bakal ngelakuin hal yang sama” jawab Key berusaha tenang.
“aarrgghh, but i really upset last time! I’m not in mind”
“aku juga bingung Sicha”
“Key, i think i should die! I won’t be here anymore”
“Sicha, please don’t be silly! Putus dari Raffa bukan berarti duniamu kiamat”
“tapi Sicha rasa udah ga ada guna lagi Sicha di sini”
“please, don’t do anything freak!! Banyak orang yang masih menginginkanmu!”
“I tired to breath” sambungan terputus. Sicha menutup ponselnya. Ia kembali menangis. Ia menelpon Reva dan menceritakan apa yang telah terjadi.
“I told you to break him up, but you so stubborn! Now you hurted?” Reva kesal dengan Sicha.
“Sicha ga bisa kak, i really love him, hard to leave or forget him” Sicha terus saja terisak.
“sayang, kakak mohon, tinggalin dia, ada Dika dan yang lain yang mencintaimu dan jauh lebih baik darinya, kakak ikut menyesal karena dulu sangat mendukung hubunganmu”
“Sicha ga bisa kak! i love him, i want him and really need him”
“jangan terus nyakitin perasaan kamu Sicha, jangan sampai stress, kepalamu sakit lagi”
“Sicha ga peduli, lebih baik Sicha mati nyusul kak Rangga”
“Sicha, jangan ngomong mati, Sicha kuat ngejalani ini semua. Kakak bakal terus di samping kamu, nyemangatin kamu” suara Reva mulai terisak.
“Sicha Cuma mau kak Raffa balik, no more”
“Sicha..please..don’t hurt your heart more”
“kak, kepala Sicha pusing, Sicha mau tidur, sampai jumpa nanti kalau Sicha bangun” Sicha menutup ponselnya. Kepalanya benar-benar terasa berat, matanya bengkak, tak ada lagi air mata keluar, ia capek, ia lelah. Ia merasa penglihatannya semakin kabur. Ia jatuh. Pingsan.
########
Reva tiba di rumah sakit dimana Sicha dirawat. Ia menjumpai orang tua Sicha yang sudah begitu akrab dengannya. Ia mendapat kabar Sicha di rumah sakit setelah sejam mereka selesai teleponan. Orang tua Sicha menemukan namanya di panggilan keluar hape Sicha. Ia langsung berlari menemukan orang tua Sicha. Mereka sangat khawatir dengan keadaan putri semata wayangnya. Reva menjumpai mereka yang sedang berdiri melihat Sicha terbaring lemah yang sedang diperiksa para ahli medis di depan pintu kamar Sicha dirawat.
“om..tante..” Reva menyapa. Kedua orang tua Sicha menoleh.
“Reva?” mama Sicha langsung memeluk Reva. Reva membalas pelukan itu. Ia mulai menitikkan air mata. Beberapa saat kemudian dokter yang menangani Sicha keluar dan meminta orang tua Sicha untuk berbicara di ruangannya. Reva maklum, ia langsung menjumpai Sicha.
Sesampai di ruangan dokter orang tua Sicha langsung meminta jawaban hasil pemeriksaan.
“dok, saya sangat khawatir, apa sebenarnya yang terjadi dengan anak kami?” mama Sicha bertanya tak sabar sambil mengeluarkan air mata. Papa Sicha hanya mengelus mamanya biar tenang.
“iya, saya mengerti bu” jawab dokter itu ramah. “tapi, apa akhir-akhir ini Sicha mengalami banyak masalah?” tanya dokter lagi.
“masalah?” mama Sicha memandang ke arah papa Sicha. “maksud dokter?” mama kembali bertanya.
“dulu saya pernah mengingatkan, jangan sampai Sicha stress. Ia menderita kanker otak, dan kini semakin parah, saya juga khawatir untuk kondisinya ke depan”
“maksud dokter apa?” mama Sicha benar-benar tak sabar, sedih sekali mengetahui nasib putrinya.
“mama, sabar dulu, biar dokter menjelaskan” papa Sicha terus berusaha menenangkan istrinya.
“kondisi otak Sicha sangat lemah, ia mengalami stress berat, ia terlalu banyak berpikir, namun syaraf-syaraf di otaknya tak sanggup menerima. Banyak syaraf di otaknya juga, yang mana darah di dalamnya tidak mengalir sempurna. Dan maaf sekali, saya tidak bisa memastikan ia untuk tetap bertahan lama” dokter pribadi keluarga Sicha itu menjelaskan panjang.
“dokter, kami mohon lakukan apa saja untuk kesembuhan Sicha” kali ini papa Sicha yang bicara, mamanya sudah tak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi.
“kami akan melakukan yang terbaik buat Sicha, namun kita juga harus berdoa dan menyerahkan semua kepada Tuhan”
“terima kasih dok” papa Sicha bangkit dari duduknya, memegang mama Sicha juga, mereka keluar dari ruanga dokter itu dan kembali menuju ke ruangan Sicha.
########
“Sicha, bangun dek..” Reva terus menatap Sicha yang lemah tak bergerak. Reva mengajak Sicha terus berbicara, akhirnya Reva melihat jemari Sicha yang mulai bergerak. Ia kembali mengajak Sicha bicara, namun batal karena Sicha sudah lebih dulu memanggil-manggil nama Raffa.
“kak Raffa, Sicha butuh kakak” Sicha berkata hampir tak terdengar.
“Sicha, kenapa Raffa lagi sih?” Reva kesal mendengar nama itu yang pertama dipanggil Sicha saat sadar.
“kak Reva? Kenapa Sicha di rumah sakit? Emang Sicha sakit apa?” Sicha sudah sadar kalau ia sedang berada di tempat yang sangat dibencinya. Ia mencoba melepaskan beberapa selang yang bertebaran di tubuhnya, namun Reva mencegah.
“sekarang, kamu butuh selang-selang kecil ini” ucap Reva.
“kak, Sicha mau kak Raffa kembali”
“Sicha lupakanlah dia”
“Sicha maunya kak Raffa!”
“jangan kaya anak kecil dong Sicha, Sicha harus terima, nanti juga bakal terbiasa”
“kak, Sicha udah terlalu cinta sama kak Raffa, I love him more than myself”
“Sicha, kakak mohon”
“I just want him, no other!” sicha berkata lemas dan merunduk, air matanya kembali mengalir. “kak, kalau nanti Sicha mati, tolong berikan ini pada kak Raffa” Sicha mengambil sehelai kertas kecil dari saku bajunya yang telah ia siapkan. Reva mengambil kertas kecil yang telah ditulis Sicha itu, ia mengangguk sedih.
“kamu harus kuat sayang, kamu ga akan mati” Reva mencoba menghibur Sicha, namun Sicha hanya tersenyum manis. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Reva dan Sicha mengalihkan pandangan mereka. Orang tua Sicha masuk, dan langsung berlari memeluk Sicha saat melihat putri mereka telah siuman.
“Sicha, kamu udah enakan sayang?” mama Sicha mengusap lembut kepala Sicha. Sicha mengangguk. Reva berpamitan keluar, ia tak ingin mengganggu Sicha ditemui orang tuanya.
“tante, om, Reva permisi keluar sebentar ya?” Reva berpamit, stelah mendapat anggukan, ia langsung melangkah kakinya keluar kamar tersebut. Ia menyaksikan orang tua Sicha yang begitu khawatir akan keadaan Sicha, ia juga ikut khawatir. Ia telah mengetahui Sicha divonis Kanker otak saat kecelakaan tempo lalu. Makanya Orang tua Sicha memintanya untuk menjaga Sicha disaat mereka sibuk.
Ia meninggalkan ruangan Sicha dirawat dan menuju ke taman depan rumah sakit. Ia bertekad menghubungi Raffa. Ia melirik arlojinya, jam setengah empat pagi. Apa ia akan mengganggu tidur Raffa? Ia tak perduli. Ia mengambil hapenya dan memanggil nomor Raffa yang tersimpan di kontak hapenya. Saat panggilan tersambung, mereka bersapa-sapa ringan sebelum berbicara ke intinya.
“itu sudah keputusanku Rev!” Raffa berucap lembut.
“tapi, apa ga bisa kamu pikirkan lagi keputusanmu?” Reva tetap ingin mengembalikan Raffa ke Sicha.
“ga bisa, maaf”
“tapi Sicha benar-benar menginginkanmu”
“aku ga bisa balik, aku sangat terluka, aku ga mau terluka lagi”
“kalian berdua sama-sama salah Raff, aku mohon, Sicha benar-benar mencintaimu”
“tolong jangan paksa aku Rev, aku ga bisa”
“baiklah, semoga kamu tidak menyesal nantinya”
“maksudmu?”
“Sicha di rumah sakit sekarang”
“apa? Kenapa? Dia berusaha bunuh diri?”
“bukan, tapi dia di vonis kanker otak, sekarang kondisinya semakin parah”
“are you sure?”
“iya, yasudah, aku ga mau memaksamu kembali padanya karena kasihan, semoga kalian berdua sama-sama bahagia nantinya, aku mau melihat keadaan Sicha lagi ya, bye” Reva memutuskan panggilan itu. Ia kembali berjalan menuju kamar Sicha, saat ia tiba ia tidak menemukan Sicha dan juga orang tuanya di sana, ia semakin khawatir. Ia mencari-cari dan menjumpai seorang perawat yang tadi merawat Sicha sedang terburu-buru.
“suster, Sicha kemana?” tanya Reva sambil menjajari langkah suster yang terburu.
“dia lagi di Emergency Room, keadaannya kembali memburuk” jawab suster itu dan terus berjalan cepat ke ER. Saat tiba di ruangan itu Reva mendapati orang tua Sicha yang duduk dalam keadaan sedih, mama Sicha terus saja menangis. Reva langsung menjumpai dan berbincang menenangkan mama Sicha. Semua dalam keadaan khawatir. Rumah sakit sudah sunyi, semua pasien pasti sudah terlelap. Reva melirik arlojinya, jam empat kurang lima menit. Pantas saja sudah begitu sepi. Ia mendengar suara dari monitor penghitung detak jantung Sicha yang kini terdengar begitu jelas. Reva masih memeluk mama Sicha. Sedangkan papa Sicha terus mondar-mandir tak karuan, ia panik sekali. Sesaat kemudian mereka mendengar satu bunyi panjang dari monitor itu dan langsung membuat mama Sicha menangis histeris. Reva ikut menangis kuat, mereka berpelukan. Papa Sicha tidak bisa berbuat apa-apa. Dokter dan beberapa perawat keluar dari ruang tersebut.
“maafkan kami pak” ucap dokter itu penuh sesal. Papa Sicha tak sanggup berbicara, ia hanya melambaikan tangan bersyarat tak masalah, ini semua telah dikehendaki. Dokter itu kembali ke ruangan, menyelesaikan tugas terakhir pada jasad Sicha. Sekarang jasad Sicha sedang dibawa ke ruang jenazah. Sicha akan dimakamkan nanti jam delapan pagi. Reva meraih ponselnya dan menelpon Raffa.
########
Setelah mendapat telepon dari Reva, Raffa jadi tak nyenyak tidur. Ia sangat khawatir dengan keadaan Sicha. Ia menuju kamar Keysha. Ia mengetuk pintu kamar Key keras, membuat Key jengkel dan langsung bangun membukakannya. Key khawatir mendapati wajah omnya yang super panik, sangat resah.
“kenapa Om?” tanya Key matanya setengah terbuka.
“aku khawatirin Sicha” jawab Raffa cepat.
“dia minum lagi?”
“tidak, dia di rumah sakit sekarang, ia di vonis Kanker otak, aku khawatir akan keselamatannya Key, aku harus apa Key?” Raffa sangat panik. Key hanya terdiam, ia juga tak percaya dengan apa yang didengarkannya.
“Om, kita temui saja dia”
“iya, tapi..” ucapan Raffa terputus saat hapenya berdering, ia melirik layar dan mendapati nomor Reva. Ia segera menyambung panggilan itu.
“Raffaaa…” Reva bersuara lirih
“Rev, kenapa? Jangan buat aku panik” Raffa benar-benar panik sekarang. Key mencoba mendengarkan pembicaraan itu dengan seksama.
“Sicha..she is gone” Reva kembali terisak, menangis kencang, ia tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata.
“apa?” Raffa shock, hatinya terasa dihempas beban berat. Ia lemas, air matanya jatuh seketika. Key yang ikut mendengarkan tak sadar juga mengeluarkan air mata.
“aku ga tau harus bilang apa, aku benar-benar kehilangan, aku tidak percaya. Sicha akan dimakamkan nanti jam delapan pagi” Reva mengabari, kemudian ia memutuskan panggilan itu. Raffa merasa sangat bersalah, ia sedih sekali. Ia masih tidak percaya dengan kabar barusan. Ia menatap Key sedih, air matanya terus saja mengalir. Ia mencubit-cubit dirinya.
“Key, katakan kalau ini mimpi!” Raffa berteriak sambil memukul-mukul tubuhnya.
“Om, plis, terima saja ini semua” Key memeluk Omnya kuat, ia ingin menenangkan.
“ini semua salahku Key, aku jahat, aku terlalu egois, ga pernah ngertiin Sicha, aku selalu nyakitin dia, aku jahat, aku kejam, apa yang seharusnya aku lakukan Key? Apa ? apa? Apaaaaa???” Raffa semakin histeris, ia kecewa, ia sedih, ia merasa sangat bersalah.
########
Jasad Sicha baru saja dikebumikan. Kini para pengunjung sedang mengikuti pendoaan buat kepergian Sicha, sebelum melanjutkan ke doa berikutnya, Pastor meminta kepada setiap orang untuk memaafkan Sicha, dan buat yang ingin meminta maaf langsung, beliau juga mempersilahkan untuk langsung menuju makamnya. Raffa mengangkat tangannya, lalu ia berjalan menuju makam Sicha, Keysha dan Reva mengikuti dari belakang.
Raffa menangis di atas gundukan tanah di depannya. Key mengusap-usap pundak Omnya menenangkan. Reva mendekati Raffa.
“Raffa, sebenarnya Sicha punya pesan sebelum ia pergi” Reva berkata setengah berbisik. Raffa menoleh, matanya mulai memerah. “ia menitipkan kertas kecil ini” Reva menyodorkan kertas kecil itu, Raffa mengambilnya dan membaca tulisan tangan Sicha itu. Raffa kembali mengeluarkan air mata.
Saat kakak baca tulisan ini, pasti Sicha udah ga ada lagi kan? Jangan sedih ya,, maafin Sicha selama ini, ini tulisan terakhir Sicha buat kakak.
Now, i confess my heart to you, Only heaven know my heart, At the thought of telling you the truth
that i’ve kept so preciously, I feel tears coming out, All the memories pass by me
Today wouldn’t be here if it wasn’t for you, The day we first met, I was awkward and young
The time you waited for me just because i told you to trust me
At times, i hurt you with my mistakes, But you never once blamed me
And you gave me strength, smiling, it’s okay, it’s okay
Whenever i made you upset by saying i’m busy, You could have blamed me
But you believed in me, saying don’t worry, don’t worry
I selfishly hope that, Your heart will be the same forever, I will try my best everyday for you
All the memories we made, The times we cried and laughed, I’ll remember them even at the moment i die
Have i told you before? I love you, There is no other way to say it, I love you, I love you
Other than those common words, I say it again “I LOVE YOU”
My heart felt confession today, Please never forget it
I love you
Baby, I still love you even i was hurted, i love you forever and never change,
you will always be my baby, i will waiting for you even i’m at heaven later
“makasih Rev, aku benar-benar merasa bersalah, andai saja aku jujur dari awal kalau aku sangat mencintainya, aku meninggalkannya karena harus ke Jerman, mungkin kejadiannya ga bakal seperti ini” Raffa kembali terisak.
“sudahlah Raff, ini semua sudah takdir” Reva mencoba menerima kenyataan.
“iya Om, relakan Sicha pergi dengan tenang” Key ikut bersuara. Raffa mengangguk, Reva dan Key bangun, mereka hendak kembali ke rombongan dan membiarkan Raffa menghabiskan waktunya dengan Sicha. Sepeninggalan Key dan Reva, kemudian Raffa mendekatkan wajahnya ke gundukan tanah di depannya itu.
“Baby, i really sorry, i’m so idiot, i dont mean it, as i told you. I really love you so much, i want you and always need you. I can’t alive without you, you are my soul, you are my breath, you are my everythings, please forgive me okay? I really miss you. I promise, i love you forever and never change, i want you be mine again, really want, please waiting for me again okay? Don’t too tired waiting for me, i will find you when we at heaven soon, Sicha i love you so much” Raffa mengakhiri kalimatnya dengan mata penuh air, ia mencium gundukan tanah itu. Ia bangun dan ingin kembali ke rombongan. Ingin melanjutkan pembacaan doa. Ia berjalan menuju rombongan yang masih terus mendoakan Sicha.
Sayang, tunggu aku di Surga ya, layaknya kamu menungguku di dunia. You will always be my baby, I love you Sicha..
============ END ==============